Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 37 Memang Kenapa??


__ADS_3

Bu Mila tersenyum karena apa yang dia inginkan tercapai, ia pun menarik tangan calon besannya ke depan agar ikut bergabung dengan anak-anak dan suaminya, acara berlangsung dengan lancar tanpa ada kendala, walaupun ada yang berbisik-bisik kenapa calon suami Tika berubah menjadi Niko.


Namun semua itu tak menyurutkan kelancaran acaranya. Acara tetap berlangsung hingga sore hari, dan dokter Vian tetap tidak datang juga.


***


Lea dan suaminya tiba di rumah mba Rika, tanpa membuang waktu Lea dan suaminya langsung masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum."


" Wa alaikumsalam Lea," sambut mba Rika.


Mereka duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang.


" Kamu sedikit terlambat Lea, barusan keluarga pak ustadz datang ke sini, hanya silaturahmi aja."


" Ooh, tadi ke rumah pak haji Darman dulu ka, ada yang di urus," ujar Lea tak memberitahu hal sebenarnya.


" Pak haji teman almarhum ayah?"


" Iya, Ridho mana mba?"


" Ada di kamarnya, mengerjakan tugas rumah."


" Jadi belum ada pembicaraan tentang pernikahan?"


" Ada sedikit, kira-kira dua Minggu dari sekarang sudah mulai persiapan, lamaran resminya kira-kira 10 hari lagi, aku sudah kabari paman Abdullah dan bibi Fatmah untuk datang pada hari itu."


" Syukurlah semoga di lancarkan sampai hari pelaksanaan."


" Aaamiiiin," sahut mba Rika dan dokter Vian bersamaan.


" Kalian sudah makan?"


" Belum mba, rencananya mau menghadiri acara pertunangan salah satu perawat IGD tadi, tapi mungkin acaranya sudah selesai." jawab Lea sambil melirik jam tangannya.


" Ya udah makan di sini aja, masih ada masakan buat menjamu tamu tadi."


" Gimana mas?"


" Iya deh makan di sini aja, keburu kesorean jam makanmu nanti telat."


" Iya deh, ayo."


Mereka bertiga berjalan menuju ruang makan.


Bibi Lala lagi asyik memanaskan masakannya tadi siang karena tau jam makan Lea, siapa tau Lea mau makan disini fikirnya jadi masakan ia hangatkan lebih dahulu.


" Bi, Lea mau makan di sini, bibi siapin saja langsung ya." pinta mba Rika pada bibi Lala.


" Oh iya non, ini sudah hangat, tunggu sebentar bibi akan sajikan."


Setelah makanan di sajikan Lea dan suaminya makan bersama tanpa banyak bicara.


Usai makan Lea memperhatikan rumah mendiang orang tuanya itu, tak ada perubahan satupun perabotan masih sama, warna cat masih sama.


" Kenapa Lea?" tanya mba Rika.


" Mba tak ingin merubah apapun di rumah ini? Rumah ini sudah sepenuhnya milik mba Rika dan Ridho, kalau ingin di rubah, gak masalah mba."


" Hehe....kamu lupa kalau warna favorit mba dengan warna kesukaan ibu kan sama, lagian semua perabotan seolah bisa menghilangkan rasa rinduku pada beliau, rasanya seperti beliau masih ada di sekitarku," jawab mba Rika sambil tersenyum.


" Iya juga sih, semua serasa mewakili keberadaan beliau, tapi setelah menikah nanti mba tetap di sini kan?"


" Iya aku sudah bilang sama pak ustadz, untuk tidak mencari rumah di kota ini, cukup di sini saja, nanti rumah ini akan ramai, dengan anak dari pak ustadz dan dua anak yatim piatu yang akan kami angkat jadi anak kami."


" Oh, wah bagus itu mba, senang sekali kalau rumah ini jadi ramai."


Lagi asyik berbincang tak lama terdengar suara adzan magrib, dokter Vian yang sedari tadi mendengar kan obrolan istri dan kakak iparnya hendak pamit untuk sholat di mesjid.


Mba Rika pun pergi untuk sholat di kamarnya.


Usai sholat mba Rika melihat Lea yang masih duduk di ruang tamu menunggu suaminya kembali dari mesjid.


" Kamu gak sholat Lea?"


" Masih halangan mba."


" Oh, bagaimana rumah tangga mu, baik-baik saja kan?"


" Alhamdulilah baik mba, kenapa memangnya mba?"

__ADS_1


" Tidak, sedari tadi aku lihat Vian hanya diam saja, seperti ada yang ia pikirkan."


" Oh itu, dia lagi jengkel sama salah satu karyawan rumah sakit bagian ruang IGD mba."


" Kenapa?"


