
Jangan lupa like dan komennya.
Aku langsung terbangun dari sofa, berjalan cepat ke arah pintu untuk melihat Rika yang baru saja pulang.
Di saat aku membuka pintu. Rika juga ikut membuka pintu Rika terkejut dengan kehadiranku.
“Astaga, Mas! Kamu bikin aku kaget aja sih!” Rika mengelus dadanya karena kaget melihat diriku berada di depan matanya.
“Kamu habis dari mana? Kenapa jam segini baru pulang!?” tanyaku dengan hati sedikit dongkol.
“Habis dari rumah orang tuaku lah. Emang dari mana lagi.” Jelas Rika ia segera masuk ke dalam tanpa peduli dengan perasaanku yang sangat khawatir dengan dirinya.
“Kamu jangan bohong, aku tahu kamu enggak ada di rumah orang tuamu. Tadi Mas sudah menghubungi papah kamu kalau kamu pergi bersama teman-teman.” Ucapanku membuat langkah kaki Rika terhenti.
Ia segera membalikan badanya ke arahku yang masih berdiri di dekat pintu.
“Kalau aku pergi sama teman-teman aku memang kenapa? Kamu mau ngelarang aku? Lagian kamu ngapain sih tanya-tanya aku ada di mana sama papah aku?” ucap Rika berdengus kesal.
“Rik, ingat. Kamu itu seorang ibu sudah ada anak, seharusnya kamu mengurangi kegiatan kamu yang tidak penting ini dan fokus—“ ucapan aku terpotong saat Rika melangkah pergi meninggalkan aku sendirian.
Mungkin dia sudah bosan mendengar ocehan aku.
Rika langsung naik ke lantai 2, tanpa ada beban atau rasa bersalah sedikit pun. Dia langsung tertidur pulas.
Saat aku dan anak-anak sudah tertidur pulas, tiba-tiba anak perempuanku menangis ingin meminum Asi.
“Aduh Mas! Bisa gak sih anaknya suruh diem.” Rika menutup kedua telinganya ia tidak tahan mendengar suara tangisan anaknya.
“Rik, tolong susuin Aqila. Dia haus.” Ucapku memohon pada Rika.
“Malas, aku ngantuk Mas! Kasih aja Asi yang ada di botol.” Ucap Rika setelah itu ia melanjutkan tidurnya.
Aqila yang terus saja menagis terpaksa aku gendong dan membawanya keluar agar tidak membangunkan kakaknya yang masih tertidur pulas.
Aku menuju dapur untuk menyiapkan susunya, tapi sayang stok Asinya sudah habis.
Untungnya aku sudah menyiapkan sufor di rak yang aku sembunyikan tanpa sepengetahuan Rika.
Rika tidak ingin bayi kembarnya diberikan dengan sufor, tapi semua ini terpaksa aku berikan pada anakku.
Aku tahu jika Rika lupa untuk memompa Asi saat aku minta tadi pagi sebelum ia pergi.
****
Esok paginya seperti biasa aku menyiapkan makanan untuk kedua anakku yang sudah mulai makan berbagai macam menu.
Di saat aku menyiapkan makanan untuk kedua anakku, tiba-tiba netraku melihat istriku sudah memakai baju rapi.
“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?” tanyaku melihat Rika sudah mau keluar dari pintu.
__ADS_1
“Aku ada acara Mas, sama teman-temanku.” Jelas Rika tanpa menole ke arahku. Rika kembali berjalan untuk membuka hendel pintu.
Sebelum Rika membuka pintunya, aku sudah lebiih dulu menahan pintu dengan satu tanganku.
“Mas, enggak akan ijinkan kamu pergi sama teman-teman kamu, hari ini kamu di rumah saja sama aku dan juga anak-anak.” Ujarku membuat Rika berdengus kesal karena aku melarangnya pergi.
Rika berusaha menyingkirkan tangannya dari pintu agar dia bisa keluar. Tapi hal itu tidak bisa ia lakukan.
“Mas! Kamu ini kenapa sih? Istrinya mau pergi kok dilarang? Mas teman-teman aku sudah menunggu aku, aku enggak enak sama teman-teman aku.” Ucap Rika.
“Dari pada harus kumpul sama teman-teman kamu yang enggak jelas itu. Mending kamu temani Adnan dan juga Aqila.”
“Aku enggak mau Mas, jangan paksa aku. Singkirkan tangan kamu Mas.”
“Enggak!”
Di saat aku sedang berdebat dengan Rika tiba-tiba anak sulungku Adnan berjalan mendekati kami. Dalam keadaan menangis.
“Ma, ndong.” Ucap Adnan berjalan menghampiri ibunya.
