
Meski dalam keadaan hamil, Nirmala tetap menjalani pekerjaannya sebagai penulis. Bahkan, salah satu novel yang ditulisnya akan terbit dan ia akan membuat acara di sebuah kafe bersama pembaca setianya.
Adnan juga sudah memberikan izin dengan syarat ikut bersama sepanjang acara. Bukan ingin posesif kepada Nirmala, hanya saja ia termasuk salah satu pembaca setia hingga kini.
Senyuman mengembang indah diwajah Nirmala saat pertama kali memasuki kafe yang telah mereka janjikan. Binar bahagia dicampur haru menjadi satu saat sapaan untuknya terdengar merdu.
Sebuah impian yang hanya ia pikir benar-benar menjadi sebuah mimpi saja ternyata menjadi kenyataan.
"Assalamualaikum," sapa Nirmala sebagai pembuka kata sambutan darinya.
"Waalaikumsalam."
Senyuman Nirmala semakin mengembang dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia membaca karya-karya saya. Saya gak tahu harus bicara gimana lagi. Pokoknya saya sangat senang bisa berkumpul dengan kalian. Harapannya, ke depan kita bisa bersilahturahmi seperti ini."
Nirmala menjadi lebih tenang karena Adnan menggenggam tangannya yang lain.
Sesi bertanya pun dimulai. Dari pertanyaan umum seputar pengalaman awal menulis, kendala yang dialami, solusi ketika tidak semangat menulis, dan terakhir pertanyaan seputar kehidupan Nirmala.
__ADS_1
"Sebelumnya kalian pasti tahu kalau saya adalah janda ditinggal mati. Dari pernikahan sebelumnya belum punya anak dan InsyaaAllah di pernikahan kedua saya akan segera hadir anak diantara kami." Nirmala tersenyum menoleh ke arah Adnan yang sedari tadi menggunakan masker. Jangan tanya alasannya, sudah pasti karena Nirmala yang menginginkannya.
"Wah, MasyaAllah.. Jadi mbak Lala sedang hamil?" tanya salah satu pembaca setia novel Nirmala.
"Ia mbak, Alhamdulillah. Doain semoga lancar semuanya, ya." Nirmala tetap mengembangkan senyuman.
"Aamiin. Oh iya, kenalin dong suaminya mbak."
Nirmala menoleh menatap Adnan dan mendapat anggukan. Adnan pun membuka maskernya.
Tampak banyak yang bersorak saat mengingat calon jenazah. Mereka tidak menyangka akan menjadi kenyataan.
Acara selanjutnya makan bersama dan terakhir foto bersama.
Usai acara dan pasangan suami istri tersebut mampir ke sebuah masjid yang berada di kota.
"Kamu senang?" tanya Adnan sambil memberikan botol berisi air mineral kepada Nirmala.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mas. Aku gak nyangka punya pembaca sebanyak itu. Maaf ya, mas. Sudah repotin mas begini."
"Mas justru suka kamu ada kegiatan begini. Ya terpenting, ibadah dan kesehatan tetap di jaga. Dua hal itu gak boleh lalai."
Nirmala mengangguk kemudian memberi kecupan di pipi Adnan. "Makasih banyak, mas."
Senyuman mengembang diwajah tampan Adnan. Rasanya sangat bangga memiliki istri seperti Nirmala, mampu menghadapi rasa trauma. Satu yang dapat dipahami, Adnan tidak mau lagi membahas ataupun menyebut keluarga kyai Hasan.
Setelah beristirahat di masjid sejenak, Adnan mengajak Nirmala berkeliling kota kemudian memutuskan untuk segera pulang. Tidak lupa pula Nirmala membeli martabak manis kesukaannya dan membelikan juga buat orang tua Adnan.
Dahi Adnan berkerut melihat di teras rumahnya tampak beberapa orang disana, begitu juga Nirmala.
Ternyata yang berada di teras rumah Adnan adalah keluarga kyai Hasan, Adi, dan orang tua Adnan.
Gegas Adnan keluar mobil dan membukakan pintu bagi Nirmala barula jalan berdua mendekati teras rumah dengan tangan saling menggenggam.
Nirmala sendiri berusaha tenang. Tidak ingin menduga tujuan mereka datang kekediaman.
__ADS_1