Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 42 Kabur??


__ADS_3

Tiba di ruangan pribadinya, dokter Vian membuka pintu lalu mengajak dokter Fandi dan Vino masuk.


Mereka bertiga mengecek rekaman CCTV tambahan yang terpasang di beberapa tempat. Mereka khawatir CCTV yang lain akan di sabotase jadi mereka memasang kamera CCTV tambahan lagi agar bisa di bandingkan dengan hasil rekaman dari monitor yang ada di ruangan khusus satpam.


" Kurang ajar!!" sentak dokter Vian melihat hasil rekaman CCTV tersebut.


" Kamu copy rekaman nya Vian terus kamu simpan di tempat lain agar tidak ada yang merusaknya."


" Iya bang," lalu dokter Vian menyimpan video itu ke email miliknya untuk mengamankan rekaman itu.


Tak lupa dokter Vian mengirimkan salinan video itu pada Iptu Sharmila untuk di selidiki, dan segera di lakukan investigasi kemana kedua orang petugas pendaftaran itu di bawa pergi oleh orang yang menolong mereka.


Anak buah Iptu Sharmila yang menyamar di rumah sakit pun ikut membantu menyelidiki nya.


[ Usahakan dalam 24 jam mereka harus tertangkap ya Mil, kasus ini harus segera tuntas sebelum bertambah parah, ini tidak bisa di biarkan berlarut-larut terlalu lama] isi pesan dokter Vian pada istri temannya itu.


Tanpa menunggu pesan balasan, dokter Vian lalu mengajak Lea untuk pulang karena jam pelayanan di poliklinik sudah selesai.


Setibanya di rumah kedua nya langsung menuju kamar lalu berganti pakaian dinas dengan pakaian rumah.


" Istirahat dulu aja sayang, huufff.....rasa jengkel ini tambah membuat lelah saja," ucap dokter Vian mengajak Lea untuk rebahan sejenak.


" Iya mas," ujar Lea sambil membaringkan badannya di samping suaminya yang terlihat sangat marah sejak dari rumah sakit tadi, sebaiknya mendinginkan suasana dulu, dan kebiasaan Lea apabila ada masalah dia lebih memilih diam sejenak dan membiarkan akal sehatnya yang mencari jalan keluar sendiri.


Setengah jam beristirahat Lea terbangun, ia lihat suaminya masih tertidur di sebelahnya.


Pelan-pelan ia bangun dari ranjang lalu ke kamar mandi untuk buang air kecil dan mencuci muka, lalu pergi ke dapur.


" Bibi masak?" tanya Lea pada artnya yang sedang meracik sayur.


" Iya non, tadi mas Vian minta tumis kangkung sama itu daging nya di panggang, kata mas Vian biar bibi yang masak karena non Lea pasti kecapekan."


" Ooh, iya bi gapapa...masih capek memang."


" Udah non, biar bibi aja, nanti kalau sudah selesai bibi panggil."


" Iya bi, lagian mas Vian masih tidur, Lea ke ruang kerja ya bi, siapa tau mas nyariin bilang Lea di sana."


" Iya non," ujar art mereka yang usianya hampir sama dengan mendiang ibu Lea.


Lea beranjak ke ruang kerja, ia sudah lama tidak mengecek laporan keuangan dari toko obat miliknya.


Tiba-tiba terbersit olehnya untuk memperbesar usahanya itu, namun ia harus meminta pertimbangan paman Sabri terlebih dahulu. Lalu ia mengambil telpon genggamnya untuk menghubungi paman Sabri.


[ Assalamualaikum non]


[ Wa alaikumsalam paman]


[ Bagaimana kabarnya non?]


[ Baik paman, oh ya paman, ruko kiri dan kanan toko kita kapan ya selesai masa kontraknya?]


[ Oh, kalau yang kanan sudah selesai bulan lalu non, sekarang kosong belum ada yang ingin ngontrak, terus dua yang sebelah kiri kan satu orang yang ngontrak masih dua bulan lagi masa kontrak nya habis, mereka belum beri kabar akan di perpanjang atau tidak, tapi dengar-dengar info, anaknya mau kuliah ke luar negeri jadi mungkin mereka akan pindah non, ada apa memangnya non?]


