Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 20 Siapa Pengagum Rahasia??


__ADS_3

Dengan rasa malu yang besar, dokter Nala berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar lalu setengah berlari ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya.


Ia tak menyangka perbuatannya terekam CCTV dan di tayangkan di depan rekan-rekannya.


" Sial...sial...siaaaaal...!! Ini gawat, kalau dia mengabarkan ke instansi lain, aku tak bisa lagi masuk ke rumah sakit milik Vian, aaaaargh kenapa aku tak memikirkan hal itu, apa sepertinya aku harus menghilang dulu, papa Zoni...yah papa Zoni harus membantuku..." ucapnya sambil mengebut membelah jalanan ke arah apartemen nya.


Di perjalanan ia mendengar telpon genggamnya berbunyi.


[ Ya]


[ Hei kok lama?]


[ Sorry Ton, aku tak bisa menemui mu, ada hal genting yang tak dapat aku tunda, sorry ya..]


[ Oke..oke...bila butuh bantuanku kabari saja ya.]


[ Oke Ton, makasih.]


Sambungan terputus, dokter Nala melempar telpon genggamnya ke jok sebelahnya.


" Ck."


Tiba di apartemennya dia langsung naik dan masuk ke dalam, di dalam ia melemparkan semua barang-barang yang ada di ruang tamunya, lelah mengamuk mengambil beberapa botol minuman favoritnya, membawanya ke kamar lalu menghabiskan semuanya, dalam kondisi yang sudah tak sadarkan diri ia pun akhirnya ter lelap.


***


" Bagaimana persiapan pernikahanmu Vian?" tanya pak Ahmad pada anaknya.


" Sudah 90% yah, tinggal menyebar undangan dan pelaksanaanya saja."


" Bagus, pastikan tak ada kendala apapun ya, masih ada waktu 2 Minggu lagi."


" Iya ayah, hari ini undangan sudah bisa di sebar, tadi Dodo aku suruh untuk mengantarkan sebagian ke rumah Lea."


" Kamu suruh Dodo? Gak kamu antarkan sendiri ke sana?"


" Hehe....aku takut gak bisa pulang lagi ayah."


" Haha..kamu...itu..ya udah kalau gitu, oh ya kapan Lea akan ambil cuti?"


" Mungkin seminggu lagi ayah."


" Oh, barengan sama kamu berarti??"


" Iya ayah."


" Oke...nanti kamu suruh dokter lain untuk menggantikan jadwalmu sementara ya."


" Iya ayah, sudah Vian suruh Asrof untuk menggantikan Vian."


" Bagus...bagus, ayah pulang duluan, sudah sore, kamu jangan terlalu lelah dan obatmu jangan lupa di minum."


" Ya ayah, alhamdulillah sudah ada perkembangan ketika cek terakhir kemarin lusa."


" Syukur...Alhamdulillah....ayah pulang ya.. assalamu alaikum."


" Wa alaikumsalam."


Pak Ahmad keluar dari ruangannya meninggalkan anaknya seorang diri.


Sepeninggal ayahnya dokter Vian menelpon calon istrinya.


[ Assalamualaikum mas.]


[ Wa alaikumsalam, berangkat dinas jam berapa sayang?]


[ Jam 2 siang mas, ada apa? ]


[ Makan siang di rumah sakit?]


[ Iya, tapi aku bawa bekal dari rumah.]


[ Aku ikut makan ya.]


[ Iya nanti bawa agak lebih, untuk teman-teman juga, oh ya mas Lea mau tanya....]


[ Ada apa?]


[ Eemmmm....nanti aja di rumah sakit.]


[ Ya udah, hati-hati berangkat nanti ya.]


[ Iya mas.]


[ Aku tutup ya, assalamualaikum.]


[ Wa alaikumsalam.]


***


" Ini sudah seminggu masih belum ada kabar Fardhan pah? Kemana anak itu."


