Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 50 Hadiah Dari Kesabaran. (Ending)


__ADS_3

Satu hari berlalu, Lea sedang berada di ruang dokter spesialis kandungan, di dampingi suami dan mertua nya, dokter sudah bersiap-siap hendak melakukan pemeriksaan USG kandungan Lea.


" Oke kita lihat ya....hmmm....nah itu terlihat ya kantungnya, tunggu.... kok....dokter Vian lihat gak itu? Seingat saya dokter gak punya keturunan kembar kan? Apa dari garis keturunan Lea punya?" tanya dokter spesialis kandungan pada Lea.


" Enggak dok," jawab Lea.


" Iya terliht jelas banget kalau ada dua kantung embrio," ucap dokter Vian.


" Wah kembar?" tanya bu Elma.


" Iya bu, seperti nya dari dua telur, terlihat ada pembatas dan placenta juga ada dua," ucap dokter spesialis kandungan lagi.


" Alhamdulilah," ucap dokter Vian.


" Di jaga baik-baik ya Lea, kandungan mu bagus, namun masih rawan pada semester pertama ini, sebaiknya jangan terlalu capek, karena kehamilan kembar berbeda tingkat resikonya, kamu siapkan lotion untuk kulit agar tetap lentur dan tidak sampai kering lalu pecah-pecah nanti akan lebih melar dari kehamilan normal satu janin."


" Iya dok," sahut Lea.


" Gizi nya di jaga ya, terutama yang berasal dari makanan."


" Iya dok."


Dokter sudah selesai dengan alat USGnya lalu kembali duduk di kursi konsultasi.


Lea bangun dari ranjang pemeriksaan dan ikut duduk di depan dokter Kandungan di ikuti oleh ibu mertuanya.


" Ini saya resepkan vitamin, kamu sering mual gak?"


" Hanya kalau mencium aroma karbol atau alkohol saja dok, yang lain kayak bau masakan tidak apa-apa."


" Oh iya, gapapa obat mualnya cuma untuk jaga-jaga saja ya, ada keluhan lain?"


" Tidak dok, kalau pusing ada cuma bila sudah saya bawa tidur pusingnya hilang."


" Oh, saya tidak resep kan obat untuk pusingnya karena belum perlu ya."


" Iya dok, sudah dok?"


" Iya sudah, bila ada apa-apa jangan sungkan beritahu saya,"


" Iya dok terimakasih, kalau begitu kami permisi ya dok."


" Silahkan."


Lea dan keluarganya keluar dari ruangan dokter, mereka langsung pulang saja karena aroma khas dari rumah sakit membuat Lea sedikit mual.


***


Satu minggu berlalu, Lea terpaksa tidak datang pada acara pernikahan kakak temannya ia sudah menyampaikan pada Inggrit kalau ia tak bisa datang, dokter Vian melarangnya pergi agar tidak terlalu lelah, tiga hari lagi mba Rika akan menikah sudah pasti Lea akan membantu kakak iparnya itu.


Lea tak dapat menginap di rumah mba Rika karena semua kamar sudah di gunakan oleh keluarga pihak calon suami mba Rika.


Terpaksa selama tiga hari ke depan Lea harus mondar-mandir untuk membantu acara sakral kakak iparnya.


Sebenarnya mba Rika sudah melarang Lea untuk membantu namun Lea bersikeras, jadi ia hanya datang sebentar saja, melihat keadaan lalu pulang karena ia harus beristirahat.


" Mba cantik sekali," ucap Lea memandang kakak iparnya, gaun rancangan ibu mertuanya benar-benar sangat bagus, sesuai permintaan mba Rika, gaun pengantin yang sangat sederhana namun tetap kelihatan sangat indah, hingga membuat kesan anggun bagi pemakai nya, kepala mba Rika yang tertutup hijab panjang tak menutupi kecantikan dari wajah mba Rika, hari ini akan di laksanakan ijab kabul dan di lanjutkan resepsi, sederhana saja tak banyak mengundang para tamu.


" Apa mba gak terlihat tua Lea?"


