
Nirmala terperangah melihat Adnan berjalan ke arahnya. Jaket bahan denim begitu juga celananya. Ia sendiri bingung harus mengucapkan kalimat yang mana. Istighfar, Hamdallah, Masya Allah, atau Subhanallah?
Adnan terlalu tampan baginya. Ingin rasanya Nirmala mengurung Adnan di dalam rumah saja. Apalagi mengingat suaminya seorang pendakwah yang dikagumi banyak ukhti-ukhti di luar sana. Begitu juga dirinya dahulu saat masih berstatus istri Arman. Bohong bila dirinya tidak kagum.
Mata Nirmala terpejam ketika Adnan mencium keningnya. Terkejut, tapi ia suka.
"Assalamualaikum, dik."
Ah, merdu sekali. Nirmala menengadah menatap Adnan. "Waalaikumsalam."
"Kenapa mas datang?" Nirmala berdecak kesal tapi suaranya justru terdengar manja.
"Mana kunci motornya?" Tanya Adnan tanpa menjawab pertanyaan Nirmala barusan.
Nirmala menyerahkan kunci motor yang sedari tadi di pegangnya. Bagai terhipnotis turut duduk di belakang Adnan dan tidak protes akan di bawa kemana dirinya itu. Namun, beberapa saat kemudian dahinya berkerut ketika arah laju motor mereka bukan ke arah desa.
"Ngapain kesini, mas?" Tanya Nirmala heran dan ikut turun dari motor ketika Adnan menghentikan di Parkiran.
Adnan tersenyum penuh arti dan menggenggam tangan Nirmala, mengajaknya ke resepsionis untuk memesan satu kamar. Mata Nirmala terbelalak mengetahui itu.
"Mas. Ngapain ke Hotel? Abi dan ummi ada di rumah," kata Nirmala panik setelah mereka sudah berada di dalam kamar Hotel.
__ADS_1
"Mas," cicit Nirmala ketika Adnan sudah menghimpitnya di dinding. Astaga, ia tidak pernah melihat suaminya berlaku seperti ini.
"Mas kangen, sayang."
****
"Abi.. Menantu kita kemana, ya? Kenapa belum pulang juga?" Tanya Ummi Salma beruntun kepada abis Musa.
Abis Musa mengikuti arah pandang ummi Salma ke arah pintu. "Coba di telepon."
"Sudah, bi. Tapi gak di angkat juga."
"Assalamualaikum."
Pintu terbuka dan mengejutkan Abi Musa dan Ummi Salma. "Ya Allah Gusti…. Adnan!!!" Pekik ummi Salma tidak menyangka anak sulungnya itu menyusul. Sedangkan Abi Musa menggeleng tak percaya atas kelakuan Adnan.
"Suruh masuk dulu, ummi." Adnan menegur orang tuanya. Tak lupa Adnan dan Nirmala melakukan salam takzim.
Nirmala sendiri tidak mengatakan apapun sebab benar-benar sangat kelelahan. Ia tak menyangka bila Adnan dapat menguras tenaganya. Tapi… ia suka.
"Kalian dari mana?" Tanya Abi Musa mengetahui pakaian Nirmala berbeda.
__ADS_1
Adnan menoleh menatap Nirmala sebentar dan menggenggam tangan istrinya ketika menyadari bila tampak menegang. "Abi jangan begitu kalau tanya. Istriku takut, kami mampir sebentar sebelum kesini."
Abis Musa menggeleng tahu maksud ucapan dari Adnan. Tentu saja. Dahulu beliau dan ummi Salma akan melakukan itu sebelum sampai di rumah orang tua.
"Kamu sudah minum air hangat belum?" Tanya Ummi Salma.
"Sudah, mi. Adnan sudah minum susu tadi," jawab Adnan santai tetapi membuat kedua orang tua dan Nirmala melotot.
Ia merasa sangat malu, pipinya berubah merah merona akibat ucapan Adnan.
"Istirahatlah. Jangan lagi buat istrimu capek, Adnan."
Adnan dan Nirmala masuk ke dalam kamar. Ummi Salma terkekeh melihat anaknya bertingkah seperti itu. "Rupanya anak kita pinter cari istri ya, pak. Semoga jadi ibu yang baik setelah cucu kita hadir," terang ummi Salma dan di setujui oleh Abi Musa.
Keesokan hari, Adnan dan Nirmala pergi ke Bank untuk memindahkan dana yang telah cair ke buku rekening milik Nirmala. Malamnya Adnan akan memboyong keluarganya kembali ke tanah Jawa.
**
Ummi Salma terkejut atas apa yang baru saja diketahuinya. Beliau baru saja bertemu dengan ibu Sarifah dan Dani.
"Ummi harus pisahin Adnan dengan Nirmala."
__ADS_1