Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 31 Isi Paket??


__ADS_3

Selesai makan Lea dan suaminya ke ruang tamu untuk melihat paket tersebut namun sebelum nya dokter Vian sudah menghubungi Iptu Sharmila memberitahu tentang kedua paket yang dikirimkan ke alamat yang berbeda.


Iptu Sharmila berpesan agar menunggu ia datang baru mereka membuka paket itu, untuk paket yang di kirimkan ke rumah Lea bawahan nya akan mengambilnya terlebih dahulu.


Malam tiba Iptu Shamila bersama dua orang bawahannya datang ke rumah dokter Vian, sambil membawa paket yang di ambil dari rumah lama Lea.


Mereka membuka paket itu bersama-sama salah satu bawahan Iptu Sharmila merekam kegiatan mereka.


Paket yang di kirim ke rumah lama berisi semua foto kenangan lama saat kuliah Lea dan beberapa barang yang sedikit di ingat oleh Lea, sedang paket kedua berisi foto-foto masa kuliah dokter Vian beserta barang-barang yang pernah di berikan nya pada beberapa orang yang ada di foto itu.


" Aku tak mengerti apa maksudnya ini?" kata dokter Vian.


" Kalian mengingat pada siapa barang-barang ini di berikan?" tanya Iptu Sharmila.


" Ya ini cuma benda yang kita hadiah kan saat mereka berulang tahun itu saja tak penting, aneh kan? motifnya apa coba!" kata dokter Vian.


" Jelas ini untuk mengganggu hubungan kalian agar renggang," kata Iptu Sharmila lagi.


Lea memperhatikan benda-benda tersebut. Lalu menelpon Fico.


[ Assalamualaikum.]


[ Wa alaikumsalam, Fic aku mau tanya, kamu ingat gak saat kita liburan semester ke empat, kan ada teman kita yang berulang tahun yang di rayakan bersama-sama waktu itu, ada tiga orang kalau gak salah.]


[ Oh iya, Bandi, Lando sama Ariel, kenapa?]


[ Gapapa, kamu tau mereka dinas dimana sekarang?]


[ Kalau Bandi sama Lando keluar pulau, kembali ke tempat orang tua mereka, si Ariel aku gak tau, mungkin kak Tika tau, tapi kamu jangan cari info tentang Ariel sama kak Tika bahaya.]


Lea memandang ke arah suaminya, lalu membuka speaker telpon genggamnya agar di dengar semua yang ada di ruangan.


[ Kenapa memang dengan kak Tika?]


[ Kak Tika kan kakak sepupu si Ariel, nah kemarin saat kamu menggelar resepsi kedua di rumah pak direktur, kami mencuri dengar kalau kak Tika akan melakukan sesuatu untuk menghancurkan rumah tangga kamu dengan dokter Vian, karena dia sudah lama mengincar dokter Vian namun malah kamu yang di nikahi, dan gak cuma itu, Anya yang tau banyak katanya ada dokter yang juga gak terima sama pernikahan mu, coba kamu tanya Anya.]


[ Iya Fic, tapi gak bisa sekarang, si Anya kan masih di rawat.]


[ Iya sih, jangan cari info di rumah sakit, kita gak tau mana yang memihak kamu mana yang berkhianat ada yang pura-pura baik soalnya.]


[ Kok kamu bisa tau Fic?]


[ Aku, Anya, Irma dan Inggrit tanpa kamu suruh sudah memantau mereka, siapa-siapa aja yang baik tulus padamu, jadi hati-hati.]


[ Oke-oke Fic terimakasih]


[ Kapan kamu masuk dinas?]


[ Besok, aku mengganti kan Anya di poliklinik.]


[ Oh sama bu Laras berarti, aman tenang aja, Bu Laras akan bela kamu bila ada apa-apa.]


[ Iya Fic terimakasih infonya, aku tutup dulu, kalau ada info penting tolong kabari aku ya?!]


[ Iya, sama-sama.]


[ Assalamualaikum.]


[ Wa alaikumsalam.] sambungan telpon di putus.


" Tika perawat IGD atau Tika bagian Isolasi?" tanya dokter Vian.


" Gak mungkin kalau kak Tika ruang Isolasi, kak Tika itu baik banget dan sudah menikah, yang pasti kak Tika IGD kan mas lebih sering di IGD daripada di ruang Isolasi."


" Oh iya juga ya, pantes dia sok baik, ternyata ada niat terselubung."


" Kalian tau rumahnya dimana, biar kami selidiki kehidupan orang itu," kata Iptu Sharmila.


Lea memberikan informasi yang di minta oleh Iptu Sharmila, untuk info para dokter masih belum tau persis karena Lea belum bertanya pada Anya yang masih di rawat sehabis melahirkan.


Setelah mendapatkan informasi Iptu Sharmila dan bawahan nya berpamitan untuk pulang.


