
Lea dan keluarganya kembali masuk ke dalam mobil lalu pulang menuju ke rumahnya.
Usai sholat Maghrib belum ada tanda-tanda kedatangan dari saudara sepupu dari pihak mendiang ibunya itu.
" Mungkin abangmu gak jadi datang Lea, bunda pulang saja kalau begitu, kasihan ayah di rumah," ujar bu Elma.
" Iya bun, gapapa."
Begitu hendak keluar rumah, tiba-tiba datang dua orang laki-laki dan perempuan dengan menggunakan sepeda motor di depan rumah mereka.
" Yang ini ya pak?" tanya laki-laki itu pada seseorang yang ternyata penjaga komplek.
" Iya yang itu, itu orangnya keluar."
" Terimakasih pak."
Lalu kedua orang itu turun dan menyapa penjaga rumah dokter Vian.
" Maaf pak, kami ingin bertemu dengan Lea, saya Adi kakak sepupunya."
" Suruh masuk pak!" kata Lea pada penjaga rumahnya.
" Baik non, silahkan masuk pak."
Penjaga membukakan pintu pagar untuk saudara sepupu majikannya tersebut.
" Assalamualaikum Lea."
" Wa alaikumsalam, masuk bang."
Bu Elma kembali masuk bersama Lea ke dalam rumah di iringi oleh saudara sepupunya itu.
" Silahkan duduk bang."
" Iya."
" Maaf bang, menyambung yang tadi, sebenarnya ada apa?"
" Ibu sakit sejak enam bulan yang lalu Lea, selama ini hanya di rawat di rumah, karena tak seberapa parah, namun semakin parah sejak tau akan ada restoran yang akan mempekerjakan para chef yang dulu ia pecat."
Bang Adi menarik nafas sejenak.
"Kami butuh dana untuk pengobatan ibu Lea, aku sudah usahakan untuk meminta bantuan saudara yang lain namun mereka tak bisa membantu, ya aku akui semua akibat ulah ibu yang jahat pada mereka, sekarang harapan ku hanya kamu Lea, abang mohon, apapun perbuatan ibu dahulu kamu bisa kesampingkan dulu, kalau tidak demi persaudaraan setidaknya demi kemanusiaan."
" Bang, abang kan tau, cerita bagaimana restoran mendiang ibuku sampai berada di tangan tante Viola, Lea rasa itu sudah wujud dari bantuan yang Lea berikan, kalau Lea gak mau bantu pasti restoran akan Lea perjuangkan, tapi Lea ikhlas kok bang, bukannya dari restoran itu akhirnya tante jadi punya pemasukan seharusnya."
" Kamu benar Lea, namun ibu gak bisa mengelola nya hingga sekarang bangkrut, uang hasil sewa hanya cukup untuk makan, gak cukup untuk berobat, niat mau di jual, namun semua masih atas nama mendiang ibu kamu, para pembeli gak mau kalau masih ada sengketa dengan pemilik lama, menurutmu bagaimana Lea? Abang pasrahkan pada keputusan mu."
" Kalau di jual otomatis aku yang berhak untuk menjualnya bang, kan aku ahli waris, apa abang ikhlas kalau aku ambil kembali milikku? Terus bagaimana dengan tante?"
" Abang akan pastikan ibu tak akan mengganggu mu Lea, apapun yang terbaik."
" Boleh aku minta waktu bang, aku harus minta pendapat suami ku dulu, sementara menunggu abang siapkan saja surat-suratnya, kalau nanti aku meminta surat perjanjian gapapa kan bang?"
" Gapapa Lea, baik abang akan siapkan surat-surat nya, abang tunggu keputusan mu Lea."
" Baik bang, Lea akan beri jawaban secepatnya, maaf di minum dulu airnya bang."
" Iya Lea, oh ya kenalkan dia istriku."
Wanita yang bersama dengan bang Adi menyalami Lea.
