
“Kamu mau apa sayang.” Tanyaku pada si sulung.
“Num...num.”
Mataku seketika mengikuti arah yang mana dia tunjuk. Ternyata dia menujuk ke arah teko minuman yang berisi air.
Aku segera memberikan minum pada Adnan dan juga Aqila. Aku melihat keduanya begitu sangat kehausan.
Seperti orang yang belum minum berhari-hari. Setelah selesai minum aku membawa kedua anakku ke kamar.
Dan mendapati ibunya sedang rebahan di dalam kamar, bermain ponsel tanpa memepedulikan kedua anakknya.
Dibiarkan main sendiri di ruang TV sendirian.
“RIKA!” bentakku membuat Rika keget hingga ponsel yang ada di tanganya terjatuh.
“Mas. Kamu ini kenapa sih? Pulang kerja kok malah teriak-teriak.”
“Rika, kamu benar-benar sudah keterlaluan. Bisa-bisanya membiarkan Adnan dan Aqila bermain sendirian. Sedangkan kamu enak-enakan berada di kamar ini.”
“Ya, terus kenapa? Yang penting anaknya antengkan.” Jelasnya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
Apa dia tidak tahu jika anaknya tadi kehausan?
“Terus kenapa Adnan dan Aqila masih pakai baju yang sama dari pagi? Apa kamu enggak mandiin mereka berdua?”
“Alah, biasanya juga kamu yang mandi in tuh anak. Maaf ya Mas, aku enggak biasa mandi in tuh anak.”
Mendengar perkataan Rika membuatku benar jengkel. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.
“Kalau emang gak bisa mandiin anak. Ya belajar dong! Kamu kan ibunya.”
“Suruh aja mandi sendiri.”
“Punya otak gak!” bentakku aku sudah muak dengan kelakuannya.
“Mas, kok kamu bilang begitu sama aku?” Rika merasa terkejut dengan perkataanku barusan.
Bagaimana tidak selama aku menikah belum pernah aku semarah ini padanya.
“Kamu bilang anak disuruh mandi sendiri? Pikir pakai akal sehat. Anak balita kaya gini disuruh mandi sendiri. Ya enggak bisa lah.” Aku meluapkan amarah pada Rika.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan hati Rika. Aku yakin dia sedang merasakan sakit hati karena sudahku katai tidak punya otak.
“Mas, kamu tega banget bilang aku enggak punya otak!”
“Memang benar kamu enggak punya otak!” jelasku membuat Rika keluar dari kamar.
Aku yakin dia akan pergi ke rumah orang tuanya dan mengadukan masalah ini pada mamahnya.
__ADS_1
Siap-siap saja aku perang dengan mertua perempuanku. Aku tidak peduli lagi dengan ini semua.
Dalam waktu dekat ini akanku bongkar semua kebusukan Rika pada semua orang. Termasuk mamahnya biar dia tahu kelakuan anaknya yang sebenarnya.
Setalah dari pertengkaran itu, aku memandikan kedua anakku, dan memberikannya makan.
Air mataku seketika keluar begitu saja melihat anakku makan seperti orang yang kelaparan.
Aku yakin sekali jika Rika tidak memberikan makan pada anaknya. Apakah dia sengaja melakukan itu agar anaknya bisa mati kelaparan di rumah ini?
Dan benar saja malamnya Rika tidak pulang ke rumah. aku hanya tidur dengan kedua anakku
Hingga menjelang pagi. Aku sudah menyiapkan sarapa untuk anakku.
Tokk..tok..
Baru saja aku ingin menyuapi makanan ke mulut Adna, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu.
“Nak, tunggu ya. Itu pasti ibu kalian sudah pulang.” Ucapku pada kedua anakku.
Aku berjalan untuk membuka pintu, saat pintu sudah terbuka tiba-tiba tubuhku di dorong hingga aku hampir terjatuh.
“Dasar mantu kurang ajar! Berani banget kamu ya bilang anak saya enggak punya otak!” bentak mertua perempuanku.
“Mamah.” Aku terkejut mendapati mertuaku marah-marah.
“Jangan panggil saya Mamah, saya tidak sudi dibilang kaya gitu sama mantu kurang ajar.”
“Bagaimana saya bisa pelan-pelan kalau anak saya di bilang enggak punya otak sama kamu! Maksud kamu apa bilang kaya gitu sama anak saya?!”
Hoh sudahku duga jika Rika akan mengadu pada mamahnya tentang masalah ini.
“Tapi kenyataannya memang benar Rika tidak punya otak.” Jelasku membuat mertua terbelalak.
