
"Hai...kalian sudah lama?" tanya dokter Sabrina setibanya di apartemen dokter Arnita.
" Lumayan," sahut dokter Tiffany yang duduk berdampingan dengan dokter Arnita, tampak tangan mereka saling berpegangan.
" Woow kamu sudah ikutan rupanya Fan?" tanya dokter Sabrina melihat sikap temannya itu.
" Ya apa salahnya? Hidup-hidup gue, gue yang atur lah, toh orang tua gue lebih parah dari ini," sahut dokter Tiffany sambil mengecup punggung tangan dokter Arnita.
" Maksudmu?" tanya dokter Sabrina.
" Aku malas cerita sekarang, jadi jangan tanya oke....!" ucap dokter Tiffany lagi.
" Oke..oke...!!" sahut dokter Sabrina mengangkat kedua tangannya.
Dokter Arnita tanpa sungkan mengalungkan tangannya ke leher dokter Tiffany.
" Mana Rena? Dia gak datang?" tanya dokter Sabrina.
" Dia sedang sibuk mengurus pernikahannya," sahut dokter Arnita.
" Owh jadi Fany menggantikan posisi Rena nih sama kamu?" tanya dokter Sabrina lagi.
" Tak ada yang saling menggantikan Na, kalau kamu mau kamu boleh join kok," tawar dokter Tiffany.
" Ish kapan-kapan saja lah, aku lagi mikir bagaimana menaklukkan Vian."
" Vian....Vian...Viaaan... lagi... bosan ah, kamu kok penasaran sama laki-laki yang gak normal itu, " sahut dokter Tiffany
" Maksudmu gak normal?"
" Ya gak normallah masa di depan ada cewek seksi gak juga terpengaruh, kalau aku sih sudah kepanasan," sahut dokter Arnita.
" Itu kan kamu, justru kamu yang gak normal, cewek kok kepanasan nya sama cewek, deuh...!!" ledek dokter Sabrina.
" Hahaha....!" tawa dokter Arnita tak peduli akan ledekan temannya.
" Terus bagaimana perbuatanmu mengusili Vian, sudah ada hasilnya?" tanya dokter Tiffany.
" Belum, kayaknya mereka berdua aman-aman aja, tak terpengaruh sedikit pun," jawab dokter Sabrina sambil mengaduk minuman jus yang ada di depannya.
" Aku ingatkan kamu Na, Vian itu bukan orang bodoh lho, kamu lihat Nala, apa pernah sekali aja dia sukses menjebak Vian??" kata dokter Tiffany.
" Bullshit soal tu anak, aku masih di terima dinas di rumah sakit Vian, jutsru berbeda tehniknya, aku pakai cara smart gak cara murahan macam Nala."
Tak memperdulikan temannya berbicara dokter Tiffany mulai merayu dokter Arnita, dokter Sabrina hanya menggeleng melihat kelakuan kedua temannya itu yang tanpa canggung lagi bermain di depannya, sambil mengangkat bahunya dokter Sabrina menyalakan televisi, untuk mengalihkan pandangannya dari perbuatan kedua teman sesama jenisnya itu.
***
Setibanya di rumah Lea segera membersihkan diri dan berganti pakaian dinasnya dengan pakaian rumah.
Dia melihat telpon genggamnya berkedip, lalu ia ambil dan menggeser layar untuk membukanya.
Ada pesan dari suaminya yang mengatakan kalau ia langsung berangkat dinas ke rumah sakit menggantikan dokter Asrof, Lea membalas pesan tersebut.
Malam ini berarti Lea akan sendirian di rumah karena suaminya baru akan pulang besok hari, namun sebelum nya dokter Vian berpesan agar menemani nya saat makan malam, karena ia harus meminum ramuan dari pak Haji sesudah makan malam.
Karena tak ada yang dikerjakan lagi di rumah, Lea gunakan waktunya untuk mengecek email dari paman Sabri mengenai laporan hasil penjualan dari toko obatnya.
Setelah terdengar adzan magrib, Lea ke dapur untuk menyiapkan ramuan yang akan dia bawa ke rumah sakit.
Selesai menyiapkan semuanya, lalu memasukkannya ke botol minuman, Lea bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, dokter Vian berpesan agar langsung ke kantor ayahnya di lantai 5, Lea pun langsung naik lift ke lantai 5 dan menuju kantor ayah mertuanya.
" Assalamualaikum," setelah mengetuk pintu Lea langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
" Wa alaikumsalam," sahut dokter Vian.
Lea kaget ternyata suaminya tidak sendirian di ruangan itu.
" Hai," sapa dokter Sabrina pada Lea sambil membetulkan pakaiannya.
Lea hanya menghela nafas melihat kelakuan dokter Sabrina.
" Kemari sayang," ajak dokter Vian pada istrinya.
" Iya mas, mas sudah makan?"
" Belum, aku nunggu kamu,
" Aku kan gak makan malam mas, kenapa nunggu aku, sudah ayo makan dulu, mau makan di sini atau ke resto?"
