Penggemar Ku Seorang Ustadz

Penggemar Ku Seorang Ustadz
7. Turun ranjang demi uang


__ADS_3

40 hari sudah Mas Arman wafat. Bersamaan itu pula masa Iddah ku telah usai karena aku tak hamil juga. Aku mulai ketar-ketir memikirkan kemana harus tinggal karena tak memiliki rumah pribadi.


Rumah orang tua ku sudah di sita Bank. Helaan nafas panjang ku terdengar lirih. Bingung harus kemana dan bagaimana. Memang masih ada waktu satu bulan lagi untuk tinggal di Mess seraya menunggu uang kematian mas Arman dari Perusahaan.


Ku buka platform dimana aku mencari uang. Kolom komentar yang selalu aku baca dan balas.


🤵: Assalamualaikum calon istri.


Mataku melebar membaca salah satu komentar pembaca ku. Apa dia gila?


Sebab komentar dia, banyak pembaca ku yang lain membalas komentar dirinya dengan tulisan menggoda untuk ku.


Segera ku follow back akun pembaca itu, ternyata dirinya sudah memfollow ku lebih dulu. Rasa kesal menyelimuti hati ingin segera mengomel kepada orang tersebut. Tapi, mengingat aku adalah penulis yang memiliki penggemar tentu saja membuatku urung.


Aku : Assalamualaikum, maaf. Maksud komentar kamu apa, ya?


Kalimat itulah yang aku kirim kepada orang itu. Cukup lama menunggu ternyata tidak ada balasan. Aku pun berdecak menyadari jika itu hanya sebatas kalimat guyonan.


"Assalamualaikum," ucap seseorang yang aku kenal. Gegas ku buka pintu utama rumah. Ibu mertua ku dan Dani datang berkunjung.


"Waalaikumsalam, Bu."


Aku mempersilahkan kedua orang itu duduk dan aku melangkah kaki menuju dapur membuat teh untuk mereka. Setelah itu ku hidangkan di hadapan mereka.


"Silahkan di minum Bu, Dan."


Cukup lama mereka bicara tanpa memberi tahu tujuan mereka datang kesini untuk apa. Bukan tidak izinkan mertu datang ke rumah. Namun, saat mas Arman masih hidup, mertua tidak mau datang ke rumah ini. Kami lah yang selalu di suruh datang kesana.


"Gini, La. Ibu mau ngomong sama kamu," kata mertua ku.

__ADS_1


"Ngomong apa, Bu?" tanya ku sopan meski hati ku mulai cemas.


"Nanti setelah uang mas Arman cair, kamu tinggal saja di rumah ibu. Daripada harus mengontrak." Itulah yang di ucapkan mertua ku.


Ternyata benar apa yang dikatakan para tetangga bahwa ibu mertua ku tidak akan rela uang kematian mas Arman, aku yang pegang.


"Tapi, Bu.."


"Nanti uang itu kalau kamu yang pegang akan habis," sela ibu mertua ku. Nama ibu mertua ku adalah Sarifah.


Aku menghela nafas panjang mendengar ucapan mertua ku. "Uang itu akan aku pake buat buka usaha, Bu. Aku gak mungkin buang-buang uang mas Arman."


Wajah ibu mertua berubah masam. Aku tidak tahu rencana yang telah di susun oleh mereka. Bagaimana bisa tingga bersama mertua sementara aku bukan lagi menantu dan ada Dani di rumah itu.


"Tapi uang itu juga uang anak ibu," sanggah ibu mertu yang sudah ku duga.


"70 dan kamu 30," kata ibu mertu ku dan langsung membuatku terkejut.


"Jangan begitu dong, Bu. Bagi dua biar adil. Aku juga selama ini gak kerja, itu untuk simpanan aku."


"Kalau begitu kamu nikah saja sama Dani biar uang itu tetap utuh," kata ibu mertua ku yang tidak memikirkan perasaan ku sama sekali.


Menikah dengan Dani?


Apa tidak ada lagi pria sehingga aku harus turun ranjang dengan adik mendiang suami ku?


Jika saja Dani lebih baik dari mendiang suami ku, bisa saja aku berpikir ulang. Sebab, aku tak munafik. Aku masih muda dan belum memiliki keturunan. Aku sendirian tanpa orang tua dan tanpa saudara pula.


Semandiri, sepintar ilmu akademis dan agamis, dan setinggi apapun jabatan seorang wanita. Tetap saja ingin di arah kan, ingin di bimbing, dan ingin di lindungi oleh pasangan halal yang lebih baik.

__ADS_1


Aku menggeleng mengingat bagaimana begajul nya Dani. Juga aku tidak ingin mengulang kisah lama.


"Aku belum mau menikah lagi, Bu. Tanah kuburan mas Arman masih basah, ibu sudah menyuruhku menikah. Pasti Mas Arman sedih melihat kita begini," kataku memberi jawaban dengan harapan ibu mertua ku mengerti.


"Ayolah, La. Kamu juga janda. Gak takut di nilai jelek sama masyarakat," sela Dani.


"Aku juga sudah lama suka sama kamu," sambung Dani lagi.


Ku tatap Dani yang sedari tadi diam saja menatapku. Pantas saja selama ini tatapan matanya membuatku risih.


"Aku belum mau menikah lagi," kata ku tegas.


Ibu mertua ku terlihat mesam-mesem sewot padaku. Aku hanya cuek saja karena sudah terbiasa mendapat perlakuan begitu. Tentu saja aku tidak mau menikah dengan anak beliau dan akan menjadi menantu nya lagi. Membayangkan saja tidak pernah.


"Ingat pesan ibu. 70 dan 30."


Aku diam saja dan mengikuti keluar rumah mengantar kepulangan dua orang itu. Aku tahu ibu mertua ku begitu karena sudah tak ada lagi yang memberi uang setiap bulan nya karena suamiku telah tiada.


Sering sekali aku tahu mas Arman memberi uang bulanan kepada ibu mertua dan aku tidak pernah melarang karena itu sebuah kewajiban.


Beruntung simpanan uang yang diberikan mas Arman tidak di ketahui oleh mertua ku. Hanya cincin dan kalung emas saja yang diketahui. Jika saja tahu emas ku yang lain hasil aku menulis, bisa runyam urusan.


Aku masuk ke dalam kamar lagi untuk meneruskan tulisan ku.


Ah, ternyata sudah ada balasan dari pembaca ku yang aneh itu.


🤵 : Waalaikumsalam. Aku ngajak nikah. Mau?


❤️

__ADS_1


__ADS_2