" Intan."
" Lea."
__ADS_1
" Kalau abang di sini, terus usaha abang di kampung bagaimana bang?"
" Masih merintis Lea, abang juga sempat bangkrut kemarin, para pelanggan abang pindah ke tempat lain."
" Masih usaha tambak kan bang?"
" Iya, masih."
" Nanti kami boleh pesan ikan segar di tempat abang gak?"
" Oh boleh...boleh Lea, alhamdulillah, nanti abang akan kirimkan langsung ke restoran mu."
" Bukan punyaku bang, itu punya bunda."
" Oh, maaf ibu, selamat atas restoran nya," ucap bang Adi kepada ibu mertua Lea.
" Sama-sama, terimakasih, jadi punya usaha tambak, wah bagus kalau begitu, tiga hari lagi pembukaan restoran, kalau bisa sehari sebelumnya kamu kirimkan ikan segar ke restoran ya," ujar bu Elma.
" Insyaallah bu terimakasih sudah membantu saya, oh ya bu maaf kan atas kejadian tadi, ibu tenang saja, saya pastikan hal itu tak akan terulang, tadi ayah saya sudah menyarankan untuk membawa ibu saya ke rumah sakit jiwa di daerah ayah, di pulau lain, kami usahakan agar Lea tak terganggu lagi jika restoran mendiang ibunya akan kami kembalikan."
" Gapapa nak Adi, kami sudah memaafkan, sebaiknya di selesaikan dulu semua urusan sebelum ibu mu pergi ke pulau lain ya, tak baik lho menguasai apa yang bukan hak nya, masalah bantuan nanti ibu juga akan bantu, tenang saja."
" Terimakasih bu, terima kasih Lea, maaf sudah malam, kami harus kembali."
" Iya bang, hati-hati di jalan, sampaikan salam pada om Harja ya."
" Iya Lea, abang pamit, assalamu alaikum."
" Wa alaikumsalam."
Pasangan itu akhirnya pergi.
" Bunda langsung pulang kalau gitu, sudah malam."
" Iya bun."
" Iya bun, tenang aja." ucap dokter Vian.
" ya udah bunda pulang, assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam."
Bu Elma pun meninggalkan rumah anak nya, untuk kembali pulang kerumahnya.
" Ayo sholat isya dulu sayang," ajak dokter Vian pada istrinya.
" Iya mas."
Usai melaksanakan kewajibannya, keduanya masih berbincang-bincang untuk mencari jalan keluar masalah restoran lama dan bantuan untuk keluarga dari pihak ibu Lea tersebut, setelah di rasa menemukan jalan keluar keduanya kemudian beristirahat karena malam sudah semakin larut.
***
Keesokan harinya, kembali pada rutinitas sehari-hari dokter Vian dan Lea, mereka sudah berada di rumah sakit, dan sudah melakukan pelayanan kesehatan untuk pasien-pasiennya.
Suasana rumah sakit tak seperti sebelumnya, semua tampak kompak tak ada lagi bisik-bisik nyinyir yang tiap sudut ruangan hampir selalu ada.
Dokter Vian tersenyum melihatnya berarti semua sudah berjalan sesuai harapannya, dengan begitu ia bisa tenang menjalani kehidupan berumah tangga dengan Lea.
" Bagaimana kabar hari ini pak?" tanya dokter Vian pada kepala kepegawaian di rumah sakitnya.
" Baik dok, aman terkendali."
" Bagus lah, ayah memberikan waktu dalam dua tahun ini, rumah sakit akan beliau serahkan kepemimpinan nya pada saya, mohon dukungan nya pak."
" Oh pasti dokter, kenapa harus dua tahun lagi dok? Saya rasa dokter sudah sangat siap untuk posisi direktur."
__ADS_1
" Saya masih menunggu sesuatu pak."
" Oh, baik lah dok, saya akan bantu dokter, jadi bila ada sesuatu yang di butuhkan dokter bisa andalkan saya."