__ADS_1
" Makan di sini aja, aku sudah order makanan di resto sebelah."
" Ya udah," ucap Lea sambil menaruh botol minuman di atas meja kerja ayah mertua nya, lalu kembali ke sofa dan duduk di sebelah suaminya.
Dokter Sabrina sama sekali tak bergeming dia ingin mengganggu hubungan Lea dan suaminya secara langsung.
" Vian kamu ikut kan acara seminar dokter bulan depan? Aku dengar acaranya selama 10 hari," kata dokter Sabrina sambil menyentuh punggung tangan dokter Vian yang terletak di sisi sofa.
Dokter Vian menarik tangannya sambil berkata, "Hhmmm..... seperti nya aku gak ikut, dari rumah sakit kita hanya mengirimkan 3 orang dokter saja, yang lain fokus dengan pelayanan pasien."
" Ah sayang sekali, katanya acaranya di selenggarakan di hotel baru di kota xxx lho, hotel baru Vian, masa kamu tidak tertarik?"
" Sejak kapan aku senang menginap di hotel? Hahaha, ada-ada saja, kalau aku ikut, hotel itu dekat dengan rumah om ku, ngapain aku di hotel, lebih baik aku di rumah om ku, kamu gak lupa kan kalau aku anak rumahan, yang gak suka nginap-nginap di hotel, di hadiahin apartemen sama tanteku aja aku gak mau, apalagi hotel."
Dokter Sabrina cemberut mendengar ucapan dokter Vian.
" Kalau gitu aku tak jadi pergi, aku pikir kami ikut pergi,"
" Ya udah, kamu nanti di gantikan yang lain, jangan menyesal ya."
Tak lama ada yang mengetuk pintu kantor, dokter Vian memerintahkan agar langsung masuk saja, ternyata yang datang satpam rumah sakit bersama pelayan dari resto sebelah rumah sakit.
" Pesanan nya pak."
" Oh iya, taruh di meja aja," kata dokter Vian sambil menunjuk ke meja.
" Sorry ya Na, aku hanya pesan buat aku saja," sambung dokter Vian.
" Emang kamu makan malam hanya sendirian?" ucap dokter Sabrina sambil melirik kearah Lea.
" Istriku tersayang ini tidak bisa makan malam, perutnya akan error kalau makan berat di malam hari," ucap dokter Vian sambil membelai hijab yang di pakai Lea.
" Oh," sahut dokter Sabrina merasa kalah, namun tak menyerah.
" Makan dulu mas, nanti telat," kata Lea.
" Iya sayang, " sahut dokter Vian sambil berjalan ke arah meja kerja ayahnya.
" Silahkan pak, saya langsung pamit," ucap pelayan resto itu setelah menyajikan makanan.
" Terimakasih, sudah di bayarkan?" tanya dokter Vian sambil membuka dompetnya.
" Iya, ini untuk kamu," kata dokter Vian sambil memberikan tip buat pelayan itu.
" Oh tidak pak, terimakasih banyak," ujar pelayan itu.
" Jangan menolak rejeki, aku sering repotin kamu mengantarkan makanan ke sini," ujar dokter Vian.
Karena dokter Vian memaksa akhirnya pelayan itu mengambil uang tip dari dokter Vian, lalu melangkah pergi dari ruangan bersama satpam yang mengantarkannya.
Dokter Vian langsung duduk di kursi kerja ayahnya dan menikmati makan malam nya.
Sambil menunggu suaminya Lea membuka laptop milik suaminya, ia asyik sendiri tak memperdulikan keberadaan dokter Sabrina yang sedari tadi sibuk dengan telpon genggamnya sambil sesekali melirik ke arah pasangan itu secara bergantian.
Dokter Vian paham akan maksud dokter Sabrina, ia tak mau ambil pusing, karena Lea bukan tipe wanita pencemburu, jadi menurutnya percuma teman seangkatan nya itu berulah, ia melanjutkan makan malamnya lalu meminum ramuan yang di buatkan oleh istrinya.
" Sayang, aku sudah selesai," ucapnya pada Lea.
Lea berdiri dan membantu suaminya membereskan bekas makannya, dan memasukkan kembali botol minuman yang telah kosong ke dalam tas.
Keduanya seolah mengerti satu sama lain karena ada orang lain di dalam ruangan jadi mereka tak membahas masalah ramuan itu.
" Aku langsung pulang ya mas," ucap Lea.
" Nanti dulu, sebentar lagi, aku...." ucapan dokter Vian terpotong karena ada yang menghubunginya lewat interkom ruangan.
[ Ya dengan dokter Vian (....) baik saya kesana (.....) iya...] gagang interkom di tutup.
" Ada pasien sayang, ya sudah kalau kamu mau pulang, ayo kita ke bawah," ajak dokter Vian.
" Na aku turun ada pasien, keluarlah, ruangan mau aku kunci," usir dokter Vian pada dokter Sabrina.
