
Nirmala melihat Adnan sedang mengangkat pakaian melalui jendela dapur. Ada rasa tak enak sebab ia terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sedari awal menikah dengan mendiang Arman. Tapi tetap saja tak ingin mudah menaruh hati meski itu sebuah keharusan.
"Pakaian nya di taruh, dimana?" tanya Adnan ketika sudah masuk ke dalam dapur dan Nirmala masih berdiri diam saja.
"Emm.. Di kamar ku, pak." Nirmala hendak mengambil alih membawa pakaian nya. tapi, Adnan menolak.
"Biar saya saja," terang Adnan.
Nirmala menghela nafas panjang mendapati sikap dan cara bicara Adnan kepadanya. Persis sekali seperti seorang guru. Tapi ia tak mempermasalahkan, sebab mereka juga belum dekat. Butuh waktu untuk saling mengenal.
Di dalam kamar, Adnan meletakkan pakaian itu di atas tempat tidur. Di lihat ada ponsel dan notebook disana. Rupanya Nirmala hendak menulis, pikirnya.
Adnan keluar kamar melihat Nirmala sedang mengupas bawang. Ia pun mendekati istrinya itu.
"Mau apa, pak?" tanya Nirmala heran. Ia sedang duduk di lantai, mengupas bawang. Ia cukup terkejut melihat Adnan yang mau duduk di lantai, apalagi di dapur.
Adnan melihat daster Nirmala terangkat akibat duduk sehingga menampakkan paha yang lebih putih. Gelengan kecil tampak darinya.
__ADS_1
"Kamu selalu pakai daster kalau di rumah?" tanya nya tanpa menjawab pertanyaan dari Nirmala.
Nirmala menatap Adnan lalu mengikuti arah pandang suaminya itu. Seketika membuatnya menelan saliva dengan kasar. "Kalau di rumah aku mode mbak Kunti, pak. Kalau di luar mode ukhti."
Mata Adnan memicing mendengar jawaban Nirmala. "Mode mbak Kunti?" tanya nya beo.
Nirmala memasukkan potongan bawang, cabai, dan tomat yang sudah di cuci sebelumnya ke dalam blender lalu diisi dengan sedikit air. "Ya. Persis mbak Kunti, gak pakek kerudung."
Adnan menggeleng lagi. "Tapi ingat ya, jangan keluar rumah tanpa menutup aurat, dan kalau ada tamu segera masuk kamar."
Nirmala menghidupkan blender dan bumbu sambal balado telah halus. Mematikan blender usai dirasa cukup lalu menatap Adnan. Ia tahu bila harus menutup aurat. "Kenapa harus masuk kamar?" akhirnya, pertanyaan itu terlontar juga.
Blush
Pipi Nirmala bersemu merah mendengar jawaban Adnan. Sebagaimana seorang perempuan senang dipuji oleh laki-laki. Apalagi selama ini tidak pernah ada yang memuji dirinya. Ketika masih menjadi istri Arman saja, sekalipun tak pernah di puji. Dahulu, sering Nirmala sering bertanya kepada Arman.
Apakah ia cantik?
__ADS_1
Jawaban Arman selalu saja.
"Halah. Pertanyaan gak ada guna." Kalimat itulah selalu terucap dari bibir Arman dan berhasil membuat hati Nirmala sakit, dahulu. Sebenarnya, tahu bila akan merasakan sakit yang sama dan bertambah pupuk penyubur luka. Namun, keinginan di puji suami selalu ada.
Nirmala masih menunduk tersipu. Sekuat tenaga tidak mudah terbawa perasaan sebab takut menjatuhkan hati pada Adnan. Terlebih belum saling mengenal.
"Bapak gombal," cicitnya. Ia tidak menghiraukan Adnan terus memerhatikan dirinya.
Nirmala berdiri tidak hiraukan Adnan, lagi. Ia mengambil kuali yang selalu tergantung di dinding jika tidak digunakan lalu menaruhnya di atas kompor gas. Setelahnya, ia menumis bumbu sambal balado tersebut.
"Perlu saya bantu?" tanya Adnan lembut.
Nirmala menoleh kebelakang dan terkejut ketika melihat Adnan sudah berdiri di belakang nya.
Ya ampun. Kayak mbak Kunti saja datang tiba-tiba.
❤️
__ADS_1
Baca juga Novel emak di Fzo dong.
AFFAIR WITH KAKAK IPAR