
Fico penasaran ikut membacanya lalu ikut melempar surat itu juga. Inggrit yang melihat teman-temannya melakukan hal yang sama hanya memandang aneh, ia tak ingin ikut membaca surat itu, walau sangat penasaran.
" Apaan sih?" tanya Inggrit.
" Info gila," sahut Fico.
" Nih kalau kamu mau baca," kata Lea juga.
" Malas ah, ntar otak gue keracunan," sahut Inggrit.
" Ya udah, hayuklah di habiskan makanannya lalu kita pulang dah malam nih," ucap Irma.
" Eh sepeda motor kamu gimana? Mau di ambil?" tanya Inggrit pada Lea.
" Terus kalau aku ambil kalian mau pake apa? Nah aku juga buat apa? Pake aja lah sesuka mu, mobil ku aja aku tinggal di rumah lama, biar di pake sama mba Rika, di sini mobil ada dua, badannya gak cukup kalau pake kendaraan banyak-banyak," sahut Lea.
" Oh ya udah kami pake lagi motormu," kata Irma.
Malam mulai larut ke tiga temannya berpamitan, dan setelah teman-temannya pergi, Lea melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat.
****
Pagi hari Lea sudah bersiap-siap untuk pergi dinas, dia ke dapur menyiapkan sarapan lalu memasukkannya ke dalam wadah, dia harus berangkat pagi-pagi agar sempat membawakan makanan untuk sarapan pagi suaminya.
Setelah berpamitan pada artnya, Lea langsung pergi ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Lea langsung masuk lift untuk naik ke lantai atas, dimana suaminya beristirahat, tak lama tibalah ia di ruangan direktur yang di dalamnya ada kamar untuk dokter Vian beristirahat.
" Assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam, kamu sudah datang?"
" Iya, ayo sarapan dulu."
" Baiklah."
" Setelah ini mas ada acara atau langsung pulang?"
" Aku pulang dulu, mau istirahat sebentar setelah itu mau ke tempat pak Haji, kan sudah dua hari jadi aku harus kembali ke sana."
" Oh iya, sendirian? atau nunggu aku pulang dinas dulu?"
" Sendirian aja deh, aku takut nyetrum kalau ada kamu."
" Maksudnya??"
" Untung saja tadi malam aku tidur di sini, kalau enggak aku yakin gak akan tahan dekat sama kamu, sumpah!!" jawab dokter Vian.
" Owh, apa karena nasehat pak Haji?"
" Ho oh," sahut dokter Vian sambil menggaruk kepalanya.
" Terus tadi malam mas apain?" selidik Lea.
" Gak di apa-apain wong musuh lagi di rumah, aku cuma takut error aja kalau di sentuh."
" Iidih.." ucap Lea sambil nyengir.
" Hahaha...repotkan? Apa sudah selesai?" tanya dokter Vian sambil menaik turunkan alisnya.
" 4 hari lagi," sahut Lea paham akan maksud suaminya.
" Yah masih lama ya?"
" Fokus sama terapi aja dulu," ucap Lea sambil membuka wadah makan yang ia bawa.
" Okeeee...."
Mereka berdua makan pagi tanpa banyak berbicara, setelah selesai makan, Lea merapikan wadah-wadah itu lalu memasukkannya lagi ke tas bekalnya.
" Aku turun ke bawah ya, bentar lagi poli buka."
" Iya, nanti aku langsung pulang ya, capek sekali tadi malam pasien lumayan banyak," ucap dokter Vian sambil meregangkan badannya.
" Ya udah, assalamualaikum," ucap Lea sambil mencium pipi suaminya.
" Wa alaikumsalam," balas dokter Vian sambil mengecup kening istrinya.
Lalu Lea keluar dari ruangan ayah mertuanya itu kembali masuk lift dan turun ke bawah.
__ADS_1
Di bawah masih sepi, hanya petugas cleaning servis saja yang lewat setelah membersihkan ruangan-ruangan di sana.
Lea langsung menuju ruang poli anak, dan meletakkan tas bekal dan tas kerjanya di rak khusus untuk menaruh barang pribadi karyawan.
Tak lama bu Laras datang berbarengan dengan kak Vino,
" Assalamualaikum," ucap bu Laras.
" Selamat pagi," ucap kak Vino.
" Wa alaikumsalam bu, selamat pagi kak," balas Lea.
Lalu ada beberapa berkas pasien yang di antarkan oleh petugas administrasi, tak lama setelah itu dokter Fandi datang dan mereka melayani pasien satu persatu sampai jam pelayanan selesai.
Tak ada satupun yang membuka omongan tentang investigasi mereka, karena mereka sudah sepakat untuk tidak membahasnya di rumah sakit, hal itu di karenakan mereka khawatir ada yang mendengarnya.
Dokter Fandi membuat grup di aplikasi hijau yang isinya hanya orang-orang bisa di percaya saja.
