
Hari ini hari kedatangan mba Rika dan Ridho, Lea sangat senang dia meminta bibi Lala untuk menyiapkan makanan kesukaan Ridho.
Perjalanan dari desa ke kotanya kurang lebih 4 jam, sedangkan mba Rika bilang kalau mereka sudah berangkat dari jam 4 setelah sholat subuh, bila agak macet berarti sekitar jam 9 mereka tiba di rumah Lea.
Sekarang masih jam 8, mba Rika mengirim pesan kalau mereka sedang mampir di pom bensin dekat terminal, berarti kurang lebih 40 menit lagi mereka sampai di rumah fikir Lea.
Lea mengecek lagi kamar-kamar yang akan di tempati oleh mba Rika dan Ridho.
Rumah milik almarhum orang tua Lea memang lumayan besar, kamar di lantai bawah saja ada lima, satu untuk kamar khusus tamu, dan satu kamar di belakang yang di khususkan untuk art.
Masih ada tiga kamar, salah satunya adalah kamarnya.
Sedang lantai atas memiliki 4 kamar saja, ada ruang keluarga yang cukup luas, lalu teras atas yang luas pula.
Seluruh barang milik kedua orangtuanya Lea taruh di dua kamar disana agar tak ada yang mengganggunya.
Dan dua kamar lain masih kosong, hanya ada lemari dan ranjang yang selalu di bersihkan oleh Lea sebulan sekali.
Tiiin....tiiiin
Lea berlari keluar mendengar klakson mobil di depan rumahnya.
Lea tersenyum melihat kakak iparnya keluar dari mobil.
"Assalamualaikum sayang."
" Wa alaikumsalam, ayo mba, mobilnya suruh bawa masuk aja mba."
" Enggak Lea, itu mobil nya pak Kardi kamu ingat?"
" Oh."
Semua yang di mobil keluar dan bersalaman dengan Lea, termasuk Ridho.
" Assalamualaikum tante."
" Wa alaikumsalam, Masyaallah ponakan tante, ganteng, eh tinggi banget badanmu ya?"
" Iya tante."
" Ayo bapak ibu mari masuk."
" Kami gak bisa lama-lama Lea, ini bapak harus segera ke rumah sakit, begitu kata dokter." kata bu Warni istri pak Kardi.
" Sakit apa bu?"
" Itu dadanya sering nyeri, jadi sama dokter di saranin untuk ke dokter jantung, di desa kan gak ada."
" Oh... Lea antarkan ya pak?"
" Gak usah Lea...wong gak darurat, lagian kami juga sudah lama gak menengok rumah Aji."
" Ooh iya bu, nanti kalau butuh bantuan Lea jangan sungkan meminta pada Lea ya pak bu..."
" Iya Lea, mari kami langsung pergi, Aji sudah menunggu di rumah sakit katanya tadi."
" Iya bu terimakasih sudah mengantarkan kami." kata mba Rika.
" Iya sama-sama, kami pamit, assalamu alaikum."
" Wa alaikumsalam." sahut Lea dan saudaranya serentak.
Mereka melihat mobil pak Kardi pergi dulu baru berjalan masuk ke dalam rumah, bibi Lala menolong mereka memasukkan barang-barang bawaan mba Rika.
" Wah ada bibi Lala....kangen aku.." kata mba Rika.
" Iya non, sama bibi juga." kata bibi Lala sambil berpelukan dengan mba Rika.
" Ini jagoan yang kemarin masih kecil dah gede.. ganteng lagi." kata bibi Lala sambil melepaskan pelukannya dan menyalami Ridho.
" Assalamualaikum." sapa Ridho sambil mencium punggung tangan bibi Lala.
" Wa alaikumsalam anak sholeeeh, aduuuh, bibi mau nangis iniii.." kata bibi Lala dengan mata mulai berkaca-kaca.
" Bibi ah, ayo masuk yuk."
" Hhmm....rumah ini masih seperti yang dulu ya Lea..apa kamu gak kesepian tinggal sendiri Lea?" tanya mba Rika setelah masuk ke dalam rumah.
" Ya jangan di tanya lagi mba, pasti sepi."
" Iya juga ya, Ridho istirahat dulu ya nak." kata mba Rika pada anaknya.
" Ayo sini sayang kamar mu yang ini ya, kamu sudah bisa tidur sendiri kan?"