" Enggak lah mba, make up mba sesuai banget dengan wajah dan gaun yang mba kenakan."


" Kamu juga cantik bumiiiil."


" Hehe...mba nanti aku gak bisa bantu lama-lama ya, mungkin sebentar-sebentar aku akan menghilang, karena hamil membuat ku kadang mengantuk tak tertahankan."


" Iyaaa...mba paham."


" Semoga mba cepat beri Ridho adik, hehe."


" Aamiiin, tapi gapapa Lea, kamu lihat Ridho sangat akur dengan anak mas Fazar,"


" Iya mba, tapi aku yakin mereka sangat ingin punya adik, apalagi kalau dapat adik cewek,"


" Hehe, bisa aja kamu."

__ADS_1


Asyik berbincang di dalam kamar, tak lama terdengar suara dari speaker, memberitahukan kalau pembacaan ijab kabul akan di mulai, acara di mulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, usai pembacaan ayat suci lanjut pengucapan ijab kabul, mba Rika dan semua yang berada di kamar mendengarkan dengan penuh hikmat.


Terdengar dengan jelas ustadz Fajar mengucapkan ijab kabul satu kali dengan sangat lancar.


" Alhamdulilah, wa syukurillah, selamat ya mba, semoga sakinah mawadah warahmah, aaaamiiiin," ucap Lea sambil memeluk kakak iparnya yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, mereka sama-sama yatim piatu, persaudaraan tak harus sedarah namun juga bisa sehati.


Pintu kamar di ketuk seorang ibu-ibu masuk ke dalam.


" Rika, ayo keluar temui suamimu."


" Iya bun."


Lea dan yang lain membawa sang pengantin keluar kamar, dengan berjalan pelan-pelan tibalah mereka di depan pengantin pria.


Mba Rika duduk di hadapan suaminya, lalu mereka melakukan prosesi pemasangan cincin kawin dan prosesi lainnya.


Usai seluruh acara terlaksana dengan penuh hikmat dan meriah, Lea berpamitan pulang, ia sudah tak sanggup menahan rasa kantuknya, berkali-kali dia pergi meninggalkan acara hanya untuk menghilangkan kantuk, Lea memilih bekas ruang kerja mendiang ayahnya untuk beristirahat, mungkin karena bawaan hamil ia ingin tidur di sofa malas milik mendiang almarhum ayahnya, mba Rika mengusulkan agar sofa itu di bawa ke rumah Lea saja, Lea hanya tersenyum saja.


Setibanya di rumah malam sudah mulai larut, Lea langsung berganti baju tidur, matanya bahkan tak bisa di ajak untuk berkompromi lagi, dokter Vian paham akan keadaan istrinya ia menyiapkan tempat tidur agar nyaman di tiduri istrinya.


Lalu kedua calon orang tua muda itu tertidur lelap di buai mimpi masing-masing.


***


Delapan bulan berlalu, perkiraan dua minggu lagi Lea akan melahirkan, perutnya sangat besar karena ada dua janin yang berdesakan di dalam.


Lea terpaksa mengambil cuti lebih cepat karena ia sudah tak sanggup lagi membawa perutnya yang sangat besar dan berat.


Lea hanya duduk di sofa malas yang di kirimkan ke rumahnya sambil menikmati makanan ringan dan susu strawberry favoritnya.


Kehamilan besar membuat Lea jadi sering ke kamar mandi untuk buang air kecil, namun saat ia berdiri, ia merasakan seperti ada yang keluar dari bagian sensitifnya.


" Biiii....!!! " teriak Lea.


" Ya non?"


" Seperti nya aku mau melahirkan."


" Lho bukannya masih dua minggu lagi non?" ujar artnya mulai panik.


" Ya harusnya, tapi inikan bukan kehendak kita bi, ayo tas perlengkapan ku yang sudah siap, tolong bawa ke mobil."


" Oh ya udah, sekarang kita ke rumah sakit, aduuuuh..... sssshhh.....sssshh," Lea sudah mulai merasakan kontraksi, dia diam sejenak untuk mengatur nafas, namun ia tak bisa berdiri lama, karena air ketuban mulai mengalir dikakinya.


