
Jam 20.30 waktunya aplusan dengan perawat dinas malam, Lea sudah menyelesaikan laporan pasien lalu menyerahkan nya pada perawat yang melanjutkan tugas mereka.
" Selamat ya Lea, kamu akan menikah dengan dokter Vian." kata Nina, Nina kakak seniornya saat kuliah dulu.
" Iya kak." sahut Lea sambil tersenyum.
" Aku maklum.kalau kamu nikah sama dokter Vian, dulu aja yang ngejar kamu kebanyakan para dokter.
" Ah itu sih mereka aja yang gitu kak."
" Selamat lho Lea, jadi istri calon direktur deeeh." goda Tara perawat satu tim dengan Nina.
" Makasih bang Tara, oh ya bang selamat atas kelahiran baby boy nya yah, maaf Lea belum sempat jenguk."
" Iya kamu nya gak jenguk tapi kado dah nyampe..hihi..istriku suka, kamu dapat salam darinya, oh iya hampir lupa, ini ada surat dari istriku, penting katanya, entah tentang apa, aku tanya dia bilang rahasia wanita gitu." kata Tara senior Lea juga, sambil memberikan sepucuk surat untuk Lea dari istrinya.
Lalu Lea dan teman-temannya berpamitan untuk pulang, setelah turun menggunakan lift, kemudian berjalan keluar menuju parkiran dan mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sampai di rumah, Lea masuk ke dapur meletakkan peralatan makan yang ia bawa tadi siang, suasana rumah sudah sepi karena mba Rika dan Ridho sudah tidur.
Hanya bibi Lala yang belum tidur, karena menunggu kedatangan Lea untuk membukakan pintu Lea.
Lea pergi ke kamar tidur setelah menyuruh bibi Lala untuk beristirahat.
Di kamar Lea langsung membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu merebahkan tubuhnya, karena sudah lelah ia harus beristirahat, tak lupa ia membaca do'a dan beberapa surat pendek agar tidurnya nyaman dan nyenyak.
***
Keesokan harinya Lea sudah sibuk dengan email yang di kirimkan paman Sabri, beberapa hari ini Lea memang tak sempat mengecek nya, lalu ia teringat pada surat yang di berikan oleh seniornya.
Ia pergi ke kamar untuk mengambil tas yang biasa ia bawa dinas.
Kemudian kembali keruangan kerjanya.
Mba Rika melihat Lea mondar mandir jadi penasaran ikut masuk ke ruang kerja almarhum mertuanya itu.
" Ada apa sih Lea kok sibuk sekali."
" Ini mba kemarin aku di kasih surat oleh istri seniorku, ya dia seniorku juga cuma memilih gak kerja di rumah sakit, ia hanya kerja di klinik aja."
" Oooh, apa isi suratnya?"
" Entah mba, katanya rahasia."
" Wah kalau gitu mba keluar aja, oh ya mba mau ajak Ridho jalan-jalan keluar ya, kami mau ke taman kemarin, mumpung hari Minggu."
" Iya mba pergilah, pakai saja mobilku, aku gak kemana-mana, nanti aku dinas malam di jemput mas Vian."
" Oke, aku pergi, assalamu alaikum."
" Wa alaikumsalam, hati-hati mba."
" Iya." kata mba Rika sambil melangkah keluar.
Lea menghela nafas sambil membuka surat dari seniornya itu.
Assalamualaikum Lea.
Terimakasih kadonya, aku suka, Lea aku mau kasih tau kamu soal dokter Nala, kamu pasti ingat kan? Hati-hati dia licik, dia menyuruh Toni untuk mengganggu mu, aku tau dari Toni karena dia sibuk mencari info tentang kamu, kamu masih ingat kalau Toni tergila-gila sama kamu kan? Sebenarnya aku mau kasih tau ke kamu langsung tapi aku takut ketahuan sama Toni kalau aku menemui kamu, dia melarang ku untuk memberitahu kamu, jadi lebih aman kalau lewat surat aja, kamu simpan surat ini baik-baik atau musnahkan saja untuk lebih amannya, oke sementara itu dulu informasi dariku, nanti kalau ada info lagi aku kan kasih tau kamu, oh ya selamat atas pernikahan kamu nanti ya, semoga di lancarkan sampai hari H.
Wassalamu'alaikum.
" Hhmmm berarti paket-paket itu kemungkinan besar dari kak Toni.
Toni juga salah satu seniornya saat kuliah namun dia drop out saat awal-awal semester lima karena tersandung kasus penyeludupan obat terlarang.
Lea mengambil telpon genggamnya untuk mengirim pesan pada dokter Vian, tentang surat yang ia terima.
Dokter Vian mengatakan ia akan ke rumah Lea untuk melihat surat itu.
" Non ada paket lagi baru saja datang." kata bibi Lala sambil menaruh sebuah box di atas meja kerja Lea.
Lea menghela nafas, ia berniat membukanya setelah dokter Vian datang.
Tak berapa lama dokter Vian datang mengajak serta istri temannya dan satu orang bawahannya.