Namun saat jam kerja mereka tak ada yang membuka telpon genggamnya masing-masing takut mengundang kecurigaan.
Setelah jam pelayanan selesai, mereka langsung pulang, karena ada kesibukan masing-masing, namun komunikasi tetap berlanjut via grup.
Di ruang chat grup Anya menyampaikan informasi kalau suaminya mendapatkan kabar dari teman nya bahwa apartemen dokter Arnita sedang di awasi oleh pihak keamanan apartemen, karena adanya kecurigaan akan aktifitas dari penghuni apartemen itu, seiring hampir tiap hari mereka selalu berkumpul-kumpul, dan perilaku dokter Arnita yang aneh, dia wanita namun berpenampilan persis laki-laki.
Kak Tara yang menjadi anggota grup juga menyampaikan kalau istrinya menjadi saksi pembicaraan dokter Rena kalau dokter Arnita memang mempunyai kelainan.
Setibanya di rumah Lea langsung ke kamarnya berganti pakaian rumah, suaminya belum pulang dari tempat praktek pak Haji Darman.
" Bi Narti..." panggil Lea pada art nya.
" Ya non?" sahut bibi Narti yang berjalan dari belakang.
" Bibi lihat surat yang di atas meja ruang tamu gak?"
" Oh tadi di bawa mas Vian non," ujar bibi Narti art mereka yang sudah lama ikut keluarga dokter Vian, sengaja di kirimkan Bu Elma untuk membantu di rumah anaknya.
" Oh ya udah bi,"
" Makan sore pengen makan apa non?"
" Pengen yang seger-seger berkuah bi, tapi Lea mau tidur sebentar bi."
" Iya bi, makasih ya."
" Sama-sama non, tapi gak seenak masakan non lho."
" Apa sih bi, yang penting sama-sama mateng dan gak mentah aja bi.... hehe, Lea tidur dulu ya bi," lalu Lea meninggalkan bi Narti menuju kamarnya.
" Iya non."
****
Dokter Vian pulang ke rumahnya sesudah berganti tugas dengan dokter Asrof, setibanya di rumah ia melihat ada sepucuk surat tergeletak di atas meja ruang tamu, dokter Vian mengambil dan membacanya.
Assalamualaikum
Lea maaf kakak menyurati kamu lagi, kakak ingin bicara langsung sebenarnya namun kayaknya lebih baik lewat surat aja, kamu harus hati-hati dengan dokter Sabrina dan teman-temannya, kemarin aku dengar dokter Rena dan dokter Mila berbicara tentang rencana dokter Sabrina yang ingin menjauhkan kamu dari dokter Vian, ingat kan dokter Vian jangan ikut seminar medis di kota xxx, karena mereka sudah menyiapkan jebakan untuk dokter Vian, dan hati-hati pula dengan dokter Arnita, jangan kamu dekati dia, aku dengar dari ucapan dokter Rena sebenarnya dokter Arnita jatuh cinta padamu, dia mengincar kamu sejak kamu berpacaran dengan Mas Farhan dulu, oke sementara itu dulu info dari ku, kalau ada kabar lagi, akan aku beritahu kamu, ingat hati-hati ya.
Wassalam
Nilam
Dokter Vian geram membaca surat itu, " Mila cs!! Kalian mencari gara-gara dengan ku?? Baik aku akan beri pelajaran pada kalian, tunggu saja!!" ucapnya.
Karena sangat mengantuk dia melipat lagi surat itu dan memasukkannya ke dalam tas, rencananya setelah pulang dari rumah pak Haji Darman ia akan berikan surat itu pada Iptu Sharmila, agar di lakukan investigasi secepatnya.
Lalu dokter Vian berjalan ke kamar nya, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia langsung merebahkan diri untuk tidur sejenak.
Tepat jam 10 dokter Vian terbangun, ia melangkah ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, lalu berganti pakaian lagi untuk keluar rumah.
Setelah mengambil telpon genggamnya lalu memasukkannya ke dalam tas ia langsung keluar rumah, ia berpamitan terlebih dahulu pada bibi Narti.
Setibanya di rumah praktek pak Haji Darman dokter Vian menjalani terapi yang sama seperti dua hari yang lalu, setelah melakukan terapi pak haji Darman menyarankan agar dokter memeriksakan kembali dirinya secara medis, dokter Vian mengiyakan saja, kembali ia di beri ramuan untuk di konsumsi dua hari ke depan, menurut pak haji Darman satu kali lagi terapi sudah cukup, jadi dua hari lagi dokter Vian harus kembali.
Setelah menjalani terapi dokter Vian berpamitan, lalu pergi menuju kediaman sahabatnya yang sudah janjian terlebih dahulu.
Setibanya di rumah sahabatnya, ia di sambut oleh sahabatnya dan juga istrinya.
