
Rasa penasaran terus menyelimuti hati Nirmala lantaran ummi Salma tidak memberitahukan tentang Farah yang akan menjadi istri kedua Adnan. Jika dibatalkan, tidak mungkin karena Farah juga menginginkan hal tersebut, pikirnya.
Nirmala menduga, ummi Salma memiliki rencana yang tidak terduga. Ia merasa semakin panik jika benar itu terjadi.
Senyuman penuh arti terbit di wajah cantiknya, ia mengambil ponsel dan mendial nomor telepon calon madunya itu.
Panggilan telepon sudah terhubung, gegas Nirmala menuju dapur menghampiri Adnan yang sedang masak. Di masukkan lebih dahulu ponsel ke dalam saku jaket yang dikenakannya sebelum memeluk Adnan dari belakang.
"Ya ampun, sayang. Mas kaget," kata Adnan memekik. Pria itu mematikan kompor yang kebetulan masakannya sudah matang kemudian memutar tubuh dan kembali memeluk Nirmala.
Nirmala terkekeh mendongakkan wajahnya menatap Adnan. "Maafin aku ya, mas. Aku terlambat bangun jadi kamu yang masak," kata Nirmala benar-benar merasa bersalah bukan hanya karena sambungan telepon nya ke Farah masih terhubung. Suara Nirmala terdengar manja.
Adnan mengecup kening dan pipi. Saat hendak mencium bibir Nirmala, istrinya itu langsung menutup mulutnya. "Kenapa gak mau mas cium, hm?"
Nirmala mencebik. "Mas kebiasaan cium bibir aku. Padahal aku belum sikat gigi, aku kan jadi malu." Pipi Nirmala bersemu merah setelah mengatakan itu. Memang benar, Adnan akan mengambil setiap kesempatan untuk sekedar mengecup bibirnya.
Adnan tertawa tanpa mengatakan apapun setelah Nirmala mengungkapkan kebiasaannya. "Mas siapin sarapan kita, sebentar."
Nirmala tersenyum dan mengangguk. "Aku bersih-bersih dulu," katanya kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur. Di dalam kamar mandi, ia melihat ponselnya yang masih terhubung oleh Farah. Ia memamerkan kemesraannya dengan Farah agar cemburu dan akan ada sesuatu yang akan membuat Farah akhirnya menyerah.
Usai membersihkan diri, Nirmala keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan piaya dan jaketnya. Ia mengenakan jaket bukan hanya karena menyembunyikan ponsel, tapi memang merasa sangat dingin.
Seperti biasa, Nirmala akan melayani Adnan makan lebih dahulu kemudian makanan untuknya. Menjadi sebuah kebiasaan, Adnan akan memimpin doa. "Mas, boleh tanya?"
Adnan memelankan kunyahan dan mengangguk. "Tanya saja, sayang. Kenapa harus izin."
Senyuman Nirmala mengembang mendengar itu, ia bertanya seperti itu karena takut bila akan seperti dahulu saat bertanya kepada Arman. Dulu, saat ingin bertanya sesuatu maka Arman akan marah jika menyinggung perasaan.
"Menurut mas, perempuan bercadar itu gimana?" Tanya Nirmala menatap wajah Adnan.
Sesaat tatapan mereka bertemu. Adnan meletakkan sendoknya agar lebih serius membahas hal ini. "Kamu mau jawaban pribadi dari mas atau secara umum?"
__ADS_1
"Pribadi mas, dong." Jawab Nirmala cepat karena memang inilah yang ingin diketahuinya.
Adnan berdehem. Ia harus menjawab secara hati-hati agar Nirmala tidak tersinggung. "Jujur, mas suka lihat perempuan memakai cadar." Ia menjeda ucapannya ingin melihat reaksi istrinya setelah ia mengatakan kalimat tersebut.
Benar saja. Wajah Nirmala berubah murung dan cemberut. "Ya sudah," ucapnya pelan.
"Mas belum selesai ngomong, sayang. Kenapa sudah cemberut gitu?" Tanya Adnan menahan senyum.
"Mas buat buat aku cemburu. Berarti mas gak suka aku."
"Siapa bilang? Mas memang suka lihat perempuan bercadar tapi kalau perempuan itu kamu," ungkap Adnan spontan justru membuat Nirmala tersipu malu.
"Mas gombal," ucap Nirmala malu-malu.
