
Setelah dokter Vian pulang, Lea masuk kembali ke ruang kerjanya merapikan kotak-kotak paket yang ada di meja, ia satukan dengan paket-paket yang lain.
Lea tak berani memakan cokelat-cokelat yang di kirimkan oleh Fardhan padanya, takut resiko yang di timbulkan sesudahnya walau pun ia tak tau apakah akan beresiko atau tidak.
Setelah merapikan semuanya, dia pergi ke kamar untuk beristirahat.
***
" Ada apa dengan mu Nala!!" sentak Zoni, ia tak bisa datang langsung ketika anak peliharaanya itu menghubungi nya, Zoni punya bisnis di Australia jadi tak bisa memantau kehidupan sugar babynya itu, baru hari itu dia datang ke apartemen Nala dan mendapati Nala yang kondisinya mengenaskan, Nala telanjang bulat dan banyak sekali botol-botol minuman keras di sekitar tempat tidurnya.
Segera Zoni membawa anak angkatnya itu ke klinik dokter keluarganya, ia tak mau membawa ke rumah sakit takut orang-orang tau kondisinya dan membuat dugaan yang tak di inginkan.
Beberapa saat setelah di berikan tindakan oleh dokter keluarga Zoni, dokter Nala kelihatan menggerakkan matanya.
" Kamu sudah sadar?"
" Papa?" ucap dokter Nala pelan.
" Maaf dokter bisa saya bicara empat mata dengan anak saya?" pinta Zoni pada dokternya.
" Iya pak silahkan." kata dokter Dimas sambil melangkah pergi keluar ruangan.
" Baby....apa yang terjadi padamu?" tanya Zoni pada sugar babynya itu.
" Aku....aku tak bisa jadi dokter lagu di kota ini papa....aku harus bagaimana?"
" Hhhmmm....ada karena kebiasaan mu mabuk-mabukan? Atau Free ***s?"
" Keduanya papa?"
" Maaf, papa ikut andil pada rusaknya dirimu." kata Zoni sambil menunduk.
" Sudah tak bisa di sesali papa, sekarang aku harus bagaimana?"
" Kamu mau ikut papa ke Australia?"
" Tapi bagaimana dengan mama? Apa tak masalah?"
" Ssstt....dia tak akan tahu kalau kamu gak ngomong babyyy..ikut papa ya, papa kangen kamu." ucap Zoni sambil mengecup kening sugar babynya itu.
" Baiklah pa."
" Oke, kita pergi kalau kamu sudah sehat ya, jangan pergi dalam keadaan lemah begini, nanti mama curiga." kata Zoni sambil memeluk dokter Nala.
" Iya pa." sahut Nala tersenyum licik, tiba-tiba dalam fikirannya ia ingin menyingkirkan mama angkatnya itu agar bisa menguasai kedudukannya di perusahaan besar milik sugar daddy nya.
" Telpon genggammu berbunyi." kata Zoni sambil mengambil telpon genggam milik dokter Nala dan memberikan nya pada Nala, lalu ia pamit keluar untuk membelikan dokter Nala makanan dan minuman.
[ Halo Ton?]
[ Kamu kemana di apartemen gak ada? Kemarin pintu gak di kunci sekarang di kunci.]
[ Kamu masuk apartemen ku? apa yang kamu lakukan hah? Bukannya kamu bawa ke klinik kamu malah mengambil keuntungan melihat aku tak sadarkan diri hah?]
[ Hahaha...aku pikir kamu menikmatinya sayang, sekarang kamu dimana, aku mau mengambil barang ku yang tertinggal di dalam.]
[ Barang apa? Jangan kamu bikin ulah Toni, kalau kamu taruh barang harammu di sana aku akan bikin perhitungan dengan mu!]
[ Oh ayolaaaah, kamu kan sudah tau lama akan pekerjaanku, cepat buka pintunya aku hanya ingin ambil milikku.]
[ Kalau aku tak mau??]
[ Kamu ingin Vian dan Lea tau kalau....]
[ Oke....oke....gak usah kamu ancam-ancam aku!]
Dokter Nala menyerah karena Toni mengancamnya, akhirnya menyebutkan kunci password pintu apartemen nya.
" Kurang aja Toni, berarti dia yang masuk ke apartemen ku dan melecehkan ku...awas saja kau, kali ini kamu bisa senang dulu, kelak aku kembali jangan kira bisa hidup senang kamu Ton." gerutu nya.
" Ada apa baby?" tanya Zoni yang sudah kembali ke ruangan.
" Tak apa-apa pah?"
" Jangan bilang tak apa-apa sayang, papa tau apa yang kamu maksudkan, tenang saja papa akan beri anak itu hukuman karena telah melecehkan mu."
" Papa tau?"
" Hei papa kan sudah pasang CCTV di apartemen mu sayang, jadi papa tau siapa yang keluar masuk apartemen mu."
" Ja..jadi papa tau apa yang aku lakukan selama ini?" tanya dokter Nala sedikit malu.
