
Dua hari lagi Lea akan kembali aktif bekerja, ia sudah di hubungi untuk pindah tempat dinas ke poliklinik menggantikan Anya yang baru saja masuk rumah sakit karena akan melahirkan.
Lea pergi ke rumah sakit untuk menjenguk temannya yang akan melahirkan itu.
" Assalamualaikum," ucap Lea begitu masuk ke dalam kamar dimana Anya di rawat.
" Wa alaikumsalam," sahut Anya dan suaminya bersamaan.
" Bagaimana kabarmu? sudah pembukaan berapa?"
" Masih pembukaan 7 sssshhh...." ucap Anya sambil mendesis menahan kontraksi di perutnya.
" Semangat...semangat...atur nafas," kata Lea memberi dukungan pada sahabatnya.
" Lea titip Anya sebentar ya, aku mau sholat dzuhur," kata suami Anya.
" Iya bang," sahut Lea.
Suami Anya bergegas keluar kamar dan pergi ke mushola. Sementara Lea menunggu Anya dan memberinya semangat.
Tak lama kemudian suami Anya kembali.
" Kamu kalau mau sholat gapapa Lea, pergi aja," kata Andi suami Anya.
" Enggak bang, lagi libur."
" Oh....maaf."
" Gapapa bang."
Lea menunggu Anya sampai Anya melahirkan, Lea membantu bidan untuk membersihkan bayi Anya, setelah bersih Lea membawanya kepada Anya yang sudah kembali di bawa kekamarnya dari ruang bersalin.
" Si ganteng sudah dataaaang," kata Lea sambil menggendong bayi Anya.
" Waaaaa.....iiiih lucunyaaa..." seru Fico yang sudah berada di kamar Anya.
Lea memberikan sang bayi pada ibunya. Lalu berjalan mendekati dokter Vian yang kebetulan juga sudah ada di kamar itu.
Dokter Vian tersenyum memandang istrinya, ia tau hari ini Lea sedang datang bulan jadi jelas ia belum di beri rejeki.
Lama bercengkrama menyambut kelahiran anak Anya, mereka berpamitan untuk pulang.
Di perjalanan dokter Vian banyak diam.
" Mas kenapa?"
" Gapapa."
" Eh mas kita coba ke temannya ayah sekarang yuk, kalau kita pulang juga gak ngapa-ngapain di rumah."
" Boleh, jauh tidak?"
" Gak jauh dari toko obat milik ayah."
" Ooh oke..kita kesana."
Dokter Vian melajukan mobilnya ke alamat yang di katakan Lea.
Setibanya disana Lea dan dokter Vian di sambut oleh pak Haji Darman. Lea memang sudah cerita pada pak Haji sebelumnya sehingga pak Haji meluangkan waktu khusus untuk anak temannya itu.
" Assalamualaikum pak Haji, " ucap Lea sambil menyalami dan mencium tangan teman ayahnya itu.
" Wa alaikumsalam Lea, Barakallah," jawab pak Haji Darman.
Pak Haji mengajak pasangan itu untuk masuk ruang terapinya.
Lea menunggu di luar kamar agar tak mengganggu pekerjaan pak Haji.
" Maaf ya nak Vian bapak lihat dulu, boleh ya, " ucap pak Haji karena harus melihat bagian sensitif dokter Vian sembari memberikan sarung untuk di pakai dokter Vian.
Pak Haji memijat sekitar bagian belakang tubuh dokter Vian, memang terlihat ada bekas operasi disana, ada alat yang di tempelkan oleh pak Haji, setelah beberapa menit, dokter Vian berbalik badan, lalu bagian depan dan area sensitif nya juga di terapi, alat-alat yang mirip batu di tempelkan di sekitar area sensitif nya, untuk merangsang aliran darah disana.
" Agak hangat ya, di tahan sebentar," kata pak Haji, " Ini kalau bisa seminggu jangan berhubungan dulu, biar di kumpulin dulu pelurunya, " kata pak Haji yang membuat dokter Vian terkekeh.
" Lea sedang haid pak Haji, jadi saya puasa."
" Oh bagus, ini kalau ingin lebih efektif 2 hari sekali di lakukan terapi nya, tapi kalau sedang sibuk tak bisa kesini, cukup di kompres hangat di area sensitif nya."
" Untuk vitalitas kayaknya sudah tak ada gangguan ya, tapi untuk kesuburan agak terganggu memang, tak apa-apa nanti saya beri ramuan, ada aturan cara membuatnya, di konsumsi hanya malam hari, tapi ingat, kalau adiknya bereaksi, cuekin aja, ingat seminggu jangan nembak dulu," sambung pak Haji sambil melihat efek hangat yang di timbulkan dari batu yang di tempelkan *adik* dokter Vian bangun secara sempurna.
