Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 26 Di Balik Tujuan


__ADS_3

Malam menjelang Farlan harus pulang karena ibunya tak boleh di tungguin.


Di rumah dia hanya sendirian, rumah orang tuanya sangat besar namun terasa sempit untuknya, harusnya rumah di isi dengan kebahagiaan namun sekarang semuanya pergi dan itu akibat ulahnya sendiri.


Lama dia merenungkan apa yang telah terjadi, tak terasa ia merasa ngantuk lalu tertidur.


" Hhhmmmm...bagaimana Farlan kau puas??" kata Farhan yang menepuk bahu Farlan.


" Farhan??"


" Jangan kau sesali, terima tidak terima inilah hasil yang kau dapatkan, sebaiknya lebih cepat lebih baik untukmu menyesali dan merubahnya menjadi lebih baik, ada Fardhan yang harus kau bimbing."


" Tap...tapi."


" Bertanggung jawablah Farlan!!" kata Farhan sambil beranjak pergi.


" Farhan....Farhan..." panggil Farlan tersentak dan terbangun.


" Cuma mimpi!?" Farhan melirik jam yang ada di nakas.


" Jam 7??"


Tok..tok...tok.


" Tuan...tuan.."


" Ya??"


" Sarapan sudah siap."


" Ya sebentar."


Farlan bangun lalu berjalan ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, tak lama dia keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan.


Di meja makan terdapat beberapa masakan.


" Tu tuan Rudi tidak pulang ya tuan?"


" Tidak, mulai sekarang aku hanya sendiri, jadi kamu siapkan makanan sedikit saja, itu pun bila aku suruh ya."


" Iya tuan, saya permisi ke belakang."


" Hhmm." Farlan sarapan pagi hanya sendirian, sambil makan ia sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan hari ini.


***


" Akhirnya kamu mau ikut ke sini Nala." kata mama angkatnya sangat senang.


" Iya ma....mama sehat?"


" Ya begini lah Nala, mama harus sering kontrol untuk sakit diabetes yang mama derita."


" Gapapa ma, ada Nala yang akan merawat mama." sahut dokter Nala sambil memeluk mama angkatnya itu, di belakang punggung mamanya ia memandang Zoni dan saling berbalas senyum.


" Kamu tinggal di sini saja ya sayang, tak usah di apartemen."


" Maunya Nala juga gitu ma, tapi Nala ingin mandiri ma, biar terbiasa."


" Hmm...ya sudah mama gak bisa paksa kamu, yang penting mama bisa ketemu kamu terus tanpa mikir terbang ke Indonesia dulu." ucap mama angkat nya sambil tersenyum.


" Iya ma, Nala juga senang akhirnya bisa berbakti pada orang tua yang membesarkan Nala." balas dokter Nala.


" Sudah siang, ayo kita makan siang dulu."


" Iya ma."


Mereka makan siang bersama, Nala lihat ada banyak obat yang di minum mama angkat nya setelah makan siang.


" Semua obat-obat itu cocok dengan mama?"


" Sejauh ini cocok, cuma untuk obat tidurnya kayak nya dosisnya kurang, mama kadang suka migrain jadi susah untuk tidur."


" Mama sudah konsultasikan ke dokter minta di tambah dosisnya?" tanya dokter Nala sambil minum air putih.


" Belum, jadwal kontrol masih seminggu lagi, apa gapapa kalau mama tambahin 1 tablet lagi ya? tadi malam mama gak bisa tidur, oh ya kapan kamu ke apartemen? gimana kalau lusa aja, mama masih kangen sama kamu."


" Iya ma, Nala ke apartemen nya besok aja, coba Nala lihat merk obat tidurnya?" kata dokter Nala sambil mengambil semua obat mama angkat nya.


" Oh yang ini boleh kok ma di tambah dosisnya, nanti Nala resepkan yang dosis di atas ini, untuk sementara pakai yang ini dulu." sahut dokter Nala sambil melirik Zoni.


Zoni hanya menaik turunkan alisnya sambil menoleh ke arah lain.

