
Mobil dokter Vian sudah sampai di sebuah taman yang berada di dekat danau, suasana di taman tak begitu ramai karena masih jam kerja, namun ada banyak orang yang berjualan macam-macam cemilan dan minuman.
Dokter Vian memarkirkan mobilnya dan mereka keluar dari mobil.
" Ayo kita ke sana." tunjuk dokter Vian ke ujung taman yang berdekatan persis dengan danau ada meja dan kursi yang posisinya nyaman.
Mereka berjalan ke sana lalu duduk di kursi itu.
" Kalian mau minum apa?"
" Apa aja boleh mas, mba ingin apa?" tanya Lea pada kakak iparnya.
" Apa aja asal yang hangat ya."
" Baik tunggu sebentar." kata dokter Vian sambil meninggalkan keduanya.
" Enak ya suasananya." kata mba Rika.
" Iya mba, kapan-kapan ajak Ridho ke sini."
" Iya, nanti dekat lho padahal dengan sekolah, tinggal belok kanan di perempatan sebelum ke sini tadi."
" Iya kita tadi melewati perempatan ke arah SDI kan..sayang Ridho masih jam sekolah."
" Iya gampang lah nanti aku ajak anak ustadz Fajar sekalian."
" Ciye yang punya anak sambung...enak mba langsung punya anak banyak gitu ya...gak mikir bakal buru-buru punya anak lagi."
" Ya kamu nanti cepat-cepat hamil saja Lea, jangan di tunda-tunda."
" I...iya mba." Lea jadi terbata, hampir saja keceplosan.
" Kenapa kamu?"
" Enggak hehe..."
Tak lama dokter Vian kembali membawa minuman dan cemilan yang di belinya.
" Ayo minum dulu." kata dokter Vian.
Mereka bertiga menikmati pemandangan danau dan taman sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang di beli dokter Vian.
" Jadi bagaimana ceritanya kamu bisa kenal Nala, Lea?"
" Oh itu, ketika praktikum di rumah sakit pusat, dokter Nala kalau gak salah masih dokter baru juga kan? Ketemu di sana beberapa kali, namun tak pernah saling sapa, suatu hari ketika di suruh dokter Ferdian untuk mengambil alat di ruangannya aku dan Anya memergoki dokter Nala dan dokter Zian sedang berduaan di ruangan dokter itu, jadi lah heboh, mereka di keluar kan dari rumah sakit itu, dan dokter Nala sempat menduga kalau aku yang laporin dia, padahal waktu itu aku dan Anya ke ruangan itu bertiga sama dokter lain yang sudah senior juga, ya pastinya dokter itu yang laporan, kalau aku mana berani ngurusin yang bukan urusan ku." kata Lea menceritakan secara singkat pertemuan nya dengan dokter Nala.
" Oh begitu, tunggu dengan Zian?? Si playboy cap kapak itu??"
" Cap kapak? Aneh-aneh aja dokter ini."
" Ya begitu kata teman-teman mba, jangan panggil aku dokter ah mba, bentar lagi aku kan jadi adiknya mba." sambil memajukan bibirnya
" Iya iyaaa...." sahut mba Rika sambil cekikikan.
" Aku sempat dengar memang kasusnya Zian namun dengan siapa wanitanya aku gak tau, ya sama seperti yang kamu bilang bukan urusan kita ngapain di urusin, lagian aku fokus akan kesembuhan ku jadi aku gak tau cerita teman-teman."
Lea hanya mengangguk saja, dokter Vian langsung paham akan anggukkan Lea, mungkin Lea tak menceritakan apa ia alami pada mba Rika.
" Lalu dia ke rumah mas dan marah-marah gak jelas gitu kenapa?"
