
"Untuk apa ya, anda menyuruh saya memanggil manajer perhotalan ini,"ucap karyawan tersebut.
Di saat mereka berdua sedang berbicara, datanglah satu lagi karyawan menghapiri mereka berdua.
"Mbak Lia ini ada apa?"tanya salah satu karyawan lainya.
"Tamu ini dia minta kamar VVIP."ucap karyawan hotel yang bernama Lia.
Mata karyawan yang baru saja datang langsung melirik ke arah Rosa, ia juga heran bagaimana bisa Rosa yang berpanampilan seperti ini menyewa kamar VVIP untuk dirinya.
"Buahhaha, mohon maaf ya gue gak bisa tahan ketawa."
Melihat tingkah karyawanya membuat Rosa semakin emosi, bagaimana bisa pihak hotel merekrut karyawan yang tidak mempunyai etika seperti ini. Terhadap tamu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian malah ketawa-ketawa di saat jam kerja!" ucap menajer perhotelan ia tiba-tiba datang karena mendengar suara karyawanya tertawa begitu keras hingga menganggu kenyamana pelanggan.
Melihat menajernya datang kedua karyawan yang merendahkan diri Rosa langsung bersikap tenang.
"Kenapa kalian berdua malah tertawa di hadapan tamu?" ucap manajer perhotalan bermana Rio.
Rio belum menyadari jika bos dari pemilik Perhotelan ini barada di depanya.
"Bagini pak, ada tamu datang entah dari mana. Tiba-tiba memesan kamar VVIP."
"Loh bukanya malah bagus jika ada tamu yang memesan kamar hotel kita? Apalagi kelas VVIP, mana orang yang mau pesan kamar VVIP" ucap Rio.
"Itu pak orangnya," Lia menujuk ke arah Rosa. Saat Rio menoleh ke arah Rosa seketika Rio membulatkan matanya ke arah Rosa , Rio sangat terkejut tamu yang di maksud dengan Lia adalah Rosa Adhitama pemilik dari hotel ini.
Melihat ada bos pemilik hotel ini Rio langsung kelabakan ia tidak tahu jika Rosa akan datang ke hotel ini.
"Se-selamat datang di hotel ini ibu Rosa Adhitama." gugup Rio menyambut kedatangan Rosa.
"Tolong siapkan kamar untuk ku,"ucap Rosa segera pergi meninggalkan Rio.
"Cepat siapkan kamar untuk tamu yang tadi." perintah Rio pada 2 karyawanya.
"Kenapa pak?" tanya Lia ia bingung dengan sikap atasanya itu.
"Jika kalian berdua masih mau bekerja di sini. Maka saya sarankan kalian bersiap-siap untuk meminta maaf padanya," ucap Rio ia sadar jika bawahanya tadi telah menghina bosnya.
"Apa!" terkejut Lia ia langsung memandang temanya dengan tatapan bingung.
Kini Rosa, dan Dinda sudah berada di dalam kamar VVIP pihak hotel sudah menyediakan kamar yang di inginkan oleh Rosa.
Dinda begitu kagum dengan kemewahan kamar hotel ini, ia baru pertama kali menginjakan kakinya di hotel semewah ini.
Sementara Dinda masih terkagum dengan kemewahan hotel ini, Rosa memutuskan untuk keluar dan memanggil manajer hotel ini serta kedua Resepsionisnya.
Rio dan kedua bawahanya telah sampai di ruang kerja milik Rosa. Sedangkan kedua karyawan tadi terlihat sangat gugup dan ketakutan melihat Rosa. Apalagi di meja kerja Rosa terdapat nama dirinya.
Kedua karyawan tadi sudah di beritahukan oleh atasanya siapa Rosa sebenarnya.
Mendengar Rosa adalah pemilik hotel ini sekaligus bos mereka berdua.
Seketika lutut kedua wanita tersebut langsung lemas tak berdaya. Mereka berdua tidak tahu jika Rosa adalah pemilik dari hotel bintang 5 ini.
__ADS_1
Jika saja mereka berdua tahu Rosa adalah bos mereka. Maka mereka akan menyambutnya dengan baik.
"Pak Rio!" panggil Rosa.
"I-iya ibu."ucap Rio gugup.