" Iya dong tante, Ridho kan sudah besar."
" Ih pinteeer....."
__ADS_1
Lea mengantarkan Ridho ke kamar tengah, sedang mba Rika ke kamar di sebelahnya.
" Bibi masak sekarang ya non?"
" Iya bi."
" Istirahat dulu mba."
" Nanti aja lah, aku mau lihat bibi masak."
" Mba gak kecapekan?"
" Enggak, kan cuma duduk aja, hehe."
" Ya udah, Lea mau istirahat sebentar mba, habis dinas malam tadi."
" Iya Lea, istirahat lah."
Lea masuk ke kamarnya dan tidur sebentar menghilangkan rasa kantuknya, sedangkan mba Rika ke dapur membantu bibi Lala.
***
Sementara di kediaman keluarga dokter Vian, orang tuanya mempertanyakan kesungguhan dokter Vian untuk mempersunting wanita idamannya.
" Kamu yakin Vian dengan pilihanmu?"
" Sangat yakin bunda, Vian sudah istikharah, dia berbeda dari wanita kebanyakan bunda."
" Seperti apa sih yah orangnya? Ayah tau?"
" Kalau gak salah ayah dua kali melihat dia, tapi karena gak mengira kalau dia orangnya, ayah ya gak menilai yang bagaimana-bagaimana gitu, cuma orang unik gitu, kalau dia sudah kerja dia fokus gak perduli yang lain, dia punya aura kepemimpinan kalau ayah lihat dari sikap teman-temannya, benar gak Vian?"
" Iya ayah, makanya Vian kagum padanya."
" Ya udah kalau kamu sudah mantap nak, bunda dan ayah cuma bisa merestui, tapi bagaimana dengan dokter Nala? Dia kayak ngarepin kamu terus lho."
" Ish dia itu, jadi dokter di rumah sakit kita aja di tolak apalagi jadi mantu ku, ogah!!" sahut dokter Ahmad ayah dokter Vian.
" Xixixi." dokter Vian tertawa nyengir mendengar kata-kata ayahnya.
" Emang orangnya gimana, bunda lihat sangat baik, santun bersahaja gitu."
" Di depan bundaaa.!!" sahut dokter Vian dan ayahnya berbarengan.
" Hahaha.....bunda emang lihat gimana dia kalau kerja?" kata dokter Ahmad.
" Jadi penasaran bunda..ck!"
"Pokoknya Vian cuma mau Lea bun, Azalea Nuraini binti almarhum Ahmad Alfarizi!!"
" Waaaah, nama ayahnya sama dengan ayah?" kata dokter Ahmad.
" Iya yah, hihi, hampir-hampir mirip juga nama belakangnya yah."
" Hihi....gampang ngapalin ijab kabul, asal gak salah aja."
" Kapan rencana mau ngelamar?"
" Kalau boleh secepatnya bunda, mumpung kosong bunda di salip Valentino Rossi lagi nanti."
" Kosong?? apaan sih?"
" Dia mutusin pacarnya, gak mau pacaran-pacaran katanya, makanya Vian semangaaaaat iniiii." kata dokter Vian sambil menunjukan gengaman tangannya."
" Widiiiiih.....takuuuuut!!" sahut ayah bundanya serentak.
" Hahaha." keluarga kecil itu tertawa berbarengan, itulah kehangatan keluarga mereka tak memilih dengan siapa anaknya menikah, menantu pertama dan kedua juga seperti itu bukan dari kalangan yang berada, kakak-kakak dokter Vian mengabdi sebagai dokter dan hakim di pulau lain, mereka mewajibkan anak dan menantunya untuk berkumpul satu bulan sekali untuk mengakrabkan hubungan kekeluargaan.
***
" Paket dari siapa pak Lim?" tanya Farlan pada penjaga rumahnya.
" Kurang tau tuan muda, saya cuma menerima nya saja."
" Baik pak, terimakasih."
" Iya tuan muda, saya kembali ke pos jaga."
" Hm..!"
Farlan masuk ke kamar dan membuka paket itu, begitu terbuka pertama kali ia temukan sebuah surat.
Farlan Abizar
Begitu kau terima paket ini mungkin aku sudah pergi jauh.
Aku kembalikan semua pemberianmu padaku selama kita menjalin hubungan.
