
Dokter Vian sampai di rumahnya tepat adzan ashar, setibanya di rumah dia langsung menuju kamarnya dan berganti pakaian, lalu berwudhu untuk menunaikan ibadah sholat ashar.
Lea yang tak mendengar kedatangan suaminya sedang asyik memasak di dapur.
Usai menunaikan kewajibannya dokter Vian mencari istrinya, ia tau istrinya pasti asyik di dapur, wangi masakan buatan Lea benar-benar menggugah selera.
" Sayang masak apa?" tanya dokter Vian tiba-tiba.
" Astagfirullahalazim," sahut Lea kaget.
" Hehe....sorry," ucap dokter Vian melihat istrinya kaget karena dia tanpa salam dia langsung berada di belakang istrinya.
" Iiih untung gak pegang benda panas," ucap Lea sambil mengurut dadanya.
Dokter Vian menggaruk kepalanya yang gak gatal, lalu duduk di kursi dengan wajah polosnya.
" Kapan mas pulang? Kok gak dengar suara."
" Gak lama, langsung masuk kamar ngejar waktu sholat ashar."
" Gimana tadi di tempat pak haji?"
" Baik, terapi yang sama dengan kemarin, oh ya lupa, bentar aku ambil ramuannya," ujar dokter Vian sambil berjalan ke depan untuk mengambil ramuan yang tertinggal di mobil.
Lea sudah selesai dengan masakannya, lalu menghidangkannya di atas meja makan.
Dokter Vian kembali dengan bungkusan ramuan dari pak haji Darman.
" Nih," kata dokter Vian sambil menyerahkan ramuan itu, " kata pak haji satu kali lagi terapi nya, terus besok aku mau cek laboratorium lagi, kamu ikut ya, kita pergi setelah poliklinik tutup."
" Iya, makan yuk."
" Masak apa sayang?"
" Tadi bunda minta contoh masakan, menu krengsengan buat menjamu relasi beliau, buat promosi sekalian, mungkin nanti di ambil, ini mas cobain."
" Wah mantap, jadi kamu masak banyak?"
" Iya, buat bunda sekalian."
" Kapan rencana pembukaan restoran nya?"
" Kalau bangunannya sudah selesai, cuma kan masih bau cat, terus bunda masih melengkapi peralatan masak dan lain-lain, tim chef nya sudah aku hubungi, sebagian sudah ada yang menempati di sana, sambil membantu bunda menyiapkan peralatan apa aja yang di butuhkan."
" Chef-chef nya yang pernah kerja sama almahumah ibu?"
" Iya, mereka sangat senang bisa kembali, dan beberapa anak mereka juga pintar masak jadi sekalian aja di pekerjakan di resto nanti."
Dokter Vian menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan istrinya.
Mereka berdua lanjut makan sore menikmati masakan favorit dokter Vian, tak henti-hentinya dokter Vian memuji masakan istrinya yang selalu pas di lidahnya.
***
" Kalian sudah rencanakan kapan akan melangsungkan pernikahan?" tanya Zoni pada kedua anak angkatnya.
" Sudah pa, akhir Minggu ini," sahut Toni.
" Bagus makin cepat makin baik, nanti dengan alasan berbulan madu kalian ke Indonesia dan memulai pekerjaan, kalian paham?"
" Paham pa," sahut Toni dan dokter Nala bersamaan.
" Kami keluar dulu sebentar pa, mau fitting baju pengantin."
" Oh oke."
" Bajunya yang bagus, jangan bikin malu mama!!" sahut Marsya.
" Iya ma, Nala pamit," sahut Nala lalu melangkah bersama Toni keluar rumah.
Di dalam mobil mereka tak banyak berbicara, jelas mereka tau, kalau mobil sudah di pasang alat penyadap oleh kedua orang tua angkat mereka.
Walau sesekali berbicara, mereka membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan acara pernikahan saja, namun mereka sudah mengganti beberapa kata-kata menjadi kode rahasia tentang rencana mereka, pastinya untuk mengelabui orang tua angkat mereka, supaya orang tua angkat mereka mengira kalau mereka sedang membahas tentang pernikahan.
Setibanya di sebuah butik, mereka segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam butik, memilih gaun pengantin yang di inginkan, sambil terus berbicara menggunakan kode rahasia, selesai memilih gaun dan jas, mereka lanjut ke perusahaan fiktif orang tua angkat mereka di sebuah kantor, untuk mengatur apa saja yang akan mereka bawa setelah pernikahan nanti.
Di sana mereka bertemu dengan beberapa orang anak buah orang tua angkat mereka untuk membahas tentang rencana pemberontakan, namun tetap dengan menggunakan kode rahasia.
Pergerakan mereka memang selalu di pantau, namun bukan hal yang sulit untuk menghancurkannya karena selama ini mereka harus merencanakan hal itu secara matang, seperti menggalang persatuan orang-orang yang sudah tak mau lagi bekerja untuk Zoni.