Dokter Vian mengajak Lea untuk beristirahat karena sudah larut malam.


***


" Hahaha aku yakin Vian dan istrinya tak akan bisa tidur nyenyak malam ini, pasti mereka mengira masih berhubungan dengan orang-orang di masa lalu Vian, aku sebagai wanita jelas tak terima suamiku masih ada hati dengan salah satu wanita di masa lalunya," ucap dokter Sabrina senang.

__ADS_1


" Kamu pikir Vian sebodoh itu? sahut dokter Tiffany.


" Vian tak bodoh, tapi aku yakin istrinya yang bodoh," jawab dokter Sabrina.


Mereka berkumpul di apartemen milik dokter Arnita tempat yang sering mereka kunjungi karena bisa agak bebas.


" Kalian membahas si Vian?" tanya dokter Arnita yang baru datang dari arah dapurnya.


" Iya, kamu masih ikut taruhan gak? Tiffany mundur," tanya dokter Sabrina.


" Aku juga mundur," sahut Arnita sambil mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.


Dokter Sabrina dan dokter Tiffany saling menatap karena mereka tau kalau teman mereka satu itu penyuka sesama jenis.


" Oh bagus lah," ucap dokter Sabrina.


" Lagian ngapain kamu masih mengejar Vian? Dia nikah gak nikah tetap tak akan mau sama kamu," ucap dokter Arnita sambil menghembuskan asap rokok nya, dan menyugar rambutnya yang mirip oppa Korea itu ke belakang.


Dokter Sabrina tersenyum melihat temannya itu sudah hampir mirip seperti laki-laki.


" Andai kamu laki-laki tulen, mungkin aku akan jatuh cinta pada mu Nit," ucap dokter Sabrina.


" Emang kenapa kalau aku laki-laki jadi-jadian? Aku juga bisa bikin puas kamu kok, lebih puas malah dari pada bersama laki-laki beneran, kamu lihat Rena, pernah dia mengeluh? Tidak kan?" kata dokter Arnita dengan gaya maskulinnya.


" Hei andai aku mau sama kamu, terus apa Rena gak akan ngamuk?" tanya dokter Sabrina.


" Hahaha....ya tidak lah, dia kan punya rencana mau nikah sama cowoknya, bagi kami it just for fun nothing else, so tak ada ceritanya cemburu-cemburuan, apa itu cemburu!!"


" Serius jadi penasaran gue!" ucap dokter Tiffany.


" Penasaran apanya Fan? Menikah atau bercinta dengan Nita? Hihihi," ucap dokter Sabrina.


" Yang kedua lah...hahaha..." kata dokter Tiffany.


" Hati-hati aku bikin candu lho? Di pikir dulu...hahaha..." ujar dokter Arnita.


" Ish kamu, meningkatkan rasa penasaran ku saja, nanti aku mati aku gentayangan gimana?"


" Ya kalau gitu aku bisa bantu kok, kapan kamu mau aku always ready," ucap dokter Arnita sambil mengacungkan jempolnya.


" Tuh dapat kesempatan kamu Fan, sepertinya enak di jamin gak tekdung hahahaha...., eh Rena kemana? Aku kabari dia kok gak ada balasan."


" Kok tau?" ucap dokter Sabrina dan dokter Rena bersamaan.


" Iya, tadi video call pas lagi uhu..aha gitu," kata dokter Arnita sambil menirukan gaya orang lagi bercinta.


" Gilaaaaa....serius?? Rusak juga itu anak," ucap dokter Tiffany sambil menggeleng.


" Ck...ck....ck... apa jangan-jangan calonnya si Alex itu bukan?"


" Tepat sekali!!" ucap dokter Arnita.


" Haaaaaa?? Kok mau?? Dia kan mantannya Nala?" tanya dokter Sabrina.


" Iya memang Rena rebut dari Nala, sengaja dia lakukan itu, karena dulu Nala juga merebut pacar Rena, jadi ceritanya saling balas," ucap dokter Arnita.


Lagi asyik berbincang tiba-tiba yang di bicara kan nongol.


" Haaaaiii.....sorry aku telat," ucap dokter Rena terengah-engah ketika membuka pintu apartemen temannya.


" Heh sudah mandi belom? Habis berapa ronde loe?" tanya dokter Sabrina.


" Ya berronde-ronde lah, gak ngitung gue," ucap dokter Rena sambil duduk di pangkuan dokter Arnita tanpa sungkan dengan temannya yang lain.


" Heh...heh ..main pangku aja, gak cukup loe sama laki loe!!" semprot dokter Tiffany melihat kelakuan temannya itu.


" Ish suka-suka gue!!" balas dokter Rena sambil membelai dada dokter Arnita yang bidang seperti laki-laki itu.


" Ren kamu pancing begini bisa-bisa naik ni gue!!" ucap dokter Arnita.


