
Sepanjang waktu Nirmala mencoba terlihat baik-baik saja meski sebenarnya sedang menahan sakit yang luar biasa setelah ketuban pecah subuh tadi.
Ia juga sudah berjalan mondar-mandir, berkeliling halaman rumah sambil menunggu pembukaan sesuai instruksi bidan kampung.
Adnan juga tidak tenang bekerja memikirkan istri di rumah meski Nirmala telah di jaga Abi Musa dan Ummi Salma. Memang pesan orang tuanya akan memanggil Adnan jika sudah hampir tiba melahirkan.
"Assalamualaikum, ustadz Adi." Adnan tidak dapat menyembunyikan kekhawatirannya sehingga memilih meminta pertolongan kepada rekan kerjanya.
"Waalaikumsalam, tadz. Ada apa, ya?"
"Begini, istri saya hendak melahirkan. Bisakah saya minta tolong untuk menggantikan saya mengajar."
"MasyaAllah. Tentu ustadz. Lebih baik ustadz segera temani istri ustad saja."
"Terimakasih, Tadz. Assalamualaikum."
Adnan berjalan cepat meninggalkan pesantren menuju rumahnya. Terlihat Nirmala berjalan tertatih dan membuatnya berlari mendekati sang istri.
"Loh, mas." Nirmala kaget kala Adnan merangkulnya dan menuntunnya duduk di teras rumah.
Adnan masuk ke dalam rumah bertepatan dengan ummi Salma keluar dari kamar mereka membawa tas pakaian milik Nirmala. "Kita harus segera membawa istrimu ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baik, ummi."
Adnan pun membawa Nirmala ke rumah sakit terdekat bersama ummi Salma. Genggaman tangannya semakin erat menggenggam tangan Nirmala saat melihat istrinya terus meringis.
"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita sampai."
"Iya, nak. Banyak-banyak berdoa, ya."
Nirmala hanya mengangguk saja sambil menahan kesakitan nya. Sesampainya rumah sakit, Nirmala langsung ditangani oleh dokter di ruang persalinan. Adnan juga ikut masuk dan banyak melantunkan doa.
Tangis bayi terdengar nyaring. Bayi perempuan yang masih merah itu sudah lahir ke dunia.
"Khalisa Zahrana Almahira. Anak perempuan yang murni, bersih, cantik bagaikan bunga dan memiliki kepandaian dalam banyak hal." Ucap Adnan setelah selesai meng-adzan-i bayi mereka dan Nirmala sudah di pindahkan ke dalam ruang rawat.
Nirmala tidak mampu mengatakan apapun. Ia begitu bahagia sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Akhir yang bahagia meski harus mengalami kesedihan terlebih dahulu. Tapi, tidak pernah sedikitpun merasa sesal pernah menjadi istri dari mendiang Arman.
Sebab, ia percaya. Sesuatu yang tidak baik untuk kita menurut Allah akan diganti yang menjadi lebih baik dari arah yang tidak di sangka-sangka.
Penantian selama 5 tahun menjadi istri Arman untuk kembali hamil ternyata diganti dengan kehadiran Adnan dan Allah langsung memberi kesempatan untuk menitipkan sebuah amanah besar di rahimnya.
__ADS_1
Nirmala juga tidak menaruh dendam kepada orang-orang yang pernah menoreh luka pada hatinya. Seperti ibu Sarifah dan Dani. Terakhir kabar yang ia dengar, Dani menikah dan sudah bercerai tanpa tahu penyebabnya.
Ia juga senang diperlakukan sangat baik oleh mertuanya. Rizal, adik iparnya juga sangat baik meski keduanya saling membatasi diri. Tak jarang pula Rizal sering memberi makanan untuknya selama hamil. Kata Rizal, senang sekali akhirnya akan memiliki keponakan perempuan.
Sementara Farah dan Adi. Sudah beberapa bulan ini menjalani program hamil. Di rahim Farah terdapat kista sepanjang 2 cm dan sedang masa penyembuhan.
Tidak ada yang tahu takdir Allah. Kita, sebagai umat-Nya hanya dapat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Tetap lakukan kebaikan meski terpaksa.
Terpaksa sholat
Terpaksa mengaji
Terpaksa bersedekah
Terpaksa berpuasa
Terpaksa jujur
Dan keterpaksaan lainnya.
__ADS_1
Lebih baik terpaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka.
*TAMAT