
" Sial....bagaimanapun aku harus membuat pernikahan Vian dan Lea batal, siapa yang bisa aku mintai bantuan ya?" ujar dokter Nala, ia sedang jaga malam di klinik dokter Roy.
" Hmmm....iya si Toni...dia kan tergila-gila sama Lea, dia aja yang ku suruh mengganggu Lea nanti, tak masalah walau harus membayar dia, oke aku akan cari dia besok."
Asyik bicara sendiri tiba-tiba telpon genggamnya berbunyi.
[ Hmmmm??]
[ Malam dokter seksiku....jutek amat sih!!]
[ Malam, aku lagi jaga ini, kamu mau apa?]
[ Ih kok makin jutek, kamu gak asyik ah.]
[ Iyaaa.....kamu mau apa? ] tanya dokter Nala melembutkan suaranya.
[ Kamu jaga ya? pengen nih...]
[ Ih gak sama Cika aja?]
[ Aku tak pernah sentuh Cika selama kami menikah.]
[ Hah?? Kok?]
[ Siapa suruh dia menjebak aku, yang dia mau kan aku menikahi dia ya udah aku nikahi selesai, dengan perjanjian jangan nuntut lebih.]
[ Kok aku baru tau?]
[ Kamu gak pernah tanya, terus kamu cari aku saat kamu butuh aja, sedang ketika aku butuh kamu malah jutek.]
[ Ya udah ke klinik aja, mumpung sepi nih.]
[ Serius??]
[ Iya cepat.]
[ Oke aku ke sana, tunggu ya.] Tut....sambungan terputus.
Tanpa pertimbangan lagi dokter Nala mengajak kekasih gelapnya untuk berbuat skandal di tempat klinik yang kebetulan masih sepi, ia tak tau kalau ruang yang ia pakai untuk istirahat itu sudah terpasang CCTV saat dia sering tak datang jaga.
Telpon genggam dokter Nala berbunyi, Albert menelponnya memberitahu dia sudah ada di depan klinik, segera dokter Nala membukakan pintu dan mengajak Albert masuk.
Hingga hampir menjelang subuh Albert baru keluar dan pulang.
Pagi hari saatnya berganti aplusan, dokter Nala langsung pulang kembali ke apartemennya dengan santai tak tau bahwa apa yang ia lakukan akan merusak karirnya sendiri.
Sejatinya ruangan itu tak harus di pasang CCTV karena ruangan untuk istirahat adalah tempat privasi, namun dokter Roy sudah mendapat informasi dari dokter Mila tentang kebiasaan dokter Nala yang suka meminum minuman keras maka dokter Roy harus melakukan sesuatu untuk membuktikannya.
Dokter Roy tak mau kecolongan tempat kliniknya di buat cacat nama baiknya dengan adanya dokter yang suka berbuat di luar aturan kode etik di dunia kedokteran.
Namun hari itu tak ada yang mengetahuinya karena dokter Roy sedang berada di luar kota beberapa hari, tapi semua kejadian malam itu sudah terekam kamera CCTV.
***
Jam 8 pagi Lea bersiap-siap, dokter Vian sudah menghubunginya kalau ia sudah di perjalanan.
Tin....tin.
" Lea...dokter Vian kayaknya sudah datang itu." kata mba Rika.
" Iya mba, mba gak ngajar?"
" Nggak hari ini gak ada jadwal ku."
" Mba ikut kami juga ya, mau di ukur badan sekalian."
" Kemana?"
" Ke butik yang kemarin mba."
" Oh mba nyusul aja ke sana nanti, gak enak kalau bareng kalian."
" Ish justru enak bareng mba, gak berduaan gitu akunya...."
" Iya deh, tunggu sebentar."
Mba Rika masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian, sedang Lea keluar menyambut dokter Vian.
" Assalamualaikum Lea."
" Wa alaikumsalam mas, mas nunggu mba Rika sebentar ya."
" Oh iya." dokter Vian turun dari mobilnya dan duduk di gazebo di halaman rumah Lea.
" Lea..." panggil mba Aisyah yang muncul dari rumahnya.
" Ya mba?"
" Kamu sibuk gak?"
" Ini mau pergi ke luar mba, ada urusan, ada apa mba?"
" Enggak cuma ada sedikit yang mau mba tanyakan, oh ada Vian to?" tanya mba Aisyah melihat dokter Vian ada di gazebo.
__ADS_1
" Eh Aisyah? Kamu di sini? Rumahmu dekat sini?"
" Iya itu di sebelah."
" Aisyah ini teman SMA ku Lea." kata dokter Vian menjelaskan pada Lea.
" Ooooh."
" Kalian ada hubungan apa?" tanya mba Aisyah bingung.
" Insyaallah kami akan menikah Aisyah."
" Oh alhamdulillah, akhirnya kamu mau buka hatimu pada wanita Vian, dengan Lea lagi, wah serasi banget, jangan lupa undangannya ya...."
