Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 28 Maafkan dan Aku Pamit


__ADS_3

Kedua pasangan berbahagia itu menyalami semua orang yang datang.


Di antara semua yang datang ada beberapa pasang mata yang melihat ke arah kedua mempelai dengan tatapan kurang senang pada kebahagiaan mereka.


" Enak sekali jadi Lea, tak lama menjalin hubungan dengan dokter Vian langsung nikah, bakalan besar kepala tu anak."


" Iya kita yang sudah lama kerja di rumah sakit tak juga bisa menaklukkan hati dokter Vian, emang punya apa sih dia, toh pekerjaan nya sama aja dengan kita."


Fico sempat mendengar rekan seniornya itu berbisik-bisik hanya diam saja, dia malas untuk mencari ribut. Lagi pula ini acara pemilik rumah sakit kok bisa mereka menjelekkan pilihan keluarga pemilik rumah sakit, apa mereka gak takut di pecat pikir Fico.


Inggrit memberi kode pada Fico untuk sedikit menjauh. Fico paham lalu mengikuti Inggrit.


" Hati-hati kakak-kakak itu orang-orang nekat," kata Inggrit.


" Iya aku tau," ucap Fico.


" Ada apa?" tanya Irma.


" Gapapa nanti saja ceritanya, jangan di sini, ayo kita makan dulu aja," ajak Inggrit pada teman-temannya.


Mereka bertiga menikmati makan sambil memantau gerak gerik para perawat nyinyir yang bekerja di bagian IGD itu.


Para perawat itu memang lebih sering berinteraksi dengan dokter Vian, sedang ruangan tempat Lea dinas jarang sekali di datangi dokter Vian karena sudah ada dokternya sendiri yang bertugas di sana.


Acara pernikahan di jeda sebentar waktunya sholat dzuhur, acara akan di sambung lagi dengan resepsi, para tamu semakin banyak terutama teman-teman sekolah dan kuliah Lea dan dokter Vian.


Beberapa kenalan orang tua Lea juga datang, hubungan baik yang dulu pernah di jalin oleh orang tua Lea, menjadi kan mereka merasa wajib untuk datang pada hari bahagia putri temannya itu, walau sebagian dari mereka tak mendapatkan undangan, rupanya ibu kepala ruangan tempat Lea berdinas lah yang mengabari mereka bahwa Lea akan menikah.


Acara resepsi berlangsung sampai jam 10 malam, para tamu sudah mulai berkurang, para tetangga yang membantu acara nya pun sudah mulai pamit pulang satu persatu.


Acara selesai dengan penuh suka cita dari kedua keluarga yang berbahagia.


Pak Ahmad dan seluruh keluarga berpamitan pada Lea dan dokter Vian. Lea hendak menahan mereka agar tidak pulang malam namun apa daya, kamar di rumahnya sudah penuh dengan keluarga dari ayahnya, jadi terpaksa Lea membiarkan keluarga suaminya itu pulang.


Keluarga dari pihak ibunya hanya sepupu-sepupu ibunya saja yang datang, sedangkan saudara kandung almarhumah ibunya tak ada yang datang, entah apa sebabnya, padahal Lea sendiri yang mengantarkan undangan pernikahan nya.


Kedua mempelai masuk ke kamar mereka, Lea langsung melepaskan aksesoris yang menempel badannya, dokter Vian ke kamar mandi lebih dahulu untuk membersihkan badannya.


Melihat suaminya masuk kamar mandi, bergegas Lea melepaskan gaun pengantinnya dan berganti dengan baju kimono, sambil menunggu gilirannya untuk membersihkan diri.


Tak lama suaminya keluar dengan hanya menggunakan handuk di bawah perutnya, memamerkan bentuk tubuhnya yang atletis, Lea melihat itu berpura-pura mengambil handuk miliknya dan baju tidurnya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Ketika ia melewati suaminya tangannya di tahan oleh suaminya.


" Sayang..." bisik dokter Vian.