" Duduklah Vian," ajak sahabat nya itu.
__ADS_1
" Ada kabar terbaru?" tanya istri sahabatnya.
" Ini kamu lihat dan baca lah," ucap dokter Vian sambil memberikan surat yang tadi ia temukan.
Iptu Sharmila mengambil surat itu dan membacanya.
" Dokter Arnita dan teman-temannya?"
" Iya," sahut dokter Vian.
" Hati-hati mereka berbahaya," sahut sahabatnya.
" Nanti aku kirim bawahanku untuk menyelidiki mereka," ucap Iptu Sharmila.
" Oh ya, ada kabar terbaru dari Australia, ternyata Toni juga anak angkat oleh ayah angkat dokter Nala, dan mereka berdua bertemu disana kemungkinan besar mereka akan menikah, belum ada pergerakan dari mereka, kapan akan menyeludupkan obat terlarang ke Indonesia, jadi untuk sementara masih aman," ujar Iptu Sharmila lagi.
" Owh," sahut dokter Vian, " Bagaimana caramu mencari berita tentang mereka?"
" Salah satu bawahanku mempunyai kenalan disana yang bekerja pada Zoni dia lah yang menyampaikan kabar apapun dari sana."
" Owh oke, sementara itu dulu yang aku mau sampaikan, aku pulang dulu, Lea pasti sudah menunggu ku di rumah."
" Iya Vian, bagaimana kondisi mu? Apa sudah membaik?" tanya sahabatnya yang mengetahui kondisi dokter Vian sejak awal.
" Sudah membaik, semoga Lea bisa cepat hamil, aku akan berusaha terus bagaimana pun caranya, kasihan dia sebatang kara di dunia ini, dan menikah dengan ku yang tak begitu sehat, tentunya dia ingin sekali cepat punya keturunan."
" Ah siapa bilang kamu gak sehat? Berusahalah terus, Allah akan mengabulkan permintaan hambaNya yang mau berusaha."
" Aaamiiiin, aku pamit ya, assalamu alaikum."
" Wa alaikumsalam."
Dokter Vian lalu pulang ke rumahnya.
***
Di apartemen dokter Arnita sudah berkumpul dengan teman-temannya, kali ini lengkap temannya berkumpul.
" Bagaimana Na, kamu sukses merayu Vian untuk ikut di acara seminar Minggu depan?" tanya dokter Mila, dan di balas dengan gelengan kepala oleh dokter Sabrina.
" Ah payah kamu, masa merayu laki-laki gak bisa," ucap dokter Mila.
" Bawel loe, emang loe bisa merayu Vian....Vian lho ini!!" sahut dokter Tiffany.
" Hahahaha..." dokter Arnita dan dokter Rena mentertawakan teman-temannya.
" Terus bagaimana rencanamu? kalau Vian tak ikut seminar, kita tak bisa menjebaknya," ujar dokter Mila lagi.
" Entah, aku akan pikirkan cara lain, aku akan pengaruhi sebagian karyawan rumah sakit untuk menghancurkan istri Vian."
" Hm..ide bagus itu, segera saja kamu lakukan itu," ujar dokter Arnita yang senang akan ide itu.
" Halah itu mau mu kan, agar bisa mendapatkan Lea?" tanya dokter Tiffany.
" Kalau iya kenapa!!" sentak dokter Arnita.
" Ya enggak apa-apa sih," sahut dokter Tiffany.
" Jangan bilang kamu cemburu ya Fan!" celetuk dokter Rena.
" Ih apaan sih!!" sahut dokter Tiffany.
" Hei kita ini cuma sekedar teman pelampiasan hasrat saja, jangan ada yang pakai hati ya, awas!!" ujar dokter Arnita memberi peringatan.
" Iya...iyaaa..." sahut dokter Tiffany.
Dokter Rena dan dokter Arnita tersenyum melihat dokter Tiffany yang cemberut.
Tanpa sungkan dokter Arnita menyambar bibir temannya itu di hadapan teman-temannya yang lain.
" Hei..hei di kamar sana lho!!" sentak dokter Mila.
" Berisik loe, sudah kalian nonton aja, kalau mau join hayo!!" ucap dokter Arnita tanpa menghentikan aksinya pada dokter Tiffany.
Dokter Mila dan dokter Sabrina hanya jadi penonton ketiga sahabatnya itu sesekali melihat ke arah televisi yang suaranya di buat nyaring , untuk mengimbangi suara-suara yang dikeluarkan oleh ketiga orang sahabatnya.
Mereka berlima tidak sadar kalau ruang apartemen itu di sadap, sehingga aktivitas mereka ketahuan, namun karena apartemen itu milik pribadi dan belum ada perintah penangkapan jadi pihak keamanan apartemen hanya mengumpulkan bukti saja.
Bersambung yaa....
__ADS_1