
Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya dokter Vian berfikir tentang penyakit yang ia miliki, memang tak seberat Farhan namun siapa saja wanita yang mengetahuinya akan berfikir dua kali jika ingin hidup bersamanya.
" Aaaaargh, aku harus beritahu Lea, aku tak mau seperti Farhan menipu hati Lea, beri hamba kekuatan ya Allah." ucapnya.
Setibanya di rumah, dokter Vian memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam rumah, di jam segini bundanya biasanya sibuk mengecek beberapa butik miliknya, jadi dokter Vian langsung saja masuk ke dalam kamarnya, ia membersihkan diri dan bersiap-siap untuk tidur, mengembalikan staminanya yang terkuras.
Adzan ashar berkumandang, dokter Vian terbangun kemudian bersiap untuk menunaikan kewajibannya.
Setelah menunaikan ibadahnya, ia mengambil telpon genggamnya untuk mneghubungi Lea.
[ Assalamualaikum mas.]
Dokter Vian tersenyum mendengar Lea memanggil dengan sebutan 'mas'
[ Wa alaikumsalam Lea.]
[ Ada apa mas?]
[ Lea kalau ada waktu bisa kah kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan.]
[ Besok saya dinas pagi mas.]
[ Hhmmm...nanti saja aku kabari lagi ya, menunggu waktu luang saja.]
[ Baik mas.]
[ Oke aku tutup ya, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
Sambungan telpon berakhir, dokter Vian menghela nafas, ia harus gunakan waktu dengan sebaik-baiknya, menata kata-kata yang ingin ia ucapkan pada Lea saat bertemu nanti.
" Vian?"
" Ya bun?" mendengar suara bundanya memanggil dokter Van membuka pintu kamarnya.
Bu Elma masuk ke kamar dokter Vian.
" Bagaimana, Lea sudah memberi jawaban?"
" Belum bun, kita jangan memaksanya bun, lagian Vian juga harus menceritakan kondisi Vian kan bun?"
" Iya nak, jangan sampai kamu di kira membohonginya, masalah Lea mau terima atau tidak itu urusan nanti, bunda yakin bila Lea punya hati yang baik untuk menerima kekurangan mu nak."
" Semoga saja bun."
" Kalau kamu benar-benar mencintainya kamu cukup tunjukan cinta mu nak, wanita seperti Lea akan mnerima kekurangan suaminya bila suaminya menunjukan cinta yang tulus padanya."
" Iya bun, Vian sangat mencintainya, Vian suka pribadinya, dia tidak memilih-milih orang yang butuh pertolongannya."
" Oh ya tadi bunda dengar dari ayah, kalau dokter Nala menunggumu di lobi rumah sakit saat kamu di ajak meeting oleh ayahmu, kamu bertemu dengan nya lagi?"
" Tidak bun, tadi Vian keluar lewat jalan samping rumah sakit jadi tak tau kalau Nala menunggu, untuk apa dia mencariku kesana bun?"
" Apa lagi kalau bukan untuk menaklukkan mu Vian, pokoknya jangan kasih celah untuk wanita itu agar bisa memilikimu Vian."
" Hahaha....caranya bun? Apa bisa dia lakukan padaku yang sakit begini?"
" Ya apapun Vian, wanita itu licik, pasti segala cara ia akan coba untuk bisa mendapatkanmu."
" Iya bun, Vian akan hati-hati."
***
" Aaaaargh kurang ajar Viaaan!! Bagaimana bisa dia menghindari ku, hehhh kita lihat sampai dimana kamu bisa menghindari aku terus, dasar br*ng**k...!!" maki dokter Nala, setelah bertemu direktur rumah sakit dan mendapat jawaban yang tak menyenangkan.
Ia pun mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju apartemennya.
Sampai di dalam apartemennya, ia membanting tasnya ke sofa lalu duduk.
Tak lama telpon genggamnya berbunyi, ia ambil lagi tasnya untuk mengambil telpon genggamnya.
[ Ya dok?]
[ Kamu lupa jadwal dinas mu Nala?]
[ Oh maaf dok, tadi ada masalah di jalan, telpon genggam saya ketinggalan di apartemen jadi saya tidak bisa menghubungi dokter.]
[ Apapun alasanmu Nala, kalau masih mau kerja di klinik saya, tolong perbaiki kinerjamu, paham!!"]
[ Baik dok, saya segera datang.]
[ Sudah tak perlu, sudah di gantikan dokter Mila, kamu fikir-fikir dulu masih mau gak kerja kalau tidak mau lagi, maka seterusnya dokter Mila akan menggantikan mu.]
[ I iya dok.]
Tut
Panggilan di putus oleh dokter Roy.
__ADS_1
" Aaarrrgh apa lagi ini!! Mila?? Ah anak itu lagi yang menggantikan aku....Ck, bisa-bisa aku kalah bersaing." ucapnya kesal, lalu berjalan ke dapur membuka kulkas dan mengambil minuman andalannya.
