
Pagi hari yang cerah, hari ini Lea izin untuk tidak masuk kerja, jam 7 pagi dia sudah sibuk di restoran baru milik ibu mertuanya, ia harus memastikan semua menu yang akan di hidangkan sama persis cita rasa nya dengan resep milik mendiang ibunya.
Beberapa pelayan yang bekerja di restoran lama juga ikut membantu, restoran yang berada di bekas ruko itu memang tak sebesar restoran lama, namun lumayan menyenangkan, mereka anggap refreshing sejenak dengan suasana dapur yang berbeda, di tambah lagi sikap ramah yang di tunjukan oleh Lea membuat mereka dengan suka hati membantu.
Jam 9 pagi, bu Elma datang bersama beberapa orang temannya, hari pembukaan restoran ini mereka jadikan sebagai ajang reuni dengan teman-teman masa sekolah dan kuliah dulu.
Semua langsung mengambil tempat masing-masing, halaman restoran yang lumayan luas di jadikan tempat untuk menggelar acara, kursi dan meja makan di tata sesuai dengan kebutuhan acaranya.
Tak lupa di sisi kiri dan kanan restoran di pasang banner yang berisikan foto restoran lama dan foto mendiang ibu Lea, sebagai pemilik dari resep menu yang akan ada di restoran itu.
Jam 10 pagi, semua undangan sudah hadir, persis di depan restoran ada panggung, pembawa acara sudah membuka acara tersebut, susunan acara sudah di sebutkan, bu Elma sebagai pemilik di persilahkan untuk memberikan beberapa patah kata sambutan, tak lupa pula bu Elma memperkenalkan menantunya sebagai pengatur dari resep andalan dari mendiang ibunya, karena yang datang hampir rata-rata adalah pelanggan mendiang ibu kandung Lea, mereka bersorak gembira, akhirnya bisa melepas kangen dengan menu masakan dari mendiang bu Alena, teman-teman mendiang juga ada yang hadir, mereka menitikkan air mata haru melihat Lea meneruskan kembali bisnis milik mendiang ibunya.
Usai memberikan sambutan akhirnya sesi pemotongan pita di lakukan, bu Elma memberikan salah satu gunting pada Lea, bu Elma sendiri juga memegang gunting satunya, dengan menggunakan dua gunting itu, mertua dan menantu itu menggunting kedua ujung ikatan pita secara bersamaan.
Pita terputus di iringi tepukan tangan dan sorak sorai dari para hadirin.
Lea dan mertuanya saling berpelukan, lalu mengucapkan terima kasih atas do'a dan restu dari para hadirin, usai pemotongan pita, keluarlah beberapa pelayan membawakan beberapa menu masakan khas dari restoran itu, para hadirin menyambut nya dan mulai menikmati nya.
Tak lupa pula beberapa masakan di bungkus dan di bagikan kepada pejalan kaki yang lewat di depan restoran baru tersebut, antusias masyarakat sangat baik menyambut di bukanya restoran itu.
Tak lupa mereka menyampaikan ucapan selamat dan do'a atas di bukanya restoran baru itu.
Hari sudah siang, acara inti sudah selesai, para hadirin pun mulai meninggalkan tempat acara, namun karena acara itu tetap berlanjut jadi siapa pun yang baru datang akan di layani untuk makan secara gratis.
Para pelayan dari restoran lama sudah mulai berganti giliran, yang tidak datang pagi, mereka datang siang harinya, mereka ikut membantu melayani para pengunjung yang lumayan banyak.
Sore harinya semua makanan mulai habis, bu Elma menyuruh pelayan untuk menutup sebagian pintu restoran sebagai penanda acara sudah selesai dan pengunjung pun mulai berkurang, mereka yang tidak kebagian bisa datang esok hari, selama seminggu ke depan harga menu masakan akan di berikan diskon, tak lupa pula mereka membagikan brosur promosi dari restoran lama.
Hari sudah mulai gelap, pintu restoran akhirnya di tutup, keluarga direktur rumah sakit sekaligus pemilik restoran itu, duduk di kursi restoran, mereka duduk melingkar, sejenak bercengkrama saling bertukar cerita tentang acara hari ini.
Tak berapa lama, mba Rika dan yang lainnya berpamitan, di ikuti dengan beberapa keluarga dari pihak bu Elma, hingga menyisakan bu Elma dan pak Ahmad, dokter Vian dan Lea yang masih duduk saling berhadapan.
