
Sialakan yang ingin mempromosikan novel kalian.
"Rika, Mas mohon. Kamu jangan pergi kasihan anak kita ditinggal terus sama ibunya, stok Asi kamu juga sudah sedikit.” Aku menahan tangan istriku yang saat ini ingin pergi ke rumah orang tuanya.
“Iya, iya! Nanti aku pompa di rumahku saja. Aku malas kalau di sini terus.”
“Di sini kan juga bisa, kenapa harus di rumah orang tua kamu Rik?”
“Banyak omong kamu! Aku maunya di rumah mamahku. Sekarang juga lepaskan tangan kamu Mas!” Rika berusaha melepaskan genggaman tanganku.
“Rika, Mas mohon tunggulah dulu di sini untuk pompa Asi kamu.” Aku terus saja memohon pada Rika istriku untuk tidak pergi ke rumah orang tuanya.
Tapi pada akhirnya aku mengalah dan tidak bisa menahannya untuk tidak pulang ke rumah orang tuanya.
Rika pulang ke rumah orang tuanya bukan berarti dia minta cerai, dia pulang hanya untuk rebahan sambil main ponsel.
Tanpa peduli dengan urusan rumah tangga yang sudah dibangun 4 tahun.
“Sudah Mas aku cape tahu. Aku mau ke rumah orang tuaku,” Rika melepaskan tanganku dari genggamannya.
Di saat Rika sudah melangkah pergi, aku tetap kekeh menahannya agar tidak pergi ke rumah orang tuanya. Dan fokus mengurus bayi kembarnya yang masih berumur 1 tahun.
Tapi tetap mereka butuh Asi hingga sampai 2 tahun
Rika tidak mengizinkanku untuk memberi susu sufor, tapi dia sendiri menyetok asi tidak banyak.
“Rika, tunggu.”
“Lepas Mas! Kuping kamu budek ya. Aku mau pulang ke rumah mamahku!” bantak Rika membuat kedua anak kembarku terbangun mendengar suara ibunya yang keras.
“Tuh, dengar anak kamu tangis. Sana urusin mereka berdua aku mau pulang!” Akhirnya terpaksa aku melepaskan Rika pergi ke rumah orang tuanya dengan mobil miliknya.
Aku yang sudah tidak punya pilihan. Berlari ke kamar dan mendapati anak kembarku menangis.
Dengan cepat aku menyiapkan Asi yang sudah dipompa sebelumnya dengan istriku Rika.
Walaupun dia tidak mau merawat kedua anaknya. Dia masih mau memberikan Asinya lewat pompa Asi, lalu di simpan di botol kaca.
Aku yang sudah terbiasa mengurus kedua anak kembarku, tidak kaget dengan masalah ini.
“Aduh, anak Ayah kalian lapar ya?” aku segera memberikan dot berisikan Asi pada anak pertamaku laki-laki yang kuberi nama Adnan Azhar.
Anak laki-lakiku terlahir cacat mempunyai jari-jari tangan yang tidak tumbuh dengan sempurna.
Dan hanya mempunyai 4 jari di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sempurna.
__ADS_1
Sedangkan adik perempuannya bernama Aqila Azhar sama seperti kakaknya yang juga mempunyai cacat fisik.
Jika kakak pertamanya di tangan, adik perempuannya mempunyai cacat di kaki sebelah kanan.
Kaki kanannya tidak tumbuh dengan sempurna tidak ada jari-jari di kakinya dan hanya menyisahkan satu jari yaitu jempol saja.
Sedangkan kaki kirinya sempurna tak ada kekurangan.
Walaupun anakku terlahir cacat, anakku mempunyai wajah rupawan seperti ayah dan ibunya.
Terlihat sangat tampan dan juga cantik, aku bersyukur mempunyai mereka berdua.
Aku tidak peduli jika anakku terlahir tidak sempurna. Aku justru senang karena tuhan memberikan karunianya untukku.
Akhirnya setelah diberikan Asi anakku tertidur pulas. Aku merasa lega.
Aku melangkah ke arah dapur untuk mengambil minum di lemari dingin.
Aku menuangkannya di gelas berukuran besar dan meneguknya sampai habis. Saking hausnya.
Setelah selesai aku menyiapkan makanan untuk kedua anak kembarku jika mereka berdua bangun.
Lalu membereskan piring, gelas yang ada di meja makan bekas Rika makan tadi.
Untungnya hari ini aku mendapatkan jatah cuti dari perusahaan, aku bisa memanfaatkan cutiku yang hanya 3 hari untuk mengurus rumah.