***
Malam hari Lea sibuk di ruang kerja ayahnya, mengecek kembali laporan bulanan toko obatnya.
" Jangan begadang Lea, ini sudah jam 9 malam." tegur kakak iparnya.
" Sudah selesai kok mba."
" Ya udah ayo istirahat."
" Mba, tadi mas Vian bilang mau ngajak bicara, kira-kira ada apa ya?"
" Mungkin dia ingin tau jawabanmu Lea."
" Hhhmm...bisa jadi, tapi dia bilang gak akan memaksaku memberi jawaban cepat-cepat mba."
" Positif thinking aja Lea."
" Yes miss, let's go to sleep." jawab Lea lalu mengajak kakak iparnya keluar ruang kerja, mereka pun berjalan menuju kamar masing-masing.
Lea membaringkan badannya, tak lupa ia berdo'a semoga semua yang terjadi besok sesuai dengan harapannya.
Keesokan harinya Lea sudah sibuk pagi-pagi sekali, beruntung di rumah dia sudah tak sendiri lagi, tak seperti sebelumnya ia harus di sibukkan untuk membuat sarapan dulu sebelum berangkat dinas pagi.
" Sarapan sudah siap non."
" Iya bi."
Lea keluar dari kamarnya lalu menuju ruang makan, Ridho dan mba Rika sudah menunggunya di meja makan.
" Sarapan dulu Lea."
" Iya mba, mba sudah rapi, nanti berangkat pagi juga?" kata Lea melihat kakak iparnya sudah rapi berpakaian kerja nya.
" Iya Lea ada jam ngajar pagi ini, mungkin mba pulangnya bareng Ridho."
" Oh jadi di jemput Ustadz Fajar sekalian?"
" Iya Lea, gak enak sih sebenarnya tapi katanya dia mengajak serta anaknya untuk menjemput kami."
" Oh ustadz Fajar sudah punya anak? Duda berarti?"
" Iya Lea, almarhumah istrinya masih sepupuku, jadi aku kenal baik dengan anaknya juga, anaknyalah yang meminta aku untuk jadi ibu sambungnya."
" Ooooh."
Mereka lanjut sarapan tanpa bersuara.
Selesai sarapan, mereka bersiap-siap untuk pergi ke tujuan masing-masing.
Mba Rika dan Ridho juga sudah di jemput oleh ustadz Fajar, sebelum berangkat mba Rika mengenalkan mereka terlebih dahulu dengan Lea, lalu berangkat menuju sekolah, sedangkan Lea pergi ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit kembali pada rutinitas pekerjaannya di rumah sakit sampai siang hari.
Siang hari waktunya aplusan dengan perawat yang dinas sore.
Saat hendak bersiap-siap untuk pulang Lea mendengar telpon genggamnya berbunyi.
[ Assalamualaikum Lea, kamu sudah selesai aplusan? kalau sudah naiklah ke lantai 5, aku tunggu di ruang kerja ayah ya, wassalam.]
' Mas Vian? Ada apa ya, kok ngajak bicaranya di kantor direktur.'
Tanpa membalas pesan dari dokter Vian, Lea langsung masuk lift yang berbeda dengan temannya.
" Eh mau kemana Lea?"
" Aku mau ke atas dulu ada perlu, kalian pulang aja duluan."
" Ya udah....bye..bye." sahut Fico.
" Bye."
Lea masuk ke dalam lift dan naik ke lantai 5.
Ting..pintu lift terbuka di lantai 5.
Lea berjalan ke arah ruangan direktur rumah sakit, setibanya di depan pintu Lea pun mengetuk pintu.
" Ya masuk lah." terdengar suara direktur rumah sakit dari dalam.
Lea membuka pintu lalu masuk.
" Assalamualaikum, selamat siang." sapa Lea.
" Wa alaikumsalam." sahut direktur dan dokter Vian.
" Mari Lea duduklah, kamu gak usah formal begitu."
__ADS_1
" Maaf saya agak enak karena ini di rumah sakit." jawab Lea setelah duduk di sofa, bersebrangan dengan dokter Vian.
" Lea ada yang ingin aku sampaikan padamu, sebelum kamu memberi jawaban akan permintaanku kemarin." kata dokter Vian dan di ikuti dengan anggukan oleh direktur.
" Begini, setelah aku lulus dari kuliah kemarin aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan kerusakan pada tulang belang ku, waktu itu aku sempat lumpuh, namun Alhamdulillah akhirnya bisa sembuh..." dokter Vian menghela nafas sejenak sambil memperhatikan reaksi Lea, Lea hanya diam saja sambil fokus mendengarkan.
" Namun ada masalah lagi yang muncul setelah itu, aku mengalami gangguan vitalitas dan menurut dokter ahli ada gangguan produksi sp***a, jadi kemungkinan aku untuk bisa punya anak itu sangat tipis." kembali dokter Vian terdiam dan melihat reaksi Lea.