Ia merentangkan kedua tangannya seakan-akan ingin minta digendong oleh ibunya.
“Tuh, lihat anak kamu. Dia minta gedong sama kamu.” Ujarku namun Rika mengabaikan anaknya.
Justru tatapan matanya merasa sangat jijik dengan anaknya yang dilahirkannya dari rahimnya sendiri.
“Mas, aku mau pergi. Kamu urus aja si Adnan!” ucap Rika ia berhasil menyingkirkan tanganku dari pintu.
Sedangkan Adnan menangis karena diabaikan oleh ibunya.
Aku segera mengendong Adnan dan menyusul ibunya yang saat ini sudah berada di dalam mobil.
Dengan cepat tanganku menyambar pintu mobil, membukanya secara paksa dan mengambi kunci mobilnya agar dia tidak bisa pergi.
Aku berlari masuk ke dalam rumah sambil mengendong Adnan.
Dan kutaruh Adnan di ruang TV agar bisa bermain lagi dengan adiknya Aqila.
“MAS!” Rika berteriak dari dalam mobil memanggilku, namun aku mengambaikannya.
Aku sengaja mengabaikan Rika dan fokus bermain dengan kedua anakku.
Rika yang sudah kesal karena kunci mobilnya aku ambil, segera turun untuk mengambil kuncinya kembali
“Mas Fahmi! Kamu sudah gila ya? Kembalikan kunci mobilku atau—‘
“Atau apa?” mataku melotot agar Rika sedikit takut.
“Atau, hah! Sudahlah! Sini kunci mobilnya. Aku mau pergi.” Rika mencak-mencak tak karuan melihat kunci mobilnya berada di tanganku.
__ADS_1
“Pokoknya hari ini kamu harus di rumah, buat jagain Adnan dan Aqila titik!”
“Buat apa sih aku harus jagain anak-anak cacat kaya mereka!” kesal Rika membuat jantungku tersentak mendengar ucapan Rika.
“Kamu bilang apa barusan?” tanyaku dengan tatapan dingin.
Rika yang kelepasan bicara segera menutup mulutnya dengan tangannya.
“Rik, ini anak kamu, darah daging kamu. Kok bisa si kamu bilang begitu sama anak kita?”
“.....” Rika terdiam ia tidak bisa membalas perkataan suaminya.
"Kamu yang menginginkan seorang anak, berdoa siang dan malam tanpa henti. Bahkan kamu juga ingin mengadopsi bayi dari panti asuhan tapi mamahmu melarang. Setelah 4 tahun kita menikah akhirnya tuhan memberikan kita anak.”
“Iya emang benar aku memang ingin mempunyai anak, tapi bukan anak cacat kaya gini Mas.”
“CUKUP RIKA!” bentakku membuat Rika kaget bahkan kedua anaknya yang sedang bermain ikutan kaget.
Untungnya mereka tidak menangis karena suara ayahnya bisa dialihkan dengan suara tv.
“Mas, enggak terima jika anak Mas dibilang cacat sama kamu. Hari ini kamu batalkan janji kamu dengan teman-teman kamu, dan siapkan stok Asi untuk Adnan dan Aqila.” Jelas diriku.
Aku tahu Rika begitu kesal dengan sikapku, tapi itu semua aku lakukan untuk kedua anakku.
Biar bagaimana pun Rika tetaplah ibu kandung mereka berdua yang masih membutuhkan ibunya.
****
Malam telah tiba, anak-anak juga sudah tidur di kamar saat aku sudah memberikan susu.
Aku pun keluar untuk menuju dapur untuk mengambil minum.
“Loh, kamu lagi ngapain?” tanyaku melihat Rika sedang membuat teh hangat.
Namun Rika hanya diam saja tidak menjawab pertanyaanku. Aku mendekati Rika memeluknya dari belakang dengan lembut.
“Rik, maafkan sikap Mas yang tadi pagi ya. Mas sudah bentak kamu.” Ucapku sambil mengecup tengkuk Rika.
“Sudahlah Mas,” Rika melepaskan tanganku dari perutnya ia pun pergi ke kamar.
Aku hanya bisa menarik nafas dengan berat dan mengelurkannya secara perlahan.
Setelah selesai minum, aku langsung menuju kamar dan melihat Rika masih memainkan ponselnya.
“Kamu belum tidur?” tanyaku membuat Rika tersentak kaget.
ia segera menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya. Terlihat sangat gugup seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
“Kamu kenapa? Kok kelihatan kaya panik begitu?"
__ADS_1
"Hoh, enggak apa-apa kok.”
“Ya sudah. Mas mau tidur dulu sudah ngantuk, besok sudah harus kerja.” Aku segera naik ke atas ranjang.