Dengan menggunakan kode rahasia mereka merencanakan, hari pernikahan sebagai hari penentuan berakhirnya masa kejayaan Zoni dan Marsya.
Setelah selesai semua urusan di kantor milik orang tua mereka, mereka lalu kembali ke rumah, sedangkan para pekerja melanjutkan pekerjaannya yang hanya di lakukan malam hari itu,
Setibanya di rumah, mereka langsung makan malam bersama orang tua angkatnya.
" Bagaimana sudah beres?" tanya Zoni walau sudah tahu apa yang di lakukan anak angkatnya.
__ADS_1
" Iya pa, sudah beres tinggal hari pelaksanaan saja," sahut Toni.
" Bagus, urusan pekerjaan juga sudah kan?"
" Iya pa, beres."
Selesai makan malam, dokter Nala dan Toni ke kamarnya masing-masing, meninggalkan orang tua angkatnya yang masih duduk berbincang-bincang di meja makan.
" Menurut mu, mereka tidak akan berkhianat?"
" Tidak, mana berani mereka, aku sudah pantau pergerakan mereka beberapa hari ini, semuanya baik-baik saja dan di kerjakan dengan bagus, aku rasa kita sudah bisa menyerahkan bisnis ini pada mereka," sahut Zoni sambil menghisap g***a.
" Hmm....bagus, anak kandung kita sendiri tak mau mendukung kita, entah dimana mereka sekarang," ucap Marsya kesal.
" Sudah gak usah di ingat lagi, bukankah kita sudah berikan peringatan pada mereka, kalau tidak mau menuruti kita ya sudah jangan sampai suatu hari nanti malah minta warisan."
" Hhhhh," Marsya menghela nafas panjang.
" Sudahlah ayo kita tidur, kita harus jaga kesehatan karena tidak lama lagi pernikahan Nala dan Toni akan di gelar, kita butuh tenaga ekstra nanti."
" Baiklah."
Mereka berdua beranjak menuju kamar tidur lalu beristirahat.
***
Keesokkan harinya, kegiatan seperti biasa, Lea sudah sibuk di ruang Poli anak, sedangkan suaminya berada di IGD.
Dan situasi itulah yang di tunggu-tunggu oleh perawat di IGD karena mereka jadi punya kesempatan untuk menggoda dokter Vian.
" Aduh pengantin baru," sapa kepala ruang IGD.
Dokter Vian hanya menjawab dengan senyuman. Tentu saja IGD bukan tempat untuk mengobrol, tapi tempat yang sangat sibuk dengan pelayanan pasien-pasien darurat.
Tika yang berdinas di ruang IGD tak melewatkan kesempatan untuk mendekati dokter Vian, tentu saja dia dan teman-temannya punya misi untuk mengacau kan hubungan Lea dan suaminya.
" Dokter saya mau berikan undangan ini buat dokter," kata Tika.
" Undangan apa?"
" Ada acara peresmian toko kosmetik orang tua saya, sekalian acara ulang tahun ibu saya dok, acaranya besok pagi," kata Tika.
" Wah besok pagi Lea masih dinas di poli, sepertinya gak bisa datang."
" Gapapa kan dokter aja sendirian, yang penting ada perwakilan dari direktur, pasti pak direktur juga gak bisa datang kan?"
" Saya tau dok, makanya saya undang dokter sebagai perwakilan."
" Saya usahakan ya, terimakasih sudah di undang."
" Iya dok," Tika tersenyum sangat manis lalu ke luar dari ruangan khusus dokter.
Sepeninggal Tika, dokter Vian mengambil telpon genggamnya untuk mengambil foto undangan itu dan mengirimkannya pada Lea lewat pesan di aplikasi hijau.
Lea menerima pesan tersebut di saat sudah selesai melayani pasien di poli anak, setelah membuka pesan dari suaminya, pesan tersebut lalu ia kirim ke grup di aplikasi hijau.
Ada pesan dari Rara perawat IGD yang memperingatkan agar Lea melarang suaminya untuk datang, karena acaranya bukan peresmian toko kosmetik melainkan acara pertunangan antara Tika dan dokter Vian sendiri, dokter Vian di undang hanya untuk dijebak, tak lupa Rara mengirimkan foto undangan yang asli di grup aplikasi hijau itu.
Semua anggota grup sepakat agar Lea melarang suaminya untuk datang, dan sebagai balasan mereka akan merencanakan sesuatu untuk Tika, Lea dan suaminya di minta untuk menyerahkan segala sesuatunya pada mereka.
Lea pun akhirnya menuruti rencana teman-temannya, setelah pulang dari rumah sakit ia akan sampaikan apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya.
Tak lama kemudian jam pelayanan sudah di tutup, Lea menunggu suaminya di parkiran mobil.