" Hihihi," kembali dokter Vian terkekeh, karena di dunia kedokteran terbiasa memakai bahasa medis jadi agak lucu mendengar istilah dari pak Haji.
" Jangan di pelototin pak Haji, hihi..." dokter Vian tertawa geli.
" Aduh saya mah sudah bosan lihatnya tapi mau bagaimana, wong harus di lihat, polos apa berurat...hahaha." sahut pak Haji sambil meneliti *adik* dokter Vian.
Beberapa saat kemudian terapi selesai. Dokter Vian kembali menggunakan celananya lalu keluar menunggu pak Haji meracik ramuan untuknya.
__ADS_1
" Bagaimana mas? Apa sakit?"
" Pas di pijat agak sakit, habis itu cuma hangat aja, di tempelin batu-batu."
" Ooh, pantesan ketawa-ketawa," kata Lea bisa menebak apa yang terjadi.
Tak lama pak Haji Darman keluar sambil membawa bungkusan lalu memberikan nya pada Lea.
" Ada aturan pembuatannya ya Lea, jangan sampai salah, kalau bisa 2 hari lagi kembali kesini, ya kira-kira 3 kali terapi lah insyaallah akan ada hasil, itu bapak berikan tambahan ramuan juga untuk kamu supaya kuat melawan suamimu," ucap pak Haji sambil memamerkan otot lengannya.
" Waduh gawat pak, bisa hancur ranjang," celetuk asisten pak Haji yang mengurus pencatatan klien pak Haji.
" Hahaha...." mereka semua tertawa mendengar kata-kata asisten pak Haji.
Lalu Lea dan suaminya berpamitan pada pak Haji.
" Sayang kamu yang nyetir ya...aku kok ngantuk," ujar dokter Vian.
" Oke," sahut Lea sambil berjalan ke arah pintu mobil sebelah kemudi, lalu melajukan mobil menuju rumah mereka, sedang dokter Vian tak sanggup lagi menahan kantuknya ia menyandarkan kepalanya.
Lea tersenyum melihat suaminya, dalam hati ia berdo'a semoga usaha mereka berhasil.
****
" Wah indahnya....." kata dokter Nala melihat keindahan pantai.
" Kamu suka? ayo kita ke ujung sana." ujar Toni.
" He ehm... ayo."
Mereka berjalan menuju sebuah gazebo,lalu duduk di sana, Toni sudah membawa minuman dan makanan ringan untuk mereka nikmati sambil bersantai.
Dokter Nala menikmati angin semilir yang menerpa wajah nya.
Toni tersenyum melihat kelakuan wanita yang di samping nya itu.
" Kamu itu cantik sebenarnya, sayang," ujar nya.
" Hmmm," gumam dokter Nala sambil menikmati minuman kaleng yang di bawa Toni.
" Sayang, ada yang mau aku omongin, aku sengaja membawamu ke pantai ini agar sedikit jauh dari pantauan papa dan mama."
Dokter Nala melihat heran pada Toni.
"Kenapa?"
" Memangnya ada hal yang tidak boleh mereka ketahui?" pancing dokter Nala.
" Kamu hanya sesekali saja bersama mereka, aku yang sering bersama mereka, lama-lama aku bosan hidup di atur-atur, mereka kan gak muda lagi, sudah pasti bisnis mereka akan di wariskan pada kita, karena tak ada anak angkat lain selain kita, sedang anak mereka entah kemana, karena tak sejalan dengan mereka, terakhir aku dengar mereka pindah ke Timur Tengah, entah negara mana."
" Terus apa yang mau kamu lakukan?"
" Aku memperhatikan kamu, nampaknya kamu juga tak 100% suka bersama mereka kan?" tanya Toni.
" Tergantung siih aku hanya mengambil apa yang menurutku menguntungkan ku."
" Kalau aku ajak kamu untuk menyelesaikan semua ini dan hidup bebas sesuka kita apa kamu mau?"
" Maksudmu kita melepaskan diri dari mereka."
" Kurang lebih begitu."
Dokter Nala tersenyum akhirnya tujuannya akan berhasil walaupun ia belum berusaha.
" Kau yakin akan berhasil?"
" Hhmm kalau kita bekerja sama aku yakin akan berhasil, apa kamu mau membantu ku?"
" Kamu tau kita mungkin bisa hidup normal, tapi kalau aku menggunakan gelar ku untuk melancarkan bisnis mereka itu kan membahayakan, aku bisa saja kehilangan gelar yang susah payah aku raih."
" Itu dia yang aku maksudkan, tapi tak akan bisa kalau kita masih terikat dengan mereka."
" Lalu bagaimana caranya supaya bisa bebas? Kau tau sendiri mereka sangat kuat."
" Tenang saja, kau lihat di kapal itu?" ujar Toni menunjuk sebuah kapal.
Dokter Nala menoleh ke kapal kecil yang di tunjuk Toni.
