
Hari ini Lea dan suaminya sudah mulai masuk kerja kembali, dokter Vian tidak mengambil giliran piket terlebih dahulu, ia tetap masuk kerja namun hanya di kantor pimpinan rumah sakit saja.
Setelah sarapan pagi Lea dan suaminya langsung berangkat ke rumah sakit, setibanya di rumah sakit, Lea langsung menuju ruangan poliklinik anak, sedangkan dokter Vian langsung masuk lift untuk naik ke lantai 5, bersama ayahnya yang datang hampir bersamaan mereka.
" Bagaimana liburan kalian Vian?" tanya pak Ahmad.
" Seru ayah, Lea bertemu dengan keluarga nya di sana, mereka sudah lama tak bertemu dan sempat terputus hubungan karena Lea kehilangan orang tuanya dan juga kakaknya yang menjadi penghubung antara keluarganya itu."
" Bagaimana bisa sampai putus komunikasi?"
" Ya, kakaknya kan meninggal karena kecelakaan pesawat ayah, jadi nomor kontak keluarga ikut hilang saat musibah itu, dan orang tua Lea juga tak meninggalkan informasi nomor kontak saudaranya itu jadi benar-benar terputus komunikasi mereka, namun mereka tau kalau Lea sudah menikah, hanya saja informasi kami menikah di dapat kan dari Tante Viola jadi mereka tidak mendapatkan informasi yang di inginkan, takut saudara mendiang ibu dari Lea itu memanfaat kan situasi mereka."
" Untunglah kamu memilih Turki untuk tempat berlibur, dengan begitu kamu bisa mempertemukan kembali Lea dan keluarganya."
" Iya ayah, paman Gozali sampai sakit-sakitan karena memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengembalikan modal yang dulu ia pinjam dari mendiang ayah Lea, karena sakit itulah anak-anak nya melarang paman Gozali untuk bepergian jauh."
" Kasihan sekali."
" Iya ayah, tapi kemarin sudah di urus semua, sebagian aset tetap di kelola oleh anak-anak dari paman Gozali, dahulu mereka pergi ke Turki menjadi TKI, lalu tercetus ide untuk berbisnis perhotelan, dan modalnya di bantu oleh mendiang ayah Lea."
" Wah berarti Lea anak dari pengusaha sukses juga ya, benar-benar kamu memilih pasangan yang tepat Vian."
" Iya ayah, tapi Vian tidak melihat itu untuk di jadikan patokan, sebagai wanita Lea benar-benar hebat dan tangguh, didikan dari orang tuanya sukses menjadikan dia seorang wanita yang mandiri, Vian butuh sosok seperti dia di sisi Vian, hampir sama dengan bunda, wanita yang kreatif dan supel."
" Kamu benar, sejauh ini, dia tetap Lea yang dulu sebelum menikah denganmu, tak ada niatnya untuk meminta posisi tinggi setelah menikah, dia tetap bekerja seperti layaknya tenaga perawat biasa, itu yang ayah salut dengannya."
" Bagaimana dengan pembangunan klinik pembantu di daerah yah? Sudah bisa menerima pelayanan?"
" Iya sudah, kemarin peresmian di percepat, ayah di kasih tau bunda mu kalau kamu gak aktifkan telpon genggam mu jadi ayah tidak beritahu kamu kalau klinik di buka lebih cepat dari waktu yang telah di tentukan, kasihan pasiennya sudah sangat membutuhkan fasilitas kesehatan."
" Ya gak masalah ayah, walau Vian tidak datang, yang penting kan pelayanan pada masyarakat."
" Kamu sudah siap untuk menggantikan posisi ayah kan?"
" Tunggu sebentar lagi ayah, Vian ingin fokus pada kesehatan Vian dulu, bila sudah ada kabar baik dari hasil pengobatan yang Vian jalani nah baru Vian bisa memikirkan apakah Vian akan segera gantikan ayah."
" Baik lah, terserah padamu, oke ayah mau ke rumah sakitnya pak Subroto, dah janji ketemu jam 10, ayah berangkat sekarang ya, kamu handle kantor hari ini."
" Iya ayah, hati-hati di jalan."
Lalu direktur rumah sakit itu meninggalkan putranya seorang diri di dalam kantornya.
***
" Duh yang baru datang bulan madu, assalamualaikum," sapa bu Laras ketika baru masuk ke ruang poli anak.
" Wa alaikumsalam bu."
" Eh cerita dong gimana bulan madunya asyik gak?"
" Ya asyik-asyik capek Bu, secara saya hampir gak pernah pergi jauh."
" Selamat pagi, wow yang bulan madu sudah kembali," sapa kak Vino.
" Selamat pagi kak."
" Aku pikir kamu bakal agak lama bulan madunya, setengah bulan gitu, eh cuma seminggu, kenapa? Kalau aku gak bakal puas kalau cuma seminggu."
" Ya...gimana ya kak, soalnya bakal ada acara lagi kan di rumah lamaku, sebentar lagi restoran juga akan di buka, jadi gak bisa lama-lama."
