Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 25 Hanya Pura-pura


__ADS_3

Tak ingin lama-lama melihat kebohongan yang ada di depan matanya, papa Rudi menuruni tangga lain, dan tanpa sepengetahuan Farlan dan mama Erica dia pergi keluar rumah.


" Lebih baik aku mengunjungi Erin dari pada melihat akting anak dan ibu kandungnya itu." gumamnya papa Rudi.


Papa Rudi pergi ke rumah sakit dimana istri pertama nya di rawat.


Setibanya di sana dia langsung masuk ke ruang rawat istrinya, namun ia tak mendapati istrinya di sana.


" Selamat sore pak, ada yang bisa saya bantu?"


" Sore, istri saya dimana?"


" Oh ibu sedang di ruang rehab pak, mengisi kegiatan rehabilitasi untuk pasien, ingin saya panggilkan pak?"


" Oh di sana? Tak usah biar saya ke sana saja langsung, terimakasih."


" Baik pak silahkan."


Papa Rudi berjalan ke arah ruang rehab yang tak jauh dari ruang rawat istrinya.


Setibanya di sana, ia lihat istrinya sedang berbincang dengan seorang wanita.


" Assalamualaikum sayang." sapa papa Rudi.


" Wa alaikumsalam mas, baru datang?"


" Iya."


" Ayah." sapa wanita yang bersama bu Erin yang tak lain adalah mba Aisyah sambil menyalami ayahnya itu.


" Kamu di sini? Mana Hanif dan ayahnya?." tanya papa Rudi.


" Hanif di ajak ayahnya ke taman tadi, ada yang jual cemilan kesukaan mereka di sana." jawab mba Aisyah.


" Kapan kamu keluar dari sini Rin?" tanya papa Rudi pada istrinya.


" Entah mas, aku suka di sini, menghilangkan rasa rinduku pada ibuku, gara-gara ulah Erica ibuku harus menghabiskan masa tuanya di sini." kata Erin sambil menghela nafas.


" Menurutmu bagaimana kalau aku ceraikan Erica? Aku sudah lelah berpura-pura Rin, Aku ingin kita bersama lagi dan menghabiskan masa tua bersamamu."


" Kita kan memang masih bersama mas, kenapa kamu ragukan itu." kata Erin sambil memegang tangan suaminya itu.


" Bagaimana perkembangan kasus Fardhan yah?" tanya Aisyah.


" Papa kasihan sebenarnya dengan Fardhan."


" Lho kok?"


" Kamu tau? Ini semua ulah Farlan, Farlan lah penjahat sebenarnya, sudah lah, ayah ingin bersenang-senang dengan keluarga kesayangan ayah, tanpa ada cerita tentang mamamu dan anak-anaknya.


Mba Aisyah hanya menggelengkan kepalanya, ia senang ayahnya sangat menyayangi keluarganya, dulu memang dia sangat benci pada ayahnya namun setelah tau kalau semua bukan kesalahan ayahnya ia pun akhirnya bisa menerima semuanya.


Setiap berkunjung ke rumah sakit jiwa tempat Erin saudara kembar mama Erica di rawat mereka memang hampir tak membahas keluarga kedua dari papa Rudi.


Mama Erica hampir tak pernah mengunjungi Erin sama sekali, dulu ketika orang tuanya di rawat pun Erica tak mau menjenguknya, seolah hubungan dia putuskan dengan sengaja.


Permintaan dari Erin lah maka papa Rudi mau menikahi mama Erica, semua di karenakan Erin tak mau aib yang menyebabkan orang tuanya mengalami gangguan jiwa itu tersebar luas.


Namun sayang orang tuanya tak kunjung sembuh dan mama Erica pun makin menjadi-jadi, ia menguasai sendiri papa Rudi, hingga Erin pun memilih berpura-pura sakit jiwa.


***


" Masa kalian tidak memperhatikan kemana suami saya pergi?" tanya mama Erica pada penjaga rumah mereka.


" Maaf Bu, tidak, saya tadi sedang sholat ashar."


