Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 15 Si Penggoda


__ADS_3

Keesokan harinya para perawat dinas pagi sudah datang, waktunya aplusan, setelah menyerahkan tugas pada perawat senior yang dinas pagi Lea dan teman-temannya pamit pulang.


Lea dan teman-temannya masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar, di dalam lift sudah ada dokter Vian sedang bersandar di sisi kanan.


" Selamat pagi dokter." sapa Lea dan teman-temannya.


" Pagi." balas dokter Vian sambil memandang ke arah Lea.


" Sudah aplusan?" tanya dokter Vian pada Lea.


" Sudah dokter." jawab Lea


Dokter Vian mengerucutkan bibirnya mendengar Lea kembali memanggilnya dengan sebutan dokter.


Fico dan Irma yang melihat itu saling memandang dan menggangkat bahu mereka.


" Oh ya Lea aku lupa ngomong sama kamu, aku minta maaf ya kakakku sempat menaruh curiga sama kamu." kata Inggrit.


" Gapapa aku maklum kok, siapapun yang ada di posisi kakakmu pasti akan melakukan hal sama, karena khawatir hubungannya rusak karena adanya wanita lain di antara mereka, tapi untunglah kak Betty bisa berpikir jernih dan dengan cepat mengambil keputusan."


" Iya kamu benar, papa mama juga mendukung keputusan kak Betty."


" Terus apa yang kakakmu lakukan sekarang Grit?" tanya Irma.


" Kakak pergi ke London, mau melanjutkan kuliah S2 nya."


" Bagus lah." kata Lea dan Irma berbarengan.


Ting...lift sampai di lantai bawah, mereka pun keluar dari lift.


" Kamu langsung pulang Lea?" tanya dokter Vian.


" Iya dok, capek sekali tadi malam pasien gawat dua orang, untungnya masih selamat."


" Aku antar pulang ya?"


Lea dan teman-temannya terdiam mendengar ucapan dokter Vian kemudian melihat ke arah teman-teman Lea.


" E....eh." kata Fico dan dua temannya sadar sedang menguping, lalu mereka jalan mendahului Lea keluar dari gedung rumah sakit.


" Bagaimana Lea?"


" Ti tidak usah dokter, saya pulang sendiri aja." jawab Lea mulai tak nyaman karena ada banyak mata yang memperhatikan mereka, dan berlalu dari hadapan dokter Vian.


Dokter Vian hendak menahan Lea namun ada yang memanggilnya.


" Dokter Vian... pak direktur datang gak hari ini?" tanya seorang dokter kepada dokter Vian.


" Oh tidak dokter, ayah hari ini ada acara ke kantor dinas kesehatan, apa ada sesuatu yang penting dok?"


" Ya, penting sebenarnya tapi masih bisa menunggu kok, ya udah nanti saja saya temui beliau."


" Baik dok, nanti saya akan beritahu ayah, siapa tau setelah dari Din Kes ayah langsung ke sini."


" Oke, saya visite pasien dulu, permisi."


" Iya dok." kata dokter Vian.


Seperti lazimnya anak direktur dan kebetulan juga sebagai calon pengganti posisi ayahnya, dokter Vian harus belajar cara kepemimpinan di rumah sakit.


Dokter Vian berjalan ke arah Poliklinik untuk memberikan pengobatan pada pasien rawat jalan.


Di sudut IGD ada tiga orang perawat yang sedang berkumpul setelah melihat perlakuan dokter Vian pada Lea.


" Kamu lihat tadi gak? Masih gak percaya yang aku bilang kemarin?" kata perawat satu.


" Iya aku juga sudah curiga lho, soalnya kayak ada yang aneh gitu, gak pernah lho dokter Vian memperlakukan perawat segitu ekslusifnya." kata perawat dua.


" Ish bikin cemburu aja, kita lebih senior aja gak di lirik sama sekali lho sama dokter salju itu."


" Ehmm...ehmmm....kalau mau ngerumpi sono di mall atau cafe, enak banyak minuman, kalau di sini cuma ada kapas alkohol, obat, pasien dan lain-lain!!!" celetuk kepala IGD.


" Maaf pak." sahut ketiganya.


" Satu kali lagi saya lihat kalian seperti ini saya pindahkan secara terpisah ke ruangan lain, jadi jiwa ghibah kalian sedikit berkurang!!"


" Iya pak." kata mereka sambil membubarkan diri.


Satpam yang menjaga pintu utama tersenyum melihat ketiganya terlihat ketakutan.


\*\*\*\*


" Huuuff, akhirnya samapi rumah, lelahnyaaa...." keluh Lea, dinas malam tadi agak menguras energinya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Lea masuk ke rumahnya.


" Assalamualaikum, Lea pulaaang."


" Wa alaikumsalam, kok gak semangat, gak ketemu sama pangeranmu?" goda mba Rika.

__ADS_1


" Ih mba ini, pasienku dua orang yang kritis mba, hampir aja meninggal."


" Yah masih ada rejeki di beri umur berarti."


" Aku ke kamar dulu ya mba."