" Dia perempuan, nah dia menginginkan mas Vian, terus hari ini rencananya mau ngejebak mas Vian agar bertunangan dengannya dengan cara membuatnya datang ke acara yang fiktif."


" Ih apa-apaan sih?"


" Nah itu dia, kami memang banyak urusan hari ini, jadi ya gak datang ke undangan itu, entah apa yang terjadi di acaranya, menjadi rusak atau tidak kurang tau, mas Vian mematikan telpon genggamnya, aku juga sama, lebih baik kami tak di ganggu dengan hal-hal macam itu, jadi di hindari saja."


" Iya kamu benar."


" Kita lihat besok apa yang terjadi, kalau sampai kelewat batasnya, kemungkinan dia akan di pecat oleh mas Vian, ini contoh buat yang lain, yang tidak setuju akan pernikahan kami untuk tidak berbuat sesukanya."


" Iya lebih baik begitu, harus tegas, ini hidup Vian terserah dia mau nikah sama siapa."


Tak lama dokter Vian datang dari mesjid.


" Kita pulang sekarang sayang?"


" Boleh, mba kami pulang ya, nanti kemalaman, kayaknya agak mendung."


" Iya."


" Jangan lupa kabari Lea untuk acara lamaran mba ya, oh ya mba jangan sungkan minta bantuan paman Sabri dan bibi Ika, mereka pasti siap membantu."


" Iya Lea, tadi mba juga sudah hubungi mereka."


" Baiklah, pamit dulu mba, assalamualaikum," ucap Lea sambil memeluk kakak iparnya itu.


" Wa alaikumsalam," balas mba Rika.


Pasangan itu pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah mereka.


Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung masuk rumah, berganti pakaian dan duduk di depan televisi, keduanya masih belum mengaktifkan telpon genggamnya.


" Sayang masih halangan?"


" Masih ada sedikit, mungkin besok sudah selesai."


" Jangan tunda kehamilan mu ya, aku sudah tak sabar ingin punya anak."


" Kamu juga mematikan telpon genggam mu? Kok sedari tadi sepi tak ada suara."


" Iya, entah kenapa aku berpikir kalau kak Tika tak bisa menghubungi mas, pasti dia akan menghubungi ku walau tak memiliki nomor kontak ku kan bisa saja dia minta dari teman-temannya, jadi lebih baik aku juga ikut matikan."


" Iya juga ya."


Adzan Isya berkumandang, dokter Vian segera menunaikan kewajibannya di musholla yang berada dekat dengan rumahnya.


Sekembalinya dari mushola dokter Vian mencari istrinya yang ternyata lagi asyik di ruang kerja mereka.


" Ngapain sayang?"


" Biasa mengecek email dari paman Sabri."


" Oh, aku juga mau ngecek email, ada beberapa tugas dari dinas kesehatan yang harus aku lengkapi," kata dokter Vian sambil mengaktifkan laptop miliknya. Di ruang kerja mereka ada dua meja untuk mereka gunakan jadi mereka bisa mengerjakan pekerjaan masing-masing tanpa harus menggeser barang pribadi satu sama lain terlebih dahulu.


Malam semakin larut, dokter Vian menghentikan pekerjaannya dan mengajak istrinya untuk beristirahat.


***


Keesokan harinya, masih dengan kegiatan yang sama, Lea sudah berada di ruang poli anak, menyiapkan segala sesuatunya.


Ia masih belum mengaktifkan telpon genggamnya, namun hanya membawanya di dalam tas, setelah semua persiapan di ruang poli sudah selesai iapun mengaktifkan telpon genggamnya, takut suaminya menghubunginya sewaktu-waktu.


Begitu telpon genggamnya menyala, ada banyak sekali notifikasi yang masuk, terutama dari aplikasi hijau.


Dia buka satu persatu, ia tersenyum teman-temannya mengabarkan kan kalau acara pertunangan tetap berlangsung namun pihak laki-laki di ganti dengan yang lain.


Ada sebuah foto yang di kirim lewat pesan itu.


" Oh ini maksudnya kak Niko mengurus kepindahan kak Tika," gumam Lea.


" Iya," sahut kak Vino yang tau-tau sudah berada di dalam ruangan.


" Astagfirullah, kakak ini ngagetin aja!!" ucap Lea yang kaget mendengar suara kakak senior nya itu.


" Hahaha...sorry, selamat pagi."

__ADS_1


" Assalamualaikum, ada apa kok rame?" tanya Bu Laras yang baru saja datang.


" Wa alaikumsalam, ini Bu kak Vino tau-tau nyahutin aku, lagi asyik membuka pesan di telpon genggam ku."


" Memang nya kenapa, eh serius Niko yang bertunangan dengan Tika? Apa gak ngamuk dia?"


" Kemarin enggak Bu, mungkin dapat tekanan dari orang tuanya," jawab Vino.