" Ya sudah..." kata mama Erica sambil masuk ke dalam rumahnya, mengambil telpon genggamnya untuk menghubungi suaminya.


Beberapa kali ia menghubungi suaminya namun nomor kontak suaminya tidak aktif.


" Farlan kamu tau kemana papa mu kira-kira?"


" Entah ma.."


" Ck, kenapa papamu tak khawatir sama sekali akan Fardhan..." kata mama Erica sambil menghela nafas.


" Jangan paksa papa ma, ma Farlan boleh tanya?"


" Kenapa mama tak pernah menemui ibu?"


" Kamu kira mama gak punya malu apa mengunjungi orang yang sakit jiwa??"


" Ma...bukannya ibu sakit karena mama?"


Mama Erica terkejut mendengarnya.

__ADS_1


" Apa? Da.. dari mana kamu tau?"


" Sampai kapan mama sembunyikan ini pada Farlan? Apa tak ada sesal sedikitpun di hidup mama?"


Mama Erica terduduk mendengar kata-kata anaknya, memang pada Fardhan dia sempat membuka rahasianya namun tidak pada Farlan.


" Ma andai aku atau Fardhan yang sakit jiwa apa mama juga tak akan peduli sama kami?"


" Apa??"


" Ya aku rasa aku dan Fardhan sudah sakit....kami tak bisa melepas kan Lea."


" Farlan!!! Bicara apa kamu!!" sentak mama Erica.


" Hahaha...mama....mama.... mama sungguh naif, mama kira siapa yang mendorong Farhan?? Siapa yang mengejar Lea??"


" Apa maksud kamu Farlan?? Mama tak mengerti!!"


" Ya nanti mama akan tau sendiri!" ucap Farlan sambil beranjak pergi keluar rumah meninggalkan mamanya yang kebingungan.


Tak berapa lama papa Rudi pulang, ia langsung berjalan masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan mama Erica yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


" Pah....pah..." panggil mama Erica sambil mengikuti langkah suaminya.


Papa Rudi tak menyahuti panggilan mama Erica, ia langsung rebahan dan menutup matanya dengan lengannya.


" Pah kamu dari mana?"


" Diam kamu Erica aku lelah kamu paham tidak, seumur pernikahan kamu cuma membuat aku pusing saja bisanya." kata papa Rudi sambil menggeser tubuhnya membelakangi mama Erica.


Mama Erica tersentak mendengar ucapan suaminya, selama pernikahan memang hubungan mereka tidak harmonis, kalau pun terlihat baik-baik saja itu hanya di depan anak-anak, namun setelah anak-anak dewasa papa Rudi mulai memperlihatkan sikap dinginnya pada mama Erica.


Terutama setelah anak kembar mereka mulai membuat ulah, papa Rudi menyalahkan mama Erica pada semua yang terjadi.


" Pah...tolong, aku sudah berjuang untuk rumah tangga kita, tolong hargai aku." sahut mama Erica mulai menangis.


" Hapus airmata busuk mu itu, aku bukan Rudi yang dulu lagi, aku sudah muak Erica....muak!!" sentak papa Rudi sambil bangun hendak pergi.


" Pah mau kemana? kamu tak boleh kemana-mana." tahan mama Erica sambil menahan tangan papa Rudi.


" Aku mau ke neraka....ikut kamu hah!!"


Sontak mama Erica melepaskan pegangan tangannya.


Papa Rudi mengambil koper yang sudah beisi baju-bajunya.


" Pah!!"


" Butuh aku, cari ke neraka!!" sahut papa Rudi lagi sambil melangkah pergi dari rumah.


" Aaaaaargh kenapa harus begini....aku tak mau seperti ini, Rudi kamu hanya milikku...milikku..hahaha... tak ada yang bisa rebut Rudi dari ku....hahaha..." teriak mama Erica sambil mengamuk, semua barang yang ada di kamar di lemparkan ke segala arah.