" Hhmmh aku juga bingung dia tak pulang ke rumah, tapi kemana, apa kita harus menanyakannya pada Lea?"


" Boleh juga itu pah." sahut mama Erica.


" Ayo kalau gitu, kita kesana sekarang."


Tanpa mengajak Farlan mereka berdua pergi ke rumah Lea.


Setibanya di rumah Lea, papa Rudi memencet bel rumah Lea, bibi Lala membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk.


Lalu bibi Lala menyampaikan kedatangan mereka pada Lea yang sedang asyik memasak untuk bekal dia nanti saat dinas.


" Siapa bi?"


" Entah non, dua orang dewasa sepertinya suami istri."


Lea keluar menemui tamunya dan terkejut melihat kedatangan kedua orang tua mantan kekasihnya.


" Assalamualaikum Lea."

__ADS_1


" Wa alaikumsalam pa, ma.." Lea menyalami kedua orang tua mantan kekasihnya itu.


" Bagaimana kabar mu Lea?"


" Alhamdulillah baik pa, ada apa papa dan mama ke sini? Ada masalah?"


" Gini Lea satu Minggu yang lalu Fardhan kabur dari Jerman ke Indonesia, nah kami sudah mencarinya selama 1 minggu ini belum juga ketemu, apa Fardhan pernah menemui mu?"


" Tidak ma...tak ada siapapun yang datang kesini."


" Apa dia datang ke rumah Aisyah ya?"


" Aisyah?? Apa hubungannya dengan anakmu itu!!" sahut mama Erica tak senang.


" Mba Aisyah, anak papa?"


" Panjang ceritanya Lea,...mah walau bagaimanapun Aisyah anakku, mau kau terima atau tidak dia anak pertamaku."


" Terserah papah, kalau papah mau kesana aku tunggu di mobil saja."


" Kau itu...!!" papa Rudi memotong kata-kata karena sungkan dengan Lea.


" Ya udah Lea, kami pamit ya, assalamu alaikum."


" Wa alaikumsalam."


Lalu mereka berdiri dan beranjak dari rumah Lea, Lea memperhatikan kepergian mereka.


Mama Erica masuk ke dalam mobil sedangkan papa Rudi berjalan ke rumah mba Aisyah.


" Pantas mas Farhan pernah keluar dari rumah mba Aisyah ternyata masih saudaranya, eh tapi mas Farhan atau?? Ah ketika itu Hanif sudah di operasi berarti mas Farhan sudah tiada waktu itu."


" Ngomong sama siapa Lea." ujar mba Rika sambil mengikuti kelakuan Lea yang mengintip dari jendela rumah mereka.


" Ih mba ini ngagetin aja."


" Ya kamu aneh, jadi mba penasaran, siapa yang kamu intip? tumben-tumbenan kamu kepo sama tetangga."


" Barusan tadi orang tuanya mas Farhan datang menanyakan Mas Fardhan, katanya kabur dadi Jerman, pulang ke Indonesia, karena gak ketemu-ketemu akhirnya tanya sama Lea, pernah lihat mas Fardhan atau tidak."


" Memang pernah? Kamu tau?"


" Ya enggak lah mba, tapi mungkin mba Aisyah tau."


" Hubungannya dengan Aisyah?"


" Aku juga baru tau kalau mba Aisyah anak papanya mas Farhan, entah bagaimana ceritanya, bukan urusan kita." kata Lea sambil bergidik.


" Dah ah, Lea mau lanjutin masak buat bekal nanti."


Lea sibuk dengan masakannya sampai tiba waktunya berangkat dinas sore.


Ia pun bersiap-siap tak lupa membawa bekal untuk dia makan bersama calon suami dan teman-temannya.


Lea melajukan mobilnya menuju tempat dinasnya, setelah memarkirkan mobil, dia masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju pintu lift.


Tanpa dia sadari sedari masuk tadi banyak mata yang melihat ke arahnya, ada yang ramah dan ada yang tatapan sinis.


