Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 23 Tak Terima ??


__ADS_3

" Iya mas." Lea menelpon kakak iparnya memberitahukan kalau akan ada tamu dari kepolisian ke rumah mereka malam ini, tak lupa dia beritahukan kalau dia tak jadi dinas malam dan pergi ke rumah orang tua calon suaminya demi keamanan.


Mba Rika sebenarnya tak setuju Lea pergi dan menginap di rumah calon suaminya namun setelah Lea menjelaskan akhirnya mba Rika membolehkan nya.


" Gimana?" tanya dokter Vian.


" Sudah, tadi Lea fikir lebih baik kita ke toko obat aja, di sana juga ada kamar masih kosong, tapi Fardhan juga tau toko itu, dia pasti cari aku kesana kalau tak bisa menemui ku di rumah."


" Ehm kamu benar, ya udah kita cari aman saja."


Mobil pun melaju menuju rumah orang tua dokter Vian.


Setibanya di rumah, mobil di parkirkan lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum." ucap mereka berdua.


" Wa alaikumsalam." sahut orang tua dokter Vian yang kebetulan lagi duduk di sofa ruang tamu.


" Lho kok ke sini gak ke rumah sakit."


" Fardhan saudara kembar almarhum kekasih Lea dulu menunggu Lea di rumah sakit bun, dia mendengar kalau Lea akan menikah denganku, nampaknya dia tak terima." kata dokter Vian.


" Apakah berbahaya?"


" Menurut Vian iya bun, kemungkinan dia akan nekat, padahal Lea sudah tolak dia berkali-kali, tak apa demi keamanan Lea di sini aja bun, nanti Vian akan menginap di rumah baru Vian."


" Ya kamu benar, sebentar bunda siapkan kamar untuk Lea dulu." kata bu Elma.


" Lea bantu bun." sahut Lea mengikuti calon mertuanya.


" Aku langsung ke rumah sakit ya, nanti Asrof kelamaan nunggu aku datang."


" Iya mas, hati-hati."


Dokter Vian berpamitan pada orangtuanya, lalu pergi ke rumah sakit.


Lea di ajak bu Elma ke lantai atas.


" Kamu di kamar ini ya Lea." ucap bu Elma.


" Iya bun, maaf bun Lea jadi ngerepotin."


" Udah gapapa." kata bu Elma sambil membuka bed cover.


" Sebentar bunda ambilkan baju rumah milik kakak Vian ya."


" Iya bun."


Bu Elma ke luar dan masuk ke kamar sebelah mengambil beberapa potong pakaian milik menantunya di kamar itu, lalu kembali lagi.


" Ini, kamu pakai aja, ini masih baru kok, besok bunda ambilkan beberapa baju lagi di butik, kamu gak usah kemana-mana dulu sampai acara pernikahan kalian di gelar." kata bu Elma.


" Iya bun."


" Sudah malam, istirahat lah dulu."


" Iya bun."


Bu Elma keluar meninggalkan Lea untuk beristirahat.


Sampai di lantai bawah.


" Ayo yah kita istirahat juga."


" Iya bentar." kata pak Ahmad yang sedang menerima sambungan telpon.


[ Lalu?.......Kalau berbahaya kamu laporkan yang berwajib aja ..........oh sudah?......oke besok di urus lagi, kamu dinas aja dulu ... iya... iya..Lea sudah di kamar dan beristirahat.....iya ayah gak akan bilang dia..... iya kamu hati-hati... Wa alaikumsalam.] Tut... panggilan terputus.


" Ada apa yah?"

__ADS_1


" Fardhan mengamuk, menanyakan Lea pada Vian, karena ia tak melihat Lea bersama Vian, dia meminta Vian untuk melepaskan Lea untuk nya, Satpam sudah menangkapnya dan melaporkan kejadian tadi ke polisi, jadi Fardhan di bawa ke kantor polisi sekarang."


" Tapi Vian baik-baik aja kan?"


" Iya, dia baik-baik aja karena sebelumnya satpam sudah di beritahu oleh Tara perawat di ruangan Anyelir yang menggantikan dinas Lea, Tara meminta satpam untuk berjaga-jaga mencegah bila Fardhan akan menyerang Vian."


" Oh kok nekat sekali ya dia."


" Ya gitu kalau orang tak rela orang yang di inginkan justru memilih bersama orang lain, tapi yang ia lakukan ini benar-benar keterlaluan."


" Kita harus hati-hati lagi yah, sudah kita istirahat saja, yang penting anak-anak aman."


" Iya baiklah."


Keduanya beranjak ke kamar tidur untuk beristirahat.


***


" Kamu sudah makan baby?" kata Zoni.


" Sudah pa.."