" Oh iya ini yang aku mau omongin juga, aku gak mau ada kebohongan atau apapun itu yang akan mengganggu hubungan kita nanti, karena hubungan yang baik itu harus di dasari dengan kepercayaan, lebih baik kamu tau dari aku dari pada tau dari orang lain, ini juga untuk mencegah hal yang tidak kita ingin kan kelak." dokter Vian menghela nafas dan meminum jusnya sejenak.
__ADS_1
" Dia mengejar ku sudah lama sekali, sejak kami masih kuliah, segala cara sampai hal yang gila sekalipun dia lakukan supaya bisa mendapatkan ku, pernah dia mau menjebak ku lewat teman kami, dia kira aku gak tau, aku kan tak punya musuh jadi banyak temanku yang mengingatkan aku untuk hati-hati, sampai hal tak di inginkan terjadi, waktu itu dia berikan minuman yang berisi obat perangsang, aku curiga, lalu dengan bermacam alasan aku usahakan agar dapat terhindar, akhirnya aku bisa pergi dan sayangnya yang minum malah temanku yang lain, ya apes lah bagi Nala dia di serang oleh temanku itu, dan sayangnya lagi temanku itu pindah keluar negeri hari itu juga, jadi Nala gak bisa minta pertanggungjawaban nya, sejak saat itu Nala semakin menjadi-jadi, dan dia mencari uang tambahan dengan melakukan hal tak senonoh itu terus-menerus, makanya dia jadi kaya karena kelakuannya itu, dia tak begitu mementingkan karir sebagai dokter, justru menjadi dokter hanya pekerjaan sampingan baginya, agar terlihat seperti wanita bersahaja gitu." kata dokter Vian menjelaskan panjang lebar.
Lea dan mba Rika mendengar sambil menggeleng kan kepala.
" Dokter lho padahal, tak semua orang bisa masuk kuliah kalau gak punya otak dan uang...ck" ucap mba Rika.
" Nala mendanai kuliahnya jadi sugar baby mba, ketika kuliah kami tak ada yang tau, baru tau ketika sudah wisuda, orang tua yang selama kuliah mengantarkan dia ternyata bukan orang tuanya, karena ketika wisuda yang datang justru orang tua kandungnya dari desa."
" Hiiih....kok bisa ya..?? Lantas dia menjebakmu untuk apa? Dia cinta kamu?"
" Enggak mba, jelas butuh kedudukan, ada satu orang teman ku yang juga ia kejar, dia sudah menjadi direktur sekarang karena ayahnya sudah meninggal jadi dia menggantikan posisi ayahnya, tapi dia sudah beristri dan istrinya orang berpengaruh, istrinya seorang perwira polisi, Nala gak berani mendekatinya lagi, jadilah aku yang tersisa mau ia kuasai."
" Ih belum kena batunya tu anak."
" Menurut ku pasti kena mba, kita tak usah melakukan apapun nanti dia akan jatuh sendiri, cukup di hindari aja, aku yakin setelah pertemuan kemarin dia akan melakukan hal yang gila lagi, baik kepadaku maupun pada Lea, jadi berhati-hatilah, segala sesuatunya ceritakan padaku, agar kita bisa mencari jalan keluar dari masalah yang akan dia timbulkan nanti."
" Iya mas, sudah siang nih mas kita kembali pulang ya, aku harus istirahat untuk dinas malam nanti." kata Lea sambil melirik jam tangannya.
" Oke kita pulang."
Mereka beranjak pergi dari taman itu, kembali masuk mobil dan dokter Vian melajukan mobilnya kembali ke rumah Lea.
Setibanya di rumah Lea, Lea dan kakak iparnya turun dari mobil, dokter Vian langsung berpamitan untuk pulang.
Lea dan mba Rika masuk ke dalam rumah, Lea langsung ke kamarnya, berganti pakaian lalu rebahan menghilangkan penatnya.
***
Fardhan tiba di bandara, ia tersenyum bisa kembali ke Indonesia, setelah mengelabui saudara kembarnya.
Setelah mendapatkan taksi dia langsung menaiki nya dan menyuruh sopir untuk pergi ke sebuah alamat apartemen nya.