" Hhh..akhirnya acara selesai, alhamdulillah berlangsung meriah dan tak ada kendala apapun," ujar bu Elma.
" Seperti nya sudah di rapikan kembali oleh para pelayan, kita pulang saja, besok masih banyak yang akan di kerjakan," ujar pak Ahmad.
" Ayo sayang kita pulang, " ajak dokter Vian.
" Iya mas," sahut Lea sambil berdiri dari duduknya.
Bruuuukkk.....Lea jatuh pingsan.
" Lea...Lea....lho kenapa..ayo bawa ke rumah sakit," ujar bu Elma.
Dokter Vian menggendong tubuh istrinya, lalu memasukkannya ke dalam mobil, pak Ahmad segera mengambil alih kemudi, dokter Vian memangku kepala istrinya sambil berusaha membuat Lea agar sadarkan diri.
Bu Elma duduk di sebelah pak Ahmad sambil menoleh ke belakang, khawatir akan kondisi menantunya.
Pak Ahmad menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, dan tak memakan waktu yang lama mobil tiba di rumah sakit.
Dengan cepat dokter Vian keluar dan menggendong lagi tubuh Lea, para perawat sudah membawakan brankar namun tak di hiraukan oleh dokter Vian, ia tetap menggendong Lea hingga sampai di ruang IGD.
Ruang IGD jadi ramai gara-gara kedatangan keluarga pemilik rumah sakit itu, yang membawa Lea dalam kondisi pingsan.
Dokter Vian berusaha membuat istrinya agar sadarkan diri, ia dibantu oleh ayahnya dan beberapa dokter yang sedang bertugas.
__ADS_1
Tak lama kemudian Lea pun sadarkan diri.
" Kamu baik-baik saja sayang?"
" Hhhmmmmh?" Lea memegang dahinya masih bingung dimana dia berada.
" Pusing?" tanya dokter Vian lagi.
" Kita di rumah sakit?" tanya Lea.
" Iya, kamu pingsan tadi, aku takut ada apa-apa jadi buru-buru kerumah sakit aja."
Lea menghela nafasnya dan menutup matanya mengira-ngira apa yang ia rasakan sekarang, kenapa badannya terasa lemah seperti tak ada tenaga.
" Kamu gapapa Lea?" tanya bu Elma yang berdiri di samping ranjang.
Pak Ahmad pun tampak khawatir, " kita cek laboratorium lengkap ya, sebaiknya segera menemukan apa penyebab kamu pingsan tadi," ucapnya.
" Iya ayah," sahut Lea masih lemah.
Pak Ahmad menyuruh perawat untuk mengambil sampel darah dan urine Lea untuk di bawa ke laboratorium besok hari.
Pak Ahmad menyuruh dokter Vian agar membawa Lea ke lantai atas di sana ada kamar yang biasa ia pakai untuk beristirahat.
Pak Ahmad dan bu Elma tak ikut naik ke atas, mereka berdua berpamitan pulang, karena tidak ada hal serius yang terjadi pada menantunya, mungkin Lea pingsan karena terlalu lelah, pikir mereka, dan Lea hanya butuh istirahat saja.
Lea di bawa oleh dokter Vian ke lantai atas dengan menggunakan kursi roda, setibanya di ruang kerja direktur Lea dan suaminya masuk ke kamar, lalu beristirahat.
" Istirahat lah sayang, kamu masih pucat sekali, apa yang kamu rasakan sekarang? Apa perlu di infus?"
" Ya udah kalau gitu, mungkin karena kamu kelelahan saja, beberapa hari ini kamu sangat sibuk kesana kemari, ayo kita tidur, kalau butuh apa-apa beritahu aku ya."
" Iya mas."
Mereka berdua berbaring dan terpaksa malam itu nginap di rumah sakit.
***
Keesokan harinya usai menunaikan sholat subuh Lea masih merasa pusing, dokter Vian menyuruhnya kembali untuk istirahat, sementara menunggu ruang laboratorium buka, Sebenarnya tim laboratorium selalu ada yang standby namun dokter Vian ingin lebih akurat jadi menunggu tim yang masuk pagi saja.