"Sejak kapan manajemen perhotelan bisa merekrut karyawan seperti ini?"ucap Rosa dengan tatapan dinginya.
Rio tidak bisa menjawab pertanyaan, dari awalnya Rio memang tidak tahu jika bawahanya telah melakukan hal kurang ajar pada bosnya.
"Maafkan saya bu,"ucap Rio tertunduk malu.
Sementara kedua karyawan yang menghina Rosa hanya bisa diam tertunduk malu, karena telah melakukan perbuatan yang buruk terhadap orang lain.
"Apa begini cara pihak hotel mengajarkan seorang karyawan untuk bersikap tidak sopan pada tamu? Hanya karena penampilanya tidak seperti orang kaya. Bukan berati karyawan hotel bisa memandang rendah orang lain." jelas Rosa memberikan ucapan telak pada kedua karyawan tersebut.
"Sekali lagi saya meminta maaf, karena kecerobohan saya. Saya akan memberikan sanksi pada mereka berdua. Dengan kata lain saya akan memecatnya,"ucap Rio jika ia tidak memberikan sikap tegas pada bawahanya maka jabatan Rio yang akan di pertaruhan.
"Maafkan saya, saya tidak akan mengulagi perbutan ini lagi. Saya mohon jangan pecat saya,"ucap Lia memohon pada Rosa agar dirinya tidak memecatnya.
"Saya juga minta maaf bu, saya telah melakukan kesalahan atas sikap saya yang kurang ajar, dan tidak pantas,"ucap teman Lia menangis memohon pada Rosa agar ia juga tidak di pecat dari sini.
Rosa menghela nafas panjangnya ia tidak tahan melihat kedua karyawan yang sudah menghina dirinya ini. Ia juga tidak berniat memecat kedua karyawan tersebut.
Ia sengaja melakukan hal tersebut agar memberikan efek jera terhadap mereka berdua. Agar tidak memandang rendah terhadap orang lain hanya dari tampilanya saja.
Rosa segera bangkit dari kursi karjaanya dan pergi meninggalkan mereka bertiga.
Sebelum Rosa melangkah keluar, ia menoleh ke arah Rio, "sekarang ini adalah tugasmu, terserah mau kau apakan dua wanita tersebut,"ucap Rosa mengakhiri pembicaraanya dan segera pergi menuju kamarnya.
"Rosa, kapan kita akan mencari pekerjaan?"tanya Dinda.
"Hmm, biar aku saja yang mencari pekerjaan untuk kita berdua. Untuk sementara ini kita tinggal di sini saja dulu hingga mendapatkan pekerjaan."
"Satu lagi kau." ucap Dinda terhenti.
"Kenapa?"
Dinda menggelengkan kepalanya, "tidak apa-apa."
Sebenarnya Dinda ingin bertanya tentang Rosa, bagaimana caranya ia bisa memesan kamar hotel semewah ini. Berapa banyak uang yang harus ia kelurkan untuk menyewa kamar seluas ini, tetapi Dinda merasa sangat tidak sopan jika bertanya seperti itu. Apalagi Rosa sudah sangat baik dengan dirinya.
Di tambah lagi dengan semua fasilitas hotel yang sangat tidak biasa ini. Saat Rosa tidak ada di dalam kamar, Dinda mendapatkan pelayanan terbaik dari pihak hotel.
Dan itu membuat Dinda puas, ia merasa seperti seorang putri yang salalu di layani oleh orang lain. Sebelumnya Rosa sudah berpesan pada pihak hotel untuk memberikan pelayan terbaik pada Dinda temanya ini. Agar Dinda merasa sangat nyaman.
"Rosa, bagaimana kalau kita mencari pekerjaan berdua,"ucap Dinda memberikan saran pada Rosa, ia tidak mau jika terus-terusan merepotkan Rosa.
"Tidak, biar aku saja yang mencarikan pekerjaanya."tolak Rosa ia sudah berjanji akan mencari pekerjaan untuk Dinda.
Melihat temanya yang sangat keras kepala ini, Dinda hanya bisa pasrah menerima perkataan Rosa.
Pagi hari telah tiba Rosa telah bersiap-siap untuk mencari pekerjaan yang cocok untuk mereka berdua. Sedangkan Dinda tetap barada di hotel. Ia terus memantau penjualan onlinenya yang sekarang telah di tugaskan pada keluarganya.