Ketika memasuki lift, teman-temannya datang Lea menahan pintu lift agar temannya bisa ikut naik.


" Hampir saja kedahuluan ibu kepala ruangan." kata Fico.


" Hhmmm...." sahut Lea sambil menggidik kan bahunya.


" Hihi.." Inggrit dan Irma cekikikan.


" Sepertinya tak beberapa lama lagi ada hari sakit hati sedunia kesehatan niiiiih." kata Fico lagi sambil melirik Lea.


" Fico...kamu minta di jewer??" sentak Inggrit pura-pura marah.


" Hhmmmm ibu asisten.....situ gak ikutan sakit hati nanti?"


" Fic mau di sunat lagi gak?" celetuk Irma.


" Buntung dong eikeee.." sahut Fico sambil melempar poni nya yang ala oppa-oppa Korea.


Ting....pintu lift terbuka di lantai 3, mereka berempat keluar dari lift langsung menuju ruang Anyelir.


Kembali ke aktivitas mereka tanpa banyak berbicara yang tak penting.


Kepala ruangan mengajak Lea bicara saat Lea duduk membaca buku laporan pasien.


" Lea tadi undangan pernikahan dokter Vian di sebarkan, kok gak ada angin gak ada hujan tau-tau menikah, dan mempelai wanitanya adalah kamu, saya gak pernah lihat kamu ada hubungan khusus dengan dokter Vian, ini beneran nikah sama kamu atau gimana sih ceritanya?"


" Saya juga tak tau sejak kapan dokter Vian mempunyai rasa pada saya bu, keputusan dokter Vian untuk menikah itu kurang lebih 3 Minggu yang lalu, saya melihat kesungguhan nya lalu saya terima permintaan nya, apa yang saya cari lagi Bu, bukankah bila ada yang mengajak kita untuk beribadah di saat kita pun sudah siap lebih baik di segerakan saja, saya ingin menjalani hubungan yang halal Bu."


" Oh begitu, kamu benar juga, selamat ya."


" Terimakasih bu."


" Hati-hati kamu harus kuat mental, kamu menikah dengan calon direktur rumah sakit ini, kamu harus bisa membawa diri kelak, yang pasti akan ada pro dan kontra Lea."


" Iya Bu, terimakasih sudah di ingatkan."


" Kamu bersahaja seperti almarhumah ibu kamu Lea, saya suka." kata ibu kepala ruangan lagi sambil mengingat teman baiknya dengan mata berkaca-kaca, kebetulan ibu Lea teman sekolah ibu kepala ruangan.


Usai sedikit berbincang seluruh perawat dinas pagi, berpamitan untuk pulang, lalu di lanjutkan oleh tim Lea.


Ketika adzan ashar Lea dan teman-temannya secara bergantian untuk menjaga ruangan kecuali Irma karena dia non muslim, Lea menunaikan ibadah di mushola lantai 3 yang memang tiap lantai di rumah sakit ada mushola untuk memudahkan pasien dan keluarganya untuk sholat.


Setelah sholat Lea menyiapkan makan sorenya di mini pantry yang ada di ruangan nya, sebelumnya dia mengecek semua pasien dulu, di rasa aman, ia bisa meluangkan waktu sebentar untuk makan sore.


Tak lama kemudian dokter Vian datang ke ruangannya.


" Selamat sore dokter." sapa Fico.


" Sore, Lea mana?"


" Di pantry dok." jawab Irma.


Dokter berjalan ke arah pantry.

__ADS_1


" Assalamualaikum sayang."


" Wa alaikumsalam, dok...ish jangan panggil-panggil sayang di rumah sakit ah, gak enak sama yang lain."


" Emang kenapa? Semua dan pada tau kok."


" Ya gak gitu dok."


" Dok?"


" Au ah, mau makan sekarang?" tanya Lea sambil duduk bersiap untuk makan.


" Boleh, sepiring bersama ya."


" Mas ingat tempat." sahut Lea setengah berbisik.