" Duduk....duduk saja non."


Dokter Vian yang sudah di beritahu oleh art mereka kalau Lea mengalami ketuban pecah dini segera pulang, ia tak pulang sendiri, ia mengajak dokter spesialis kandungan yang khusus merawat Lea selama kehamilannya.


Lea masih dengan rasa sakit saat kontraksi....entah kenapa kontraksi sangat cepat, Lea tak bisa bergerak karena tiap ia bergerak air ketuban merembes terus.


" Lea..." panggil dokter Vian.


" Di sini mas," sahut Lea yang berada di ruang kerja, ia masih duduk di sofa malas.


Dokter Vian dan dokter kandungan langsung masuk ke ruang kerja dimana Lea berada.


" Saya periksa dulu ya, air ketuban nya sudah banyak yang keluar?"


" Iya dok," sahut Lea sambil berbaring.


" Wah sudah lengkap pembukaan nya, cepat sekali."


" Bagaimana dok, sempat ke rumah sakit gak?"


" Ssshhhh....ini sakit sekali mas, kayaknya gak sanggup aku ke rumah sakittt...." ucap Lea sambil mengatur nafasnya.


" Aduh....duh..duh...coba kamu sedikit mengejan Lea, sedikit saja sudah hampir keluar," seru dokter kandungan.


" Oeeeek.....oeeekkk...." bayi laki-laki pertama Lea keluar dengan cepat.


" Alhamdulilah ya Allaaah...." ucap Lea dan dokter Vian.


" Assalamualaikum, Lea.... Lea....kok sudah lahiran?" ucap bu Elma yang datang tergopoh-gopoh mendengar suara tangis cucunya.


" Ini baby boy bun, gak mau nunggu, " ucap dokter Vian, ia menyambut sang bayi dengan selimut, lalu membawanya ke kamar tidur mereka, untung perlengkapan tidak di bawa semua ke rumah sakit, jadi si baby boy bisa di bersihkan.

__ADS_1


" Sini biar bibi yang mandiin, ya Allaaaah, lucu sekali, gak mau lahir di rumah sakit ya...." ucap bibi lalu membersihkan baby boy kemudian menyerahkan kembali pada dokter Vian untuk di adzani.


Usai mengadzani putra pertamanya dokter Vian menyerahkan bayinya pada bundanya, lalu ia kembali ke ruang kerja di mana Lea masih di periksa oleh dokter kandungan.


" Gimana dok?"


" Posisi yang satunya agak melintang, ini saya coba betulkan mumpung kepala belum masuk panggul."


" Masih kontraksi sayang?"


" Masih namun tak sekuat tadi, si abang bagaimana mas?"


" Itu sama bunda, dia baik-baik saja."


" Kita harus ke rumah sakit, masih ada waktu karena beda telur jadi yang kedua ketubannya masih belum pecah," ucap dokter kandungan mereka.


" Baik dok, ayo sayang."


Dokter Vian menggendong sang istri menuju mobil, baby boy juga di bawa untuk mendapatkan pemeriksaan di rumah sakit.


Tak berapa lama, tibalah mereka di rumah sakit, Lea langsung di bawa dengan menggunakan brankar menuju ruang bersalin, sontak rumah sakit menjadi ramai, karena Lea di bawa beserta satu bayi yang sudah lahir.


" Lea kenapa dok?" tanya Anya, posisi Lea di poliklinik anak di kembalikan padanya.


" Gapapa, cuma baru satu yang lahir, itu pun karena pembukaan di rumah sudah lengkap, prosesnya terlalu cepat, jadi gak sempat di bawa ke rumah sakit," ujar dokter Vian sambil berjalan mengikuti brankar yang membawa Lea.


" Ooh, semoga lancar ya Lea, aku balik ke poliklinik dulu." ujar Anya.


Lea hanya mengacungkan jempolnya, brankar yang membawanya sudah masuk ke ruang bersalin.


Di dalam ruang bersalin Lea di beri induksi karena kontraksi tak sekuat yang pertama, tak berapa lama bayi kedua lahir.


