Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 13 Keseriusan


__ADS_3

Ke esokan harinya, Lea mengabarkan pada ketiga sahabatnya kalau ia izin tidak masuk dinas sore ini, karena ada urusan keluarga.


Ketiga sahabatnya pun memakluminya, Lea perawat yang sangat disiplin, hampir tak pernah ia izin tidak dinas, maka kali ini mereka bisa memahaminya.


Lea bingung apa yang harus ia siapkan untuk menerima kedatangan dokter Vian, melihat itu mba Rika hanya tersenyum.


" Sudaaaah, serahkan pada mba, Lea....kamu dandan lah walau tipis-tipis gapapa."


" Ih mba ini, emang mau ada acara apaan pake dandan?"


" Ya kali ajaaaa....kok firasat mba mengatakan akan ada sesuatu yang saaaaaaangat penting." kata mba Rika menekankan kata-kata nya.


" Mba jangan bikin aku kepedean deeeh, aku tuu gak mungkin levelnya dokter Vian, walaupun...." kata-kata Lea terputus ia ingat dokter Vian pernah mengirim sinyal mata padanya, lalu bahunya bergidik mengingatnya.


" Kenapa kamu??"


" Hehe....enggak....hehe." kata Lea meninggalkan kakak iparnya yang kebingungan akan sikapnya.


Lea masuk ke kamarnya berdandan seadanya saja, namun tak mengurangi ke anggunan nya, begitulah almarhumah ibunya mendidiknya untuk menjadi wanita yang anggun memiliki kecantikan yang terpancar dari dalam bukan karena riasan tebal menutupi jati diri.


Jam 10 lebih sedikit dokter Vian datang namun tidak sendiri.


Tin...tin.


Bibi Lala keluar rumah dan membukakan pintu pagar, dokter Vian memasukkan mobilnya ke halaman rumah Lea.


" Mari tuan."


" Jangan panggil tuan dong bi, Vian aja."


" Ah gak enak saya tuan."


Bibi Lala mempersilahkan tamu Lea untuk masuk dan duduk di sofa.


Tak lama Lea keluar dan bingung karena dia fikir hanya dokter Vian yang datang namun ternyata direktur rumah sakit pun ikut serta.


" Direktur?? ibu ??" dengan gugup Lea menyalami dan mencium punggung tangan orang tua dokter Vian.


Mba Rika muncul dari belakang lalu ikut menyalami tamu adik iparnya.


" Assalamualaikum, saya kakak ipar Lea." kata mba Rika memperkenalkan diri.


" Maaf Lea, aku ajak ayah bunda ku ke mari."


" Tidak apa-apa dokter."


" Aduuh jangan panggil dokter doooong, kakak atau mas gitu lho." ucap bu Elma.


Lea hanya tersenyum namun tetap gugup, karena baru kali ini ia bertemu langsung dengan orang tertinggi di rumah sakit secara dekat.


Bibi Lala keluar dari belakang dengan membawa nampan berisi cangkir dan cemilan, lalu meletakkan nya di meja.


" Silahkan tuan, nyonya." kata bibi Lala lalu pamit ke belakang.


" Terimakasih."


" Kamu pasti bingung dengan ke datangan kami kan Lea?"


Di jawab anggukan oleh Lea sambil memandang direktur.


" Begini, beberapa bulan ini Vian selalu aja menyebut namamu kalau kami menanyakan siapa wanita yang ia inginkan, semakin kami pastikan Vian pun makin mantap, jadi kami sebagai orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia ya kami hanya bisa merestui." kata dokter Ahmad sambil memandang ke arah Lea untuk melihat reaksinya.


Yang di pandang hanya menunduk dan melihat ke arah kakak iparnya.


" Jadi kedatangan kami ini ya menanyakan kesediaan kamu untuk menjadi pendamping anak kami Alvian Fahriza."


" Uhuk...em.."


" Kenapa Lea?" tanya bu Elma.


" Ti...tidak apa-apa bu, sa saya..saya."


" Biasanya aja Lea, kami sama seperti orang tua kebanyakan kamu jangan gugup begitu, bagaimana Lea? Kamu menerima anak kami Vian?"


" Sa..saya..." Lea melihat ke arah kakak iparnya, dan kakak iparnya paham maksud Lea.


" Maaf bu, Lea mungkin masih agak syok, karena tak mengira akan seserius ini, kalau boleh Lea di beri waktu untuk memikirkannya, ya semoga jawabannya sesuai harapan bapak dan ibu, terutama dokter Vian." ucap mba Rika.


" Oh iya, baik lah kalau begitu, kami menunggu jawaban mu Lea, dan kami sangat mengharapkan kamu menerimanya, selama ini tak ada satupun wanita yang bisa menaklukkan hati Vian, kalau sekarang ada berarti wanita itu sangat spesial kami percaya itu."