Jam 7 pagi, usai sarapan pagi, darah dan urine Lea sudah di ambil, Lea sudah gak betah di rumah sakit ia ingin pulang saja, namun ayah mertuanya melarang, takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
Jam 10 pagi, hasil laboratorium sudah di bawa ke ruang direktur rumah sakit, Lea dan keluarganya menerima hasil tersebut dengan sangat cemas.
" Bismillah semoga hasilnya baik-baik saja," ucap bu Elma sambil memegang tangan menantunya.
Pak Ahmad membuka amplop yang di berikan petugas laboratorium tadi dan membacanya dengan seksama.
" Semua normal, hhhmmmmm....." begitu di baca lagi dengan jelas, " alhamdulillaaah, Lea kamu hamil naaak," seru pak Ahmad sangat senang.
" Alhamdulilah ya Allah, " ucap dokter Vian kemudian memeluk istrinya, semua dalam ruangan itu menangis terharu dan saling berpelukan.
" Alhamdulilah, terimakasih ya Allah," ucap bu Elma.
" Terimakasih sayang, terima kasih," ucap dokter Vian tak henti-hentinya mencium kening istrinya.
__ADS_1
Lea tak sanggup berkata-kata lagi, ia sangat senang akhirnya mukjizat sang khalik hadir dalam kandungannya, kini ia punya alasan untuk hidup.
" Apa yang kamu rasakan sekarang? Masih pusing?" tanya pak Ahmad.
" Sedikit ayah, Lea cuma ingin rebahan aja, bisa gak yah Lea pulang? Tadi ada aroma rumah sakit Lea jadi mual."
" Oh baiklah, pulang lah, kamu cuti aja dulu sementara nak, sampai benar-benar kuat, besok bila sudah enakan kamu harus lakukan USG ya, jaga kesehatan mu."
" Iya ayah."
" Vian bawa istrimu pulang, kalau ada apa-apa bilang ayah ya."
" Ayo nak, bunda antar pulang."
" Iya ayah, Vian antar Lea dulu."
Dokter Vian dan ibunya membawa Lea pulang ke rumah, sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit, Lea menutup hidungnya, bau karbol ciri khas rumah sakit yang baru saja di pel oleh petugas cleaning servis membuatnya mual.
Semua yang melihat Lea di bawa keluar dengan menggunakan kursi roda tersenyum sambil mengucapkan selamat, dengan cepat berita kehamilan menantu direktur itu di ketahui oleh seluruh karyawan rumah sakit.
Setibanya di rumah Lea langsung ke kamarnya, setelah berganti pakaian lagi ia langsung rebahan.
Dokter Vian mengecup kening istrinya itu lalu keluar kamar membiarkan istrinya beristirahat.
" Alhamdulilah bunda, ke khawatiran Vian akhirnya tak terjadi, terapi yang di berikan pak haji Darman memang manjur."
" Terapi?" tanya bu Elma.
" Iya bun, sebelum kami pergi ke Turki, Vian menjalani terapi agar bisa menghasilkan benih yang bagus, Lea yang mengusulkan nya karena pak haji Darman sahabat mendiang ayahnya punya terapi tradisional gitu bun, sudah banyak pasiennya yang sukses memiliki keturunan."
" Oh, alhamdulillah....kamu sudah tanya Lea tadi ia ingin makan apa? Nanti biar bunda yang masak."
" Belum bun, biar dia tidur dulu, tadi malam tidurnya gelisah sekali, mungkin karena tak terbiasa tidur kalau di rumah sakit."
" Oh ya udah, bunda mau ke restoran dulu, walau para chef sudah bisa diandalkan tetep bunda harus mengawasi nya."
" Iya bun."
" Beritahu bunda saja bila Lea ingin makan sesuatu."
" Iya bunda."
" Assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam, hati-hati bunda."
Sepeninggal ibunya dokter Vian mengecek istrinya terlebih dahulu, ia lihat Lea tertidur pulas, dokter Vian tersenyum bahagia, apa yang ia nantikan menjadi kenyataan.
Usai mengecek istrinya dokter Vian masuk ke ruang kerja, ia tak kembali lagi ke rumah sakit, takut Lea membutuhkan sesuatu jadi ia tak meninggalkan istrinya, ia memilih bekerja di rumah saja.
Di telpon genggamnya ada banyak notifikasi pesan ucapan selamat dari beberapa rekan yang mengetahui kabar kehamilan Lea, dokter Vian tersenyum dan membalas pesan dari mereka satu persatu.
***
Bersambung yaaa...
__ADS_1