
Pagi-pagi sekali Lea sudah bangun, setelah sholat subuh dia membaca beberapa ayat Al-Qur'an.
Calon mertuanya yang sudah terbangun mendengarkan suara merdu calon menantunya menyimak suara merdu Lea.
" Bagus bacaannya, sudah cantik pintar mengaji, pintar masak dan mandiri, gak salah Vian jatuh cinta padanya." ucap pak Ahmad.
" Iya yah jadi gak sabar pengen cepat-cepat meresmikan hubungan mereka." kata bu Elma tersenyum.
" Sebentar lagi Vian datang bunda siapkan sarapan dulu sana, saking senangnya mendengarkan suara Lea nanti gak kelar-kelar masaknya."
" Hehe iya yah...ayah sarapan apa?"
" Yang ada aja bun, apapun yang bunda masak pasti ayah makan."
" Ish ayah mah, mbok sekali-sekali minta sarapan apa gitu."
" Malas ah, aku mau makan apapun yang ingin kamu masak untukku karena kamu pasti tau makanan favorit ku, jadi untuk apa lagi aku request menu."
" Ya udah, tapi aku akan masak kesukaan Vian yah, biar Lea juga mengingatnya, nah kalau ayah gak suka gimana? Kan gak semua makanan kesukaan Vian ayah juga suka."
" Wah iya juga ya..hhmm ini baru masalah yang harus di pikirkan." ujar pak Ahmad sambil menggaruk dagunya yang gak gatal.
" Gaya nya yaaah..yah... segitunya di pikirin."
" Kalau gitu tambahin satu aja masakan favoritku ya bun, gapapa kan?"
" Iya deh kalau begitu." ucap bu Elma sambil beranjak menuju dapurnya.
Usai mengaji, Lea berganti pakaian rumahnya, ia sudah mandi sebelum melaksanakan kewajibannya tadi, ia ingin melihat apa yang calon mertuanya lakukan, ia ingin membantu agar terbiasa nanti bila sudah berumah tangga.
Tercium bau bumbu dari arah dapur, Lea pun segera turun ke lantai bawah dan langsung menuju dapur.
" Bunda masak? Lea bantu ya bun."
" Iya Lea, oh ya bunda dari mendengat suaramu pas ngaji, bagus banget, bunda hampir saja lupa kalau harus masak." sahut bu Elma sambil tersenyum pada Lea.
" Bisa aja bunda, masak apa bun?" kata Lea sambil melihat-lihat apa yang di kerjakan bu Elma.
" Ini capcay, itu bahan untuk masak daging, nah yang ini ikan mau di goreng aja, ayah tak suka daging sapi jadi ikannya untuk ayah, sedang daging kesukaan masmu, kamu ingin masak sesuatu? bunda gak tau makanan favorit mu."
" Lea suka semua bun, dagingnya di masak krengsengan ya Bun?" kata Lea karena hapal pada bumbu yang sudah di siapkan oleh bu Elma.
" Waaah benar kata Vian kamu pintar masak, dengan melihat bumbu saja kamu tau itu akan di masak apa."
" Ih bunda, bikin Lea malu aja, Lea bantu masak krengsengan nya ya bunda."
" Boleeeh." kata bu Elma sambil mengaduk capcay.
Dapur sangat luas jadi memudahkan kedua wanita itu saling bantu untuk memasak sarapan pagi itu.
Bu Elma memang mengatasi sendiri untuk masalah masakan kecuali ada keperluan mendesak baru art mereka yang di minta untuk masak.
Tak berapa lama, Vian datang dan langsung pergi ke ruang makan bersama ayahnya.
" Wah kayaknya enak niiih." ucap pak Ahmad.
Lea sedang menata makanan di meja sambil tersenyum.
" Aku lapaaaar." rengek Vian pada Lea.
" Hhhmmm...yang sudah punya calon istri, sudah gak minta makan sama bunda lagi??"
" Ya bunda kan sudah puas mendengar rengekan anak bunda itu." sahut pak Ahmad.
" Hahaha...ya gitu Lea...sikap masmu kalau lapar... mulai sekarang kamu biasakan yaaaa." kata bu Elma lagi, sedang yang di julitin orangnya lagi manyun sambil menarik kursi untuk duduk.
Lea mengambilkan piring untuk dokter Vian kemudian mengisinya dengan nasi serta lauknya lalu meletakkan di depan dokter Vian.
__ADS_1
" Terimakasih sayang."
" Ish mas ah, sungkan sama ayah bunda panggil-panggil kayak gitu." ujar Lea setengah berbisik.
" Biasa aja Lea, bunda maklum kok, bunda kan juga pernah muda." celetuk Bu Elma.
Lea hanya nyengir sedang pak Ahmad dan dokter Vian tersenyum.
" Krengseng dagingnya Lea yang masak lho." lanjut bu Elma.