Rika semenjak punya anak sudah tidak mau lagi beres-beres rumah. Awalnya aku memberikan pengertian pada Rika jika dia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga karena waktu itu habis melahirkan kedua anakku.
Tapi semakin lama Rika menjadi lupa akan kewajibannya sebagai seorang istri, dia lebih suka menghabiskan waktunya bermain ponsel dari pada mengurus bayinya yang menangis.
Namaku Fahmi Rahardi seorang suami berumur 30 tahun, bekerja di sebuah perusahaan menjadi seorang kepala keamanan.
Sudah 5 tahun aku bekerja di perusahaan besar ini. Sebelum menikah aku memang sudah bekerja di perusahaan ini.
Gaji yang aku terima cukup untuk memenuhi kebutuhan anak kembarku dan juga istriku.
Bagitu juga dengan ibuku yang ada di kota lain.
Sedangkan dia adalah Rika Kartika Putri istriku yang saat ini berumur 25 tahun. Istri yang tidak mau merawat anakku yang terlahir cacat.
Semenjak ia melahirkan anak yang cacat, sifatnya jadi berubah seperti bukan dirinya.
Dulu saat sebelum punya anak dia begitu sangat baik dan perhatian pada diriku, ia sering datang ke panti asuhan untuk melihat anak-anak bayi yang ditelantarkan oleh kedua orang tuanya.
Rika merasa sangat kasihan pada bayi-bayi yang ditelantarkan oleh kedua orang tuanya yang tidak mau bertanggung jawab karena mereka hamil di luar nikah.
__ADS_1
Rika pun memutuskan untuk mengadopsi salah satu bayi dari panti asuhan ini.
Namun orang tua Rika menentang keras, mamah Rika tidak ingin Rika mengadopsi bayi dari panti asuhan yang tidak jelas asal-usul orang tuanya.
Rika anak pertama anak satu-satunya dari keluarga terpandang, ia ingin mempunya cucu dari Rika sendiri. Bukan dari hasil bayi Adopsi.
Jika mengetahui anak satu-satunya mengadopsi bayi dari panti asuhan. Maka apa kata orang-orang nanti.
Apalagi orang tua Rika terutama mamahnya tipe orang yang sangat menjunjung tinggi martabatnya.
Mamah Rika tidak suka jika di pandang rendah oleh orang lain, ia harus terlihat hebat, sempurna agar orang lain selalu memuji dirinya.
Aku akui mertua perempuanku sangat gila akan harta dan gila hormat.
Beda sekali dengan mertuaku dari pihak laki-laki, yang selalu saja mendukungku. Ia mempercayakan putri satu-satunya menikah denganku.
Karna dia yakin aku bisa membimbing putrinya untuk menjadi lebih baik.
Hingga akhirnya aku dapat menikahkan Rika putri satu-satunya dan menyerahkan semuanya padaku.
Awalnya mamah Rika sangat menentang putrinya menikah denganku, ia tidak ingin mempunyai mantu seorang yang bekerja sebagai keamanan di perusahaan.
Ia ingin mempunyai mantu seorang Dokter, Polisi. Atau seorang pengusaha kaya.
Namun apa daya Rika tetap mau menikah denganku karena ia sangat mencintai diriku.
Ia tidak peduli jika diriku hanya bekerja sebagai keamanan di perusahaan orang lain.
Karena Rika tahu, aku mampu menafkahi dirinya dan memberi kebahagiaan. Begitu juga dengan Ayah Rika.
Akhirnya aku dan Rika melangsungkan pernikahan di sebuah hotel milik kedua orang tua Rika yang begitu sangat kaya raya.
Biarpun ayah Rika yang menanggung semua biaya pernikahan kami, aku tetap mengeluarkan uang hasil tabunganku selama bartahun-tahun.
Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang hanya mengandalkan kekayaan mertua.
Aku juga bisa membuktikan bahwa aku juga mampu.
...****************...
“Ya, Tuhan. Ini sudah jam 11 malam, kenapa Rika belum juga pulang.” Batinku menunggu Rika yang sudah malam belum juga kembali.
Aku terus menghubungi Rika lewat ponsel. Namun tidak ada jawaban darinya. Bahkan pesan WhatsApp pun hanya dibaca saja tidak ada balasan.
Akhirnya aku tertidur di sofa karena terlalu lama menunggu Rika.
__ADS_1
Hingga akhirnya telingaku mendengar ada suara mobil yang baru saja masuk ke dalam garasi.