Ia sengaja tak membawa telpon genggamnya agar tak bisa di lacak oleh keluarganya, dan apartemen nya itu pun ia beli tanpa sepengetahuan keluarganya.
Ia langsung masuk ke apartemen masuk lift untuk naik ke lantai 11, sampai di lantai 11 dia keluar dari lift dan berjalan ke kanan menuju ruang apartemen miliknya.
" Hai akhirnya kamu kembali." tegur seorang wanita ketika melihat kedatangan Fardhan.
" Hhhmmm.." sahut Fardhan dingin.
" Ish kamu gak asyik ah, dingin banget."
" Aku gak level dengan wanita macam kamu, jadi jangan coba-coba mencari perhatianku ya."
" Ish, siapa juga yang mau sama kamu, penyakitan!!"
" Lebih baik aku penyakitan, tapi sakit fisik aja, gak sakit psikis kayak kamu, seorang dokter tapi gila!!" maki Fardhan.
" Jangan ikut campur urusan ku ya!!"
" Oke, kamu juga jangan sapa-sapa aku! Aku gak butuh kamu sapa!!" sahut Fardhan lagi lalu ia masuk ke apartemennya dan langsung menutupnya lagi.
" Apes banget baru datang sudah di sambut dokter mesum itu, cih menjijikkan." Fardhan teringat dokter itu menggerayangi tubuhnya saat ia terbaring lemah di klinik dokter Roy.
Ia tak kuasa menghindari perbuatan dokter itu, karena tubuhnya sama sekali tak dapat di gerakkan karena ia masih sangat lemah waktu itu.
" Iiiiish kenapa hal itu terjadiii....ah andai Lea tau, bisa-bisa ia makin membenciku." gerutunya sambil menjambak rambutnya sendiri, ia harus kehilangan keperjakaan nya gara-gara ulah dokter mesum itu.
Kesal karena bertemu lagi dengan dokter itu, akhirnya Fardhan merebahkan diri lalu tertidur.
***
__ADS_1
" Hisshh sok-sokan gak mau aku sapa, padahal kemarin dia juga menikmati permainanku, dasar lelaki!!" gerutu dokter Nala sambil memasuki lift untuk turun ke bawah.
Ia merasakan ada getaran di dalam tasnya, lalu ia mengambil telpon genggamnya dan menerima panggilan telponnya.
[ Iya dokter?]
[ Segera kamu ke klinik sekarang!!]
[ Tapi dok, sekarang bukan jadwal saya.]
[ Saya perintahkan kamu ke klinik bukan untuk jaga Nala!! segera ke sini, jangan membantah!!]
[ I iya dok]
Tut... panggilan di putus.
" Ck...apalagi sih..!!" ucapnya sambil memasukkan telpon genggamnya ke dalam tas.
Lift terbuka lalu ia keluar menuju parkiran mobil, ia masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya ke klinik dokter Roy.
Setibanya di halaman klinik dia mengirim pesan untuk Toni.
[ Ton aku agak telat dikit ya, masih ada urusan di klinik.]
Lalu ia masuk ke dalam klinik, di dalam sudah ada beberapa dokter yang membantu di klinik itu, rupanya semua dokter-dokter itu sengaja di panggil oleh dokter Roy.
" Duduk!!" perintah dokter Roy begitu melihat dokter Nala masuk ruangan.
Hari itu klinik sengaja di tutup, dan kebetulan pasien-pasien yang di rawat inap juga tidak ada.
Ada dua perawat senior yang mewakili perawat-perawat yang lain ikut duduk bergabung.
" Kalian sudah lengkap semua, saya sengaja mengumpulkan kalian karena ada hal penting dan sangat emergency untuk saya sampaikan, dan ini berpengaruh pada kelangsungan pekerjaan kalian di klinik ini." kata dokter Roy memulai pembicaraan, ia menghela nafas kasar sambil menatap ke arah dokter Nala dengan menahan amarah.