Asisten rumah tangga mereka berlari menuju kamar majikan mereka dan mendapati majikannya yang sedang mengamuk, penjaga rumah pun berlari masuk ke dalam rumah.


Tak lama Farlan datang setelah di hubungi oleh penjaga rumah mereka, sedang kan papa Rudi tak bisa di hubungi karena nomor kontaknya tidak aktif.


Farlan segera membawa ibunya yang tak sadarkan diri ke rumah sakit, sepanjang jalan ibunya mengamuk tak mau di bujuk.


Sesampainya di rumah sakit setelah dokter melakukan pemeriksaan, dokter menyarankan agar mama Erica di bawa ke rumah sakit jiwa.


Farlan syok mendengar saran dari dokter namun ia tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengikuti saran tersebut.


Dengan di antarkan ambulan mama Erica di rujuk ke rumah sakit jiwa dimana Erin saudara kembarnya pura-pura di rawat.


Saat para perawat rumah sakit jiwa menerima kedatangan mama Erica, Erin sempat melihat Farlan yang sedang berjalan mengikuti brankar yang membawa mama Erica.


" Farlan? siapa yang ia bawa, aku harus segera masuk ruangan ku." kata Erin kembali masuk dan berpura-pura lagi di ruangannya.


" Bu Erin.." panggil salah seorang perawat pada Erin.


" Ya?"


" Ada pasien baru datang, mirip sekali dengan ibu."


" Apa namanya Erica?"


" Iya Bu."


" Dia saudara kembar saya, kalau anaknya mencari saya, bilang saja saya di kamar ini, saya tak akan kemana-mana."


" Iya Bu."


" Ingat ya perjanjiannya!"


" Iya Bu, siiip, tadi dokter yang suruh saya menyampaikan kepada ibu supaya kembali ke kamar, karena ada pasien yang mirip dengan ibu."

__ADS_1


Lalu perawat itu meninggalkan Erin di ruangannya.


Setelah kepergian perawat itu Erin menghubungi papa Rudi dan Aisyah memberitahukan kejadian barusan.


Papa Rudi sebenarnya tak ingin datang namun mba Aisyah memintanya untuk melihat Tante sekaligus ibu tirinya itu akhirnya papa Rudi bersama mba Aisyah pergi ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit jiwa papa Rudi dan mba Aisyah mencari dimana mama Erica di tempatkan.


Perawat mengatakan kalau mama Erica di bawa keruang isolasi namun belum boleh di jenguk karena kondisi mental masih sangat rawan, papa Rudi dan mba Aisyah berjalan menuju ruang isolasi dan mendapati Farlan yang sedang duduk di luar ruangan itu.


" Pa....kenapa papa meninggalkan mama dalam kondisi seperti ini, apa tak ada rasa kasihan sedikitpun?" tanya Farlan begitu melihat kedatangan papanya.


" Kasihan?? Kamu paham dengan kata kasihan? Kamu bisa biilang kasihan tapi apa kamu pernah merasa kasihan pada saudaramu? Keluargamu?" tunjuk papa Rudi.


" Pa...."


" Diam!!"


Farlan menelan ludahnya sendiri mendengar ketegasan dari papanya.


" Kalau kau paham kata kasihan atau mau kasihan kamu lihat di ruang VIP blok 2, bertahun-tahun dia disana, lihat lah, wajahnya mirip dengan mamamu, bayangkan saja kalau itu mamamu!" sahut mba Aisyah juga.


Farlan semakin menunduk.


" Kalau bukan karena ulah mamamu aku tak akan seperti ini Farlan, di tambah lagi kelakuan kau dan Fardhan yang menambah beban pikiran mamamu." ujar papa Rudi lagi.


" Aku sudah lelah kalian tuntut untuk sempurna....aku tak sanggup bila kalian suruh berkorban lagi, sekarang kau, Fardhan dan juga mamamu aku lepaskan, terserah kalian mau apa, toh pernikahan ku dengan mamamu hanya siri, jadi kau rawat lah mamamu, sesuai perjanjian ku dengan mamamu, aku hanya bersamanya sampai kalian dewasa dan bisa menentukan jalan hidup sendiri, harusnya aku dan mamamu sudah berpisah beberapa tahun lalu, namun karena kamu dan saudara kembar mu sedang sakit dan juga permintaan kakakmu Aisyah makanya aku menundanya."