" Hhmmm....papa gak bisa salahkan kamu, kau juga butuh kehangatan, namun tidak dengan cara ketiga laki-laki itu."
" Apa tiga?? Maksud papa?"
__ADS_1
" Ya ada tiga orang yang masuk apartemen mu, satu di antaranya berkali-kali melecehkan mu."
" Aaaaargh....kurang ajar." teriak dokter Nala mulai stress.
" Lupakan lah baby, papa akan beri pelajaran mereka, kamu tenang saja, fokus untuk pergi ke Australia saja ya."
" Ada apa pak Zoni?" tanya dokter Dimas seketika masuk karena mendengar teriakan dokter Nala.
" Tak ada apa-apa dokter, anak saya agak bingung aja."
" Oke baiklah, kalau ada apa-apa segera kabari saya, saya mau keluar sebentar ya."
" Iya dok silahkan."
Dokter Dimas meninggalkan kedua orang itu di kliniknya, dan memerintah kan perawat-perawat nya untuk menjaga pasiennya.
***
Dokter Dimas pergi ke suatu tempat, ia sudah membuat janji dengan dokter Roy dan dokter Vian.
Zoni tak tau kalau hampir seluruh dokter yang mempunyai klinik pribadi sudah di beritahu oleh dokter Roy, akan kelakuan dokter Nala.
Tiba di tempat yang sudah di janjikan dokter Dimas langsung masuk dan mencari keberadaan rekan seprofesi nya itu.
Di ujung deretan meja kafe dokter Roy melambaikan tangannya, dokter Dimas segera menuju meja tersebut.
" Bagaimana?" tanya dokter Roy ketika dokter Dimas sudah duduk.
" Dia datang itu tak sadarkan diri, seperti nya mabuk berat, lalu seperti habis mengalami pelecehan gitu."
" Yakin karena pelecehan?"
" Iya....aku dengar sendiri dari pembicaraannya dengan sugar daddy nya.
" Pak Zoni? Dia datang?" tanya dokter Vian.
" Iya dia yang bawa Nala ke klinik ku, oh ya yang bernama Toni itu siapa? Tadi aku dengar Nala menerima sambungan telpon dari orang itu, Nala menyebutkan password pintu apartemen nya dalam pembicaraannya dengan orang itu."
" Sebentar bang." kata dokter Vian sambil mengeluarkan telpon genggamnya untuk menghubungi Iptu Mila.
Tak lama setelah menghubungi Iptu Mila, dokter Vian meletakkan telpon genggamnya.
" Iptu Mila sudah bergerak ke apartemen Nala, anak buahnya menangkap Toni yang sedang berada di dalam apartemen Nala, untuk mengambil barang terlarang yang sengaja dia taruh disana supaya tak terpantau yang berwajib."
" Wah menaruh barang haram di apartemen seorang dokter? Sungguh cerdik!" Sahut dokter Dimas.
" Gawat dokter Nala bisa-bisa terseret nanti." ujar dokter Dimas khawatir kliniknya akan di datangi pihak kepolisian sedang dia tak berada di tempat, pasti para perawat akan kebingungan.
" Aku rasa tidak, karena informasi Toni sedang berada di sana di lakukan oleh sugar daddy Nala sendiri, jelas untuk melindungi anak peliharaanya." kata dokter Vian.
" Hhhmmm..." sahut dokter Dimas dan dokter Roy bersamaan.
" Oke om, Vian duluan, mau jemput Lea, dia akan dinas malam."
" Iya Vian, hati-hati."
Dokter Vian meninggalkan, paman dan dokter seniornya itu pergi menjemput Lea.
" Kamu awasi Nala ya Dim..apa kira-kira rencana dia kelak... aku yakin dia akan balas sakit hatinya padaku dan keluarga ku nanti, aku yakin dia tak terima kalau dia aku pecat."
" Iya bang tenang saja, tadi aku sempat taruh kamera pengawas di ruang rawat dia."
" Oke beritahu aku bila ada perkembangan."
Kedua dokter beda tahun angkatan itu menghabiskan minuman mereka sebelum berpisah ke klinik masing-masing.
***
[ Assalamualaikum mas.]
[ Wa alaikumsalam, sudah siap berangkat dinas, aku lagi di jalan menuju rumahmu.]
[ Iya mas sudah.]
[ Baik, tunggu ya, assalamu alaikum.]
[ Iya mas, wa alaikumsalam.]
Tak berapa lama dokter Vian sampai di rumah Lea, lalu Lea pamit pada mba Rika untuk berangkat dinas malam.
Lea masuk ke mobil calon suaminya, lalu mobil melaju menuju rumah sakit.
" Besok kamu sudah mulai cuti?"
" Iya mas."
__ADS_1
" Bagus lah, jangan terlalu lelah."
" He eehm.."
Lea merasakan ada getaran di dalam tasnya, lalu ia ambil telpon genggamnya.
" Anya?" gumam nya.