Dokter Vian hanya cemberut memajukan bibirnya.


" Mirip bebek ih." ledek Lea.


" Hehe.." mereka tertawa bersama.


" Anak-anak gak ikut makan?" tanya dokter Vian.


" Ya gara-gara undangan sudah di sebar, mereka gak berani lagi makan bersama ku apalagi mas di sini."


" Wah gak bagus ini." kata dokter Vian sambil keluar dari pantry.


" Kalian ayo makan bareng, pasien lagi aman kan?" ajaknya pada teman-teman Lea.


" I Iya dok."


" Ayo jangan sampai saya bawakan piring makan buat kalian ke sini ya."


" Iya dok, ini lagi mau ke pantry." kata Fico.


" Oke." kata dokter Vian sambil berbalik kembali ke pantry.


Mereka ke pantry dan makan bersama di sana.


Selesai makan, teman-teman Lea menyuruh nya untuk meninggalkan pantry, mereka ingin membantu Lea membersihkan peralatan makan mereka.


" Udah biar kami aja, kamu kan sudah bawain makanannya masa kamu gak bantuin kamu." kata Inggrit.


" Iya, dok ajak Lea ke sebelah ya." kata Irma.


" Oke ayo."


Fico pergi menyuntik pasien kebetulan ada jadwal suntikan di jam itu.


" Mas sini deh, Lea mau tanya." ajak Lea pada dokter Vian untuk duduk di kursi yang berhadapan dan terhalang meja di antara kursi itu.


" Ya kenapa?"


" Beberapa Minggu ini ada yang mengirim paket ke rumah, isinya macam-macam, kadang juga paket berupa buket bunga gitu, dan tak ada namanya, apa mas yang melakukannya?"


" Tidak tuh, aku gak mengirimkan apapun."


" Aneh siapa ya?"


" Apa ada alamat?"


" Tidak ada, namun kalau paket bunga hanya ada alamat penjual bunganya."


" Kamu buka semua paketnya?"


" Iya mas."


" Gini kamu kumpulkan aja, nanti coba aku lacak dari siapa paket itu, aku akan minta bantuan istri temanku yang aku ceritakan padamu kemarin."


" Yang mana?"


" Yang direktur rumah sakit lain, istrinya perwira polisi."


" Oh iya mas."


" Oke itu aja?"


" Iya itu aja, aku mau lanjut kerja lagi, gak enak kerja sambil ngobrol." kata Lea.


" Aku langsung pulang ya, jam ku sudah selesai, hari ini aku gak jaga, di lanjutkan sama dokter Asrof, kamu hati-hati, kalau ada apa-apa kasih tau aku."


" Iya maaass."


Sepeninggal dokter Vian, Lea termenung sejenak memikirkan paket yang hampir tiap hari datang ke rumahnya.


" Apa mungkin mas Fardhan?" gumamnya.


" Siapa Fardhan?" tanya Inggrit.


" Astagfirullah, kamu ngagetin aja, tau-tau ada bersuara."


Inggrit ketawa sambil duduk di hadapan Lea.


" Salahmu ngelamun."


" Mas Fardhan itu saudara kembar mas Farhan."


" Saudara kembar mas Farlan juga itu kan? Kenapa dengannya? Katanya dia dan keluarganya pergi hijrah ke Jerman kan?!"


" Iya tapi tadi orang tuanya datang ke rumah menanyakan anaknya padaku, kata meraka mas Fardhan kabur dia pulang ke Indonesia, gitu."


" Wah gawat Lea, kata kak Betty, mas Fardhan itu lebih nekat dari pada mas Farlan lho."


" Aduh...kita fikir kan nanti deh Grit, sekarang dinas dulu ja."


Lea dan teman-temannya kembali fokus merawat pasien-pasien mereka sampai jam aplusan pada malam hari.


****


Siapa pengagum rahasianya yaaa....??

__ADS_1


Bersambung lagiii..


__ADS_2