" Aku harus katakan ini padamu karena aku tak mau ada kebohongan seperti halnya yang telah di lakukan mantan kekasihmu."
" Saya mendukung sikap Vian untuk jujur akan hal ini Lea, sekarang keputusan ada padamu, setidaknya Vian sudah berusaha untuk mendapatkan cintanya, walau pun akhirnya kamu menolak tak apa." sambung direktur.
Semua terdiam sejenak.
" Lea andai kamu menolak Vian nanti apakah kamu bersedia untuk merahasiakan hal ini? Tak ada yang tau akan hal ini kecuali saya , bunda dan dokter yang menangani nya."
" Iya pak, Insya Allah."
" Kami beri waktu untukmu agar bisa mempertimbangkan hal ini."
" Saya rasa tidak perlu pak."
Dokter Vian dan ayahnya tersentak mendengarnya, putus sudah harapan dokter Vian untuk mendapatkan cintanya.
" Kamu menolak ku? Baiklah Lea terimakasih kamu telah mau meluangkan waktu untukku menyatakan perasaanku." kata dokter Vian lesu.
Lea tersenyum mendengarnya.
" Kenapa mas jadi hilang semangat?"
" Hah??" dokter Vian dan direktur bingung dengan kata-kata Lea.
" Andai saya menolak terus mas mau ngapain?"
" Aku...aku tak tau, mungkin menjomblo seumur hidup."
" Mas tak mau berusaha untuk jatuh cinta lagi?"
" Untuk apa, baru kamu yang bisa membuka hatiku, selama ini aku terlalu fokus dengan pendidikan dan karir ku, di tambah lagi musibah yang aku alami, tak akan mungkin ada wanita yang mau dengan laki-laki tak normal kan."
" Siapa bilang?"
" Hah??" kembali dokter Vian terkejut, dan direktur makin mengerutkan dahinya.
" Tadi Lea dengar ada kabar dari rekan sejawat kalau mas sedang di kejar-kejar seorang dokter kan."
" Dokter Nala?" ucap direktur dan dokter Vian berbarengan.
" Mungkin saya kurang tau."
" Ck..aku tak suka wanita yang mengejar-ngejar laki-laki seperti itu, apalagi wanita macam Nala...ih..!" ucap dokter Vian sambil bergidik.
Lea hanya tersenyum melihatnya.
" Apa kamu sudah ada jawaban untuk permintaan Vian kemarin Lea?" tanya direktur lebih memastikan karena ia menebak Lea seperti akan menerima anaknya.
" Iya ayah, insya Allah dan bismillah Lea menerima mas Vian."
Direktur dan dokter Vian kaget mendengarnya dan akhirnya pula Lea memanggilnya dengan sebutan ayah.
" Ap...apa.....kamu menerima ku?"
" Iya mas."
" Bagaimana dengan sakitku Lea?" kata dokter Vian kembali murung.
" Kita tak bisa menghindari takdir mas, walau pun itu adalah hal yang wajib ada di dalam hubungan suami istri namun bukan tolak ukur bagi saya untuk menolak atau menerima mas sebagai pendamping, saya mencari teman hidup yang mengerti perasaan saya,terlepas nanti mas bisa sembuh atau tidak tak jadi masalah, setidaknya mas sudah berusaha untuk jujur saya sudah senang." kata Lea sambil tersenyum.
" Terimakasih Lea, ah kamu jangan tersenyum nanti aku bisa meleleh." kata dokter Vian sambil menutup kedua tangannya ke wajahnya namun matanya mengintip di sela-sela jarinya.
" Eeehhhmm.....ayah di sini Vian."
" Hahaha.." mereka bertiga pun tertawa.
" Kamu segera beri tahu bunda mu Vian, pasti ia menunggu kabar dari kalian."
" Iya ayah....Lea kamu sibuk setelah ini?"
" Tidak mas kenapa?"
" Kita ke rumah ku dulu ya, sebentar lagi jam makan soremu kan? Kita makan di rumahku ya, sekalian kasih surprise pada bunda."
" Baiklah mas."
Mereka berdua akhirnya berpamitan dengan direktur lalu melangkah keluar ruangan direktur.
Mereka masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar, di dalam lift mereka hanya diam tanpa suara, namun sesekali saling lempar senyum.
Ting ...pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar gedung rumah sakit, sepanjang jalan mereka ada banyak mata yang memperhatikan, Lea merasa kurang nyaman namun dokter Vian mengatakan padanya untuk tidak mempedulikannya.
__ADS_1
Lea meminta agar mereka menggunakan mobilnya saja agar nanti ia bisa langsung pulang, dokter Vian sempat memaksa agar ia mengantarkan Lea pulang ke rumahnya, namun akhirnya mengalah pada Lea.
Bersambung lagi yaaaa....