__ADS_1


" Baik lah, mama minum sekarang, mama mau istirahat, tadi malam kurang tidur."


" Iya ma...nanti Nala akan rawat mama, mama tenang aja." ucap dokter Nala sambil mengelus punggung tangan mama angkatnya itu.


Tanpa pikir panjang istri Zoni itu meminum obat tidur yang sudah tergolong dosis tinggi itu.


Setelah makan siang, dokter Nala berpamitan ke kamar yang sudah di siapkan untuknya, dan kedua orang tua angkatnya juga beristirahat.


Kurang lebih 30 menit lamanya dokter Nala tertidur karena kelelahan, tiba-tiba dia merasakan ada tangan yang meraba tubuhnya.


Dokter Nala membuka matanya dan terbelalak melihat siapa yang melakukan itu padanya, ketika dia hendak berteriak mulutnya di bekap hingga ia tak dapat berontak.


" Kamu pikir bisa lolos dari ku hah?! Diam dan nikmatilah."


Dokter Nala hanya meringis merasakan perbuatan kasar orang yang membekapnya, karena sangat lelah dia tak merasakan kalau tangan dan kakinya di ikat.


" Hahaha....Nala..Nala.kau sungguh naif." seru Zoni yang menyaksikan perbuatan laki-laki yang melecehkan dokter Nala, Zoni memasang kamera di depan mereka dan menyorot perbuatan laki-laki itu.


" Emmm...mmmm?" dokter Nala tak bisa mengeluarkan suaranya karena di bekap.


" Hahaha... jangan kamu pikir apa yang kau lakukan di belakang ku itu benar Nala? Kurang apa aku membiayai hidupmu hah!!"


Mama angkatnya masuk ke kamar dan melihat ke arah Nala, lalu tersenyum.


" Bagaimana sayang?? Nikmat kan??"


" M..ma..mama..." ucap dokter Nala ketika mulutnya terbuka sambil meringis kesakitan.


" Kamu lanjut kan Toni, setelah ini wanita ini harus mau bekerja pada kita untuk menjual obat-obatan, hahaha... sayang kamu mau lihat kelakuan anak-anak asuh kita ini atau bermain dengan ku?"


" Hhhmmm sebaiknya aku main denganmu saja, kamu jauh lebih hebat daripada Nala....haha ayo sayang." ajak Zoni pada istrinya untuk keluar kamar.


" Hentikan Toni, aku mohon!!"


" Diam..." sahut Toni tanpa menghentikan perbuatannya.


Dokternya Nala hanya menangis meratapi nasib, seharusnya dia bersenang-senang namun semua gagal, dia ditipu oleh kedua orang tua angkatnya, ia menyesal mengambil keputusan pergi mengikuti Zoni.


" Sekarang kamu paham kan kenapa kamu di jadikan dokter oleh sugar daddy mu itu hah..." ucap Toni ketika permainannya sudah selesai.


" Otakku tak sepintar kamu jadi aku hanya bisa kuliah di keperawatan saja, namun sayang akibat papa Zoni tidak sabar aku tertangkap menjual obat saat masih kuliah." ujar Toni lagi.


" Sekarang kita harus bekerjasama untuk bisnis ini sayang, karena kita yang akan menggantikan papa dan mama angkat kita kelak." ucap Toni lagi sambil membelai rambut dokter Nala.


" Kamu ikuti saja kemauan papa dan mama, dan kita menikah, jangan membantah, nyawamu tak ada harganya kalau kau membangkang, paham?" jawab Toni mulai lembut.


" Baik lah, toh aku juga bukan orang baik." ucap dokter Nala yang sudah menghentikan tangisnya.


" Bagus.."


Toni melepas ikatan yang ada di tangan dan kaki dokter Nala.


" Apartemen yang di janjikan papa mama itu sebenarnya tidak ada, jadi kita tinggal di sini saja, ingat jangan coba-coba kamu sentuh papa di depan mama, atau kamu mau di siksa oleh mama."


" Iya, kalau sudah ada kamu untuk apa aku mendekati papa lagi."