Dokter Nala seolah tak ambil pusing dia duduk dengan menyilangkan kakinya, hingga rok pendeknya makin naik, ia memang sengaja berbuat itu agar dokter Roy tergoda.
' Chh..kamu kira kamu siapa' bathin dokter Roy melihat kelakuan dokter Nala.
" Baik saya tak usah banyak kata-kata, saya akan kasih lihat potongan video ini, dan yang merasa berada dalam video, setelah ini akan saya putuskan kontrak secara sepihak sesuai dengan perjanjian kita di awal kalian bekerja di klinik saya ini, kalian paham!!" kata dokter Roy sambil melihat ke semua orang yang hadir.
Dokter Roy menekan tombol pada remote di arahkan ke televisi besar yang ada di ruangan itu dan televisi menampilkan potongan video adegan tak pantas di lihat yang terjadi di ruang istirahat dokter di klinik itu.
Sontak yang semua yang hadir langsung ramai berkomentar melihat adegan itu.
" Diam semua!!" dokter Roy mematikan video yang ia putar, dan berhenti pas di slide wajah dokter Nala.
"Bisa kamu jelas kan hal itu Nala!!"
" It...itu..." dokter Nala syok dan langsung pucat setelah melihat video yang menampilkan dirinya bersama Albert.
" Itu apa hah!! Jangan bilang saya merekayasa video ya!! Kalau kamu mau kita bisa bawa ke forensik untuk di buktikan ke asliannya!! Saya tak peduli kalian semua punya skandal tapi lakukan di luar dari klinik saya, kalau sampai kalian bawa sifat kalian yang kayak s*t*n itu ke sini maka kalian akan mendapat masalah dengan saya!! Dan kamu Nala..sudah tak perlu lagi menjelaskan hal tersebut, mulai sekarang kamu sudah bukan tim dokter di klinik ini, dan maaf saya sudah beritahu kepada rekan-rekan saya yang lain untuk memblacklist kamu andai kamu mau bergabung dengan tim mereka, tindakan kamu itu tidak benar dan merusak nama baik klinik dan kode etik kedokteran, asal kamu tau juga, video semacam itu tidak ini saja, bahkan kamu berani menjadikan pasien sebagai objek pelampiasan nafsu kamu di saat mereka tidak berdaya melawan, kamu sudah bikin malu saya sebagai pemilik klinik ini, paham kamu!!
Dokter Nala menunduk malu dan harus menerima tatapan tajam dan menghina dari dokter-dokter lain, ia tak menyangka kelakuannya terekam video dan di tayangkan di depan dokter-dokter dan beberapa perawat di klinik itu.
" Kamu paham apa yang harus kamu lakukan bukan Nala?? Dengan ini kamu harus keluar dari klinik ini dan sesuai perjanjian apabila kalian keluar dari klinik dengan pemutusan kerja di luar masa kontrak di tambah lagi dengan skandal baik itu malpraktek ataupun perbuatan tak senonoh seperti yang kamu lakukan maka kamu keluar tanpa pesangon, seharusnya kamu mengganti rugi atas perbuatan kamu yang akan merusak citra klinik, namun saya tak mau terima apapun dari kamu, karena saya yakin rejeki yang kamu dapat pasti tidak halal semua, sekarang juga kamu Out dari sini, jangan tampak wajah mu di depan saya lagi, usahakan kamu hindari pertemuan dengan saya, karena saya akan pengaruhi instansi lain untuk terima kamu, kamu paham itu DOKTER MESUM!!" bentak dokter Roy sambil berdiri dan menunjuk wajah dokter Nala dan mengarahkan telunjuknya ke arah pintu keluar.
Dengan rasa malu yang besar, dokter Nala berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar lalu setengah berlari ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya.
****
Bagaimana nasib dokter Nala???
__ADS_1
Bersambung yaaa....