" Iya Aisyah, kalau aku lupa kamu tetep datang tooo...?"
" Iya lah, secara yang nikah temen dan tetangga ku...hahaha... ya udah Lea, nanti aja ngobrolnya ya, mba pulang dulu, yuk Vian, kapan-kapan mampir lah ke rumah, kamu juga sudah lama kan gak ketemu bang Rohim suamiku."
" Iya tuh, sampaikan salam ku ya.?!"
" Iya..." mba Aisyah pun melangkah kembali ke rumah nya.
Mba Rika keluar dari rumah dan menghampiri Lea dan dokter Vian.
" Udah siap mba?"
" Iya udah, ayo."
" Bibi Lala gak di ajak sekalian Lea?" tanya dokter Vian.
" Bibi gak mau ikut, ini aku cuma bawa contoh bajunya biar di samakan nanti ukurannya, kalau bibi Ika dan paman Sabri gampang nanti kita mampir dulu."
" Oh paman dan bibi yang jagain toko obat ayahmu?"
" Iya kok tau?"
" Iya dooong."
" Ya udah kita berangkat?"
" Oke ayo."
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan dokter Vian melajukan mobilnya menuju toko obat milik Lea terlebih dahulu.
***
" Lea dan Vian...apa si Toni apa gak tau? Kok nanyain info tentang Lea barusan? Berarti Toni gak tau hubungan Lea dan Vian, aneh!! Tunggu Toni kan playboy ya jelas gak mau lah Lea sama dia, tapi dimana Toni kenal sama Lea....ah pusing aku." gumam mba Aisyah sendirian sambil memperhatikan kepergian Lea bersama calon suaminya.
Tak lama telpon genggamnya berbunyi.
[ Assalamualaikum Ton.]
[ Eh Aisyah gimana dapat info tentang Lea gak, tolong aku comblangin dengan dia ya, aku harus dapatkan dia, tolong ya.]
[ hiissssh.....jawab salam dulu kek Ton, gak langsung nyerocos gitu, kamu memang nya sudah tobat dari penyakit playboy mu itu? Lea anti laki-laki playboy tau!!]
[ Ya orang kan bisa tobat Aisyah, setidaknya aku berusaha untuk tobat dengan menikah dengan Lea.]
[ Maksudmu?? Kalau gak nikah sama Lea berarti gak akan tobat??]
[ Ya relatif siih...]
[ Ah, dasar Pinokio, usaha sendiri kamu, aku gak mau ikut campur, nanti aku yang di salahkan kalau ada apa-apa.]
[ Ah kamu gak setia kawan.]
[ Bodo amat, eh kamu tau gak, Lea akan menikah dengan Alvian, aku belum tau kapan pernikahan nya.]
[ Iya aku tau.]
[ Terus kalau tau kenapa kamu mau dekati Lea? Mau rebut milik orang? Dan kenapa kamu bilang aku gak setia kawan sedang kamu sendiri sudah tau kalau Lea milik kawan kita hah!!]
[ Suka-suka aku lah.]
[ Kalau gitu, ya suka-suka aku juga, aku gak mau bantu kamu, paham?? Aku tau rasanya yang namanya pasangan di rebut orang itu menyakitkan!! Udah jangan hubungi aku lagi, assalamu alaikum! ]
Tut...sambungan telpon di putus sepihak oleh mba Aisyah.
" Ish sakit jiwa nih orang!! " gumam mba Aisyah.
***
Sementara di tempat lain.
" Gimana dapat info?" tanya dokter Nala.
" Ck..temenku gak mau bantu!"
" Ya udah kamu berjuang sendiri aja, pokoknya kita pisahkan Vian dengan Lea pake cara kita biasanya."
" Heh susah tau, ini orang dua agamanya kuat, mana mau mereka hang out, terus di jebak minum sesuatu gitu."
" Kita fikirkan lagi bagaimana caranya, atau kamu teror dulu aja si Lea itu."
__ADS_1
" Hoh..ide bagus, aku akan teror Lea dulu, buat dia terganggu dulu."
Toni mengambil telpon genggamnya untuk menghubungi toko bunga agar mengirim kan bunga ke rumah Lea, dia tau kalau Lea suka dengan tanaman bunga.
Melihat itu dokter Nala tersenyum culas.
Di pikirannya ia pun mencari cara agar bisa menjebak dokter Vian, ia harus mencari orang kepercayaan dokter Vian agar bisa membawanya ke suatu tempat agar ia bisa melancarkan aksinya lagi seperti yang dulu pernah ia lakukan.
***
" Assalamualaikum bunda"
" Wa alaikumsalam, kalian sudah datang?" sahut bu Elma yang sudah berada di butiknya menunggu kedatangan calon menantunya.
" Iya bun."
" Ayo kita langsung ukur badanmu dan kakakmu, mana bibi Lala?" tanya bu Elma.
