Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
42. Calon istri


__ADS_3

Nirmala baru saja keluar dari mobil travel dibarengi Adnan yang membantu sopir mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dari bagasi.


Pandangan takjub melihat Pondok Pesantren tak jauh dari tempatnya berpijak. Sangat ingat dahulu ia sangat ingin masuk Pesantren tetapi keterbatasan biaya menjadikannya masuk sekolah Negeri.


Mungkin Tuhan memberikan lebih dari keinginannya dahulu yaitu dinikahi ustadz dari Pesantren. Seketika itu juga Nirmala mengucap syukur lebih banyak dalam hati.


"Itu Pesantren tempat mas bekerja," tutur Adnan berdiri di samping Nirmala.


Nirmala menoleh disertai senyuman. "Aku tahu. Mas hebat," pujinya tulus.


Adnan membalas senyuman Nirmala dengan sebuah kecupan di pipi yang membuat merona atas perlakuannya. Sebab, ini kali pertama Adnan melakukan di luar rumah.


"Lebih hebat kamu, sayang. Kamu sudah bekerja sejak SMP sementara mas baru merasakan bekerja saat kuliah di Kairo. Mas bangga sama kamu."


Nirmala hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Adnan. Kemudian Adnan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Maaf, ya. Sedikit berantakan, maklumlah. Mas tinggal sendiri disini," kata Adnan menggaruk kepala bagian belakang yak tak gatal saat melihat rumahnya tampak berdebu dan sedikit berantakan.

__ADS_1


"Sayang. Apa kamu risih dan jadi ilfil sama aku?" Tanya Adnan saat melihat Nirmala diam saja.


Nirmala mendengar pertanyaan itu menjadi tercengang. Bagaimana bisa suaminya beranggapan seperti itu? Padahal, dirinya sedang memikirkan cara untuk mendapat restu dari keluarga suaminya.


"Bukan begitu, mas."


Adnan merangkul Nirmala kemudian membawanya ke kamarnya. "Ini rumah kita, kamu istirahat saja. Mas harus ke Pesantren sekarang."


"Loh.."


"Mas harus ngajar hari ini, sayang. Nanti mas beli nasi bungkus. Di kulkas gak ada stok bahan dapur. Setelah mas pulang, kita belanja ke Pasar bersama."


Tapi, tetap saja Nirmala tidak bisa melakukan itu. Ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri dan berubah seiring waktu seperti yang diinginkan Adnan saja.


Adnan masuk ke dalam kamar mandi. Hanya kamar yang ditempati Adnan, terdapat kamar mandi di dalamnya. Nirmala menyediakan pakaian dalaman saja karena masih belum tahu pakaian yang dikenakan Adnan saat bekerja.


Adnan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang. Sontak membuat Nirmala memutar tubuh membelakangi Adnan.

__ADS_1


"Mas. Kenapa keluar gak bilang dulu, sih?!" Sungut Nirmala merasa malu sendiri. Padahal, Adnan bukan pria pertama baginya.


Adnan terkekeh melihat tingkah Nirmala. Ia pun mendekat dan mencuri kecupan di pipi Nirmala. Setelah itu barulah ia mengambil pakaian dalaman di atas kasur dan membuka lemari mengambil pakaiannya.


"Mas pamit. Kamu istirahat, ya." Adnan mencium kening Nirmala setelah istrinya itu mencium punggung tangannya.


"Iya. Hati-hati, mas."


Nirmala benar-benar istirahat setelah Adnan pergi ke pesantren. Dalam benaknya, begitu banyak santriwati atau ustadzah. Apakah tidak ada wanita yang dapat merebut hati Adnan?


Betapa beruntung dirinya memiliki Adnan jika seperti adanya.


Dua jam kemudian, Nirmala terbangun karena mendengar suara seseorang di dapur seperti sedang mengobrol. Ia pun beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar setelah mengenakan hijabnya kembali.


Samar-samar Nirmala mendengar dua orang perempuan sedang mengobrol dan sesekali mereka tertawa bersama.


"Ah, Nirmala." Tutur salah satu perempuan yang ada di dapur yang tak lain adalah ummi Salma.

__ADS_1


Nirmala tersenyum kikuk. Rasa sungkan menyeruak kalbu karena belum mendatangi rumah mertuanya. Ia pun maju beberapa langkah mendekati ummi Salma seraya mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.


"Kenalin ini Farah. Calon istri kedua Adnan!"


__ADS_2