" Masa? Ayah mau coba dong." kata pak Ahmad sambil mengangkat piringnya.
" Coba deh yah."
Bu Elma mengambil satu sendok krengseng daging dan memindahkan nya ke piring pak Ahmad.
Pak Ahmad mencicipi krengsengan daging yang di masak Lea.
" Hhmmm..iya benar, pas banget rasanya...ingat resto Bu Alena gak Bun yang di perempatan setelah mall XXX itu, tapi sekarang sudah ganti pemilik jadi gak sama lagi rasanya."
" Eh iya benar mirip sekali ya." kata bu Elma setelah mencicipi masakan Lea.
" Itu restoran milik almahumah ibu saya dulu bun." kata Lea tampak sedih.
" Innalilahi wa innailaihi roji'un, oooh...." sahut orang tua dokter Vian berbarengan.
" Sayangnya Lea tak bisa pertahankan resto itu ketika di rebut tante Viola saat ibu Lea meninggal, tante Viola adalah kakak kandung ibu, Lea tak tau persis bagaimana ceritanya yang jelas tante bilang kalau modal dari resto itu milik beliau jadi resto itu otomatis jadi milik beliau."
" Ya sudah nak, ikhlaskan lah, bila memang rejeki mu tak akan kemana, bunda dengar pelanggan-pelanggan resto itu banyak yang kecewa karena rasa masakan sudah tak sama jadi resto itu sudah tak seramai dahulu, malah setengah dari bangunan sudah disewakan pada pengusaha minimarket, supaya sedikit menarik mengunjung."
Lea mendengar nya sambil menghela nafas panjang.
" Lea sudah ikhlas kok bunda, kan masih ada toko obat milik ayah, kalau keluarga dari pihak ayah semuanya baik pada Lea." ujar Lea sambil tersenyum.
" Hmmm....ayo kita makan dulu."
***
" Kamu sudah sehat baby?"
" Iya pa... kita bisa keluar sekarang kan pa?"
" Iya, tadi dokter Dimas sudah bilang kalau kamu sudah bisa pulang, kita ke hotel saja ya baby, apartemen mu masih di pasang police line."
" Iya pa, terus nanti apa aku bisa ke sana untuk mengambil barang-barang ku yang penting."
" Iya nanti papa hubungi polisinya dulu."
Keduanya bersiap-siap untuk keluar dari klinik dokter Dimas.
Setelah mengurus administrasi keduanya keluar lalu menaiki mobil menuju hotel dimana Zoni menginap selama ia di sana.
Setibanya di hotel, Zoni melapor pada petugas hotel kalau dia membawa anaknya untuk menginap, petugas meminta kepastian kalau mereka benar anak dan orang tua, Zoni pun menunjukan fotonya bersama dokter Nala ketika dokter Nala masih SMP.
Percaya saja dengan foto itu petugas hotel mempersilahkan mereka untuk ke kamar mereka.
Zoni pun mengajak dokter Nala ke kamarnya.
Setibanya di kamar, dokter Nala langsung menghempaskan diri ke atas ranjang.
" Hhhhh..akhirnya bisa ketemu kasur empuk, kasur di klinik dokter Dimas keras sekali, bagaimana pasien bisa cepat sembuh, ckck." ujar dokter Nala.
" Haha....kamu itu masih saja suka milih-milih baby." ujar Zoni sambil berbaring di samping anaknya, padahal ranjang di kamar itu ada dua.
" Papa gak kangen Nala?" ucap dokter Nala sambil merebahkan kepalanya di dada papa angkatnya itu.
" Ya kangen lah, tapi kamu kan masih lemah, kamu sendirikan tau kalau papa tak suka permainan sepihak, seperti mamamu."
__ADS_1
" Tenang paaaa....Nala kuat koook.." sahut dokter Nala sambil melepaskan kancing baju sugar daddy nya itu...***...
" Kita jadi berangkat besok kan pa?" kata dokter Nala setelah membersihkan dirinya.
" Iya baby....papa tidur dulu ya, setelah ini kamu order makan siang, kita makan di kamar saja ya." ucap Zoni masih berada dalam selimut nya.
***
Farlan yang tau kalau Fardhan ditahan polisi sangat berang.
" Bodoh...bodoh sekali, harusnya jangan terang-terangan seperti itu, kalau dengan cara begitu jelas di tangkap." ucap Farlan sambil melempar bantal ke lantai.
Dia melihat ke arah kotak yang akan ia kirimkan ke rumah Lea.
" Haaaiish br*ngs*k Fardhan rencana ku jadi kacau, kalau sudah begini aku tak bisa lagi mengirimkan paket secara rahasia lagi, kalau dia di tahan aku tak bisa membuat seolah dia pelakunya..ck!!" ucap Farlan lagi sambil menjambak rambutnya sendiri.