" Hahaha Nala..Nala...kamu kira aku bodoh hingga tak tau kalau kamu itu mengalami kelainan s**s, kamu tak akan tahan melihat lawan jenis walaupun itu pasien kamu ck...jangan sok setia."


Dokter Nala hanya merengut mendengar ucapan Toni.


" Sudah mandi sana, atau kamu mau aku mandiin." ucap Toni sambil menggoda dokter Nala lagi.


" Ish aku mandi sendiri." kata dokter Nala sambil beranjak pergi ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi dia memandang ke arah cermin, dan tersenyum licik.


***


Hari pernikahan sudah semakin dekat, karena beberapa hari sudah tak ada tanda-tanda gangguan baru dari Toni sedang Fardhan masih di dalam tahanan, maka Lea kembali ke rumahnya.


Paman Sabri sibuk mempersiapkan rumah Lea agar saat pernikahan nanti semua sudah rapi, sudah 2 tahun rumah Lea tak berganti warna catnya, supaya lebih segar paman mengganti warna cat, atas permintaan Lea warna catnya sesuai warna favorit ayahnya.


Bibi Ika juga untuk sementara menginap di rumah Lea, semuanya membantu Lea agar Lea tak merasa sendiri.


" Lusa acara pernikahan mu sudah di gelar Lea, kamu sudah siap lahir batin?" tanya mba Rika.


" Insya Allah siap mba, mba... Lea mau ngomong."


" Ya?"


" Setelah menikah nanti mas Vian akan mengajakku tinggal di rumah baru kami, dia sengaja beli rumah yang tak jauh dari rumah sakit, nah aku ingin mba di sini aja, walaupun nanti mba juga akan menikah tetap lah tinggal di sini ya mba, ajak ustadz Fajar tinggal di sini, rumah ini aku hibahkan pada Ridho."

__ADS_1


" Masya Allah Lea kamu baik sekali, maaf mba gak bisa mempertahankan rumah almarhum kakakmu dulu, jadinya mba merepotkan kamu sekarang." ucap mba Rika sedih.


" Mbaaa....jangan begitu, akukan adiknya mba, surat rumah ini sudah aku urus untuk beralih nama kepemilikan menjadi milik Ridho, mba ikhlas kan?"


" Ya pasti Lea, ustadz Fajar memang sengaja gak beli rumah di kota karena niatnya gak lama di kota, setelah pendidikan anak-anak selesai mungkin akan kembali ke pesantren, namun melihat kemajuan pendidikan, dia berpikir akan sedikit lebih lama di sini, karena sambil menjembatani anak-anak santri untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi."


" Alhamdulilah bagus kalau gitu mba, rumah ini mba jaga untuk Ridho kelak."


" Terimakasih adikku tersayang, kita sama-sama sebatang kara namun kita harus jaga ikatan persaudaraan dengan baik."


" Iya mba." kata Lea sambil memeluk kakak iparnya itu.


" Oh ya kamu sudah fitting baju pengantin?"


" Sudah mba, kemarin sebelum pulang ke sini, mampir dulu ke butik, baju-baju untuk mba dan yang lain sudah di kirim kan?"


" Iya sudah."


" Mba sudah cobain? bagus tidak?"


" Bagus banget, pantes aja butik itu terkenal, calon mertuamu memang pinter ngedesain nya."


" Oh ya mba, mba tau, bunda mas Vian ngasih ide untuk membuka resto lagi seperti punya ibu dulu."


" Yang di rebut tante Viola?"


" Iya, karena bunda dan ayah dulu pelanggan ibu, dan teman-teman ayah banyak yang jadi pelanggan nya, gara Lea masakin krengsengan daging kemarin jadi kangen masakan resto ibu."


" Ide bagus juga itu Lea, toh kamu juga gak begitu repot dengan toko obat milik ayah."