Aku sengaja menancing emosinya, aku sudah tidak peduli lagi dengan amarah mertuaku ini.
“Apa kamu bilang! Benar-benar mantu kurang ajar. Dari awal saya sudah menduganya bahwa kamu tidak becus mengurus anak saya.”
“Sama seperti anak anda, yang tidak becus mengurus anaknya sendiri. Bagai mana bisa anak berumur 1 tahun disuruh mandi sendiri. Bukankah anak anda tidak punya otak.”
“Jaga mulut kamu!” ibu mertua menunjuk-nunjuk ke arahku.
Mungkin dia juga berpikir secara logis, apa yang aku ucapkan memang benar.
“Mulai sekarang kamu ceraikan anak saya!” ancam ibu mertua.
“Saya tidak akan menceraikan istri saya, sebelum saya membuka semuanya.” Ucapku membuat kening ibu mertua mengerut.
Aku yakin dia tidak mengerti apa maksud dari perkataanku.
__ADS_1
“Saya enggak peduli pokoknya—“
“Maaf.” Aku dengan cepat memotong pembicaraan mertuaku.
Memang ini tidak sopan. Tapi aku terpaksa melakukannya karena anakku belum makan.
“Anak saya belum makan. Sebelum melanjutkan pembicaraan ini. Ada baiknya kita sarapan dulu bersama, apa ibu mertua mau ikut sarapan.” Ucapku menggoda ibu mertua.
Membuat wajahnya merah padam menahan malu.
“Cih, aku tidak sudi makan bersama dengan anak cacat seperti mereka!” berdesis kesal.
Deg
Perkataan ibu mertua membuat hatiku sakit, membuat hati hancur seketika. Bagaimana bisa seorang ibu berkata seperti Itu pada cucu kandungnya sendiri.
Padahal dia yang mengiginkan seorang cucu dari rahim anaknya. Setalah tuhan memberikan Anugrahnya pada Rika.
Dia malah menghina ciptaan tuhannya.
“Barusan Anda bilang apa?” aku mengepalkan tangan dengan kuat berusaha untuk mengendalikan emosi agar tidak meledak-ledak.
“Anak cacat! Kuping kamu tuli ya.” Jelasnya.
Aku sudah tidak tahan lagi mendengar anakku dihina seperti itu oleh neneknya sendiri. Benar-benar wanita picik.
“Sekali lagi Anda mengatakan anak saya cacat, saya tidak akan segan-segan bertindak kasar. Saya tidak peduli jika Anda adalah mertua saya sekali pun jika menyangkut anak saya.” Ancam diriku.
“Kenapa? Kamu mau pukul saya? Silakan. Saya tidak takut.” Bentaknya.
“Sekarang juga Anda keluar dari rumah saya! Saya tidak akan membiarkan Anda masuk ke rumah saya. PERGI!” aku berteriak kencang membuat anak-anakku menangis.
Ibu mertua berdengus kesal karena telah aku usir dari rumah ini. Aku tidak akan membiarkan orang lain menghina fisik anakku.
...****************...
Jam sudah menujukan pukul 8 pagi. Aku harus bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Sebelum bekerja aku menitipkan kedua anakku pada bibi Ratna.
Dia adalah tetanggaku yang sudah tua, dia senang sekali pada anak kecil, jika aku tidak bisa menjaga kedua anakku. Maka aku akan menitipkan padanya.
Seperti biasa aku berangkat kerja menggunakan sepeda motor. Selama di perusahaan aku terus berkeliling untuk mengecek keadaan sekitar.
Saat diriku sedang berada di depan lobi, aku melihat ada sebuah mobil di depan mataku. Ternyata itu adalah mobil selingkuhan istriku yang baru saja tiba hari ini.
Awalnya aku berniat pergi untuk melanjutkan berkeliling. Namun niat itu aku urungkan setelah mendapatkan ada seorang wanita berpakaian polisi lengkap dengan pangkatnya.
Ternyata wanita itu adalah istrinya. Kenapa aku bisa tahu bahwa itu adalah istrinya.
Sebelum pria itu Masuk ke perusahaan ia terlebih dahulu Mengecup punggung tangan suaminya.
__ADS_1
“Aah, ternyata kadal gurun bermain api juga di belakang istrinya.” Batinku.
Selesai bekerja aku kembali pulang. Lagi-lagi Rika belum pulang ke rumah. Padahal mertuaku sudah membujuk Rika untuk pulang tapi dia kekeh tidak mau.