" Pokoknya aku harus bisa gagalkan pernikahan Lea, dia hanya milikku...!!"ucapnya sambil menatap tajam ke arah cermin.
Rupanya Farlan akan melakukan hal yang sama, yang telah dia lakukan pada Farhan, Farhan dia dorong agar jatuh dari lantai atas sedangkan waktu itu yang bertengkar dengan Farhan adalah Fardhan jadilah Fardhan yang disalahkan telah mencelakai Farhan.
" Bagaimana kalau aku culik saja Lea....oke ide bagus.. bagaimana caranya supaya dia mau keluar rumahnya? Sepertinya aku harus pantau kegiatannya dulu."
Farlan tak tahu kalau Lea tak berada di rumahnya dan rumah sudah di jaga oleh kepolisian.
Dari ketiga saudara kembar itu Farlan memang orang yang pintar mengambil hati lawan bicaranya, sedang Farhan seorang yang penyendiri dan penyabar, dan Fardhan yang paling muda dia sangat manja, apapun kemauannya harus di turuti dan didukung oleh kondisi badannya yang lebih parah dari saudaranya.
Saking pintarnya Farlan mengambil hati orang sehingga tak ada yang tau kalau ia punya misi di balik sikapnya.
Dari ketiganya yang paling sering bersama Lea adalah Farlan, dia mengambil keuntungan kalau Farhan sedang memeriksakan kondisinya dan terkadang mengantarkan Fardhan berobat juga, Farhan kira Farlan tulus untuk membantunya karena Farlan sudah punya kekasih yaitu Betty jadi tak mungkin kalau punya rasa pada Lea.
Dan yang parah lagi Fardhan juga suka Lea dan Farlan mengambil keuntungan itu agar kedua saudara kembarnya itu berseteru hingga dialah yang akan menang memiliki Lea kelak, walaupun harus menikah kan Lea dengan Fardhan namun Farlan berniat akan menggeser Fardhan tanpa sepengetahuan Lea.
Cara licik yang pernah mama Erica lakukan dulu.
Mengambil kesempatan dengan miripnya wajah dan postur badan mereka untuk mencuri pasangan saudara sendiri.
Tragis.....Farhan harus kehilangan nyawanya tanpa tau yang jahat sebenarnya siapa.
Farlan tersenyum licik satu persatu sudah sukses ia singkirkan, ia berpikir kalau Lea masih menganggap baik dirinya sehingga kelak akan mudah mendapatkannya kembali.
Tanpa dia sadari perasaan Lea pada dokter Vian sangat kuat, dengan dukungan dari keluarga dokter Vian.
" Farlan.....Farlan...." panggil mama Erica.
" Iya ma...."
" Duh apalagi ini....ck!!" gerutunya sambil menyembunyikan paket yang akan dia kirimkan untuk Lea.
Kemudian dia keluar menemui ibu nya.
" Coba kamu cari cara untuk membebaskan Fardhan, lalu kamu rayu dia agar mau kembali lagi ke Jerman, tolong mama nak, mama tak bisa bayangkan dia seperti itu, nanti dia sakit lagi nak....tolong." rayu mama Erica.
" Iya Farlan juga memikirkan hal itu ma, nanti Farlan akan cari pengacara untuk dia, Farlan akan usahakan supaya Fardhan mau di ajak ke Jerman lagi, mama tenang ya.." ucap Farlan sambil memeluk ibunya namun sambil tersenyum licik.
Dia tak sadar di lantai atas ada yang memperhatikannya, dia adalah papanya sendiri.
Melihat kelakuan Farlan yang seperti musang berbulu domba papa Rudi hanya menggeleng kan kepala nya, tak ada keinginan dalam hatinya untuk meluruskan masalah itu, entah kenapa sejak terpaksa harus bertanggung jawab akan kehamilan adik iparnya yang sekarang menjadi istrinya ia seolah membiarkan ke empat anggota keluarga itu hancur akan perbuatan mereka sendiri, kecuali pada Farhan yang akhirnya dia sesali, ketulusan Farhan membuka pintu hatinya namun terlambat dia menyadarinya saat Farhan sudah menghembuskan nafas terakhir.
Papa Rudi sengaja tak menceraikan ibu dari mba Aisyah karena perjanjiannya pada mama Erica, jika harus menikahinya maka tak boleh memintanya untuk menceraikan Erin, itulah kenapa Erin menjadi stres parah dan harus di rawat di rumah sakit jiwa.
Tak ingin lama-lama melihat kebohongan yang ada di depan matanya, papa Rudi menuruni tangga lain, dan tanpa sepengetahuan Farlan dan mama Erica dia pergi keluar rumah.
" Lebih baik aku mengunjungi Erin dari pada melihat akting anak dan ibu kandungnya itu." gumamnya...
****
Bersambung yaaa.....
__ADS_1