" Oh kamu mau buka restoran?"
" Bukan saya bu, bundanya mas Vian, saya cuma ikut di bagian menu saja."
" Iya mendiang ibumu kan punya restoran dulu, eh terus siapa yang lanjutin restoran ibumu? aku sering lewat sana nampak sepi, yang rame malah minimarket di sebelah nya."
" Kakak kandung mendiang ibu saya bu, mungkin menu berubah rasa, jadi pelanggan pada pergi."
" Wah jadi gak sabar nyicipin menu masakan restoran bu Elma nanti," ucap bu Laras di ikuti anggukan kak Vino.
__ADS_1
" Ngomongin makanan? Ah saya lapar belum sarapan nih," ucap dokter Fandi tiba-tiba masuk ruangan.
" Mau sarapan dulu dok? Belum ada pasien juga, itu saya bawa masakan saya, mungkin dokter berkenan," sahut Lea.
" Boleh lah, dari pada kena maag saya."
Lea memberikan box bekalnya, memang sengaja masak agak banyak supaya di cicipi oleh rekan-rekannya.
Bu Laras dan kak Vino pun akhirnya ikut makan masakan Lea.
" Wah masakan mu memang mantap Lea, pantas lah kalau kamu yang pegang menunya di restoran bu Elma nanti," puji bu Laras.
" Alhamdulilah, kalau ibu cocok rasanya masakan saya, hehe."
Selesai sarapan, mereka pun kembali bersiap untuk melayani pasien.
" Eh kok tumben sampe jam segini kok sepi ya? Biasanya sudah numpuk lho antrian," ucap kak Vino sambil melihat jam tangannya.
" Iya, kenapa ya? Coba kamu cek ke depan Vino, kok aneh banget, tapi kamu jangan tanya bagian pendaftaran ya, kamu keluar aja ke pintu masuk, jangan tanya siapapun, cek di depan ada keluarga yang bawa pasien anak gak," ujar bu Laras.
" Kenapa memangnya bu?" tanya kak Vino.
" Entah filling ku buruk, udah sana."
" Iya bu."
Kak Vino memakai jaket nya lalu keluar lewat arah lain dan berjalan menuju pintu masuk bagian poliklinik.
Sesampainya di depan pintu masuk ia melihat ada beberapa keluarga yang membawa anaknya yang sakit ringan.
" Dokter anaknya gak ada kata petugas pendaftaran, percuma dong kalau gak dapat pelayanan dokter, udah yuk cari fasilitas kesehatan yang lain aja."
" Duh jadi repot kalau begini, kami datang jauh-jauh kesini, malah dokternya gak ada, gimana sih, rumah sakit besar lho padahal, harusnya kan ada dokter penggantinya."
" Iya bu, gimana cari rumah sakit lain?"
" Bentar masih capek, duduk dulu."
" Kata petugas pendaftaran mas," sahut ibu yang sedang duduk sambil menyeka keringatnya.
" Sebentar bu, saya perawat poli anak, saya pinjam anaknya sebentar boleh?"
" Oh masnya perawat? Apa benar dokternya tidak ada?"
" Saya juga bingung kenapa ruang poli kok tak ada pasien yang datang padahal dokter sudah standby, saya pinjam anaknya ya," ujar kak Vino sambil mengambil anak ibu itu dari gendongan ibunya lalu membawanya masuk.
Dengan menggunakan Hoodie dari jaketnya kak Vino berpura-pura jadi orang tua pasien dan ingin mendaftar kan anak itu untuk berobat ke poli anak.
" Bu mau daftar berobat ke poli anak, anak saya sakit," ucap kak Vino sambil memperhatikan siapa yang melayani bagian pendaftaran.
" Maaf poli anak tidak melayani pasien untuk sementara, dokternya tidak ada, mungkin sampai batas waktu yang belum bisa di tentukan," kata petugas pertama.
" Oh, apa tidak ada dokter lain, saya jauh-jauh datang kesini."
" Maaf ya mas, semua dokter di jam segini sibuk, mohon di pahami ya," ucap petugas kedua dengan ketus, ia tak sadar kalau kak Vino merekam pembicaraan mereka.
" Saya bukan tidak paham bu, tapi anak saya sakit, rumah sakit ini kan besar, gak mungkin dokternya gak banyak."
" Eh mas, kalau orang menjelaskan itu di dengar ya, semua dokter sibuk, silahkan cari fasilitas kesehatan yang lain saja!!" sentak petugas pertama.
Kak Vino memberi anak yang di gendong nya pada ibunya yang mengikutinya sedari tadi. Lalu menarik penutup kepala jaketnya ke belakang, sontak petugas pendaftaran itu kaget karena tadi kurang jelas melihat wajah kak Vino.
Tanpa banyak bicara petugas itu langsung mencatat pasien anak tersebut dan memberikan berkas pasiennya langsung pada kak Vino, tanpa berani memandang ke arah wajah kak Vino.
