
Pagi hari Lea dan suaminya sudah siap untuk berangkat ke rumah mba Rika, hari ini acara lamaran mba Rika, sebagai anggota keluarga mereka harus menghadirinya.
Sebelum sampai ke rumah mba Rika, mereka mampir dulu ke toko perhiasan, Lea ingin memberikan kado pada kakak iparnya itu, karena hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun kakak iparnya itu.
Setelah menemukan perhiasan yang cocok untuk mba Rika, pelayan pun membungkus nya.
" Kamu gak beli juga untuk mu sayang?"
" Enggak ah mas, pemberian mas aja masih belum Lea pakai."
" Ish kamu, itu siapa tau pengen ganti-ganti gitukan bisa."
" Nanti aja, kita harus cepat sampai, udah di tunggu."
" Iya deh, ayo."
Usai membayar perhiasan itu, mereka lanjut berangkat lagi menuju rumah mba Rika.
Setibanya di rumah mba Rika, suasana di rumah tampak sibuk, Lea langsung masuk dan mencari kakak iparnya yang sedang berada di kamar Ridho.
" Assalamualaikum mba."
" Wa alaikumsalam, kamu sudah datang?"
" Iya mba, maaf kemarin gak bisa datang."
" Gapapa, lagian sudah banyak yang membantu, walau datang pun kamu gak bisa nginap Lea, kamarmu di pakai keluarga ustad Fajar, ya dari pada mereka di hotel lebih baik menginap disini kan, mba aja sampe tidur dengan Ridho, semua kamar di pake."
" Gapapa mba, jam berapa di mulai mba?"
" Jam 12 Lea, setelah sholat Dzuhur, bang Fazar juga masih di sekolah, gak bisa di tinggal karena ada penilaian guru, cuma mba yang gak hadir karena mba cuti 3 hari."
"Oh....."
" Kamu datang dengan suamimu?"
" Iya mba, itu dia bergabung dengan keluarga ustadz Fajar."
" Mba gak pakai jasa perias pengantin?" tanya Lea pada kakak iparnya karena ia melihat mba Rika merias wajahnya sendiri.
" Hehe....mba kan pernah kursus Lea, terus di desa kemarin mba juga buka usaha salon make up, jadi mba bisa sendiri laaaah."
" Iya juga ya, hehe lupa, kenapa kemarin pas nikah gak mba aja ya yang make up in."
" Ya kamu kan sudah di kasih pelayanan semuanya oleh mertuamu Lea, masa mba main nyerobot, kan gak mungkin."
" Ada yang perlu aku bantu?" tanya seorang wanita yang masuk ke dalam kamar.
" Gak ada mba, oh ya kenalin ini adik ipar ku, adiknya almarhum suamiku mba, Lea kenalin mba Hana, dia kakak bang Fazar."
" Oh jadi ini Lea? Cantik, sudah bersuami?"
" Sudah mba, itu suamiku ada di luar," ujar Lea sambil menjabat tangan calon kakak ipar mba Rika itu.
" Yah, kirain belum bersuami, mau aku kenalin sama saaudara kembar Fazar....hahaha....maaf ya."
" Gapapa mba," ujar Lea sambil tersenyum.
" Lho Fazri belum nikah toh mba? Bukannya kemarin sudah lamaran?" tanya mba Rika.
" Gak jadi, perempuan nya matre banyak mintanya, masa lamaran aja pengen mewah, lah trus nikahnya gimana coba?"
" Terus Fazri gak datang sekarang?"
" Mungkin enggak, kemarin aku tanya sih ngomongnya gak datang, biasa kamu tau sendiri sifat Fazri gimana kan? Mana mau dia kalah dengan Fazar."
Lea bergidik mendengar hal itu, teringat akan pengalaman buruknya dulu, berpacaran dengan laki-laki yang punya saudara kembar.
" Aku keluar ya, mau lihat apalagi yang bisa di kerjakan," ucap mba Hana.