__ADS_1
Begitu pula status sebagai calon istrimu, aku lepaskan, aku mundur, toh kamu juga sudah bilang kalau kamu akan putuskan pertunangan ini, jadi aku terima dengan senang hati.
Mohon maaf bila selama ini aku tidak bisa menjadi pendamping yang kau impikan.
Aku pamit.
Betty Fujiwara.
"Aaaaaaargh...b*ng**t!!! Kurang ajar....!" teriak Farlan melempar kardus paket yang ada di atas ranjangnya, seketika kotak cincin pertunangannya terbuka dan cincin menggelinding keluar kamar.
" Apa ini Farlan? Cincin milik Betty??" kata mama Erica di tangannya sudah memegang cincin itu.
" Dia pergi mah...aaarrrgh, padahal aku cuma mengancamnya."
" Mengancam bagaimana maksudmu!!"
" Aku bilang....aku bilang.!!"
" Farlan!!" sentak papa Rudi melihat kamar Farlan terdapat kardus yang isinya berserakan.
" Papah....Bet.. Betty pergi dari Farlan." sahut mama Erica.
" Aku bisa menebak apa yang terjadi...ini karena Lea kan?? Kamu sok-sokan mau perjuangan Lea demi Fardhan , padahal kamu sendiri yang inginkan Lea kan!!"
"Pah!!" sentak mama Lea.
" Ti tidak seperti itu pah, Farlan ikhlas asal Lea bersama Fardhan pah, Farlan lakukan demi Fardhan pah!!"
" Jangan kamu tipu papahmu Farlan!! Sudah aku malas bicara lagi, aku katakan tidak akan meminta Lea untuk jadi mantuku!! Paham kamu!! Baik kau atau Fardhan tidak ada yang akan bersama Lea!!"
" Mah siapkan Fardhan, besok pagi kita berangkat ke Jerman, kita akan tinggal di sana selamanya!! Tidak ada bantahan!! Kalau mau membantah, aku akan pergi sendiri tanpa kalian, aku malu....malu!!" sambung papa Rudi.
" I iya pah, tenang dulu pah, a..aku akan siapkan Fardhan, Farlan kamu juga siap-siap, atau kamu mau mamah tidak akui kamu lagi sebagai anak mama!! Itu mau kamu!!"
" Iya ma, iya...Farlan siap-siap."
Akhirnya keluarga almarhum Farhan pergi meninggalkan Indonesia, karena malu bila nanti bertemu dengan keluarga Betty.
Keluarga besar papa Rudi memang sudah lama di Jerman, jadi tak masalah bagi mereka untuk pindah kesana, melupakan semua hubungan pertemanan dan pekerjaan di Indonesia.
***
[ Assalamualaikum.]
[ Wa alaikumsalam dokter, ada yang bisa saya bantu?]
[ Lea besok kamu dinas sore?]
[ Iya dokter, kenapa dok?]
[ Bisa kah kamu izin sehari saja? Aku ingin berkunjung ke rumahmu.]
[ A ada apa dokter?]
[ Gak ada apa-apa, hanya ingin mengenal keluargamu saja.]
[ Oh, sa saya minta izin pada kepala ruangan dulu ya dokter.]
[ Iya...nanti aku juga akan sampaikan kepada bu Nuri untuk memberimu izin.]
[ Baik dokter.]
[ Oke aku tutup ya, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
Sambungan telpon di putus, Lea menarik nafas panjang.
" Siapa Lea?" tanya mba Rika.
" Dokter Vian mba, dia dokter di rumah sakit tempatku kerja."
" Ooh, ingat pesan mba yaaaa, jangan lebih dari berteman saja, bisa kok menilai pria yang baik atau tidak walau hanya berteman."
" Iya mbaaa....kita lihat besok maunya apa."
" Oh mau ke sini?"
" Iya, untung mba sudah di sini, jadi besok bantu Lea untuk menjawab ya.... mba belum sibuk kerja kan?"
" Enggak, masih 3 hari lagi."
" Oke, aku mau ke ruang kerja ayah dulu, pasti paman Sabri sudah mengirim laporan lewat email."
" Iya Lea, mba mau ke kamar, mba istirahat duluan ya, kamu jangan begadang."
" Iya mba."
__ADS_1
Bersambung lagi yaaaa....