" Aku mandi dulu mas, sudah lengket banget rasanya, ini sudah larut malam nanti kedinginan mandinya."


" Iya, mandilah."


Lea tersenyum dan berlalu menuju kamar mandi.


Tak ingin kedinginan Lea mandi hanya sebentar dia langsung memakai baju tidurnya di kamar mandi, ia masih sungkan untuk membuka pakaian di depan suaminya.


Setelah berganti pakaian ia keluar kamar mandi, suaminya tak ada di sana, entah kemana perginya.


Dia memilih duduk di ranjang, sebenarnya ia sudah mulai mengantuk namun tak enak hati ingin mendahului suaminya.


Tak lama dokter Vian masuk kamar ia tersenyum melihat istrinya duduk di ranjang menunggu nya.


" Kamu belum tidur?" tanya dokter Vian.


"Belum, mas darimana?"


" Ini," kata dokter Vian sambil membawa botol air milik Lea.


" Oh iya, aku lupa isi lagi tadi."


Kebiasaan Lea selalu membawa air minum saat tidur agar tak bolak balik ke dapur untuk minum walau seteguk.


" Sayang aku mau bicara sedikit."


" Ya mas?"


" Kamu tau kan kalau aku masih menjalani terapi."


" Iya," kata Lea sambil fokus pada suaminya.


" Hhmmmm....bila aku belum bisa memberikan nafkah batin untukmu, apa kamu mau bersabar?"


" Tentu saja mas, mas jangan khawatir, Lea gak akan memaksa."


" Baik lah, maaf kalau aku masih gagal ya...hhmmm....boleh aku buka hijab mu?" tanya dokter Vian melihat istrinya yang masih menggunakan hijab walau hanya berduaan dengannya.


Lea hanya mengangguk dan kemudian menunduk.


" Izin kan aku mencoba menyentuh mu sayang," ucap dokter Vian sambil membelai rambut hitam milik Lea.


Lea mengangguk lagi.

__ADS_1


Dan malam itu di mulailah malam pertama bagi keduanya untuk hidup bersama.


Dokter Vian tersenyum melihat istrinya tertidur pulas karena kelelahan, ia senang tak ada kendala saat ia menyentuh istrinya untuk pertama kali, di ujung mata istrinya yang tertutup ada tetesan air mata tentu karena rasa sakit pada saat pertama kali melakukan hubungan suami istri, ia hapus tetesan itu dengan lembut.


" Terimakasih sayang, airmata bahagia ini tak akan berubah menjadi air mata kesedihan selama aku masih hidup," bisik dokter Vian lalu mengecup kening istrinya dan kemudian ikut tertidur.


Adzan subuh berkumandang, Lea terbangun, ia lihat di sisi ranjang suaminya sudah tak ada di sebelah nya.


Lea bangun menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu keluar lagi untuk segera menunaikan sholat, ia bingung entah kemana suaminya, sampai ia selesai menunaikan kewajibannya suaminya belum juga muncul.


Seperti biasa ia gunakan sedikit waktu untuk membaca ayat suci Alquran.


Setelah membaca beberapa ayat kemudian ia tutup kitab sucinya lalu menaruhnya di atas meja kecil di ujung sajadahnya.


" Suara mu merdu sekali," kata dokter Vian tau-tau sudah berada di belakang nya dengan menggunakan baju Koko.


" Mas dari mana?"


" Mesjid, bareng sama om Yahdi."


" Ooooh."


" Kamu gak menunggu mas untuk menjadi imam sholat mu kan?"


" Enggak mas, maaf."


" Ya gak perlu minta maaf sayang, mas akan jadi imammu untuk sholat Sunnah saja ya.. kalau yang wajib mas harus ke mesjid, gapapa kan?"


" Iya mas."


" Sini," dokter Vian menarik tangan istrinya mendudukkan istrinya di pangkuannya.


" Terimakasih kasih tadi malam sayang, aku merasa sempurna menjadi laki-laki," bisik dokter Vian sambil mencium tengkuk istrinya.