" Lalu papa mau kemana? Papa akan meninggalkan mama?"


" Terserah apa anggapanmu, seperti aku di paksa mamamu untuk meninggalkan istri sah ku yang juga saudara kembarnya, sekarang aku harus menebus rasa bersalah ku pada istri sah ku, aku akan pergi membawa istri sah ku, dan merawatnya sendiri, kamu sudah dewasa, sekarang giliran kamu yang merawat seorang ibu yang sakit."


" Pa..."


" Sudah jangan menambah runyam keadaan, keputusan ku sudah bulat, ingat jangan hancurkan hidupmu seperti Farhan atau Fardhan, kamu masih bisa menyelamatkan hidupmu, jadikan lah semua yang terjadi sebagai pelajaran, agar kamu tak menyesal kemudian hari, dan satu lagi, jangan paksa orang untuk hidup bersamamu kalau dia tak mau, contohlah papa dan mamamu, kebahagiaan apa yang di dapat dari hubungan yang berpura-pura bahagia di mata orang lain??"


Papa Rudi berdiri lalu beranjak pergi.


" Kita keluarkan ibumu sekarang Aisyah, biar ayah rawat sendiri ibumu, dia pasti ingin kembali bersama ayah, siapa tau dengan ayah rawat sendiri ibumu akan sehat kembali." kata papa Rudi sambil berjalan ke arah ruang rawat istri pertamanya.


Farlan tak dapat mencegah kepergian papanya, ia hanya memandang papanya lalu memandang pintu ruang isolasi dimana mamanya di tempatkan.


Pikiran Farlan terpecah, andai ia memaksakan agar Lea hidup bersamanya pasti mamanya tak akan senang ini akan semakin membuat masalah yang lebih besar lagi, tak ada yang mendukungnya sekarang.


' Percuma saja...percuma.... aku harus bagaimana!!' bathinnya sambil menjambak rambutnya sendiri.


Di saat itu seorang perawat melihat sikap Farlan.


" Pak... boleh saya beri saran?"


" Hhmm..." sahut Farlan sambil memejamkan matanya.


" Coba konsultasikan masalah bapak dengan psikiater."


" Maksudmu aku sudah gila?" kata Farlan sambil menyandarkan kepalanya.


" Orang yang konsultasi itu tak cuma orang yang sudah sakit pak, orang normal juga boleh, kan konsultasi saja pak." jawab perawat itu sambil tersenyum.


" Kamu punya saran dokter mana yang harus aku datangi?"


" Dokter yang merawat ibunya bapak aja, dokter Ryan, kalau ruangan beliau ada di ujung lorong itu, kalau mau konsul disini, tapi kalau kliniknya jadi satu sama rumahnya, saya juga membantu di klinik kalau tak ada jadwal dinas, kalau bapak bersedia nanti saya bantu buatkan jadwal konsul, bagaimana pak?"


" Boleh, tapi yang pertama tolong jangan panggil saya bapak, saya masih muda dan belum menikah."


" Baik, maaf, oh ya dengan mas siapa?"


" Farlan."


" Oh iya saya beritahukan dokter dulu ya mas." kata perawat itu sambil beranjak pergi.


" Tunggu...."


" Ya..ada apa?"


" Siapa namamu?"


Perawat itu hanya tersenyum sambil menunjuk pin nama yang ada di dadanya.


" Lena?"


Perawat itu tersenyum dan merunduk memberi hormat lalu berbalik badan meninggalkan Farhan.


Sikap lembut dan sopan yang di tunjukan perawat itu hampir mirip dengan Lea, membuat Farlan melupakan sejenak obsesi nya pada Lea.


Bersambung yaaaa.....

__ADS_1


__ADS_2