" Mereka semua yang ada di kapal itu anak buah papa yang membelot dari papa, satu persatu anak buah papa melepaskan diri dari papa, dan papa belum mengetahui nya, jadi sekali berontak selesai sudah hidup papa...hahaha....aku dapat mengambil hati mereka semua, ya kalau bisa di katakan mereka ikut perintahku saja."
" Bagus....bagus..aku ikut denganmu."
" Oh ya harus, bukankah sebentar lagi kita akan menikah, kamu siap-siap lah, acara pernikahan kita adalah awal hidup bebas kita dan akhir dari hidup orang tua angkat kita, bagaimana?"
" Oke, deal, lakukan apa yang kau mau."
" Hhmm..." mereka berjabat tangan dan berpelukan, lalu tanpa sungkan berciuman di tempat umum itu.
__ADS_1
***
Lea dan suaminya tiba di rumah, Lea memarkirkan mobilnya, setelah penjaga rumah membukakan pagar rumah mereka.
" Mas sudah sampai, ayo bangun, tidurnya lanjutin di kamar saja."
" Hhmm..." sahut dokter Vian setengah malas namun terpaksa berjalan masuk rumah dan langsung ke kamarnya, ia membuka baju dan dengan hanya menggunakan pakaian dalam langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang.
" Bu, maaf tadi ada paket," kata penjaga rumah ketika Lea mengambil bungkusan di belakang kursi kemudi.
" Dari siapa?"
" Tak ada namanya Bu."
" Oh tolong taruh di meja ruang tamu ya, terimakasih."
" Baik bu."
Lea hanya melihat paket itu, tak ada tulisan dari siapa untuk siapa, jadi dia pikir nanti saja untuk membukanya menunggu suaminya bangun dulu.
Sambil menunggu suaminya, Lea ke dapur menyiapkan ramuan untuk di minum oleh suaminya.
Lagi asyik menunggu tiba-tiba telpon genggamnya berbunyi.
" Mba Rika?"
[ Assalamualaikum mba]
[ Wa alaikumsalam, Lea...ini ada paket datang namun tak ada nama pengirimnya dan untuk siapa, mba gak tau, mba ragu untuk membukanya takut seperti kemarin paketnya.]
[ Oh ke sana di kirimin juga?]
[ Hah? Apa?]
[ Iya mba ke sini juga di kirimin, sama tak ada nama pengirim juga]
[ Apa mba harus antarkan padamu?"
[ Gak usah mba, nanti saja, menunggu mas Vian, dia sedang tidur.]
[ Oke kalau gitu, mba tutup dulu ya, assalamualaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
" Aneh dari siapa ya?"
" Ada apa sayang?" tanya dokter Vian yang sudah segar, nampaknya ia langsung mandi setelah bangun tidur.
" Ada yang mengirim paket lagi, ke sini sama ke rumah sana."
" Dari siapa?"
" Entah, makanya itu aneh, mas gak tau kabar Toni dan dokter Nala?"
" Masih di selidiki oleh Iptu Mila, kemungkinan mereka sudah pergi keluar negeri, kalau menurut pantauan pergerakan mereka kayaknya ke Australia, nah untuk investigasi ke luar negeri gak bisa sesuka kita, ada aturan tersendiri."
" Mas mau makan dulu? Aku masak sup ekor sapi."
" Hhmm....kayaknya enak, boleh juga."
Lea beranjak dari kursi makan mengambilkan makanan untuk suaminya, lalu kembali lagi sambil membawakan makanan itu pada suaminya
" Bagaimana dengan rencana mu dan bunda untuk membuka resto sayang?" tanya dokter Vian sambil menunggu sup agak dingin.
" Baru 60% persiapan nya, kan masih membenahi tempatnya dulu."
" Rukonya di bongkar berarti?"
" Iya dinding sekatnya aja di bongkar, tiga ruko di jadikan satu, kalau yang atas dua ruang aja yang di jadikan satu untuk satu ruang lagi nanti di jadikan tempat istirahat para chef dan karyawan almahumah ibu dulu karena mereka kebanyakan dari luar kota."
" Itu kan ada lima ruko, yang dua lagi untuk apa?"
" Rencananya mau buka butik khusus perlengkapan bayi."
" Oooh mantap."
" Ayo makan dulu keburu dingin banget supnya."
" He ehm..." mereka lanjut makan bersama tanpa banyak bicara.
Selesai makan Lea dan suaminya ke ruang tamu untuk melihat paket tersebut namun sebelum nya dokter Vian sudah menghubungi Iptu Mila memberitahu tentang kedua paket yang dikirimkan ke alamat yang berbeda.
Iptu Mila berpesan agar menunggu ia datang baru mereka membuka paket itu, untuk paket yang di kirimkan ke rumah Lea bawahan nya akan mengambilnya terlebih dahulu.
Penasaran????
Bersambung yaaa.....
__ADS_1