__ADS_1
" Iya mba," sahut mba Rika, " kenapa Lea?" tanyanya pada Lea yang terlihat aneh.
" Gapapa mba," jawab Lea.
" Tentang saudara kembar?"
Lea hanya mengangguk.
" Tenang, aku bukan tipenya Fazri, dia gak suka wanita berhijab, ya sama lah dengan kamu, kamu bukan tipe dia."
" Mba yakin? Takutnya nanti seperti aku dulu."
" Hehe jelas mba bisa bedain Lea, mereka memang kembar tapi tidak identik, kembar dua telur, kamu tau kan?"
" Oooooh kirain, huuuff aku aja yang trauma mendengar kata kembar...hihihi."
" Kamu sudah sarapan?"
" Sudah mba, oh ya mba, tiga hari lagi ada acara pembukaan restoran bundanya mas Vian, kalau mba gak repot datang ya, acaranya sih pagi jam delapan mba datangnya gak tepat jam delapan gapapa, aku di sana seharian nanti."
" Oke, apa semua menu jadi pakai resep almahumah ibu?"
" Iya mba, para chef nya kan yang dulu membantu ibu."
" Alhamdulilah, akhirnya bisa melepas kangen sama masakan almarhumah, tapi tante Viola nanti apa gak merasa di saingi ya?"
" Ya entah mba, bunda juga menyuruh Lea untuk tidak memperdulikannya, lagian juga posisi restoran jauh banget, jadi gak mungkin saling menyaingi."
" Iya juga sih, cuma gak masalah kan kalau kita antisipasi sebelumnya."
" Bunda sudah siapkan segala sesuatunya mba, karena ini usaha dari beliau bukan aku."
Mba Rika manggut-manggut mendengar jawaban Lea, lalu melanjutkan merias wajahnya.
" Eh Lea sampai kan ucapan terima kasih pada ibu mertuamu ya, gaunnya bagus banget."
" Iya mba."
" Ya gapapa mba, bunda senang kok."
" Eh kakak-kakak iparmu sering pulang kan?"
" Gak terlalu sering, setelah pernikahan ku, baru sekali mereka pulang, itupun kami gak ketemu karena sedang berada di Turki, oh ya mba aku lupa cerita di Turki aku ketemu dengan paman Gozali dan anak-anak beliau."
" Alhamdulilah, bagaimana kabar beliau, mba jadi kangen dengan Indira."
" Om sakit mba, tapi kemarin sudah sembuh, Lea sudah ceritakan kalau mba tinggal di rumah mendiang ayah dan ibu, katanya insyaallah akan pulang pas pernikahan mba, gak janji sih, tapi mereka akan usahakan."
" Aaamiiiin, semoga bisa ketemu lagi."
" Ini nomor kontak mba Indira, siapa tau mba ingin menghubunginya."
" Mana...mba simpan."
Setelah menyalin nomor kontak teman satu SMA nya itu, mereka berdua bersiap untuk melaksanakan sholat dhuhur, karena adzan sudah berkumandang.
Usai sholat dzuhur semua bersiap untuk melaksanakan acara lamaran mba Rika dengan ustadz Fajar, acara di laksanakan dengan penuh hikmat dan keceriaan dari kedua keluarga.
Jam tiga sore hari setelah sholat ashar Lea berpamitan pada semuanya untuk pulang ke rumah.
" Kamu gak makan dulu Lea? dari tadi cuma nyicip kue aja," ucap mba Rika.
" Nanti aja mba, itu bunda sudah buru-buru mau ke restoran, gak tau kenapa," ujar Lea melihat ibu mertuanya kelihatan gelisah.
" Iya deh, bilang bunda terimakasih sudah datang ya."
" Iya, tadi mba kan sudah bilang pada beliau, ya udah mba aku pulang, semoga di lancarkan sampai acara pernikahan nanti, oh ya jangan lupa hubungi mba Indira ya."
