
Setelah berada di luar Pesantren, Nirmala hentikan langkah lalu menoleh ke belakang ternyata Adnan belum juga keluar dari rumah kyai Hasan. Dan hal itu semakin membuat hatinya bersedih.
Gegas Nirmala menyeberang jalan dan masuk ke dalam rumah. Di ambil tas besar kemudian menyusun pakaian miliknya ke dalam benda itu. Memang benar, di setiap hubungan pasti akan adaorang yang menghalangi ketentraman. Apalagi yang sedang dialaminya, awal-awal menikah juga Nirmala hamil lalu keguguran sampai akhirnya tidak pernah hamil lagi hingga Arman tiada. Bukan berharap begitu, tapi ada sedikit pikiran ke arah sana.
Mata Nirmala terpejam kala merasakan kedua tangan kekar melingkar di perutnya dan kepala seseorang bersandar di bahunya. Ia sangat tahu seseorang itu adalah Adnan, suaminya.
"Jangan pergi," ucap Adnan lirih.
"Kamu terlambat, mas." Nirmala mencoba melepaskan pelukan Adnan tapi semakin erat. "Aku menerima lamaran mas karena menepati ucapanku waktu itu dan jaminan kalau mas akan membahagiakan aku setelah masa laluku. Aku gak pernah memaksa mas untuk menikahi aku, jadi mari kita berpisah."
Adnan terkejut langsung membalikkan badan Nirmala kehadapannya. "Saya. Mas tadi dihentikan ummi dan mas harus jelasin, mas juga gak tahu masalah tanggal pernikahan itu."
"Tolong tinggalkan aku sendiri, mas."
Adnan tidak dapat bicara apa pun saat melihat Nirmala tidak ingin membahas masalah itu. Ia pun akhirnya keluar dari kamar memberi ruang bagi istrinya. Ia juga tahu, trauma berumah tangga yang di rasakan Nirmala hingga kini masih ada.
Pria itu memilih ke dapur untuk masak menu makan siang. Ia juga sediakan buah-buahan bagi Nirmala.
__ADS_1
Tadi, saat Adnan hendak menyusul Nirmala. Langkah kakinya dihentikan oleh ucapan ummi Salma.
"Apa kamu mau menjadi anak durhaka, Adnan? Bagaimana bisa kamu memilih istri kamu yang gak tahu aturan itu," geram ummi Salma tidak terima atas perlakuan Nirmala tadi.
Adnan balik badan. Ia menatap semua orang di ruang tamu rumah kyai Hasan satu-persatu. "Ummi, tolong. Dari awal sebelum menikahi istriku juga aku sudah menolak Farah. Cinta gak bisa di paksa, ummi."
"Kamu mau gak punya keturunan?"
"Justru kalau aku menikah dengan Farah akan membahayakan calon anakku." Adnan masih berdiri menatap kyai Hasan. "Maafkan saya, kyai. Demi Allah saya gak akan melakukan poligami. Saya mencintai istri saya dan akan selalu seperti ini. Istri saya sedang hamil dan saya meminta maaf atas perbuatan orang tua saya atas kejadian ini. Saya tidak tahu perjanjian apa yang kalian sepakati sehingga menerima Farah menikahi laki-laki beristri." Adnan menatap Farah sekilas. "Carilah laki-laki yang masih lajang, Farah. Jangan rendahkan harga dirimu. Kamu menerima dengan lemah lembut pun sudah menyakiti istriku. Assalamualaikum." Adnan segera berlari menyusul Nirmala yang sudah sampai di rumah.
"Sayang. Mas berangkat bekerja, ya? Makan siang kamu sudah mas siapin di lemari. Assalamualaikum," kata Adnan.
Sesampainya di Pesantren, Adnan mengajar seperti biasa hingga selesai pukul 3 sore. Kasak-kusuk berita penolakan perjodohan antara Adnan dan Farah mulai terdengar oleh para santriwa dan santriwati.
"Pak ustadz," panggil Adi yang juga berprofesi sama dengan Adnan.
"Assalamualaikum, Tadz."
__ADS_1
Adi terkekeh kemudian. "Waalaikumsalam, Tadz."
"Ada apa, Tadz?" Tanya Adnan sebab masalah pekerjaan telah selesai, tadi.
"Apa benar, ustadz menolak perjodohan dengan ustadzah Farah?"
"Benar, Tadz. Karena saya sudah punya istri."
Adi tampak terkejut karena selama ini rumor yang di dengarnya ia anggap hanyabrumor belaka karena belum pernah melihat istri dari Adnan. "Jadi betul ustadz sudah menikah?"
Adnan mengangguk disertai senyuman. "Ustadz punya kesempatan untuk mengkhitbah beliau. Semoga di terima, saya permisi dulu. Assalamualaikum," Adnan segera melangkahkan kaki menuju rumah orang tuanya lebih dahulu.
Sesampainya di rumah Abi Musa, Adnan masuk ke rumah setelah mengucap salam. Tetapi agaknya kedua orang tuanya tidak mendengar. Sayup-sayup ia dengar Abi Musa menasehati ummi Salma di dapur.
"Ummi itu jangan kebiasaan mudah kena hasutan. Bilangin menantu kita mandul, pula. Ummi gak dengar tadi, kalau menantu kita sedang hamil. Pakai jamin anak kita mau poligami. Abi malu, Mmi."
"Maafin Adnan tadi Abi, ummi. Demi Allah, Adnan sangat mencintai Nirmala." Adnan masuk ke dapur tiba-tiba dan bersimpuh di kaki kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi.
__ADS_1