Lea hanya tersenyum dan kembali menunduk, tanpa berani melihat ke arah dokter Vian.


" Maaf Lea, keluarga mu yang lain?"


" Saya yatim piatu ibu, ayah, ibu dan kakak saya sudah meninggal, sekarang hanya ada kakak ipar istri dari almarhum kakak saya, kakek nenek juga sudah lama tiada."


" Oooh, maaf Lea."


" Tidak apa-apa ibu."


Orang tua dokter Vian mengajak Lea dan mba Rika mengobrol santai hingga tiba waktunya makan siang.

__ADS_1


" Maaf bapak ibu, dan dokter Vian, kita ke ruang makan, makan siang sudah di siapkan." kata mba Rika.


" Wah kami jadi ngerepotin niih."


" Gak papa, kami yang sungkan bila tidak menjamu bapak ibu, mari..." ajak mba Rika.


Mereka berjalan ke ruang makan dan duduk di kursi.


" Maaf bapak ibu, se adanya."


" Wah ini gak seadanya tapi makanan favorit saya semua ini." kata direktur.


" Hehe iya...kok pas ya?"


" Ini masakan favorit nya Lea ibu, Lea pinter masak, saya mah kalah jauh." puji mba Rika membuat Lea malu dan menyenggol lengan kakak iparnya.


" Aku tau kalau Lea suka masak, dia sering bawa bekal ke rumah sakit."


" Wah sedetail itu kamu perhatiin Lea ya." goda bu Elma.


" E...ehemm..." sahut dokter Vian kemudian tersenyum malu.


Tak lama Ridho muncul dengan memakai baju koko nya.


" Assalamualaikum."


" Wa alaikumsalam." jawab semuanya serempak.


Ridho menyalami tamu dan ikut duduk di samping ibunya.


" Ini siapa?" tanya direktur melihat sopan santun yang di tunjukkan Ridho tanpa di suruh ia menyalami mereka.


" Putra saya bapak, dari tadi di kamarnya setoran hapalan online dengan pak ustadnya di desa."


" Masya Allah, anak sholeh, berapa umurnya?"


" 7 tahun ibu, nanti akan bersekolah di sini jadi saya pindah dari desa ke sini."


" Oooh."


" Mari kita makan dulu bapak ibu." ajak mba Rika.


Mereka bersantap siang bersama, sesekali direktur dan istrinya memuji makanan yang mereka makan.


Selesai makan siang, direktur dan keluarga terpaksa langsung pamit, karena di rumah ada tamu yang datang.


" Maaf kami tak bisa lama-lama, betah banget padahal, rumah kalian sejuk dan nyaman." kata direktur.


" Sama-sama, kami menunggu jawaban mu Lea." kata bu Elma


" Iya ibu, Lea istikharah dulu."


" Iya sayang." ucap bu Elma, lalu memeluk Lean kemudian berpamitan.


" Aku pulang dulu ya, aku menunggu jawabanmu."


" I iya dokter."


" Ih tolong hilangkan panggilan itu dong."


" I...iya mas."


" Nah gitu dong, aku kan jadi semangat!!"


" Ciyee...ciye...!" goda direktur yang sudah berada dalam mobil.


" Ayah ih...!" kata dokter Vian sambil masuk ke dalam mobil nya


" Assalamualaikum Lea."


" Wa alaikumsalam." balas Lea sambil merunduk memberi hormat pada keluarga pemilik rumah sakit tempat dia bekerja.


" Huuuufff masih sempat padahal kalau aku masuk dinas." kata Lea bicara sendiri.


" Istirahat dulu aja Lea, kamu belum cuti sama sekali lho." kata mba Rika mengagetkan Lea.


" Mbaaaa....ish, sejak kapan ada di belakang ku." kata Lea sambil mengelus dadanya karena kaget.


" Hahaha....eh ganteng ya." goda mba Rika.


" Hhhhmmmm.....mba mau??"


" Ish otakmu itu, sebenarnya kakak lagi ta'aruf Lea, sama salah satu ustad di pesantren." kata mba Rika pelan.


" Masya Allah mbaaaa, alhamdulillah, tapi kok mba malah pergi ke kota?"


" Dia juga salah satu pengajar di SDI tempat sekolah Ridho nanti, dialah yang merekomendasikan Ridho untuk sekolah disana, dia mengajar bahasa Arab."


" Masya Allah, ya kalau jodoh mah gak bisa di hindari mba."


" Kamu juga tuh, jangan mikir lama-lama ya, susah lho mendapat calon mertua yang menerima dengan hangat seperti mereka tadi."

__ADS_1


" Insya Allah mba, eh mba, kita jalan-jalan yuk."


" Ayok lah, sebentar Ridho masih ada setoran lagi gak, aku tanya dulu ya."


" Iya mba."


Mba Rika mencari Ridho yang ternyata kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas hapalan lagi.


