
"Jadi harus bulan depan?" Tanya Nirmala pada Adnan. Matanya tampak berkaca-kaca setelah mereka membicarakan sesuatu mengenai rencana yang akan membuat wanita berstatus istri menjadi sedih.
Berpisah, hubungan jarak jauh.
"Hanya sebulan dan kita gak akan terpisahkan lagi, sayang." Adnan mengelus kepala Nirmala sedari tadi berada dalam pelukan nya sedang menangis.
Benar.
Dua hari lagi Adnan harus kembali ke Jawa Timur. Namun, kepulangan nya tanpa Nirmala. Sebab, Nirmala harus mengurus masalah pendataan mendiang suami pertamanya agar uang ketenagakerjaan dapat segera cair. Sebelum ibu mertua pertamanya kembali.
Perihal yang membuat Nirmala sedih ialah Adnan bisa menjemput Nirmala satu bulan ke depan. Siapa yang tahan hubungan jarak jauh? Apalagi mereka sedang di mabuk asmara.
Sedih. Sudah pasti, tapi harus sama-sama mengerti keadaan masing-masing.
"Mas," rengek Nirmala lagi seakan belum terima untuk di tinggal sebulan saja.
Adnan mengerti bila Nirmala berat melepaskannya. "Mas akan usahakan lebih cepat menjemput kamu," terangnya mencoba menenangkan istrinya kembali.
"Janji, ya?" Pinta Nirmala kemudian.
"InsyaAllah, sayang. Mas akan usahakan secepatnya jemput kamu," Adnan tak mungkin berjanji sebab khawatir tidak dapat menepatinya.
Nirmala menengadah. Jujur saja, ia merasakan karakter dirinya yang sebenarnya yang telah lama tenggelam di dasar bumi kembali lagi ketika menjadi istri Adnan. Sejak masa Sekolah Menengah Atas, ia sudah dibentuk menjadi seorang gadis tangguh dan harus mencari biaya hidup sendiri. Sejak saat itu pula ia melupakan sifat dasar seorang anak perempuan yaitu bermanja dengan mereka yang disayang.
Ketika masih menjadi istri Arman juga begitu. Sikap suami pertama nya berubah setelah ia mengalami keguguran dan tak kunjung hamil.
"Kamu mau kemana? Kita jalan-jalan, yuk!" Ajak Adnan ingin menghabiskan waktu bersama.
Keduanya duduk. Adnan beringsut turun dari ranjang melangkahkan kaki menuju lemari pakaian Nirmala. Tangannya terulur ke atas, mengambil sebuah amplop yang disimpan diatas lemari. Setelah dapat, ia kembali mendekati ranjang dan memberikan amplop itu kepada Nirmala.
"Apa ini, mas?" Tanya Nirmala menerima amplop tersebut.
__ADS_1
"Honor dari Desa ini. Untuk kamu," jawab Adnan seraya mendudukkan bobot tubuhnya di sisi Nirmala. "Mungkin gak sebanyak uang bulanan yang dikasih almarhum suami kamu. Tapi aku akan berusaha agar kehidupan kamu tercukupi, sayang."
Nirmala justru meringis mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Adnan. "Uang itu untuk simpanan aku, mas. Berapapun yang mas kasih aku terima, penting nafkah lahir batin aku benar-benar mas kasih."
"Jadi kamu mau mas kasih nafkah batin sekarang?" Tanya Adnan tersenyum nakal menggoda Nirmala. Alis nya tampak naik turun.
"Iihh, apaan sih, mas? Mesum," ledek Nirmala hendak turun dari ranjang namun dihalangi oleh Adnan.
"Mas," cicit Nirmala melotot lucu sebab dilihat tatapan Adnan mulai berubah diliputi oleh gaiirah.
"Kita sudah libur dua hari, loh." Bujuk Adnan.
Nirmala menggeleng kecil merasa tak percaya bila Adnan yang notabene sebagai seorang ustadz bisa berkelakuan begini. "Apaan sih. Pak ustadz mesum, ih." Bukan ingin menolak, hanya aneh melakukan itu pada siang hari.
"Dosa kalau nolak, sayang." Suara Adnan mulai serak menahan sesuatu yang mulai sesak di bawah sana.
"Ini masih siang, mas. Panas banget malah."
