
"Dek.. Dengar!" kata Adnan. "Ada apa dengan profesi mas? Hal apa yang buat kamu merasa gak pantas sampai bilang begitu?" tanya Adnan lembut. Awalnya ia terkejut atas ucapan Nirmala. Tetapi, tidak ingin tersulut emosi membuatnya mencoba mencari alasan Nirmala sebenarnya.
Nirmala tampak cemberut mendengar pertanyaan Adnan. Ia kesal sebab Adnan tidak mengerti atas ucapan nya. Padahal, Nirmala belum menjelaskan apapun hanya mengatakan jika Adnan seorang ustad. Bagaimana Adnan hendak mengerti?
"Aku takut, mas. Aku gak pantas bersanding dengan mas. Aku bukanlah wanita paham agama, gak pantas sama mas. Pasti orang tua mas gak akan setuju," terang Nirmala. Matanya tampak berkaca-kaca setelah menerangkan hal tersebut.
Adnan meraih dagu Nirmala agar wajah cantik istrinya itu tampak ke arahnya. Di kecup kening Nirmala sebelum akhirnya ia menenangkan hati Nirmala.
Sementara Nirmala hanya dapat memejamkan mata saja. Ia takut mendengar Adnan akan kembali marah padanya.
Ia takut mendapat bentakan, marah, ataupun perkataan pedas dari Adnan. Semana dahulu ketika ia memberanikan diri mengungkapkan isi hati di hadapan Arman akan mendapatkan hal itu. Lebih ringan adalah Arman tidak menggubris memilih pergi.
Tapi lihatlah, Nirmala cukup terkejut atas tindakan Adnan malah mengecup kening nya.
"Mas," ucap Nirmala lirih seraya menatap matanya.
"Sudah, ya. Jangan begini? Biarpun mas seorang ustadz, tetap saja. Mas adalah suami kamu. Masalah Abi dan Ummi biar kita hadapi bersama. Bukankah kita sudah berkomitmen untuk sabar dan bertahan?" Terang Adnan panjang lebar agar Nirmala mengerti keadaan sebenarnya.
__ADS_1
Tanpa sadar Nirmala meneteskan air mata. Ia tidak tahu harus menangis disebabkan karena hal apa.
Apakah karena masih merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan Adnan?
Ataukah karena ia merasa dimengerti oleh Adnan?
Atau, keinginan nya dahulu ingin diperlakukan lembut, diperhatiin penuh kasih, dan sayang telah dirasakan nya?
Nirmala memejamkan mata lagi ketika jemari Adnan mengusap air mata di pipinya dengan lembut. Matanya terbuka ketika bibir Adnan telah menempel di bibirnya. Sempat terkejut, tapi selanjutnya terbuai dengan sentuhan lembut dari Adnan. Selalu saja degup jantung nya berdebar kencang setiap kali Adnan menyentuhnya.
Apakah Nirmala sudah jatuh cinta kepada Adnan?
Adnan terbangun lebih dulu. Usai itu membersihkan diri dan sholat subuh di Masjid. Setelah pulang ke rumah, di lihat Nirmala masih terlelap. Ditatap sejenak wajah polos Nirmala yang tertidur di lengan nya. Di kecup kening istrinya itu. Entahlah, ia belum tahu harus mengartikan perasaan nya seperti apa terhadap istrinya ini. Tapi, ia sangat tahu. Sebuah keharusan untuk mencintai pasangan nya. Dan mungkin saja saat ini telah mencintai Nirmala.
Apalagi sikap Nirmala berbeda seperti sebelum menikah. Ia melihat Nirmala adalah perempuan kuat. Tapi, setelah menikah justru terlihat rapuh dan manja. Memang belum seluruhnya Nirmala bersikap seperti itu. Adnan memaklumi hal tersebut.
"Sayang," panggil Adnan lembut seraya mengelus pipi Nirmala perlahan.
__ADS_1
Nirmala tampak menggeliat lalu mengubah posisi menjadi miring menghadap pada Adnan. Bahkan perempuan itu memeluk perut Adnan.
Adnan tersenyum melihat itu. "Sayang, bangun. Sudah pagi," panggilnya lagi.
Mendengar dua kata 'sudah pagi', membuat mata Nirmala langsung terbuka lebar. Bahkan ia langsung duduk di hadapan Adnan tanpa menyadari jika dirinya masih keadaan polos.
Adnan melihat itu langsung menelan saliva dan berusaha agar hasrat nya tidak datang lagi.
"Maafin aku, mas. Aku bangun kesiangan. Aku mandi dulu, ya." Lagi-lagi Nirmala belum sadar bahkan sampai membuka selimut dan menampakkan tubuh polos tanpa sehelai benang.
"Istriku," panggil Adnan dengan suara serak tertahan sebab hasrat nya kembali tersulut.
Nirmala baru saja turun dari ranjang dan berdiri membelakangi Adnan menoleh ke belakang. "Ya, mas."
Adnan menarik Nirmala hingga terjerembab ke ranjang dan memekik.
"Mas," pekik Nirmala dengan wajah terkejut. Apalagi Adnan sudah berada di atas mengukung ya.
__ADS_1
"Kamu menggoda mas, sayang."