" Hehehe... kayaknya kita perlu pamerin permainan kita di depan anak dua ini!" ucap dokter Rena sambil menunjuk kedua teman yang memandang ulahnya.


" Maksud loe???" sentak dokter Tiffany.


" Hahaha....apa loe takut kepancing, halah jangan sok suci loe, aku pernah lihat kamu ciuman sama Mila, iya kan? Ngaku loe..!!" semprot dokter Rena.


" E..e...itu...itu gak sengaja, aku kalah taruhan sama Mila, waktu kami taruhan untuk mendapatkan perhatian dari bang Reza."

__ADS_1


" Oh yaaa....??" kata dokter Rena sambil menyipitkan matanya pada dokter Tiffany.


" Oh jadi itu hukumannya kalah taruhan waktu itu, pantas aku tanya apa hukumannya kamu gak jawab," celetuk dokter Sabrina.


" Kamu tau mereka sedang taruhan?" tanya dokter Rena pada dokter Sabrina, dan di balas anggukan oleh dokter Sabrina.


" Gimana rasanya Fan, enak?" tanya dokter Arnita sambil tersenyum genit.


" Ya gitu, namanya ciuman ya gimana sih, ya gitu lah, masa kamu tanya aku kan kamu yang sering melakukan nya."


" Hahaha...ya rasa ku sama rasamu beda toh....ck ah kau ini, ngomong-ngomong sudah larut ni kalian mau nginap?"


" Aku gak bisa, besok dinas pagi," ucap dokter Sabrina.


" Aku juga," kata dokter Rena.


" Ya kalau kamu mau dinas besok ngapain kamu ke sini, bikin capek aja," semprot dokter Tiffany.


" Bawel loe," ujar dokter Rena.


" Jangan bilang kamu gak puas sama Alex!!" kata dokter Sabrina sambil memasukkan telpon genggamnya kedalam tas dan mengambil kunci mobilnya bersiap untuk pulang.


" Haha...pasti selalu begitu kok, selalu aku yang finishing nya," ucap dokter Arnita.


" Ih sumpah penasaran gue!!" ucap dokter Tiffany.


" Ya udah kamu tonton mereka, aku pulang...bye semua, selamat menikmati malam gila," ucap dokter Sabrina sambil beranjak pergi dari apartemen dokter Arnita.


" Heh tolong kunci sekalian," teriak dokter Rena, dan di balas acungan jempol oleh dokter Sabrina.


Sepeninggal dokter Sabrina tanpa malu-malu dokter Rena melancarkan aksinya di hadapan dokter Tiffany, dan dokter Tiffany hanya menonton saja perbuatan nista kedua temannya itu.


Dengan sengaja dokter Arnita memancing dokter Tiffany dengan kakinya, dan perbuatannya sukses, alhasil mereka bertiga melakukan hal yang tak wajar di lakukan.


Malam semakin larut ketiga insan yang lupa akan iman itu tak menyurutkan perbuatan mereka.


****


Pagi hari Lea sudah sibuk dengan kegiatan paginya. Hari ini dia sudah mulai masuk kerja.


" Sayang berangkat jam berapa?" tanya dokter Vian.


" Sebentar lagi," sahut Lea sambil melihat jam di tangan nya.


Rumah sakit hanya selisih satu perempatan saja jadi tak makan waktu lama untuk pergi kesana.


" Mas masuk kerja hari ini?"


" Iya tapi nanti siang menggantikan Asrof."


" Oh, oke."


" Nanti aku antar kamu berangkat kerja ya."


" Enggak ah, nanti di kira karyawan lain aku manja."


" Jangan pedulikan omongan mereka sayang, wajar kalau suami perhatian sama istrinya kan?"


" Iya, tapi rumah kita dekat banget sayang, untuk apa di antar segala."


" Permisi pak, bu," kata penjaga rumah mereka memotong pembicaraan Lea dan suaminya.


" Ya, ada apa?"


" Ada paket lagi, dan tanpa nama."


Lea dan suaminya saling pandang, mereka bisa menebak kalau paket yang di kirimkan ke rumah baru mereka pasti di tujukan untuk dokter Vian.


" Iya terimakasih," ucap dokter Vian sambil mengambil paket itu dari penjaga rumah mereka.


" Sekarang apa lagi?"


" Nanti saja di buka, aku beri tahu Iptu Sharmila dulu, kamu jangan terpengaruh, lupakan masalah ini saat kerja ya, supaya tak mengundang kecurigaan perawat-perawat itu, kita gak tau soalnya mana yang baik dan tidak."


" Iya mas, aku berangkat dulu," ucap Lea sambil menyalami dan mencium punggung tangan suaminya. Dokter Vian memeluk dan mengecup kening istrinya.


Lea berangkat pergi ke rumah sakit untuk menunaikan tugasnya hari ini.

__ADS_1


Bersambung yaaa...


__ADS_2