Adnan menggaruk kening nya yang tak gatal. "Tapi mas pengen, dek. Dia juga sudah bangun," tunjuknya ke arah pusaka yang masih terbungkus di dalam sana.
"Mas," cicitnya lagi. Tak mungkin ia menolak ajakan suaminya.
"Boleh, ya. Sebentar saja."
****
"Jangan cemberut gitu depan suami. Gak baik," tegur Adnan tanpa marah sedikitpun. Ia tahu jika Nirmala masih kesal akibat ulahnya siang tadi.
"Aku capek, mas." Rengek Nirmala kesal. Selalu seperti ini ketika Adnan meminta hak nya sebagai suami. Bukan tidak suka melayani, tapi tenaga suaminya itu seakan tidak ada habis-habisnya memuaskan dirinya.
Adnan terkekeh, ia tahu bila istrinya tidak marah. Manja, ya. Nirmala hanya ingin dimanja. "Maaf, ya. Kamu enak, sih."
__ADS_1
Wajah Nirmala memerah mendengarnya. Ia menyembunyikan wajahnya di perut Adnan sebab ia sedang memeluk suaminya yang sedang duduk. "Jangan bohong. Kamu tahu kalau aku sudah gak gadis, mas." Kenyataan yang tak dapat dielakkan.
"Terus kenapa kalau kamu gak gadis? Buktinya mas selalu merasa dijepit pas sudah masuk? Mas sangat puas dengan layanan yang kamu kasih. Mau bukti?"
"Nggak, mas. Cukup," tolak Nirmala cepat. Jika harus mengulang lagi, maka ia tak akan bisa berjalan setelahnya.
Adnan tertawa lagi mendengar penolakan dari Nirmala. Sungguh, ia merasa hidupnya menjadi lebih bahagia dan tenang berada di dekat istri nya ini. Jika saja sejak awal ia baligh bertemu Nirmala lebih dulu, maka ia siap menikah.
"Mas." Panggil Nirmala mengingat sesuatu.
Adnan menunduk menatap Nirmala.
"Ke Pasar Malam, yuk." Ajak Nirmala.
"Bukan nya kamu capek?" tanya Adnan. Bukankah sedari tadi istrinya itu mengeluh kelelahan akibat ulahnya? Kenapa sekarang justru mengajaknya pergi?
Nirmala langsung duduk. "Nggak, mas. Aku gak capek," kilahnya. Ingin sekali ia pergi jalan berdua bak orang pacaran. Sebab dahulu, tak pernah. Semua nya serba sendirian.
"Yuk. Siap-siap," kata Adnan.
Nirmala segera lari ke dapur dengan selimut menutupi tubuh polosnya menuju dapur. Ia benar-benar tidak menyangka bila arti dari kalimat 'sebentar saja, sayang' yang diucapkan Adnan adalah sebentar istirahat untuk ibadah dan asupan. Setelah itu akan bergulat panas kembali hingga keduanya merasa puas.
Di dalam kamar mandi Nirmala terus tersenyum mengingat perlakuan Adnan yang begitu manis. Membersihkan diri dengan mandi wajib lebih dahulu.
Usai dengan itu, Nirmala berpakaian dengan gamis longgar dan hijab segi empat menutup dada.
"Ini kaos kakinya," kata Adnan menyerahkan kaos kaki berwarna merah maroon kepada Nirmala. "Dan maskernya," sambungnya.
"Kenapa malam-malam pakai masker, mas?"
Adnan menatap wajah Nirmala yang sudah tampak lebih cantik. Istrinya itu menggunakan penebal bulu mata dan pewarna bibir. "Untuk menutup sebagian wajah kamu, sayang. Mas cemburu kalau wajah kamu dipandang laki-laki lain."
__ADS_1
Suasana mendadak hening ketika Nirmala juga menatap wajah Adnan sejenak. Ia suka dicemburui, ia suka diatur, ia suka hubungan yang toxic tapi mengarahkan dirinya dalam hal kebenaran. Ia langsung memakai masker tersebut. "Mas juga pake masker. Aku juga gak mau ketampanan mas dikagumi banyak orang," katanya sewot mengingat suaminya adalah ustadz. Pasti banyak jamaah mengagumi nya.
Adnan tersenyum. Mengelus kepala Nirmala lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu. "Siap, Zaujati."