Ingin sekali Adnan mencubit pipi Nirmala saking gemasnya. Apakah semua perempuan akan sama seperti ini?
Saat lelaki mengatakan sejujurnya sedang memuji perempuan yang dicintai justru dikata gombal, jika tidak mengungkapkan perasaan pasti dikata tidak cinta.
Perempuan adalah makhluk paling membingungkan bagi lelaki.
Nirmala mengangguk disertai senyuman. "Aku mau tanya lagi. Gimana menurut mas tentang poligami?"
"Itu hanya bagi yang mampu dan mas gak akan mampu. Cukup satu yaitu kamu. Mengeluh tentang satu istri saja dosa, sayang. Apalagi dua istri? Hanya Rasulullah yang mampu, mas enggak."
Nirmala tersenyum mendengarnya. Semoga saja Farah mendengar penolakan dari Adnan. "Tapi, gimana kalau ummi mas memaksa?"
Adnan diam menatap Nirmala. Lelaki itu seakan mengerti situasi yang terjadi saat ini. Ternyata, inilah jawaban pertanyaannya sedari malam saat mendapati Farah makan malam bersamanya. "Surga mas memang berada pada ummi. Tapi, mas punya tanggung jawab atas kehidupan kamu, La. Bagaimana mungkin mas akan masuk surga bila kamu merasakan ke zholiman mas yang akan menikah lagi hanya demi ummi?"
"Meskipun calon istri kedua mas lebih solehah dari aku?" Tanya Nirmala dengan suara serak menahan tangis.
Akhirnya Adnan bangkit dan bersimpuh di kaki Nirmala. Kepalanya mendongak serta kedua tangannya menggenggam tangan Nirmala. "Jadi ummi bilang kalau akan menikahkan Farah dengan mas?" q
__ADS_1
Nirmala hanya mengangguk membiarkan tetesan air mata membasahi pipinya. Spontan itu pula Adnan langsung menghapus air matanya.
"Dengarkan, mas. Mas gak akan biarkan siapapun masuk ke dalam kehidupan rumah tangga kita. Menasehati boleh saja tapi nggak untuk menghancurkan kebahagiaan kita. Cukup mas dan kamu juga anak-anak kita nanti," ungkap Adnan semakin membuat Nirmala menangis.
"Janji?" tanya Nirmala seakan takut Adnan akan goyah atas ucapannya barusan.
"InsyaAllah mas janji." kata Adnan tegas.
"Mas. Boleh gak nanti aku ikut ke Pesantren?" tanya Nirmala tapi membuat Adnan memicing curiga.
"Kamu gak mau ngelabrak ustadzah Farah kan?" tanya Adnan memastikan tidak ingin istrinya membuat onar.
Nirmala mendengar itu justru menjadi cemburu. "Kenapa? takut kalau Farah kenapa-kenapa?" tanyanya beruntun dan sewot.
"Bukan begitu, sayang. Mas takut kamu kenapa-kenapa kalau itu rencana kamu."
"Aku kesana itu mau lihat suami aku ngajar dan sambil cuci mata lihat santri yang ganteng-ganteng. Kalau ada ustadz lain yang ganteng juga, bolehlah untuk cuci mata."
Adnan terkejut mendengar ucapan Nirmala. "Gak boleh. Kalau mau ke pesantren untuk belajar dan lihat mas, boleh. Tapi kalau untuk begitu, maka mas akan mengurung kamu di dalam. Mumpung hari ini mas libur."
Mata Nirmala melebar mendengar ucapan Adnan. Ia menelan salivanya saakan tahu arti senyum dan tatapan Adnan. "M-mas. Aku kan masih gak enak badan, aku masih mual muntah, loh."
Adnan terkekeh. "Sayang. Katanya, melakukan itu bisa buat sembuh dari pegal linu."
"Apaan. Yang ada makin pegal linu, mas. Kamu ih. Awas tangannya, jangan nakal. Maaass!!!"pekik Nirmala saat Adnan telah membopongnya menuju kamar.
"Kita belum siap sarapan."
"Mas mau makan kamu dulu, sayang.
Adnan memeluk Nirmala begitu erat. Hatinya nelangsa melihat Nirmala seperti ini. Adnan tidak ingin Nirmala memiliki keraguan atas cintanya.
__ADS_1
"Mas bau!!!
"Jangan beralasan, sayang."