" Iya mas terimakasih juga, iiiii... geli tau....iiih..." ucap Lea yang tak biasa di perlakukan seperti itu.


" Hihi....lagi yuk."


" Ish bentar lagi matahari dah melotot malah mau lagi, mas gak laper apa."


" Laper pingin makan kamu aja," kata dokter Vian sambil menggigit leher istrinya.


" Iiiish mas ini," ucap Lea sambil mendorong badan suaminya lalu berdiri dari pangkuan suaminya dan berjalan ke luar kamar.


Dokter Vian hanya tertawa melihat kelakuan istrinya yang menghindarinya.


Lea langsung menuju dapur untuk melihat apa yang bisa ia kerjakan.


" Manten baru kok keluar kamar?" ucap mba Rika.


" Iiih emang harus gimana sih mba?"


" Hahaha....ya nemanin suamimu lah."


" Kayak gak ada hari esok aja di temenin terus."


" Hihi... ya gapapa juga kali Lea, soal dapur serahkan pada mba laaaah, tuh dah siap masakannya untuk sarapan."


" Lea, om pulang nanti ya, maaf om gak bisa lama-lama, besok pagi-pagi sekali harus pergi keluar pulau jadi harus pulang secepatnya karena belum ada persiapan, " ujar om Yahdi yang baru datang lalu duduk di kursi.


" Iya om gapapa."


" Kamu baik-baik sama suami mu ya Lea, contoh almarhum ayah dan ibumu, hindari perselisihan, sekecil apapun harus di komunikasikan dengan suami," ujar Tante Iche yang juga ikut duduk.


" Iya Tante, terimakasih."


Dokter Vian datang dan ikut duduk.


" Vian, om titip Lea ya, tolong jangan di sakiti, apabila kamu sudah tak ada hati untuknya, lebih baik kamu kembalikan pada om dengan baik-baik."


" Iya om, insyaallah tak akan Vian sakiti, mendapatkannya aja harus bersabar tingkat tinggi, begitu dapat malah di sia-siakan kan gak lucu om, susah yang mau nerima kita apa adanya seperti Lea om," ujar dokter Vian.


" Alhamdulilah kalau gitu, kamu cukup ingat perjuanganmu mendapatkannya agar kamu merasa rugi apa bila kehilangan nya."


" Iya om."


" Ayo kita sarapan dulu, " kata Tante Iche.


Selesai sarapan seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu sambil bercengkrama.


Tiba-tiba..


" Non ada paket," kata bibi Lala.


" Ya Bi dari siapa?"


" Entah non gak ada namanya, kayak kemarin."


" Sini bi," ujar dokter Vian khawatir.

__ADS_1


Mereka membuka paket itu bersama-sama. Di dalamnya ada sepucuk surat.


Dokter Vian memberikan surat itu pada Lea. Lea mengambilnya dengan ragu-ragu. Namun suaminya memberikan semangat padanya akhirnya ia mau menerima dan membaca isi surat itu.


Azalea Nuraini


Mungkin ini terakhir kali nya aku menyebut namamu, dan terakhir kalinya pula aku mengirimkan paket padamu, bersama paket dan surat ini aku ingin meminta maaf kepadamu, kalau selama ini telah mengganggu hidupmu, dan tanpa sepengetahuan semua orang aku telah membuat banyak kesalahan hingga banyak yang harus berkorban akan keegoisanku, semua itu ku lakukan karena di butakan oleh rasa cinta ku padamu.


Aku mohon kiranya sudi dirimu untuk memaafkan ku, dan ku do'a kan agar kau dan suamimu hidup bahagia selamanya, aamiiin.


Dan tak lupa aku sampaikan, mungkin setelah kau terima paket ini, aku sudah berada di luar negeri, aku sudah mengurus kebebasan Fardhan dan mengajak serta mama ke luar negeri, mungkin selamanya tak akan kembali ke Indonesia.


Terimakasih sudah sempat hadir dalam hidupku, do'akan kami agar bisa hidup bahagia.


Aku pamit. Wassalam.


Farlan Abizar.