" Oeeek...oeeek....." tangisan baby girl memenuhi ruang bersalin.


" Alhamdulilah..... sepasang...." ucap dokter kandungan.


" Alhamdulilah, terima kasih sayang."


" Iya mas, alhamdulillah."


" Yang pertama cowok?" tanya kepala ruangan bersalin.


" Iya Bu, sengaja pas di USG gak pingin lihat jenis kelaminnya, biar buat surprise," sahut dokter Vian.


Baby girl langsung di bersihkan lalu di berikan pada dokter Vian lagi, sementara Lea masih di bersihkan lalu di pindahkan ke ruang rawat VVIP.


Pak direktur sangat bangga pada menantunya yang telah memberikan keturunan pada anaknya yang setelah kejadian kecelakaan itu mengalami gangguan pada vitalitas dan kemungkinan terancam mandul.


Lea sudah berada di kamar rawat VVIP, seluruh karyawan di rumah sakit milik keluarga itu menjenguknya secara bergantian.


Si kembar yang lucu sudah di antarkan ke kamar rawat ibunya, bu Elma sangat senang menyambut cucunya, walau bukan cucu pertamanya namun ia senang akhirnya bisa mendampingi dan ikut merawat cucunya, menantunya dari kakak-kakak dokter Vian semua tak ada yang ia dampingi, mereka melahirkan di daerah tempat mereka bertugas, dan bu Elma tak bisa kesana saat mereka melahirkan.


Dengan sisa-sisa tenaganya Lea memandang si kembar, ada rasa haru dalam dirinya akhirnya dia menjadi seorang ibu, kini ia tak sebatang kara lagi, ada anak-anak yang harus ia rawat dan besarkan.


" Terimakasih sayang, ini benar-benar kado terindah darimu untukku," ucap dokter Vian pada istrinya.


" Terimakasih telah memberi kepercayaan padaku untuk menjadi ibu dari anak-anakmu mas, tetap lah seperti dokter Vian yang mengejarku sebelumnya, jangan lelah mengejarku, karena aku akan selalu menunggumu," ucap Lea sambil tersenyum.


" Pasti sayang....pasti...aku akan berada di sisimu karena Allah.."


Mba Rika datang menjenguk Lea, perutnya juga nampak besar, mba Rika sedang hamil 5 bulan, dengan tersenyum ia mengucapkan selamat pada Lea sang ibu muda.


Semua orang berbahagia perjuangan demi perjuangan telah mereka lewati, rasa cinta dan kasih sayang mengalahkan segala rintangan yang menghadang.


Buah kesabaran Lea selama ini terjawab sudah, titik air matanya sudah di balas dengan adanya pasangan hidup yang sangat menghargai nya, kedua mertuanya pun sangat baik, cita-citanya mendirikan rumah sakit pun sudah terlaksana tanpa ia harus turun tangan, restoran dan toko obat milik kedua orangtuanya semakin maju, tak ada yang perlu ia khawatir lagi, ia memutuskan untuk rehat dari karirnya sebagai perawat, ia ingin fokus pada perkembangan si kembar saja.


***


Seorang ibu muda yang mendampingi anak-anaknya yang asyik bermain, duduk di depan meja kerja nya sambil memandang dua laptop, ya Azalea Nuraini hanya bekerja di rumah mengecek email yang masuk melaporkan kondisi restoran, toko obat dan rumah sakit barunya.


Sesekali ia melirik pada si kembar yang berceloteh satu sama lain, Lea tersenyum melihat anak-anaknya saling berkomunikasi dengan bahasa yang hanya mereka yang mengerti.


" Terimakasih Allah, Engkau beri aku kepercayaan untuk menjadi seorang ibu, sekali lagi terimakasih," ucap Lea lirih mengucapkan rasa syukur pada Pencipta.


Tamat

__ADS_1


Terimakasih sudah mengikuti cerita ini, kita bertemu lagi di cerita yang lain.


Jangan lupa mampir di cerita lain ya....salam dari Mak Ndut.


__ADS_2