" Gak bisa Lea, Ridho masih setoran, sampe nanti pas sholat Ashar katanya ada praktek sholat."


" Oh ya udah mba, besok aja, besok kan Lea dinas malam."


" Nanti deh lihat jadwal Ridho besok ya, kayaknya besok sudah off karena persiapan masuk sekolah tinggal sehari besok."


" Iya mba, aku mau sholat dzuhur dulu."


" Iya Lea, mba juga.


Usai menunaikan kewajibannya Lea memilih rebahan, lalu dia tertidur.


***


Di perjalanan pulang ke rumah mereka bu Elma tak henti memuji Lea.


" Benar-benar gak salah kamu memilih Lea, Vian...anaknya baik, beda jauh dengan sifat dokter Nala."


" Vian bilang juga apa bunda, Lea tu gak kegatelan gitu orangnya, Vian gak suka sama cewek yang kayak pasrah malah balik dia yang sibuk mengejar cowok gitu."


" Betuuulllll." sahut pak Ahmad.


" Makanya dokter Nala ayah tolak ketika hendak praktek di rumah sakit kita, masa di tegur jangan baju seksi dia malah bilang kemajuan jaman, memang pasien bisa sembuh dengan melototi paha begitu!" lanjut sang direktur.


" Bagus yah, di terapkan aja larangan kayak gitu, memang rumah sakit kita tidak terkhusus untuk satu agama namun bagi yang bekerja di sana setidaknya berpakaian yang sopan sebagai citra dari rumah sakit, niatnya apa coba kalau yang bertugas di sana malah berpakaian minim? ckckck!!" sambung bu Elma.


" Siapa yang bertamu ke rumah sih yah? kok penting banget, bikin orang terburu-buru aja." tanya dokter Vian.


" Entah, ayah lupa tanya si Dodo."


Karena sambil ngobrol tak terasa mobil telah sampai di rumah, di halaman terparkir sebuah mobil yang mewah, pak Ahmad dan dokter Vian langsung mengenali nya.


" Hhhhhmmmm...kok panjang umurnya di omongin, ck mau apa ini dokter!!" kata dokter Vian melihat mobil milik dokter Nala.


" Iiiiish." sahut bu Elma.


Mereka bertiga keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.


Di dalam ruang tamu, dokter Nala sedang duduk di sofa dengan pakaian super seksinya.


Melihat orang yang dia tunggu sudah datang dia berdiri dan hendak memeluk dokter Vian.


Namun dokter Vian mundur beberapa langkah, melihat sikap dokter Vian, dokter Nala cemberut.


" Lihat deh bunda, Vian kok gitu lhooo."


" Gitu gimana? aku lihat dia selalu begitu kalau kamu datang." ucap bu Elma.


Pak Ahmad hanya menggeleng melihat sikap lancang dokter Nala.


" Aku lelah, mau sholat dzuhur lalu tidur." kata pak Ahmad.


" Aku juga." sambung bu Elma sambil menyusul suaminya.


Di tinggal oleh kedua orang tua dokter Vian bukannya bersedih dokter Nala malah senang karena bisa bebas berduaan dengan dokter Vian.


" Viaaaan, kamu gak kangen aku? Aku kangen banget tau."


" Bodo amaaat!!" kata dokter Vian sambil duduk di sofa.


" Ih kamu itu, apa gak normal sih sebagai laki-laki, memangnya aku kurang cantik." kata dokter Nala sambil duduk dengan seksi.


" Cantik itu relatif, kalau aku memilih cantik model kamu, sudah banyak pacarku."


" Kamu gak bisa menghargai wanita ih.!!"


" Jangan salah artikan kata menghargai Nala! Kalau tiap wanita yang mendekatiku menagih kata menghargai seperti bayanganmu itu, sudah banyak deretan nama selingkuhan yang aku punya, paham kamu!!"


" Aku gak peduli, aku akan perjuangkan kamu, akan ku buktikan kalau aku pilihan yang terbaik!"


" Terserah, kau tak peduli, aku juga lebih tak peduli lagi, sudah aku mau sholat, lalu tidur! Terserah kalau kamu mau jadi pajangan ruang tamu ku." kata dokter Vian sambil meninggalkan dokter Nala sendirian.


" Vian....Alvian...hei...ish.!!" sentak dokter Nala sambil menghentakkan kakinya yang masih memakai high heels, padahal tuan rumah saja melepas alas kaki ketika di dalam rumah.


Karena tak mendapat apa yang ia mau akhirnya dia pergi tanpa pamit pada siapapun.


Dikamar dokter Vian menunaikan kewajibannya lalu rebahan.


" Azalea Nuraini binti almarhum Ahmad Alfarizi." sebut dokter Vian lalu tersenyum dan akhirnya tertidur.


Apa yang akan di lakukan dokter seksi itu....??


Bersambung yaaaaa

__ADS_1


__ADS_2