" Sepertinya kamu sudah membaik, apa kamu mau kalau kita berangkat ke Australia besok lusa?"


" Iya pa, boleh makin cepat makin baik, tapi gimana disana pa, masa aku tak bekerja?"


" Tenang kamu nanti papa rekomendasi kan untuk bekerja di bagian kesehatan perusahaan papa saja, dan apartemen untukmu juga sudah papa siapkan, papa sudah bilang sama mama kalau kau akan ikut ke Australia, dia senang sekali karena sejak dulu ia ingin sekali agar kamu ikut kami, tapi papakan gak bisa bebas bersamamu jadi papa beralasan kalau kamu meminta di Indonesia saja."


" Papa ih..." sahut dokter Nala sambil bermanja-manja.


" Sudah malam, papa ke hotel dulu ya sayang, kebetulan ada pertemuan sama klien, dia mau berangkat Jerman besok pagi, jadi waktunya gak banyak."


" Iya pa."


Zoni mengecup kening anak peliharaanya sejenak lalu pergi keluar ruangan.


" Papa kau sungguh naif...aku akan kuasai papa nanti, dan mama akan singkirkan.... hahaha." gumam dokter Nala kesenangan, bila dia bisa kuasai sugar daddy nya itu dia akan punya kekuatan untuk menyingkirkan orang-orang yang tak suka padanya selama ini.


[ Ya selamat malam.]


[ Kurang ajar kamu Nala!! Kamu jebak aku hah? Kamu mau cari masalah denganku!!]


[ Hei siapa kamu?? Main bentak aja.!]


[ Aku Toni, kamu belum pikun dengan suara ku kan?]


[ Ka kamu...lolos?]


[ Hahaha...kamu fikir semudah itu polisi bisa menahanku hah!!]


[ Ap...apa yang mau kamu lakukan!! ]


[ Tenang aja sayang, kamu akan lihat nanti, untuk sementara kamu bisa tenang dulu..aku harus menghilang dulu, kalau sudah aman untukku keluar aku akan cari kamu hahaha.]


[ Terserah!! ] sahut dokter Nala langsung menutup sambungan telpon nya.


" Huuuufff....bagaimana ini bertambah lagi masalahku.... ck biarlah aku urus nanti saja, sementara mungkin Toni gak akan berani muncul karena ia di kejar polisi, huufff.... benar-benar menjengkelkan, tau begini aku tak akan suruh dia ikut andil menjauhkan Lea dari Vian....sial!!" ujar dokter Nala melempar telpon genggamnya ke atas kasur, lalu merebahkan diri nya, malam makin larut akhirnya dia tertidur.


Dini hari dokter Dimas mengecek keadaan dokter Nala, di temani satu orang perawat di kliniknya, dokter Dimas mengambil kamera pengawas yang ia letakkan di ruangan itu, menggantinya dengan yang baru lalu pergi keluar.


Di ruangan nya dia mengecek hasil rekaman video di kamera itu, lalu mengirimkan nya kepada dokter Roy lewat email.


" Zam kamu beritahu perawat lain untuk tetap mengawasi gerak gerik dokter Nala ya, larang siapapun yang hendak menemui nya kecuali pak Zoni, jangan sampai klinik ini menjadi tak aman gara-gara mereka, oh ya kalau orang yang datang dari kepolisian kamu bilang saya dulu." perintah dokter Dimas pada perawat tadi.


" Baik dok."


" Sudah, kalau pasien aman kamu dan yang lain istirahat saja."


" Iya dok terimakasih."

__ADS_1


Perawat itu keluar dari ruang dokter Dimas dan kembali ke ruang khusus perawat.


***


Keesokan harinya, polisi mengabarkan pada orang tua Fardhan kalau anaknya di tahan polisi.


Dengan kemarahan yang sangat besar orang tua Fardhan mendatangi kantor polisi untuk melihat anaknya.


Setibanya di kantor polisi, Fardhan di beri izin untuk menemui orang tuanya.


" Apa yang kamu lakukan sampai kamu di tahan seperti ini Fardhan? Apa sudah hilang akal sehat mu hah!!" sentak papa Rudi.


" Pah sabar dulu, dengarkan anaknya dulu." sahut mama Erica.


" Kami juga ma? Takut kehilangan anak boleh lah, tapi kalau cara didik kamu seperti ini, anak-anak mu tak ada yang bisa berjalan lurus, paham kamu! Lihat...lihat dengan matamu apa yang bisa di banggakan dari anak macam dia?" sentak papa Rudi sambil menunjuk wajah Fardhan.


Mama Erica hanya bisa terisak melihat nasib anaknya.


" Fardhan kenapa nak, apa bisa kamu gak bikin malu mama nak, apa salah mama dalam membesarkan mu nak?"