" Kata bunda sejak di pegang tante Viola resto jadi sepi, gak niat mau nyaingin siih cuma pelanggan sudah banyak yang menginginkan agar aku juga buka resto, kemarin sempat bunda mengundang teman-teman nya untuk makan di rumah, dan aku masak tapi gak ngomong-ngomong dulu, jadi tanpa sepengetahuan mereka siapa yang masak mereka dah nebak kalau masakan ku seperti masakan kan resto nya ibu."


" Oh begitu."


" Iya mba, bunda sudah cari tempat untuk buka restoran, gak jauh dari rumah baru kami nanti, jadi aku bisa pantau restorannya, nanti aku akan panggil lagi koki yang dulu membantu ibu, aku dengar mereka semua di pecat oleh tante Viola karena sebagian besar dari mereka mengetahui asal usul modal sebenarnya bukan dari tante Viola, mungkin takut di bocorkan padaku."


" Iya mereka benar Lea, modal resto itu, tante Viola gak ada ikut andil, karena berasal dari ayah dan kemudian mas Azka juga membantu."


" Mba tau ceritanya?"


" Mba tau, cuma mba pikir kasihan kamu kalau harus perang urat syaraf dengan tante Viola jadi lebih baik ikhlaskan aja, lagian antara ayah, mas Azka dan ibu kan gak ada perjanjian hitam di atas putih ya karena keluarga untuk apa bikin perjanjian ya kan??"


" Iya mba benar sekali, tapi gapapa kalau memang rejeki ku bisa memiliki lagi restoran tanpa harus mempertahankan yang lama untuk apa juga aku mencari ribut dengan tante Viola."


" Keluarga dari ibu sudah kamu kabari kan tentang pernikahan mu?"


" Sudah mba, keluarga dari ayah juga sudah, karena om Yahdi yang nanti jadi wali ku, besok keluarga om Yahdi datang, kamar di atas sudah siap."


" Alhamdulilah, semua persiapan sudah selesai berarti, tinggal pelaksanaan saja, semoga lancar."


" Aaamiiin."


Tak terasa asyik ngobrol, adzan dhuhur berkumandang, Lea dan kakak iparnya beranjak menuju kamar masing-masing untuk menunaikan kewajibannya.


***


" Ayah dan ibu yakin akan pergi ke Jerman?" tanya mba Aisyah kepada ayah dan ibunya.


" Yakin nak, kami ingin bersama lagi, sudah banyak waktu kami yang terbuang karena urusan mamamu dan anak-anaknya."


" Baiklah, Aisyah gak bisa larang ayah dan ibu, bagaimana Farlan dan Fardhan?"


" Biarlah mereka tentukan jalan hidup mereka Aisyah, mereka sudah dewasa." sahut papa Rudi.


" Kalau mereka mengganggumu kabari ayah dan ibu ya." ucap Erin.


" Iya ibu, ayah dan ibu baik-baik disana ya, Aisyah tak bisa lihat setiap waktu soalnya."


" Ia nak kamu juga baik-baik disini, jaga rumah tangga kalian ya, Hardan titip anak ayah ya, jangan kau sakiti dia, kalau kau tak mau lagi bersamanya kembalikan pada ayah baik-baik seperti kamu memintanya baik-baik dahulu." ucap Papa Rudi pada menantunya.


" Iya ayah, insya Allah." sahut Hardan.


" Kakek nanti tinggalnya jauh, Hanif jadilah anak yang pintar yaa..." pesan papa Rudi pada cucunya.


" Jaga kandungan mu ya Aisyah, hati-hati di periksa kan dengan rutin, hamil kembar sangat rentan." kata Erin.


" Kamu hamil Aisyah?" tanya papa Rudi.


" Iya ayah, alhamdulillah, Hanif ingin sekali punya adik, selama ini Aisyah tahan dulu karena Hanif sedang sakit, sekarang Hanif sudah sehat jadi Aisyah berani untuk hamil lagi."


" Alhamdulilah, akhirnya cucuku nambah lagi, wah kalau kembar jadi banyak dong."

__ADS_1


" Hahaha." keluarga itu tertawa bersama menikmati kebersamaan mereka sebelum kepergian papa Rudi dan Erin ke Jerman.


Bersambung yaaa.....


__ADS_2