" Sudah sarapan belum?"


" Belum mba, bentar aku ganti baju dulu."


" Ya, mba siapkan sarapan mu ya."


" Iya mba, makasiiih, aaaaaah senangnya ada orang di rumah, hehehe..." kata Lea sambil berjalan ke kamarnya.


" Kamu itu, sudah cepat nikah biar semakin banyak keluarga kita."


" Kok aku, mba itu nikah sana."


" Oooooooooo mencari barengan kamu ini ya?"


" Udah ah gak ganti-ganti baju kalau ngobrol terus."


Lea masuk ke kamarnya, dan mba Rika berjalan ke dapur sambil menggelengkan kepalanya.


Tak lama Lea keluar lagi dan sudah berganti baju.


" Ridho mana mba? Kok gak kelihatan."


" Dia sudah berangkat sekolah di jemput ustadz Fajar tadi pagi."


" Oooh calon anak sudah di jemput calon papa?"


" Hussh kamu itu."


" Lha terus? Salah?"


" Calon Abi...hahahaha" jawab mba Rika.


" Sama aja mbaaa." kata Lea sambil nyengir.


" Mba gak berangkat bareng tadi sama Ridho?"


" Gak, mba jam ngajarnya siang, kelamaan nunggu di kantor nanti."


" Oooh, takut ketemu pangerannya yaaa?" kata Lea balas menggoda kakak iparnya.


" Udah sarapan Lea jangan berisik!"


Lea menikmati sarapannnya tanpa banyak bicara, setelah selesai ia akan membersihkan bekas makannya namun di larang oleh bibi Lala.


Akhirnya Lea pergi ke ruang kerjanya untuk mengecek email dari paman Sabri.


Rasa kantuk setelah begadang mulai ia rasakan, tak sanggup lagi berjalan ke kamarnya, ia pun memilih membaringkan diri di sofa malas milik ayahnya, lalu terlelap.


Hingga jam 10 mba Rika mencari Lea di kamar namun tak ia temukan, tanpa mencari lagi mba Rika berpamitan pada bibi Lala kalau ia akan pergi mengajar menggunakan mobil Lea yang sebelumnya memang di suruh Lea untuk ia pakai bila ingin pergi ke sekolah.


Adzan dhuhur berkumandang, Lea terbangun, cukup lama dia tidur karena hampir semalaman dia tak tidur sama sekali.


" Astagfirullaaaaah, ketiduran di sini aku, mba Rika pasti bingung."


Lea pergi ke kamarnya menunaikan kewajibannya dulu, tak lama dia keluar menuju dapur dan bertanya pada bibi Lala.


" Bi...mba sudah berangkat?"


" Bibi...eh bibi..." jawab bibi Lala latah, kaget tau-tau di ajak ngomong oleh Lea.


" Eh non, kaget bibi, iya non tadi nyariin non tapi gak ketemu jadi pamitnya ke bibi, non dari mana?"


" Aku ketiduran di ruang kerja ayah bi, gak sanggup jalan ke kamar lagi, ngantuk berat."


" Oalaaaah, persis kelakuan tuan dulu kalau ngantuk ya tidur di sana, nyonya sampe marah-marah krena habis itu pasti tuan mengeluh sakit badannya karena tidur di sofa."


" Ya iyalah bi, wong sofanya gak muat untuk badan ayah yang besar...hehehe."


" Makan siang non?"


" Nanti sore bi, bibi lupa ya, perut bi perut gampang error."


" Eaa...bibi lupa, ya udah berarti nanti aja nih bibi masaknya? Ridho pulang sore, non Rika juga."


" Iya bi, bibi atur aja, bibi jangan ikut jam makan Lea ya?!"


" Iya non, gampang kalau bibi mah."


" Bi, Lea mau tanya, menurut bibi dokter Vian gimana?"


" Gimana bagaimana non?"


" Ya kemarin dia dan orang tuanya kan bermaksud untuk meminta Lea agar menjadi bagian keluarga mereka bi."

__ADS_1


" Oh itu...menurut bibi sih di terima aja non, jarang-jarang ada keluarga yang ternama kayak gitu yang rendah hati, gak memilih menantu dari kalangan mereka aja."


" Iya sih bi, Lea juga sudah istikharah, semakin sering ketemu di rumah sakit suasananya jadi canggung-canggung gitu, kalau Lea kasih jawaban sekarang apa tidak terlalu cepat ya bi?"


" Niat baik gak ada istilah kecepetan non, nikah itu ibadah, apakah nanti ada cobaan atau tidak, bismillah aja, terima kurang lebihnya dengan ikhlas karena Allah."


" Iya juga sih bi."


" Nah ini juga jadi bahan pertimbangan non, non sendirian di dunia ini, seorang wanita lagi, bukankah lebih baik bila non secepatnya menjadi istri orang, nanti ada yang melindungi non, dan punya keluarga baru, insya Allah non juga punya anak, jadi tunggu apa lagai non."


" Iya deh bi, bismillah."


