Penipu Hati

Penipu Hati
Kebohongan 2


__ADS_3

Tiba-tiba saja Rika masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa tas belanjaan yang cukup banyak.


Rika tidak tahu jika papahnya ada di sini.


“Sayang kamu habis dari mana saja? Lama banget  pulangnya?"


“Iih! Kamu bawel banget si Mas, kan sudah aku bilang. Aku temani  Mamah belanja.” Jelas Rika membuat mertuaku berdiri dari sofa.


“Kamu temani Mamah belanja kemana?” tanya papah Indra membuat Rika terbelalak.


“Papah?! Papah sejak kapan datang ke sini? Kok aku enggak tahu?” Rika semakin kelabakan saat mengetahui papahnya berada di sini.


Rika menoleh ke arahku, “Mas, kenapa kamu enggak bilang kalau Papah main ke sini.” Ucap Rika.


Namun aku tidak menjawabnya, aku hanya bisa mengangkat kedua pundakku. Yang artinya aku tidak tahu.


“Papah tanya, kamu temani Mamah belanja ke mana?” tanya papah membuat Rika bingung harus menjawab apa.


“Belanja ke mall lah. Masa Papah enggak tahu sih.”


Melihat kebohongan istriku. Aku hanya bisa tersenyum. Rika yang melihat aku tersenyum merasa heran.


“Mall mana?” tanya papah sekali lagi, sepertinya ia sengaja memancing Rika untuk berkata jujur pada papahnya.


“Mall yang ada di kota sini. Enggak jauh dari sini. Nih buktiknya aku bawa belanjaan.”


Papah indra tersenyum sinis, rupanya Rika tidak tahu jika hari ini mamahnya sedang berada di kota Bandung sedang mengikuti arisan bersama dengan teman-temannya.


Karena papah Indra sendirilah yang mengantarkannya ke kota Bandung.


“Sekarang kamu sudah pintar berbohong ya.”


“Maksud Papah apa?”


“Mamah kamu sekarang ini lagi di kota Bandung untuk mengadakan arisan bersama dengan teman-temannya. Dan Papah sendirilah yang mengantarkannya ke Bandung.” Ucap papah Indra membuat tubuh Rika bergetar.


Kini wajahnya sudah merah padam karena ketahuan telah berbohong pada papahnya.


Rika melirik ke arahku. Ia seperti memberikan isyarat untuk membantu dirinya.


Tapi aku pura-pura tidak mengetahui isyarat yang diberikan pada Rika.


Biar saja dia menahan malu akan kebohongan yang ia buat


“Rika, jawab Papah dengan jujur. Kamu habis dari mana seharian ini? Jam segini baru pulang. Kamu enggak sadar kalau kamu sudah ada anak!” ucap papah membuat Rika tertunduk malu.


Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi di hadapan papahnya.


“Itu—“


“Pah, sudah jangan marahin Rika lagi. Biar nanti itu urusan Fahmi aja.” Ucapku


Akhirnya aku terpaksa membela Rika yang saat ini mati kutu dihadapanku dan juga papahnya.


Ini belum seberapa, karena suatu saat nanti akan aku bongkar semuanya.


Jam sudah menunjukan  pukul setengah 6 sore, ini sudah waktunya papah Indra pulang. Ia akan menjemput istrinya di kota Bandung.


“Rika, ke sini kamu!” papah Indra memanggil Rika untuk duduk bersama dengan dirinya di ruang TV sedangkan diriku masih sibuk membereskan dapur.


“Duduk.” Perintah Indra.


Rika duduk di sebalah papahnya dalam keadaan tertunduk, aku bisa melihat hal itu karena jarak ruang TV dan dapur tidak terlalu jauh.


Bahkan aku juga bisa mendengar pembicaraan mereka berdua.


“Kamu tahukan, kalau kamu sudah menjadi seorang istri.”


“Tahu. Pah.” Rika menganggukan kepalanya.

__ADS_1


“Ingat pesan Papah baik-baik. Rawatlah anakmu itu dengan baik. Jangan kamu merasa jijik dengan anakmu sendiri hanya karena mereka mempunyai fisik cacat suatu saat kamu akan butuh mereka!” jelas Papah Indra membuat Rika hanya tertunduk mendengar ocehan papahnya.


“Jika kamu berbuat macam-macam pada keluargamu sendiri. Papah tidak akan segan-segan menghukum kamu, camkan itu!” ancam papah Indra membuat Rika menjadi takut.


“Papah ngomong apa sih? Aku enggak mungkinlah berbuat macam-macam.” Jelas Rika.


Aku merasa bahwa mertua seperti menaruh curiga pada putrinya sendiri dan itu terlihat dari cara bicara mertuaku.


...****************...


“Mas, sini aku mau bicara sama kamu.” Rika berdecak pinggang ke arahku menatap tajam. Aku yakin dia pasti ingin membahasa soal papahnya.


“Jangan berisik, kamu enggak lihat anak kita lagi tidur.” Ucapku sambil mengusap-usap punggung anakku.


“Aku enggak peduli. Pokoknya kamu harus keluar dari sini, aku tunggu kamu di dapur.” Rika melangkah keluar dari kamar. Begitu juga dengan diriku.


Baru saja aku menginjakkan kaki di dapur Rika langsung mencerca banyak pertanyaan.


“Kenapa Mas enggak bilang kalau Papah datang ke rumah?” tanya Rika kesal.


Aku hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan Rika.


“Mas! Kok malah diem aja? Jawab dong!”


Aku menyilangkan kedua tanganku ke dada, dam sejenak memikirkan sesuatu, “Sebelum Mas menjawab pertanyaan kamu. Bolehkah Mas bertanya balik sama kamu?’