" Kita lihat hari ini, apalagi tingkahnya, kalau kelewatan mas Vian terpaksa akan bertindak tegas, ini tak bisa di biarkan, sekalian buat contoh untuk yang lain juga agar tidak mengulangi hal yang sama," ujar Lea.


" Bagus, aku setuju," sahut bu Laras.


" Aku juga," ucap kak Vino sambil mengacungkan jempolnya.


Pasien mulai berdatangan, dokter Fandi pun sudah datang, mereka melayani pasien-pasien hingga selesai jam pelayanan.


***


Tika kelihatan bingung mencari keberadaan dokter Vian, ia harus nya dinas malam nanti namun sedari tadi sudah berada di rumah sakit hanya untuk mendapatkan kejelasan kenapa dokter Vian tidak datang kemarin.


Begitu melihat Lea yang hendak pulang ia mencegatnya.


" Lea...!!"


Lea menoleh ke arah suara yang memanggil nya.


" Ya kak?"


" Dokter Vian kemana?"


" Oh tadi pamitnya ke kantor dinas kesehatan kak, ada tugas dari kantor yang harus dia serahkan, ada apa kak?"


" Ti.... tidak, aku cu..cuma mau tanya kenapa kemarin tidak datang ke acara keluarga ku? Apa kamu menghalangi nya?"


" Oh maaf kak, aku tidak menghalangi suamiku untuk datang ke acara apapun, kebetulan kemarin keluargaku juga ada acara, mungkin suamiku memilih untuk ikut denganku daripada datang ke acara keluarga mba," ucap Lea sedikit menekan kata 'suamiku'.


" Kamu tau, kedatangan dokter Vian sangat penting, dia mewakili direktur yang sedang berada di daerah.


" Terus?? Gimana kak? Memangnya kenapa kak kok suamiku harus datang? Apa acara keluarga kakak batal gara-gara suamiku tidak datang?"


" Ya tidak, tetap berlangsung kok," ucap Tika sambil berkacak pinggang masih tak terima.


" Oh ya, bagus lah, maaf kak aku harus pulang, mau menyiapkan makanan untuk suamiku," ucap Lea sambil melangkah meninggalkan kakak seniornya itu.


" Tap...tapi...Lea...Lea....!"


Puk... punggung Tika di tepuk oleh seseorang, sontak Tika kaget dan menoleh ke arah orang yang menepuknya.


" Jangan kamu kira aku tak tau tujuan mu ya Tik, aku calon suamimu sekarang, jangan macam-macam, paham!!" ucap Niko setengah berbisik.


" Kak Niko, tapi kan...."


" Diam, dan fokus saja akan acara pernikahan kita nanti."


Tika tak bisa berkata apa-apa lagi, tadi malam dia sudah di peringatkan untuk menuruti apapun yang Niko katakan bila membantah maka dia akan di usir dari keluarga, ia sangat takut walaupun ia punya pekerjaan namun bila di keluarkan dari keluarga tak ada lagi yang bisa dia sombongkan di depan teman-temannya.


" Pulang sana, bukannya kamu dinas malam nanti, jangan capek-capek."


" Iya..!!" ucap Tika sambil melangkah kakinya dengan kasar menuju mobilnya.


" Sial...." ucapnya begitu masuk ke dalam mobil, lalu melajukannya ke sebuah cafe.


Sesampainya di cafe dia memarkirkan mobilnya, cafe itu kebetulan bersebelahan dengan kantor dinas kesehatan.


Di ujung parkiran dia melihat dokter Vian yang berjalan ke arah mobil miliknya.


Segera Tika berlari untuk menemui dokter Vian.


" Dokter...dokter..." panggilnya.


Dokter Vian menoleh dan menghentikan langkah kakinya.


" Dok..kenapa kemarin tak datang?" tanya Tika sambil terengah-engah gara-gara berlari.


" Saya ada acara keluarga juga, maaf ya, selamat atas peresmian toko orang tuamu, mungkin nanti saya akan ajak istriku untuk berbelanja di sana, tapi istriku tak begitu suka berdandan menor, tapi tak apa lah, mungkin ada yang akan membuat dia tertarik nanti di sana, maaf saya harus pulang, masih ada kerjaan yang belum selesai, lagian istriku pasti sudah pulang, jam pelayanan poliklinik kan sudah di tutup," ujar dokter Vian sambil melihat jam tangannya.


" Tapi dok...dok...!!"


Dokter Vian tak memperdulikan panggilan Tika, ia tetap menuju mobilnya lalu melajukan mobilnya ke arah rumahnya.


" Huh...suami istri sama saja, sok banget, lihat saja nanti, kalian pasti akan menyesal mengabaikan ku!!"

__ADS_1


Tika kembali berjalan ke arah cafe untuk menenangkan pikirannya.


Bersambung yaaa....


__ADS_2