Lea sudah memberitahu bibi Lala kalau calon suaminya akan datang jadi mereka langsung di persilahkan masuk oleh bibi Lala.
" Assalamualaikum sayang."
" Wa alaikumsalam mas."
" Ini perkenalkan Iptu Sharmila dan bawahannya."
" Selamat siang bu Lea." sapa Iptu Sharmila sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
" Siang bu, panggil Lea aja." sambut Lea.
" Kalau gitu panggil saya Mila aja, perkenalkan bawahan saya Briptu Tiar." kata Iptu Sharmila kebetulan hanya memakai pakaian preman hingga tak tampak seperti seorang polwan.
" Mari silahkan duduk Mila, mba Tiar." ajak Lea ke sofa di ruang kerjanya.
" Ini mas, baru datang lagi paketnya, dan ini suratnya." kata Lea sambil membawa kotak paket dan surat dari kakak seniornya.
" Kamu pernah bertemu lagi dengan Toni ini?"
" Sudah lama tak bertemu mas, sejak dia di DO waktu kuliah dulu."
" Terus istrinya Tara dinas dimana?"
" Di klinik dokter Roy Andreas."
" Dokter Roy itu pamanku adik sepupu bunda."
" Kalau memang benar tujuan dokter Nala menyuruh Toni untuk mengganggu Lea, berarti kita harus ikuti dokter Nala, kemungkinan mereka pasti terus berhubungan." Kata Mila.
" Tiar coba kamu suruh, Briptu Hasbi dan Bripda Agus untuk menyelidiki dimana dokter Nala dan siapa saja yang berhubungan dengan nya." perintah Mila pada bawahannya.
" Siap bu." Briptu Tiar keluar ruangan untuk menghubungi kedua rekannya itu.
" Kira-kira ada lagi gak yang kamu curigai selain Toni Lea?"
" Ada dia saudara kembar mantan pacarku, beberapa waktu lalu dia di bawa secara paksa oleh orang tuanya ke Jerman, namun kemarin orang tuanya menemui ku untuk menanyakan keberadaan anaknya yang kabur kembali ke Indonesia, namun sudah kurang lebih 1 minggu dia di sini tapi aku tak pernah sama sekali bertemu, ya bisa jadi dia melihat ku dari kejauhan saja, entah lah."
" Kotaknya sebaiknya di buka saja." ujar Mila.
" Iya Mila." Lea mengambil cutter untuk membuka selotip penutup kotak itu.
Satu persatu barang yang ada di dalam kotak di keluarkan oleh Lea.
Ada beberapa lembar foto dan sepucuk surat, ada beberapa kotak coklat kesukaan Lea.
" Fix sudah ini dari Fardhan, hanya kembar tiga itu yang tau coklat kesukaan ku, dan foto-foto ini di ambil saat di pantai ketika mereka saling bertukar posisi." ucap Lea.
" Paket yang lain mana?" tanya dokter Vian.
" Oh iya, itu di atas meja dekat jendela."
Lea akan mengambil paket-paket itu namun Mila dan juga dokter Vian malah mengikuti Lea berjalan ke arah meja yang berada dekat jendela.
Di dalam kotak-kotak itu berbagai macam benda yang tak di pahami oleh dokter Vian.
" Jadi kemungkinan pengirim nya dua orang?" ujar Mila.
" Sepertinya begitu." sahut Lea.
" Briptu Tiar coba cek kartu nama penjual bunga itu, dimana posisi tokonya." perintah Mila setelah Briptu Tiar masuk kembali ke ruangan.
" Non...ada tamu di depan." kata bibi Lala setelah mengetuk pintu ruang kerja Lea.
" Siapa bi?"
" Non Aisyah."
" Oh, mas di sini aja ya, kayaknya mba Aisyah mau bahas tentang adiknya."
" Siapa adiknya?"
" Fardhan, nanti aku ceritakan, aku keluar dulu."
Lea keluar dari ruang kerja nya menemui mba Aisyah yang sedang duduk di teras rumahnya.
" Masuk yuk mba." ajak Lea.
" Disini aja Dara, oh ya kamu ada tamu?"
" Iya mba, tapi gapapa kok, ada apa ya mba?"
" Dara kemarin orang tua Fardhan datang ke rumah, maaf ya...mba tak bercerita kepadamu kalau ayah Fardhan adalah ayah ku juga."
" Tak apa mba, mba punya hak untuk tidak menceritakannya."