" Gak mau ikut bun, ini contoh baju bun pake ukuran baju aja, ini baju punya paman Sabri dan bibi Ika."
" Oh ya udah sama aja kok, lebih gampang malah."
Lea dan kakak iparnya di ajak ke ruangan lain untuk mengukur badan, sedang dokter Vian menunggu di ruangan ibunya.
Setelah selesai mengukur badan, dokter Vian pamit untuk mengajak Lea ke suatu tempat.
" Iya, pergilah, semua persiapan sudah hampir selesai, tinggal mengurus dokumen kalian saja." kata bu Elma.
Bu Elma memang punya butik dan wedding organizer sendiri jadi tak repot baginya untuk mengadakan acara pernikahan, sedang catering milik saudaranya juga, jadi walau mengadakan pesta dadakan sekalipun tak jadi masalah.
" Aku pulang aja ya Lea, takut nanti Ridho pulang akunya gak ada di rumah."
" Kita gak lama kok mba, aku kan dinas malam nanti."
" Oh begitu, ya udah kalau gitu mba ikut kalian, gak baik juga belum halal sering berduaan."
" Nah tuh mba sadar kan, hehe." sahut Lea, sedang dokter Vian hanya tersenyum.
" Ayo kita cuma ke taman dekat danau selatan kota aja kok."
" Oh iya aku belum sempat kesana kan baru di bikin ya taman itu." sahut Lea sambil berjalan di iringi kakak ipar dan dokter Vian keluar butik yang ada di mall itu.
Mereka berjalan ke arah parkiran mobil lalu masuk ke dalam mobil, dokter Vian melajukan mobilnya ke arah taman yang ia maksud.
****
" Kemana Fardhan...Farlan?? Bukankah kamu papa suruh jagain dia!!"
" Iya pa....tadi dia bilang hanya ke rumah om Henry sebentar, mau ngambil laptopnya yang tertinggal di sana namun belum kembali."
" Aah kamu itu gak bisa di andalkan!! Harusnya kamu antar dia, kamu tau dia itu bisa nekat!!"
" Terus bagaimana ini pa?" tanya mama Erica.
" Kita cek ke bandara, kalau dia kembali ke Indonesia harus kita kejar."
" Ayo pa."
Mereka bertiga mengejar Fardhan yang menghilang dari pantauan saudara kembarnya.
Fardhan memang berkali-kali meminta untuk pulang ke Indonesia ia ingin menemui Lea, ia tak terima putus dengan Lea.
Setibanya keluarga papa Rudi di bandara mereka mengecek ke seluruh pemberangkatan bertanya ke sana kemari, kemudian meminta rekaman CCTV yang ada di bandara memastikan apakah Fardhan memang pergi ke sana.
" Itu pah, itu sama dengan jaket Fadhan."
Ada seorang pria berjalan tampak terekam jelas di kamera yang menggunakan jaket yang sama dengan Fardhan.
" Kami bisa minta data manifes ke berangkat ke Indonesia, apakah ada penumpang yang bernama Fardhan Abimanyu?" pinta papa Rudi pada petugas bandara.
" Sebentar pak kami cek dulu armada pesawat apa saja yang terbang ke Indonesia."
Beberapa lama menunggu akhirnya petugas itu kembali dan memberikan data manifes yang di pinta oleh keluarga papa Rudi.
" Iya dia pulang ke Indonesia, Farlan kamu beli tiket segera, kita terbang ke Indonesia secepatnya!!"
" Iya pah."
Tanpa menunggu lagi, Farlan memesan tiket untuk pulang ke Indonesia.
" Anak itu pasti akan membuat masalah di Indonesia, kasihan Lea sudah di buat sakit hati karena ulah si kembar." kata papa Rudi.
" Harusnya papa usahakan bagaimana supaya Lea mau terima Fardhan bukan malah memisahkan mereka jadinya seperti ini kan." Isak mama Erica.
" Kamu kok bicara begitu!! Coba kamu posisikan dirimu di tempat Lea, apa mau kamu di tipu kayak gitu, Lea itu merasa dirinya menjadi murahan karena kelakuan kembar, paham kamu!! Kalau kita terus paksa Lea untuk bersama Fardhan nanti dia akan terus curiga siapa yang sedang bersamanya, Fardhan atau Farlan, kan gak baik jadinya kalau mencurigai pasangan."
" Terus bagaimana kalau sudah begini pah, aku gak mau kehilangan anakku lagi, sudah cukup Farhan saja yang pergi." kata mama Erica yang masih terisak.
" Kita lihat nanti, kita usahakan sekali lagi meminta Lea agar bisa menerima Fardhan tapi kalau tidak jangan di paksa."
" Iya pah." sahut mama Erica mulai tenang.
****
__ADS_1
Hhm..ada gangguan lagi niiii....apakah Fardhan juga akan menggagalkan pernikahan Lea??
Ikuti terus ceritanya yaaa..