Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
43. Rencana Nirmala


__ADS_3

Sejenak Nirmala memejamkan mata untuk meredahkan kekesalan dan kesedihan yang dirasakannya sekaligus setelah ummi Salma memperkenalkan perempuan bercadar itu. 


Nirmala balik badan menatap kedua perempuan beda generasi itu dengan senyuman. "Calon istri suami aku, mi?" Tanya ya penuh penekanan.


Ummi Salma mengangguk disertai senyuman. "Ummi sudah membuat keputusan, ummi akan merestui kamu dinikahi anak ummi asal Farah menjadi istri Adnan."


"Dan mbak Farah mau jadi istri kedua suami aku?" Nirmala memotong ucapan ummi Salma dan menatap Farah yang menunduk seakan sedang tersipu malu. 


Melihat tingkah Farah membuat Nirmala menghela nafas panjang. Ia tidak tahu harus berbuat apa, sekarang. Memang Nirmala sangat menginginkan dapat restu dari orang tua Adnan, Namun bukan berarti harus menerima memiliki madu dalam rumah tangganya dengan Adnan. Apalagi calon madunya lebih Solehah daripada dirinya. Dari segi penampilan saja Nirmala sudah kalah jauh, pikirnya. 


"Kalian ngobrol dulu, ya. Ummi mau pulang sebentar," kata ummi Salma meninggalkan Nirmala dan Farah.


Untuk beberapa saat Nirmala dan Farah tampak diam saja. Tetapi, rasanya Nirmala tidak dapat menahan rasa penasarannya. 


"Kenapa mbak Farah mau menjadi istri kedua mas Adnan?"


Lagi-lagi Farah menunduk malu. "Saya sudah lama mengagumi ustadz Adnan, jadi saya siap menjadi istri kedua beliau."


Ingin rasanya Nirmala mencekik leher Farah setelah mendengar jawaban perempuan itu. "Tapi suamiku sangat mencintaiku, mbak."


Farah mengangguk paham. "Saya tidak apa-apa jika cinta mas Adnan untuk mbak Nirmala. Karena saya yakin, ustadz Adnan akan adil untuk kita."

__ADS_1


Nirmala membuang muka sebab tidak ingin terlihat sedang menahan amarah. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain. Sebelumnya, ia sudah sering berhadapan dengan orang lain dengan watak yang berbeda-beda.


Ingin sekali rasanya Nirmala memaki Farah. Tetapi urung, karena ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak seburuk pemikiran orang lain. Apalagi suaminya seorang ustadz. Ia tidak ingin menjelekkan nama sang suami.


"Bukankah itu membuat suamiku berdosa dengan nggak mencintai kamu, mbak? Dan apa mbak gak mikirin gimana perasaan aku sebagai istri sah suamiku?"


Cukup lama kedua ya terdiam. Nirmala tidak perduli dengan jawaban yang akan diberikan oleh Farah. Senyumannya mengembang ketika timbul sebuah ide di kepalanya. "Boleh aku minta nomor ponsel mbak Farah?"


"Bo-boleh. Ini," Farah menunjukkan nomor ponselnya dan disalin oleh Nirmala.


****


Malam harinya, Adnan kembali pulang ke rumah. Merasa khawatir pada Nirmala karena Abi Musa menghubunginya sedang berada di rumahnya. 


"Sayang. Maafin mas terlambat pulang," tutur Adnan sambil mengecup kening dan pipi Nirmala setelah punggung tangannya dicium Nirmala.


Indah sekali. 


Hati Adnan damai merasakan perhatian Nirmala.


"Mas. Ada Abi dan ummi," bisik Nirmala tersipu malu. Tetapi, ada rasa puas di hatinya melihat Farah membuang muka saat Adnan mencium kening dan pipinya.

__ADS_1


Adnan langsung menoleh setelah dibisikkan oleh Nirmala. Bahkan terkejut saat melihat Farah berada disana, gegas ia menatap istrinya seakan melayangkan pertanyaan sedang apa Farah di rumahnya. Namun, Nirmala hanya tersenyum saja yang membuat Adnan mengerti bila sedang terjadi sesuatu saat dirinya belum pulang kerumah, tadi.


"Mau makan dulu atau mandi dulu, mas?" Tanya Nirmala. 


Adnan menatap mata Nirmala sedari tadi. "Makan dulu saja, dik."


Semua orang duduk di meja makan. Nirmala melayani Adnan dengan telaten. Pengalaman sebelumnya melayani suami tentu saja sudah mahir dalam hal melayani ketika dinikahi Adnan. Setelah melayani Adnan, Nirmala mengambil makanan untuknya sendiri. 


Adnan memimpin doa, kemudian semuanya makan dengan tenang.


"Sayang. Masakan kamu beda, gak kayak biasanya. Apa kamu masih butuh istirahat?" Tanya Adnan karena makanan itu terasa sedikit manis dari masakan Nirmala.


Nirmala melirik ke arah Farah yang menatap Adnan dengan tatapan kagum. Tentu saja hal tersebut membuat Nirmala kesal lantaran cemburu.


"Memangnya, rasa masakannya gimana, mas?" Tanya Nirmala sengaja mumpung Abi dan ummi sedang berada di ruang tamu setelah selesai makan malam.


"Sedikit manis."


"Mas suka yang begini atau yang biasa aku masak?" Tanya Nirmala sengaja. 


"Mas lebih suka yang biasa kamu masak. Kamu, kalau masih lelah istirahat saja. Kamu kan tahu kalau masih bisa masak walau masih enakan masakan kamu."

__ADS_1


Akhirnya, Nirmala tersenyum lebar mendengar jawaban dari Adnan. 


Aku gak akan biarkan mas Adnan menikah lagi.


__ADS_2