Akhirnya Lea bisa lebih memantapkan hati setelah mendengar nasehat dari artnya yang sudah merawatnya sedari kecil itu.


\*\*\*


Di rumah sakit terdengar ada bisik-bisik, mereka sedang memperhatikan seorang wanita yang berpakaian kerja dengan rok span pendek berwarna coklat, atasan hem tipis hampir terlihat bagian pakaian dalamnya, namun di tutup dengan jas kedokteran.


Siapa lagi kalau bukan dokter Nala, yang mereka kenal suka mengejar dokter Vian.


Banyak pasang mata melihat ke arah dokter itu, namun dokter itu tidak peduli, ia berjalan masuk ke rumah sakit dan bertanya pada satpam.


" Siang pak, di mana dokter Vian?"


" Dokter Vian sedang meeting di atas bu dokter."


" Sudah lama meetingnya?"


" Kurang tau saya bu, biasanya sekalian makan siang bu."


" Dengan siapa meetingnya?"


" Dengan beberapa kontraktor bu dokter, rumah sakit akan di lebarkan jadi direktur memanggil kontraktor langganan untuk pembangunan."


' Wah makin besar aja nih rumah sakit, aku harus secepatnya mendapatkan Vian.' bathin doktr Nala.


" Oh ya udah kalau gitu saya tunggu di lobi ya, tolong beritahu saya kalau meeting sudah selesai."


" Baik bu dokter."


Dokter Nala berjalan menuju lobi rumah sakit, mencari sofa yang kosong lalu duduk di sana dengan menyilangkan kakinya, sehingga pahanya terekspos.


Para pengunjung dan pegawai di rumah sakit yang melihat itu merasa aneh, secara rumah sakit itu memiliki ciri khas berpakaian yanag sopan.


Dokter Nala tak menggubris bisikan-bisikan dari orang-orang yang melihatnya.


' Nanti kalau aku sudah jadi nyonya Alvian Fahruzi, kalian akan ku bungkam.' bathin dokter Nala dengan gaya sombongnya.


" Hai Nala, ngapain loe?" tanya salah seorang dokter begitu melihat temannya duduk di lobi rumah sakit.


" Asrof? Kamu di sini? Sejak kapan?"


" Aku bertukar tempat dengan Rizal, istrinya kan dinas di tempat ku kemarin, jadi biar gak ribet katanya, mereka sudah punya bayi, jadi inginnya gak berjauhan dinasnya." jawab dokter Asrof sambil duduk di sebelah dokter Nala.


" Ooh..."


" Loe belum jawab pertanyaan gue, nunggu siapa? Jangan bilang kamu ngelamar kerja di sini ya?"


" Emang kenapa kalau aku ngelamar di sini? gak boleh?"


" Ya gue dengar kabar kalau loe di tolak kerja di sini karenaaa...tau sendiri kaaaan." kata dokter Asrof sambil memandang penampilan wanita di sebelahnya itu.


" Ish aturan di sini aja yang kuno, untuk apa baju di jual kalau gak di beli dan di pakai!!"


" Terserah loe, yang jelas tiap tempat kerja punya aturan masing-masing kecuali rumah sakit ini punya moyang loe."


" Ya kita lihat aja nanti, apa yang dokter Nala LAKUKAN!" kata dokter Nala menekankan kata-katanya.


" Apa yang loe lakukan hah?? Mau jadi mantu direktur? Ngimpi loe!!" kata dokter Asrof tanpa menunggu jawaban dari dokter Nala, ia berdiri dan melangkah pergi meninggalkan dokter seksi itu.


Dokter Nala cemberut mendengar ucapan temannya itu, orang-orang yang melihat tertawa kecikikikan, namun dokter Nala kembali tak peduli.


Dua jam dokter Nala tak jua ada tanda-tanda meeting akan berakhir, Ia pun menanyakan hal itu pada satpam, namun satpam tidak bisa memberi jawaban pasti, karena bukan urusannya mencari informasi tentang kegiatan anak direkturnya.


Rupanya tanpa sepengetahuan dokter Nala meeting telah usai satu jam yang lalu, atau tepatnya ketika adzan dzuhur terdengar.


Direktur dan yang lain menunaikan sholat dzuhur di mesjid yang letaknya di sebelah gedung rumah sakit dan akses ke mesjid itu tidak melewati lobi, setelah menunaikan kewajiban direktur mengajak klien mereka untuk ke resto yang berada di sebelah mesjid.


Setelah makan siang bersama, mereka kembali ke rumah sakit langsung ke area parkir dan klien mereka kembali ke perusahaan masing-masing.


Dokter Vian juga berpamitan pada ayahnya untuk pulang, ia sudah berjaga di rumah sakit selama lebih dari 24 jam.


" Vian langsung pulang ya ayah."


" Iya nak, beristirahat lah, jangan lupa obatmu di minum."


" Iya ayah, sudah."


Dokter Vian menyalami orang tuanya lalu berjalan ke mobilnya, dan melajukannya pulang ke rumah.

__ADS_1


Bersambung yaaa....


__ADS_2