[ Paman, ruko kita jangan di kontrakin lagi ya, aku ingin perbesar usaha toko obat kita, kalau bisa buka tempat klinik dokter sekalian biar bisa kerja sama, mengolah dana yang ada, nanti kalau kurang Lea tambahin, bagaimana menurut paman?]


[ Wah ide bagus itu non, berarti kita nanti harus mempekerjakan karyawan agak lebih banyak ya non, kalau cuma dua orang ini, kurang non.]


[ Pasti paman, sementara ruko yang sudah kosong dulu aja di cek, bagus nya gimana untuk pelebaran nya, jelas dinding harus di jebol, tolong paman atur ya, beritahu Lea tiap ada perkembangan, nanti setelah acara di rumah mba Rika, Lea mampir ke ruko.]

__ADS_1


[ Oh iya non, mumpung gak ada yang di kerjakan paman mau ke sebelah dulu mengecek kondisinya.]


[ Iya paman, Lea tutup dulu ya, assalamualaikum.]


[ Wa alaikumsalam.] Tut... sambungan di putus.


" Jadi ruko-ruko itu milik mu juga sayang?" ujar dokter Vian yang tiba-tiba masuk tanpa ada suara, karena Lea memang tidak menutup pintu ruang kerja mereka.


" Astagfirullah," ucap Lea yang kaget mendengar suara suaminya.


" Hehe maaf.." ucap dokter Vian sambil meraba dada istrinya.


" Ish....tangannya di kondisi kan mas, bukan di kamar ini, kalau bibi lihat gimana?"


" Aku kan meredakan kaget mu tadi, bukan mau macam-macam."


" Non..mas...makanannya sudah siap," ujar bibi Anah sambil tersenyum melihat tingkah lucu majikannya itu.


" Iya bi, makasih, tuh kan bibi lihat beneran," ujar Lea sambil berdiri dan melangkah ke luar ruang kerja di ikuti oleh suaminya.


Mereka lalu makan sore bersama tanpa banyak berbicara.


***


" Apes banget sih kita, kenapa sampai gak kepikiran kalau Vino bakal mengecek keluar poli, ck rugi kalau begini, susah cari kerjaan lagi, meskipun apa yang kita lakukan di bayar...ck!" ujar Winy.


" Gak tau ah, pusing aku, mana kita harus kabur terus sembunyi begini, hidup segan mati tak mau kalau begini caranya." Ucap Lina.


Mereka berdua terpaksa bersembunyi setelah melakukan apa yang di perintahkan oleh seseorang untuk mengacaukan pelayanan poliklinik anak di rumah sakit, harapan orang yang menyuruhnya bila nama rumah sakit tercemar maka rumah sakit akan terancam mendapatkan sangsi dan kemudian di tutup.


Mereka tidak menyadari kalau posisi mereka sudah di ketahui oleh pihak berwajib melalui CCTV yang terpasang di tiap tikungan jalan yang mereka lewati.


Menjelang malam datang sebuah mobil mendekati tempat persembunyian kedua orang wanita itu, ada dua orang yang keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam tempat itu.


" Dok, masa kami harus begini? Jadi gak bebas!!" ucap Winy.


" Sudah kalian diam dulu, sampai situasi aman."


" Ya gak bisa gitu dok, saya ini punya anak, masa saya tinggalkan anak saya, iya kalau Lina, dia tak punya tanggungan di rumahnya," ucap Winy lagi.


" Oke...oke..kalian saya bebaskan tapi ingat jangan buka suara kalau kalian tertangkap, paham!! Saya sudah bayar mahal tugas kalian, ingat itu!!"


" Lihat nanti dok, kalau kami di buat repot karena urusan pribadi dokter ya kami gak jamin akan selamanya tutup mulut! Lagian dokter ada masalah apa sih dengan Lea?"


" Itu urusan saya, kalian tak usah ikut campur!!"


" Ya udah kalau gitu, saya pulang dok, ini sudah malam, anak saya pasti menunggu saya," ucap Winy lagi sambil beranjak keluar dari tempat itu di ikuti oleh Leni.