Rika mengeritkan keningnya mendengar perkataanku. “Mas mau tanya apa?”


“Tas belanjaan yang kamu bawa, itu beli pakai uang mana? Kayanya barang yang kamu beli cukup mahal. Bermerek lagi.” Jelasku membuat Rika mematung.


“Ya, pakai duit Mas lah. Emangnya pakai duit mana lagi?”


“Duit Mas yang mana? Kamu tahukan gaji Mas sebulan berapa? Dan itu hanya cukup untuk penuhi kebutuhan rumah sama kebutuhan kamu.” Pertanyaanku semakin membuat Rika kelabakan.


“Iya aku kan juga punya tabungan Mas, kalau Mas kasih aku uang, sisanya aku simpan.”


“Sejak kapan kamu suka menabung? Kalau memang kamu menabung apa cukup uangnya untuk beli barang belanjaan kamu yang tadi? Mas bisa memperkirakan harga belanjaan yang kamu bawa itu.”


"Kalau pun kamu bisa menyimpan uang untuk diri kamu sendiri, enggak apa-apa. Mas senang kamu bisa menyisihkan uang untuk kamu simpan, tapi--" sengaja kuhentikan pembicaraanku.


Aku ingin melihat reaksi Rika.


"Ta-pi apa Mas?"


"Mana buku tabungan kamu kalau kamu memang menabung uang?"


"Hah! Ee, itu--"


"Itu apa?" Hardikku


Jelas-jelas dia berbohong, mana mungkin orang seperti Rika bisa menyisihkan uang.


"Ee, aku enggak simpen uang di bank."


"Terus kamu simpan di mana uangnya?"


"Di, i-itu. Di kamar, ada di bawah kasur."


"Hoh, coba Mas mau lihat. Pasti masih ada dong simpanan uang kamu di bawa kasur."


Aku langsung berbalik arah, menuju kamar lantai atas.


Dengan cepat Rika menarik lenganku, hingga aku tergores oleh kuku panjangnya.


"Mas mau ngapain?"


"Mau lihat uang simpanan kamu di bawah kasur."


"Jangan Mas." sendu Rika.

__ADS_1


"Kenapa? Rik, kamu tenang aja Mas enggak akan ambil uang kamu kok."


Rika menggelengkan kepalanya. "Jangan Mas, lagian uangnya sudah habis. Sudah aku belikan barang belanjaan."


"Masa? Kamu enggak menyembunyikan sesuatukan?"


Deg


Kuliha Rika terpenjerat dengan perkataanku.


“Kena kamu Rik.” Batinku merasa puas melihat Rika tidak bisa membalas perkaataanku. Mau sampai kapan dia berbohong padaku.”


"Kok, diem?"


“Aduh! Udah deh Mas, gak usah bahas ini lagi. Aku pusing mau tidur!” Rika berjalan menuju kamar tidur. Sepertinya dia kehabisan kata-kata.


...****************...


“Selamat pagi semuanya.” Ucapku memimpin anak buahku.


“Siap! Pagi Pak!” jawab anak buahku serempak.


Pagi ini aku sedang memimpin doa sebelum mulai bekerja, di dekat pintu lobi.


“Oke, sebelum kita memulai bekerja, ada baiknya kita berdoa menurut ke—“ ucapku terhenti saat melihat ada seorang laki-laki yang aku kenal.


Ia baru saja turun dari mobil berwarna hitam. Mobil itu sama persis dengan apa yang aku lihat kemarin. Saat bersama dengan Rika.


“Pak? Pak Fahmi?” panggil salah satu anak buahku


“Itu Pak Fahmi lagi lihat siapa ya?” tanya salah satu anak buah Fahmi pada temannya.


“Pak!”


“Hoh, iya?” aku pun tersentak kaget.


“Bapak lagi lihatin siapa?” 


“Hoh, saya lagi enggak lihatin siapa-siapa kok. Kalau begitu kita lanjutkan berdoanya.” Jawabku.


Seperti biasa setiap 2 jam sekali aku selalu berkeliling memantau perusahaan.


Takut-takut ada karyawan yang sedang membutuhkanku. Semua karyawan yang ada di perusahaan ini baik yang lama atau yang baru sudah lama mengenalku.


Di saat aku sedang berkeliling aku melihat ada pria yang berjalan ke arahku.


“Pagi Pak.” Sapaku saat berpapasan dengan pria yang aku kenal.


“Pagi.” Jawabnya membalas sapaanku


Aku terus menatap kepergiannya, ternyata begitu rupa wajah laki-laki yang mendekati istriku Rika.


Selidik punya selidik dia adalah karyawan baru di perusahaan ini. Ia menjabat sebagai manager keuangan.


Aku mendapatkan info dari temanku, yang kebetulan asisten dari pria itu.


jam sudah menunjukan pukul 17.00 sore.


Setelah selesai bekerja aku pun pulang ke rumah, betapa terkejutnya aku melihat rumah berantakan sekali.


Banyak mainan bercecer ke mana-mana. Aku segera masuk ke dalam dan mencari anakku.


“Astaga!” aku keget melihat anakku yang masih memakai baju tadi pagi. Bahkan kelihatannya anakku belum pada mandi.


Melihat aku sudah pulang kedua anakku langsung berlari menghampiriku.


Mereka menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mengerti kenapa menangis.


Tiba-tiba anak sulungku Adnan menunjuk-nunjuk ke arah dapur.

__ADS_1


Mengisyaratkan aku harus berjalan menuju dapur.


__ADS_2