[ Assalamualaikum Nya]
[ Wa alaikumsalam.. kamu sudah berangkat dinas Lea?]
[ Iya Nya ada apa?]
[ Sebaiknya kamu gak masuk dinas Lea, Fardhan mencari mu dia menanyakan padaku tentang kamu, aku keceplosan melarang dia menemui mu, karena kamu sudah mau nikah, sorry... aku di rumah sakit aku akan gantikan dinas kamu, kamu jangan ke rumah sakit, dia menunggu mu di parkiran, aku takut di akan nekat berbuat sesuatu padamu.]
" Mas..mas...stop sebentar."
" Ada apa?"
" Berhenti dulu sebentar."
" Oke...oke.." ucap dokter Vian sambil menepikan mobilnya.
[ Terus gimana Nya, aku belum bilang kepala ruangan.] Lea membuka speaker telpon genggamnya agar terdengar oleh calon suaminya.
[ Tenang aku sudah ceritakan pada beliau, beliau paham kok yang penting perawat jaga gak berkurang tim nya, kamu...kamu sebaiknya juga tak pulang ke rumah mu, aku khawatir dia akan susul kamu ke sana, tadi dia marah besar Lea, aduh kamu kemana gitu Lea, cari tempat aman.]
[ Iya Nya, aku fikirkan dulu, oke aku gak ke rumah sakit sekarang tapi gimana kamu bisa gantikan aku, sudah bilang sama suamimu? kamu kan lagi hamil besar Nya.]
[ Tenang, bang Tara juga menyuruh aku pulang barusan, bang Tara akan lanjut dinas malam, kak Nilam juga suruh bang Tara untuk gantikan kamu, aku juga gak paham.]
[ Oh mungkin karena ada hubungannya dengan kak Toni kamu ingat kan?]
[ Ada apa lagi dengan kak Toni? ]
[ Nanti aja aku ceritakan, ada telpon masuk lagu nih, aku tutup ya, assalamualaikum.]
[ Iya Lea, aku juga mau pulang sudah di tunggu suamiku, untung dia belum pulang, oke wassalamu'alaikum.]
Lea menerima sambungan telpon lainnya.
[ Assalamualaikum kak Nilam.]
[ Wa alaikumsalam, Lea kamu jangan pergi dinas malam ini ya, terus kamu pergi dulu dari rumahmu, cari tempat yang aman, atau minta kepolisian berjaga di rumahmu, aku sudah suruh Tara untuk lanjut dinas malam, tadi siang Toni ketangkep namun lolos lagi, ia bisa mengelabui polisi, aku takut dia akan berbuat macam-macam dengan mu, oh ya kamu kalau terima paket dari dia jangan di buka, dia sisipkan obat terlarang di dalamnya, karena teman ku sudah jadi korbannya, untung saudaranya ada yang polisi jadi cepat ketahuan.]
Lea kaget sambil menatap calon suaminya.
[ Iya kak terimakasih sudah di beritahu.]
[ Oke aku tutup dulu, kalau ada info akan aku kabari secepatnya, assalamu alaikum.]
[ Iya kak, wa alaikumsalam.]
Panggilan terputus.
" Bagaimana ini mas?"
" Kamu ke rumah ku aja." ucap dokter Vian sambil menjalankan lagi mobilnya.
" Tapi aku gak bawa baju, lagian gak enak, kita belum nikah tapi aku sudah bermalam di rumahmu."
" Tenang, aku kan jaga malam ini, nanti aku pulang ke rumah baru aja."
" Rumah baru?"
" Iya nanti kita akan tinggal di rumah baru kita, tak apa-apa kan? rumahnya dekat dengan rumah sakit."
" Iya mas gapapa, apa sebaiknya aku ambil baju dulu?"
" Gak usah besok aja kita urus itu, sekarang kita ke rumah ku dulu aja, kalau kita kembali takut ada yang mengintai." kata dokter Vian sambil mengambil telpon genggamnya.
[ Ya selamat malam Mila, Mila paket-paket dari Toni untuk Lea kemarin kemungkinan di sisipkan obat terlarang, aku tak tau yang mana, coba kamu cek ya, ini Lea mau aku bawa ke rumah ku, tadi mau dinas malam, tapi Fardhan menunggu dia di rumah sakit, takut ada apa-apa jadi Lea biar si rumah ku sementara.]
[.......]
[ Oke....kalau kamu ke rumah Lea, datang aja, tolong beberapa anggota mu suruh berjaga di sana ya...]
[......]
[ Oke terimakasih, selamat malam.] sambungan di tutup.
" Mila pergi ke rumah mu, membawa beberapa bawahannya, beritahu mba Rika biar gak kaget."
" Iya mas." Lea menelpon kakak iparnya memberitahukan kalau akan ada tamu dari kepolisian ke rumah mereka malam ini, tak lupa dia beritahukan kalau dia tak jadi dinas malam dan pergi ke rumah orang tua calon suaminya demi keamanan.
__ADS_1
***
Bersambung yaaa....