" Oke," jawab dokter Sabrina, mengikuti pasangan itu berjalan keluar.
Dokter Vian mengunci ruangannya lalu menggandeng tangan istrinya, mereka berjalan menuju lift untuk turun ke bawah.
Di dalam lift dokter Vian tak melepaskan tangannya dari pinggang istrinya, sedang Lea asyik memainkan telpon genggamnya.
Dokter Sabrina hanya memandang kelakuan pasangan itu dengan tatapan sinis.
Lea menunjukan layar telpon genggamnya kepada suaminya, dan dokter Vian melihatnya, sontak dia geram pada apa yang ia lihat, ingin rasanya memaki dokter yang ada di sudut lift namun ia urungkan, karena sekarang bukan waktu yang tepat untuk marah.
__ADS_1
Dokter Vian hanya mengeratkan pegangannya berganti dengan pelukan agar dokter Sabrina makin panas hati.
Dan benar saja, dokter Sabrina terpancing akan apa yang ia lihat di sampingnya.
" Kalian apa tidak malu ada orang lain dalam lift ini?"
" Hah? maksud nya?" tanya dokter Vian.
" Ck kamu gak merasa berpelukan di depan orang lain di tempat umum?"
" Berpelukan? Tidak ah, kalau memeluk iya, kan hanya aku yang memeluk, istriku enggak tuh, dia membelakangi ku, apa penglihatanmu sudah buram?"
" Ish apa kamu sudah tak punya etika?"
" Tak punya etika kalau yang ku peluk bukan istriku, eh kamu kok sewot? Bukannya dulu kamu juga sering pelukan sama dokter Ciko? Padahal tak ada ikatan, di depan orang banyak lagi."
" Kata siapa?"
" Eh fotonya tersebar tau, gak ada yang gak tau hubungan kamu dengan dokter Ciko, bukannya kamu di labrak istrinya setelah kejadian itu kan??"
Ting.... pintu lift terbuka di lantai 2, dokter Sabrina bergegas keluar menghindari pembicaraan dengan dokter Vian, lalu ada yang masuk ke dalam lift hendak turun ke bawah.
" Selamat malam dokter," sapa perawat itu, namun tak menyapa Lea.
Lea menggenggam erat tangan suaminya seolah memberi kode, dokter Vian paham apa yang di maksud Lea.
Ting.... lift sampai di lantai dasar, mereka keluar dari lift, Lea langsung berpamitan untuk pulang, lalu dokter Vian melangkah ke IGD untuk menolong pasien baru.
***
" Sudah aku kirimkan buktinya pada Lea, Lea belum merespon," kata Fico yang kebetulan sedang dinas sore bersama teman-temannya. Tak lama telpon genggamnya berbunyi, Fico langsung mengangkatnya.
[ Assalamualaikum]
[ Wa alaikumsalam, kamu dapatkan bukti dari siapa Fic? ]
[ Suaminya Anya, kebetulan punya kenalan di apartemen yang sama dengan dokter Arnita.]
[ Oh, ya udah, maaf tadi aku gak bisa balas pesan kamu, aku ada di lift bersama suamiku dan dokter Sabrina.]
[ Ngapain dia? bukannya dia tidak bertugas di atas.]
[ Aku gak tau, tadi dia ada di ruangan direktur, aku belum tanya mas Vian, ngapain dia disana.]
[ Sekarang kamu dimana?]
[ Sudah di rumah, baru aja sampai.]
[ Sebentar lagi kami aplusan, kami ke rumahmu ya.]
[ Iya boleh, aku tunggu.]
[ Oke, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.] sambungan diputus.
Tiba waktunya aplusan, Fico dan teman-temannya langsung menuju ke rumah Lea, namun sebelum keluar ruangan mereka, kak Tara memberikan sebuah amplop pada mereka untuk di berikan pada Lea.
Lalu mereka bergegas kerumah Lea.
Setibanya di sana, Lea menyambut teman-temannya mereka langsung duduk di ruang tamu, tak lupa Lea menghidangkan berbagai macam cemilan untuk mereka nikmati.
Fico memberikan amplop yang di titipkan kak Tara pada nya.
" Nih dari kak Tara."
" Apa ini?"
" Entah, coba buka."
Lea membuka amplop itu ternyata isinya sebuah surat dari kak Nilam istri kak Tara.
" Apa-apaan ini, iiiiiiihhh...!!" ucap Lea bergidik geli setelah membaca surat dari kakak kelasnya itu.
" Apa sih?" kata Irma yang lagi asyik mengunyah makanan, lalu mengambil surat yang di lempar begitu saja oleh Lea ke atas meja.
Irma membaca surat itu lalu melakukan hal yang sama dengan Lea tadi.
Fico penasaran ikut membacanya lalu ikut melempar surat itu juga. Inggrit yang melihat teman-temannya melakukan hal yang sama hanya memandang aneh, ia tak ingin ikut membaca surat itu, walau sangat penasaran.
Bersambung yaaa....
__ADS_1