" Bagaimana ini? Apa mereka bisa di tekan agar tidak membocorkan rencana kita? Lagian kok cepat sekali rencana kita gagal, ssshhhhhtt!!" kata dokter itu.


" Aku sudah kasih tau kamu kan! Jangan main terbuka, lah kamu gak ikut apa kataku, berdo'a saja kita tidak ketahuan." kata si pria yang bersama dokter itu.


Prok...prok...prok.... tiba-tiba ada orang yang bertepuk tangan mendengar pembicaraan kedua orang itu.


" Wah..wah...wah..pemain lama.. terimakasih.. terimakasih..kalian hebat!"


" Vi...Vian..!!"


" Ya....aku... kamu pikir aku bodoh, iya kan!!" ucap dokter Vian, " Oke Mila, aku serahkan padamu, aku malas berbicara dengan mereka panjang lebar," ucap dokter Vian pada Iptu Sharmila, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


" Baik," ucap Iptu Sharmila lalu memerintahkan anak buahnya menangkap kedua orang itu.


" Tunggu, kalian tidak punya bukti dan saksi..enak saja main tangkap!!"


" Sudah jangan melawan, semua bukti dan saksi ada di kantor polisi, nanti di sana akan di jelaskan!!" ucap salah satu anak buah Iptu Sharmila.


" Baik, tapi tolong jangan di borgol."


" Baik, segera jalan!!"


" Iya..iya.."


Mereka berdua hanya pasrah mengikuti perintah yang berwajib. Begitu berada di luar tempat itu, si pria berusaha untuk kabur.


" Berhenti di tempat!! Jangan coba-coba lari..!! Saya bilang berhenti!!"


Namun pria itu tetap berlari, dua orang polisi mengejarnya.


" Berhenti atau kami tembak!!"


" Satu...dua....tiga...!" Dor.. dor..dor.., tembakan peringatan sudah di lakukan, namun pria itu tidak juga menghentikan aksinya.


" Tembak kakinya!" perintah Iptu Sharmila dengan berteriak.


" Siap!!"


Dor...!!! Akhirnya pria itu jatuh tersungkur, namun masih mencoba untuk berdiri... karena masih belum menyerah polisi menghadiahi kedua kakinya dengan timah panas.


Mengetahui ada tembakan ke arah pria itu, dokter wanita yang masih dalam pengawasan menjerit.


" Tolong jangan bunuh suami saya....tolong!!" teriaknya histeris.


" Ayo masuk!" perintah Iptu Sharmila kepadanya sambil menarik nya masuk ke dalam mobil.


Polisi membawa pria itu dengan mobil patroli menuju rumah sakit agar mendapat pengobatan atas luka tembak yang ia alami. Sedangkan istrinya di bawa ke kantor polisi.


***


Dokter Vian tiba di rumahnya, setelah memasukkan mobil ke garasi, dia langsung masuk ke dalam rumah.


" Dari mana sih mas? Kok kayak buru-buru banget."


" Kamu tau, Winy dan Lina bersembunyi di suatu tempat, dari rekaman CCTV terpantau mereka di tempat itu, dan tadi dalang dari perbuatan mereka datang menemui mereka di tempat itu, kamu tau siapa pelakunya?? Nala dan Toni!! Aku sudah suruh Mila untuk menahan mereka, mungkin sekarang mereka sudah di bawa ke kantor polisi untuk di tahan."


" Ya Allah, kok gak kapok sih mereka itu!"


" Ya kan belum kena getahnya sayang, udah yuk, udah malam, istirahat... semua apa kata besok, besok agenda nya rapat para pejabat rumah sakit, kita harus berbuat sesuatu untuk menghentikan aksi-aksi semacam itu lagi."


" Iya mas."


Lea mengikuti langkah suaminya menuju ke kamar tidur mereka, dokter Vian berganti pakaian lalu bersiap-siap untuk tidur.


Lea hanya menghela nafas, ' entah sampai kapan kami harus menghadapi kerikil-kerikil cobaan hidup ini' batinnya, lalu ia ikut berbaring di sebelah suaminya.


Malam makin larut pasangan itu sudah tidur di buai mimpi masing-masing.


***


Bersambung yaaa.....

__ADS_1


__ADS_2