Rosa telah menyerahkan bisnis online sepenuhnya pada Dinda, agar dia yang mengelolanya dan juga kelurganya. Agar mereka semua tercukupi kebutuhan sehari-harinya.
__ADS_1
Rosa segara keluar dari hotel, Rosa juga sudah memperingatkan pada bawahanya agar tidak ada yang memberi tahukan identitas dirinya pada semua orang. Apalagi sampai tercium oleh media masa.
Rosa berkeliling di kota surabaya dengan menggunakan sepeda motor yang ia sewa untuk mencari pekerjaan yang cocok dengan dirinya dan juga Dinda.
Sudah seharian ia mencari pekerjaan namun belum mendapatkanya. Di saat ia sedang beristirahat di dalam toko tidak sengaja matanya melihat ke arah sebuah cafe yang begitu ramai.
Di pintu cafe tersebut terdapat sebuah kertas yang bertuliskan Lowongan. Tanpa pikir panjang lagi Rosa segara menghapirinya.
"Mbak, maaf mau tanya apa benar di sini sedang membutuhkan seorang karyawan," tanya Rosa pada salah satu karyawan cafe tersebut.
"Hoh iya benar, cafe kami memang sedang kekuragan orang. Jika mbaknya mau ngelamar di cafe ini besok mbaknya bisa datang jam 8 pagi dan menemui pemilik cafe ini."ucap Karyawan menjelaskan pada Rosa.
"Terima kasih ya mbak, besok saya akan datang ke sini," ucap Rosa merasa senang bisa mendapatkan lowongan yang cocok untuk mereka berdua.
Setelah berkeliling mencari pekerjaan Rosa berniat untuk kembali ke hotel dan memberitahukan pada Dinda.
Di saat Rosa telah sampai di hotel tanpa di duga ia melihat pengawal ayahnya yang berada di hotel tersebut.
Rosa segara bersembunyi di bali tembok agar tidak ketahuan oleh pengawal ayahnya, " sial kenapa meraka semua ada di sini? Apa yang mereka lakukan?"batin Rosa. Ia tahu jika pengawal ayahnya sedang mengawasi dirinya.
Rosa tidak mengetahui jika dirinya sudah di pergoki oleh pengawal Ayahnya.
"Aargghh, lepaskan!" berontak Rosa saat pengawalnya memegang lengan Rosa dan membawanya pergi menuju mobil.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku,"ucap Rosa memberontak.
Akhirnya Rosa di masukan kedalam mobil, ia terkejut ternyata di dalam mobil tersebut terdapat Brian kakak pertama Rosa.
"Kak Brian?" ucap Rosa, "kenapa kakak bisa di sini? Apa yang kakak mau?" tanya Rosa.
Tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya Brian segara memeluk adiknya dengan erat. Brian sangat merindukan adik ini.
Walau Brian terlihat cuek dengan adiknya. Tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam ia yang paling menyangi adiknya dari siapapun.
"Lepaskan aku kak," berontak Rosa berusahaa melepaskan pelukan dari sang kakak.
Brian seakan tuli dengan ucapan adiknya ini, ia tidak peduli jika sewaktu-waktu adiknya memukul dirinya.
Ia benar-banar sangat merindukan adiknya. Rumah terasa sangat hampa tanpa kehadiran adik perempuanya ini.
Karena kakaknya tidak mau melepaskan pelukanya. Rosa terpaksa mencubit pinggang kakaknya.
"Aaawwwhh!!" pekik Brian menahan sakit di area pinggangnya.
"Sakit sekali cubitan mu."eluh Brian mengusap pinggangnya akibat di cubit Rosa.
"Kakak pantas mendapatkan itu!"
"Heehheh, aku senang jika adik ku baik-baik saja. Aku sangat merindukan mu," jujur Brian.
Rosa mengeritkan alisnya, ia tidak percaya dengan perkataan kakaknya ini. Sejak kapan kakaknya jadi merindukan dirinya.
Padahal saat Rosa masih berada di rumah Brian jarang sekali berbicara pada Rosa.
"Hah! Kuping ku tidak salah dengar? Sejak kapan kak Brian jadi seperti ini?"
__ADS_1