Selesai membaca surat itu, Lea menyerahkannya pada suaminya. Dokter Vian pun membacanya.


" Hhhmmm jadi Farlan pelakunya?"


" Iya mas, aku juga gak menyangka, tapi sudah lah, mereka sudah pergi."


" Iya."


Lea lihat isi kotaknya lagi, semuanya cemilan kesukaan Lea, karena banyak anak keponakan di rumahnya jadi dia berikan saja pada anak keponakannya.


Mereka semua senang mendapat kan coklat lalu menikmati nya.


Melihat tingkah anak keponakan nya Lea tersenyum senang.


" Semoga kita cepat di berikan momongan." bisik dokter Vian.


" Aamiiin," sahut Lea sambil memandang wajah suaminya.


Tak terasa hari sudah siang, om Yahdi berpamitan untuk pulang, sepeninggal keluarga dari ayahnya itu rumah kembali sepi, sisa-sisa bekas perayaan pernikahan pun sudah mulai di bersihkan, menyisakan tumpukan kado dari para undangan.


" Sebaiknya kado-kado itu kamu bawa ke rumah baru mu Lea," ujar mba Rika.


" Iya mba lihat nanti, aku belum lihat rumahnya soalnya, biar gak bingung naruhnya di mana nanti aku lihat rumah dulu."


" Kamu cuti sampai kapan? Gak pingin bulan madu?"


" Masih seminggu lagi mba, aduh malas ah, biar jalan-jalan di kota ini aja."


" Hhhhhmmmm....persis almarhum kakak mu, untung pilot coba kalau gak pilot mana mau kesana ke mari," ucap mba Rika.


" Hehehe.... kapan pastinya mba mau nikah? Ayolah jangan lama-lama biar aku gak khawatir di kota ini mba harus ada yang jagain."


" Iya Lea ah bawel amat kamu habis nikah... insya Allah awal bulan depan."


" Wah di majukan?"


" Iya..kata ustadz dia iri melihat kamu sudah nikah...hahaha.."


" Iiisshhh ada ya orang kayak gitu, oh ya Minggu depan acara resepsi lagi di rumah orang tua mas Vian, mba jangan lupa datang terus ajak ustadz dan anaknya juga."


" Siipp...." ucap mba Rika sambil mengangkat jempolnya.


****


" Akhirnya Singapura.." ucap Farlan ketika pesawatnya mendarat di bandara Singapura.


Dengan bantuan relasinya, dia dan keluarganya sudah mendapatkan rumah di sana, untuk pekerjaan sementara ia tinggal melanjutkan hubungan kerjasama dengan relasinya itu.


" Kita mulai hidup baru di sini," ucap Fardhan, ketika sudah sampai di rumah baru mereka.


" Iya, kamu ajak mama istirahat dulu di kamar."


" Baik, " kata Fardhan sambil mengajak mama Erica ke kamar.


Emosi mama Erica sudah lumayan stabil jadi sudah tak perlu di rawat di rumah sakit lagi, hanya saja ia menganggap anaknya Farhan masih hidup, jadilah kedua anak kembarnya yang masih hidup secara bergantian menjadi Farhan.


Hanya saja untuk urusan hati, Farlan dan Fardhan berjanji tak mau salah langkah lagi, sedari awal jika ada wanita yang membuat mereka jatuh hati maka mereka harus memperkenalkannya pada saudara kembar mereka, agar tak saling memperebutkannya.


" Kita di mana Farhan?" tanya mama Erica pada Fardhan.


" Kita di rumah baru ma, mama pasti senang di sini, mama ingat om Johan?"


" Johan? Johan Sujono?"


" Iya ma, nanti om Jo akan datang ke sini mama siap-siap aja ya, istirahat dulu, mungkin agak malam datangnya sekalian kita makan malam nanti."


" Oh baik lah, mama mau tidur sudah capek sekali."


Mama Erica pun tertidur sambil tersenyum, hatinya senang akan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu.


Bersambung yaaa.

__ADS_1


__ADS_2