" Bu ini bawa ke ruang poli anak ya, di sana ibu sudah di tunggu, saya tidak antarkan ibu ya, ada sedikit yang mau saya selesaikan," kata kak Vino.
" Terimakasih mas, saya ke ruang poli anak," sahut ibu itu sambil membawa anaknya menuju ruang poli anak.
" Kalian berdua ikut saya!!" tunjuk kak Vino pada kedua petugas pendaftaran untuk ruang poliklinik itu.
__ADS_1
Dengan ketakutan keduanya mengikuti langkah kak Vino. Kak Vino meminta salah satu satpam memanggil petugas administrasi lain untuk menggantikan posisi kedua petugas yang ia bawa. Kebetulan satpam rumah sakit mereka juga terlatih untuk melayani di bagian pendaftaran jadi dengan satu orang bagian admin dan satu orang satpam cukup untuk membantu bagian pendaftaran agar pelayanan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
" Kak maaf kami mau di bawa kemana? Maafkan kesalahan kami tadi kak, kami hanya di suruh," ucap salah petugas itu mulai terisak.
Kak Vino tidak menyahuti ucapan petugas itu, ia tetap berjalan menuju ruangan yang di biasa di pakai untuk rapat darurat para karyawan rumah sakit.
Setibanya di ruangan itu, kak Vino memerintahkan mereka untuk duduk di salah satu kursi di sana.
" Kalian tunggu di sini, sambil memikirkan tindakan kalian tadi, dan siapkan jawaban kalian, pastikan untuk memberikan jawaban yang masuk akal, aku tinggal, jangan coba-coba untuk keluar,nasib kalian bergantung pada keputusan direktur, paham!!"
" I...iya kak, ta....tapi kak, kami hanya di suruh," ucap salah satu petugas itu sambil menangis.
" Ya kamu jawab aja nanti, dan pastikan kalian jujur!!" ucap kak Vino sambil berbalik melangkah keluar dari ruangan itu, lalu menyuruh satpam untuk menguncinya agar keduanya tidak melarikan diri.
Kak Vino kembali ke ruang poli anak, di sana sudah banyak pasien yang mengantri, lalu ia masuk ruangan dan mulai membantu pekerjaan Lea dan bu Laras.
Hingga jam pelayanan selesai kak Vino belum membuka suara tentang apa yang di hadapi tadi pagi.
Usai merapikan kembali semua alat-alat yang mereka pakai untuk melayani pasien, seperti biasa mereka duduk-duduk dulu menghilangkan lelah.
Kak Vino mulai membuka telpon genggamnya dan mengecek video yang ia ambil tadi, lalu mengirimkan video itu ke grup yang mereka buat sebelumnya.
" Bu, Lea dan dokter, cek grup ya, saya kirim video barusan," ucap kak Vino.
Semuanya mengikuti apa yang di katakan oleh kak Vino.
" Lho kok??" ucap bu Laras setelah melihat isi video itu.
" Berani sekali mereka!!" sentak dokter Fandi.
Lalu dokter Fandi mengirimkan lagi video itu pada dokter Vian.
" Siapa orang di belakang mereka ya?" ucap dokter Fandi.
" Entah dok, saya cuma kurung mereka di ruang rapat bawah."
" Oke, Vian akan turun, aku akan kesana, Vino cukup kamu aja yang ikut nanti ya, gak usah banyak-banyak orang."
" Baik dok."
Tak berapa lama dokter Vian masuk ke ruang poli anak.
" Sekarang bang," kata dokter Vian pada dokter seniornya itu.
" Oke, ayo Vino."
" Iya dok."
Mereka bertiga melangkah menuju ruangan di mana petugas itu di kurung oleh kak Vino.
Namun setibanya mereka di ruangan itu, kedua petugas itu sudah tidak ada di tempat.
" Kemana mereka!!" sentak dokter Vian.
" Vino panggil satpam cepat!!" perintah dokter Fandi.
" Tunggu bang, gak usah, kita ke ruangan ku, kita cek rekaman CCTV," ujar dokter Vian.
" Oke, ayo."
Mereka lalu berjalan menuju ruangan pribadi dokter Vian yang berada di belakang IGD menyendiri dan terpisah dari bagian instalasi lain, di ruang itu tak boleh ada yang masuk, hanya dokter Vian yang memegang kuncinya.
Tiba di ruangan pribadinya, dokter Vian membuka pintu lalu mengajak dokter Fandi dan Vino masuk.
Mereka bertiga mengecek rekaman CCTV tambahan yang terpasang di beberapa tempat. Mereka khawatir CCTV yang lain akan di sabotase jadi mereka memasang kamera CCTV tambahan lagi agar bisa di bandingkan dengan hasil rekaman dari monitor yang ada di ruangan khusus satpam.
" Kurang ajar!!" sentak dokter Vian melihat hasil rekaman CCTV tersebut.
***
__ADS_1
Hhmmm.....siapa ya??
Bersambung nya...