" Iya, habis ini mba hubungi dia."
__ADS_1
" Assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam."
Lea dan keluarganya lanjut pergi menuju restoran mereka, tadi salah satu chef mengatakan ada beberapa orang yang datang ke restoran mereka.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di restoran, dan kelihatan beberapa orang itu masih menunggu di depan restoran, rupanya para chef memang tinggal di bangunan ruko itu menghalangi mereka untuk masuk.
Ketika melihat bu Elma datang orang-orang yang datang itu langsung menghampiri bu Elma.
" Oh jadi kamu pemilik restoran ini?" ucap seorang wanita yang usianya sebaya dengan bu Elma.
" Iya ada apa ini? Mari kita bicara di dalam," ajak bu Elma.
" Gak usah!! Kamu dengar ya, kamu sudah mengajak seluruh mantan chef saya, apa kamu mau menyaingi saya??"
" Tante Viola??" seru Lea.
" Lea??" ujar wanita itu kaget melihat Lea ada di situ.
" Apa maksudnya Tante marah-marah gak jelas??"
" Oh jadi kamu di balik dalang semua ini?"
" Dalang? Dalang apa Tante? Apa masih kurang restoran mendiang ibu yang Tante rebut?? Tante kira Lea tidak tau? Lihat..lihat itu ada chef Edo.. beliau saksi darimana modal restoran ibu sebenarnya, satu sen pun gak ada uang Tante yang dipakai oleh almarhumah ibu untuk membuka restoran, lalu Tante main akui begitu saja lalu merampasnya dari ku??"
" Tap...tapi, aku tak terima semua ini, aku tak mau di saingi, aku sudah mengalah pada ibumu sejak kami masih kecil, aku tak terima, aku tak terima di merebut laki-laki yang aku ingin kan, aku tak mau!!" sentak tante Viola.
" Apa maksudnya ini bang?" tanya Lea pada kakak sepupu nya yang memegangi tangan Tante Viola.
" Nanti saja abang cerita kan, sekarang aku akan tenangkan ibuku dulu, aku pergi dulu nanti aku kembali, aku butuh bantuanmu."
" Baik bang, aku tunggu...sebaiknya kita bicara di rumah ku saja, tak jauh dari sini, di perumahan dekat rumah sakit tempat aku kerja."
" Oke, nanti abang hubungi kamu, nomor kontak mu masih sama kan?"
" Iya bang."
" Oke aku pergi, assalamu alaikum."
" Wa alaikumsalam."
" Mau kemana kita, Lea....aku belum selesai bicara!! Lea...awas kamu ya, jangan buka restoran ini, awas ya....awas... aaarrrgh...lepas....lepas aku bilang lepas!!" ucap Tante Viola yang tak terima di tarik tangannya dan di paksa masuk ke dalam mobil ambulans.
Lalu mobil melaju pergi meninggalkan tempat itu.
" Kok naik ambulans ya?"
" Itu mobil ambulans dari rumah sakit jiwa bun," ujar Lea.
" Hah??"
" Iya, ada tulisannya di sisi mobil nya tadi."
" Ih....berarti?"
" Entah, nanti kita dengar apa yang akan bang Adi bicarakan saja."
" Bunda ikut ke rumah kalian, bunda kok jadi khawatir."
Dokter Vian yang sedari tadi diam masih termenung di belakang badan istrinya, ia tak mau ikut campur masalah internal keluarga istrinya kecuali hal yang mungkin akan membahayakan hidup istrinya barulah ia akan bertindak.
" Ya udah, chef kami langsung pulang ya, terimakasih atas bantuannya."
" Iya Lea, kami pasti bantu, tenang saja, aman kok."
Lea dan keluarganya kembali masuk ke dalam mobil lalu pulang menuju ke rumahnya.
***
__ADS_1
Bersambung yaaa.....