" Pastinya pak, bapak sudah lama mengabdi pada keluarga saya, saya sangat berterima kasih."
" Ini dok saya mau melaporkan, kan ada beberapa tenaga perawat yang pindah tugas, apa tidak ada rencana untuk penambahan tenaga lagi dok?"
" Oh iya pastinya pak, bapak atur saja berapa orang yang di butuhkan, tolong kali ini lebih selektif ya pak, namun tidak harus yang sudah punya pengalaman, tenaga perawat yang baru lulus pendidikan juga boleh, tetap harus di seleksi lagi, dan kalau ada yang belum lulus di minta kesabarannya karena istri saya juga akan membuka rumah sakit khusus perawatan penyakit menahun, seperti khusus merawat luka diabetes, begitu pak, ya kita dukung saja kan itu cita-cita yang baik."
" Alhamdulilah kalau begitu, jadi walaupun nanti ada yang gak lulus ya mereka tidak terlalu sakit hati, masih ada jalan lain."
" Betul, kami masih mencari tempat untuk rumah sakit itu pak, ada beberapa yang sudah menawarkan tempat namun semua mintanya sistem sewa, sedangkan istri saya ingin agar bisa di beli saja, supaya tidak memikirkan biaya sewa lagi."
" Oh begitu, sebentar nanti saya tanya kenalan saya dok, kayaknya ada yang jual gedung bekas penginapan gitu, saya masih belum lihat bagaimana gedungnya tapi nanti saya coba cari informasi lagi."
" Baik pak, saya tunggu kabarnya."
" Baik dok."
" Saya mau ke atas dulu pak, selamat pagi."
" Silahkan dok, selamat pagi."
Dokter Vian keluar dari kantor kepala kepegawaian, lalu menuju lift untuk naik ke lantai lima.
***
Di ruang poliklinik anak, Lea dan rekan-rekannya sibuk melayani pasien-pasiennya.
" Senang ya bekerja kalau begini, gak was-was kayak kemarin," ujar kak Vino.
" Iya, kalian tau, mereka pada mengajukan pindah tugas, mungkin gak cocok lagi, atau sebelum ketahuan lebih baik keluar sendiri," ujar bu Laras.
" Masa bu?" tanya Lea.
" Iya, mungkin dokter Vian belum tau karena baru hari ini mereka serentak tidak masuk dinas lagi."
" Jadi bakal banyak kekurangan tenaga perawat ya bu?"
" Iya, sudah pasti, tadi kata kepala kepegawaian mau ngomong dengan direktur soal ini, ya kita lihat nanti, kalau punya teman-teman di info kan saja dulu, siapa tau minat dinas disini, aku sudah sampaikan informasi nya ke temanku yang jadi pengajar di Akper."
" Wah boleh juga itu bu, nanti Lea juga infokan ke teman-teman siapa tau minat."
Mereka melanjutkan pelayanan di poliklinik sampai jam pelayanan berakhir.
" Kita makan siang bareng yuk, ya itung-itung merayakan kedamaian rumah sakit ini," ajak dokter Fandi.
" Kedamaian dok? Memangnya habis perang?" ucap kak Vino.
" Haha...anggaplah begitu."
" Boleh dok, Lea kamu ikutkan? Atau ada janji makan siang dengan dokter Vian?"
" Enggak, tapi aku mau bilang dulu, siapa tau dia mau ikutan."
" Oke, kita tunggu kalau gitu."
Lea mengambil telpon genggamnya untuk menghubungi suaminya.
Usai menghubungi suaminya Lea berkata," Gak ikut dok, dia lagi keluar ternyata, sama direktur di ajakin ke rumah sakit kenalan beliau."
" Oh ya udah, kita aja yuk."
Mereka berempat lalu pergi keluar menuju restoran dekat rumah sakit.
__ADS_1
***
Bersambung ya...