Tak berselang lama dokter Vian datang lalu ia dan Lea masuk ke dalam mobil.
" Jadi mau periksa mas?"
" Jadi sayang, aku sudah buat janji dengan dokter, bagaimana menurutmu undangan dari Tika aku harus datang?" tanya dokter Vian sambil menyetir mobil nya.
" Kita periksa dulu, nanti baru bicara," jawab Lea tak ingin suaminya terganggu saat menyetir.
" Oke."
Mobil pun melaju ke arah klinik laboratorium.
" Nanti bantu aku ya sayang," ucap dokter Vian.
" Bantu apa?"
" Ya sekarang aku sudah punya istri jadi harus istriku dong yang bantuin," jawab dokter Vian sambil menunjuk ke bawah perutnya.
" Oooooh, oke," ucap Lea paham akan maksud suaminya.
Mobil tiba di klinik, mereka langsung keluar setelah mobil di parkirkan.
Didalam klinik dokter Bayu menyambut pasangan itu di ruangannya.
__ADS_1
" Oke, sekarang sudah punya istri jadi gak usah solo lagi ya, minta bantuan istrinya...hahaha.." goda dokter Bayu.
" Iya doook, pahaaaam," sahut dokter Vian sambil mengambil wadah untuk menampung benihnya.
Dokter Vian menarik tangan istrinya lalu berjalan menuju ruangan yang sudah di siapkan untuk mereka.
" Ih tau gitu di kerjakan di rumah saja mas," ucap Lea malu-malu.
" Andai boleh, dokter Bayu maunya yang fresh bukan yang beberapa jam yang lalu, udah ah ayo bantuin," ucap dokter Vian sambil membuka celananya," jangan kayak jijik gitu, kamu kan perawat terus istriku masa pasang muka eeuuww gitu."
Lea hanya nyengir saja mendengar ucapan suaminya.
Setelah mendapatkan sampel yang di butuhkan untuk di periksa dokter Vian dan istrinya keluar dari ruangan lalu masuk lagi ke ruangan dokter Bayu.
" Wow lama juga baru dapat, aku sampai ngantuk-ngantuk menunggu," ujar dokter Bayu dan di balas senyuman oleh dokter Vian sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal.
Sedang Lea hanya menggeleng-geleng.
" Kamu gak kecapekan kan?" tanya dokter Bayu pada Lea.
" Pegel tangan saya dok."
" Kok pake tangan? Lagi halangan?"
Lea hanya menganggukkan kepalanya.
" Ooooh...puasa...puasa deh loe," ucap dokter Bayu pada dokter Vian.
" Ya mau gimana lagi dok, rutinitas nya begitu."
" Hahaha..oke kalian mau tunggu hasilnya atau besok aja?"
" Besok aja dok, kalau nunggu keburu kelaperan," sahut dokter Vian sambil mengelus perutnya.
" Deuuuuh yang habis pipis, bawaannya laper," sahut dokter Bayu dengan usilnya.
Lea menepuk dahinya mendengar keusilan dokter Bayu.
Melihat itu dokter Vian berkata," maklumi aja sayang, dokternya agak-agak cabul."
" Hahaha..ya udah kalian boleh pergi, besok aku hubungi jam berapa bisa kalian ambil hasilnya ya, pergilah sebelum aku suruh pipis lagi."
" Iish dokter ini sudah rusak ya otaknya."
" Nah itu kamu tau," ucap dokter Bayu lagi.
" Ya udah dok, kami pamit, selamat siang."
" Siang."
Pasangan itu meninggalkan klinik tersebut lalu pergi ke sebuah restoran untuk makan sore.
Setibanya di restoran pilihan dokter Vian, mereka langsung masuk dan memilih tempat yang sangat di sukai oleh dokter Vian setiap kali ke restoran itu.
" Lihat ini mas," kata Lea sambil menunjukkan foto yang di kirimkan Rara perawat IGD di grup aplikasi hijau.
Dokter Vian memperhatikan foto itu.
" Ini?"
" Iya, itu undangan yang aslinya, yang sebenarnya acara pertunangan bukan acara peresmian."
" Aku??" ucap dokter Vian sambil menunjuk dadanya.
" He ehm."
" Apa maksudnya?"
" Jebakan."
" Ck...kurang ajar!!"
" Jangan bertindak apapun, serahkan pada teman-teman aja, kita gak usah menunjukkan reaksi apapun."
" Oke..terserah yang penting aku tidak akan datang besok."
" Tidak mas, kita akan datang."
" Maksudnya?"
" Kita lihat aja besok, kita datang setelah jam pelayanan poliklinik di tutup.".
" Oke, apapun yang kamu mau, aku ikut aja."
Tak lama makanan pesanan mereka datang lalu mereka menikmati nya tanpa banyak bicara.
Bersambung ya...
__ADS_1