Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
32. Adnan marah


__ADS_3

Adnan hendak menegur sesama penumpang di wahana Kereta Api yang duduk tepat di belakangnya. Namun, Nirmala menggenggam tangan Adnan seolah memberi isyarat agar sabar dan abai dengan ucapan orang itu. 


Seperti itulah Nirmala menghadapi orang-orang selalu julid karena belum memiliki keturunan. Apalagi yang dapat dilakukan nya selain diam saja? Sebab kenyataanya benar adanya, ia belum memiliki keturunan. Entahlah, ia sadar dengan keadaan meski jauh dalam lubuk hatinya menginginkan julukan tidak bisa punya anak itu segera hilang.


Nirmala melihat seorang anak perempuan menangis histeris. Ia pun turun kembali mendekati anak itu. "Adek mau naik kereta api bareng ibu?" Tanyanya dan anak perempuan itu mengangguk, tangisnya perlahan berhenti.


"Jangan, Bu. Uang kami gak cukup," tolak sang ibu anak perempuan itu. 


Hati Nirmala terenyuh mendengarnya. Dilihat memang ibu itu membawa dua anak. "Gak apa, ibu. Aku beliin, ya."


"Jangan, Bu."


Nirmala berjalan menuju tempat penjual karcis. Ia membeli 3 tiket untuk 3 penumpang sekaligus kemudian memberikan karcis tersebut kepada anak perempuan itu. 


Tak lupa pula mencarikan gerbong kosong bagi mereka. Beruntung kereta api tersebut belum bergerak.


"Makasih banyak, bu. Makasih banyak," kata sang ibu itu dengan suara parau menahan tangis.


Nirmala tersenyum dan mengangguk saja. Sementara Adnan melihat perlakuan Nirmala merasa takjub. Ia tak menyangka bila meski terlihat tertutup pada orang sekitar, istrinya itu memiliki rasa empati yang patut diacungi jempol. 

__ADS_1


Adnan terus tersenyum dibalik masker hingga Nirmala kembali duduk di sampingnya. Di buka pula masker nya dan langsung merangkul serta memberi kecupan di pucuk kepala istrinya.


Nirmala sendiri cukup terkejut dengan perlakuan Adnan. Tapi, sedetik kemudian senyuman nya mengembang mendapat perlakuan manis dari suaminya ini. 


Keduanya menikmati perjalanan mengelilingi lapangan dengan hati terasa tenang. 


Malam itu ketika berada di Pasar Malam, Nirmala banyak bertemu dengan teman-teman sekolah nya dahulu. Ada yang mengenalnya dan tidak sebab dirinya memakai gamis, hijab syar'i, dan masker. Biasanya, ia memang berhijab tapi mengikuti trend sekarang ini.


"Mas kenapa?" Tanya Nirmala melihat Adnan hanya diam sejak berada di Pasar Malam hingga tiba di rumah.


Tatapan keduanya bertemu. Nirmala melihat sorot mata Adnan berbeda dari sebelumnya. Tapi, ia tidak dapat mengartikan tatapan tersebut. Baginya hal wajar bila belum mengerti sebab keduanya belum lama saling mengenal. 


"Atau lapar apa gimana? Jangan diem begini, mas." Nirmala kesal lantaran sedari tadi Adnan mendiami nya.


Saat dirinya bertanya kenapa diam saja, Adnan tidak menjawab. Suaminya itu justru masuk ke dalam kamar membawa pakaian ganti dan berjalan melewatinya mengarah ke dapur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dahinya berkerut melihat sikap Adnan berbeda seperti ini. Hatinya sakit mendapati perlakuan Adnan mengabaikan dirinya. Apakah dirinya sudah benar-benar jatuh cinta? Bukankah sudah bertekad tak akan memberi hati nya sepenuhnya agar tidak lagi merasakan sakit terlalu parah?


Cukup lama Nirmala menunggu Adnan selesai mandi. Ia meremas jemarinya merasakan tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini. 

__ADS_1


"Mas," kata Nirmala pelan ketika Adnan baru saja membuka pintu kamar mandi. 


Adnan menghela nafas panjang. Ia dekati Nirmala dan mengajak agar duduk di kursi makan. 


"Mas marah kenapa? Jangan diemin aku begini," cicit Nirmala. Suara nya berubah parau menahan sesak di dada dan membuat air matanya hendak menetes.


"Mas gak suka kamu ngomong terlalu ramah dan lama dengan laki-laki lain, sayang. Mas cemburu, mas gak mau perhatian kamu berikan pada yang lain." 


Hening sesaat.


Nirmala mengingat tadi ia sempat mengobrol lama dengan teman sekolah nya yang kebetulan memang seorang laki-laki, lajang, dan belum punya pasangan. Mereka bercerita tentang masa sekolah dan kehidupan masa sekarang. Ia juga mengingat Adnan diam saja saat itu dan terus menggenggam erat tangan nya.


"Maaf, mas." Nirmala merasa bersalah. Ian tak sengaja melakukan hal itu.


Tanpa berkata sepatah katapun, Adnan langsung memeluk Nirmala begitu erat. "Sudah jangan menangis. Mas sudah peluk kamu dan mas gak marah lagi," kata nya seraya mengusap punggung Nirmala begitu lembut. 


"Maafin aku ya, mas."


"Minta maaf nya di kamar saja, sayang."

__ADS_1


"Iihh.. Mesum, mas."


__ADS_2