" Ma...Fardhan cinta Lea...ma, Fardhan hanya mau Lea ma, buat Lea menerima Fardhan ma...pleeease..."


" Lea...Lea...Lea... terus...mama benci Lea.... kalau kamu masih ingin kan Lea, kamu akan mengubur jasad mama, paham kamu!!" sentak mama Erica sudah tak tahan lagi.


" Mama....mama....jangan ma..." teriak Fardhan ketakutan.


" Dengar ya Fardhan, untuk menghadirkan kamu di dunia ini, mama bersedia berbuat hal yang memalukan, mama rebut papamu dari orang lain, mama jahat..mama jahat, mungkin balasan dari dosa mama hingga mendapat anak yang tak tahu diri seperti kamu!! mama sudah rayu kamu habis-habisan supaya melupakan Lea, namun kamu meminta hal yang tak mungkin pada mama, seolah Lea itu boneka yang di pajang di toko seenaknya kamu minta mama bawakan untuk mu, ambil saja nyawa mama Fardhan!!" ucap mama Erica sambil memukul dadanya sendiri.


" Ma....apa yang mama katakan?"


" Ya kamu dengar ya baik-baik, ibu dari mba Aisyah adalah saudara kembar mama, dan mama merebut suaminya dari saudara kembar mama itu hingga dia sakit jiwa, kamu mau mengulang lagi kesalahan mama itu nak, Farhan sudah kehilangan nyawanya nak... sadar lah... ya Allaaah besar sekali dosa hamba.....ampuni hamba ya Allaaaah." teriak mama Erica sambil menjambak rambutnya.


" Mama.....???" seru Fardhan syok atas apa yang ia dengar.


" Kau puas sekarang mama Erica...kau nikmati karmanya!!" sentak mba Aisyah yang kebetulan datang ke kantor polisi dan melihat ketiganya.


" Aisyah...Aisyah maafkan mama.... mama sudah buat ibumu menderita.." kata mama Erica sambil mendekati mba Aisyah, namun mba Aisyah mundur tak mau di dekati.


" Sampai ibu ku kembali sehat, aku tak akan menerima perbuatan mama, anak-anak mama adalah hasil didikan mama sendiri, bahkan ketiganya memperebutkan satu orang wanita, seperti mama merebut ayah dari ibu ku, pokoknya aku tak terima perbuatan mama dulu, dan hebatnya lagi anak mama sampai ada yang meregang nyawa demi mempertahankan cintanya agar tak di rebut, tapi terimakasih... dengan meninggalnya Farhan, mama bisa memberikan jantungnya untuk anakku!! mama tau kenapa anakku sampai mengalami kerusakan jantung?? karena saat hamil aku stress memikirkan ibuku yang harus di rawat di rumah sakit jiwa, ini akibat perbuatan mama!!" amuk mba Lea pada ibu tiri yang juga tantenya itu.


" Apa...apa..pah...apa ini maksudnya?"


" Ya benar yang Aisyah katakan, aku donorkan jantung Farhan untuk Hanif anak Aisyah, sebagai ungkapan penyesalan ku dan Farhan, sebelum meninggal dia berpesan untuk memberikan jantungnya pada keponakannya, untuk menebus dosa perbuatanmu."


" Huhuhu....Farhaaaan.... maafkan mama naaaak...!"


" Maaf, mohon kalian tertib di sini ya, di sini kantor polisi bukan di rumah kalian, tolong jangan ribut." ucap salah seorang polisi.


" Maaf pak, saya hanya ingin melihat mama Erica sadar akan perbuatannya." sahut mba Aisyah sambil melangkah keluar kantor polisi.


" Ayo ma, kita pulang."


" Anak....anak ku bagaimana pah."


" Biar dia di tahan, biar dia renungi perbuatannya."


" Tapi pah, aku takut sakitnya kumat."


" Terserah kamu, aku pulang." sentak papa Rudi sambil berjalan keluar.


" Pah...papah...Fardhan...mama gak bisa bantu kamu nak, maafkan mama." ucap mama Erica sambil memeluk anaknya lalu melepaskannya dan melangkah menyusul suaminya.


Fardhan hanya memandang kepergian orang tuanya dengan rasa sedih dan kesal.


" Ayo kamu kembali ke dalam sel, gunakan waktu di dalam sel untuk merenungi perbuatanmu lagi." kata seorang polisi sambil menarik lengan Fardhan.


Fardhan kembali ke dalam sel dan duduk di pojok ruangan sambil menekuk kakinya, ia harus merasakan dinginnya ruang sel hanya karena perbuatan yang tak masuk di akal.


***

__ADS_1


Bersambung yaaa.....


__ADS_2