" Mereka mencari Fardhan, namun aku bilang aku tak tau menahu soal Fardhan, padahal seminggu ini tiga kali dia kesini, untuk mencarimu, namun tak berani langsung ke rumah mu, dia memaksaku untuk menyatukan kalian kembali, aku tak bilang kalau kau juga akan menikah, aku takut dia akan berbuat nekat padamu, jadi aku tak mau membantunya, sebenarnya Lea, Farhan sempat sadar waktu di rumah sakit, dia hanya berbicara kepadaku, untuk melindungi kamu dari saudara kembarnya yang lain, selama kalian bersama mereka selalu memaksa Farhan untuk memberikan waktu agar bisa bersama mu, itu makanya hampir tiap hari kalian seolah selalu bertemu, itu pun di saat Farhan sedang berobat rutin, Farhan tak enak hati padamu itu lah makanya dia semakin tertekan dan akhirnya tak kuat lagi, mereka bertengkar hebat dan Farlan mendorongnya tapi tak sadar kalau Farhan berada di ujung tangga....dan kemudian terjatuh dari lantai atas, aku lihat Fardhan menaruh beberapa kotak paket ke depan rumahmu, mungkin kamu sudah menerimanya, mba cuma mau bilang hati-hati."
" Iya mba, terimakasih sudah mengingatkan ku."
" Fardhan bersembunyi di apartemen xxx, aku beritahu kamu agar menghindari pergi ke apartemen itu andai ada keperluan ke sana."
" Oh iya mba."
" Udah itu aja, mba masak rawon gak bisa lama-lama ngobrol, nanti kalau ada informasi lagi mba akan kabari, masalah cerita ada apa dan kenapa kok bisa mba ini anak dari papa mereka, kapan-kapan saja ceritanya, butuh mental kuat soalnya menceritakan hal itu."
__ADS_1
" Iya mba gapapa."
" Mba pulang ya, assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam."
Sepeninggal mba Aisyah, Lea kembali masuk ke dalam rumah dan masuk ke ruang kerjanya.
" Bagaimana?"
" Fardhan juga mengirimkan paket untuk ku mas."
" Hmm jadi benar paket-paket itu dari dua orang." sahut Mila.
" Izin Bu, briptu Hasbi menyampaikan kalau dokter Nala berada di apartemen xxx." kata Briptu Tiar.
" Itu apartemen yang sama dengan apartemen Fardhan." kata Lea.
" Kamu tau?" tanya dokter Vian.
" Tadi mba Aisyah bilang dia sembunyi di sana."
" Oke kalau gitu, nanti kami akan selidiki sekalian, kami pamit ya, sebentar lagi jam makan siang, aku gak bisa lama-lama, tadi cuma pamit sebentar aja sama suamiku."
" Oke Mila, terimakasih ya, maaf sudah aku jadi merepotkan mu." kata Lea.
" Tak apa, kalau memang benar Toni pelakunya kami bisa menangkapnya sekalian, karena namanya tercatat sebagai DPO, dia sangat licin hingga susah untuk di tangkap."
" Oh berarti dia masih menyeludupkan obat terlarang?"
" Iya benar, kami pamit ya, kalau ada info baru, jangan sungkan kabari aku, nomor kontak ku ada pada Vian, Vian kamu kasihkan nomor ku pada Lea ya."
" Oke..oke..." sahut dokter Vian.
" Oke...pamit assalamu alaikum."
Mereka berjalan keluar, Mila dan bawahannya pergi, sepeninggal mereka, Lea mengajak dokter Vian untuk makan siang bersama.
Keduanya berjalan menuju ruang makan, di meja sudah terhidang makanan yang telah di siapkan bibi Lala.
" Mana tamu yang lain non?" tanya bibi Lala mengira tamu Lea yang lain juga ikut di ajak makan siang.
" Pulang bi, Mila di tunggu suaminya." sahut Lea.
" Ayo bi, makan bareng." ajak dokter Vian sambil duduk di kursi.
" Nanti aja bibi makannya, non Lea makan sekarang? gak nanti sore?"
" Sekarang aja bi nemenin mas Vian."
" Oh ya udah, oh ya non....kapan itu bibi melihat orang yang naruh paket di depan pagar lho, awalnya dia berdiri agak lama dari rumahnya non Aisyah di sebelah mungkin karena non Aisyah tak ada di rumah dia langsung menaruh paket itu di depan pagar."
" Nampak gak bi wajahnya?"
" Nampak non, bibi kebetulan pas pegang hape jadi bibi videoin"
" Nanti habis makan Lea mau lihat Videonya ya bi."
" Iya non, bibi mau sholat dzuhur dulu ya."
" Ya Bi."
Selesai makan Lea mengajak calon suaminya menunggu bibi Lala di ruang tamu.
Tak lama bibi Lala keluar dengan membawa telpon genggamnya.
" Ini non." kata bibi Lala sambil menyerahkan telpon genggamnya.
Lea dan dokter Vian melihat isi video itu, dan benar nampak sekali wajah orang yang menaruh paket itu, dan dia adalah Fardhan.
" Kirim videonya ke aku sayang." kata dokter Vian.
Lea memasukkan nomor kontak dokter Vian ke dalam telpon genggam milik bibi Lala, dan mengirimkan video singkat tersebut via aplikasi hijau ke nomor kontak dokter Vian.
" Oke sudah mas."
" Ya, sudah masuk, aku langsung pulang ya, kalau ada apa-apa segera kabari."
" Iya mas."
Dokter Vian pun berpamitan untuk pulang.
***
Bagaimana kelanjutan hasil penyelidikan??
__ADS_1
Bersambung lagi yaaa....