
Hari ini kedua belah pihak keluarga sangat sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahan Lea dan dokter Vian.
Rumah Lea sudah di hias dengan dekorasi sangat mewah.
Tetangga sekitar juga ikut membantu Lea, mereka paham si anak yatim-piatu itu pasti membutuhkan bantuan.
Sebenarnya tak banyak yang harus di kerjakan karena semua sudah di handle oleh wedding organizer milik calon mertua Lea.
Keluarga dari almarhum ayah Lea juga sudah datang, mereka dengan sangat suka cita datang ke rumah Lea, kangen karena sudah lama tak berjumpa, rumah mereka berada di kota lain sehingga jarang sekali bisa bertemu, dengan momen pernikahan Lea, akhirnya mereka bisa bertemu lagi.
" Om Yahdi, terimakasih sudah datang," ucap Lea.
" Iya nak, apa yang tidak untuk keponakan om yang satu ini," ucap Om Yahdi.
" Om mu sangat menunggu momen ini Lea, andai masih lama kamu gak nikah-nikah om mu ingin carikan jodoh untukmu, hahaha," celetuk tante Iche.
" Ish kamu bongkar-bongkar rahasia aja.."
" Hahaha..." Semua tertawa bahagia.
Keluarga pak Ahmad pun tak kalah sibuk, walau acara akan di gelar di rumah Lea, namun mereka berniat untuk mengadakan acara resepsi lagi di kediaman mereka, untuk ajang silahturahmi antar semua instansi dan juga reuni dari teman dan relasi kedua orang tua dokter Vian.
"Kamu siap untuk menikah Vian?" tanya Bu Elma pada anaknya yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya.
" Insyaallah bunda."
" Apa yang kamu kerjakan? Sibuk sekali."
" Cuma mengecek email aja bun, semua laporan rumah sakit kan tetap harus Vian kerjakan, supaya gak numpuk."
" Hhmm.... oh ya ayahmu berencana ketika dia pensiun nanti rumah sakit sudah bisa ayahmu serahkan padamu, jadi bersiaplah."
" Iya bunda insyaallah."
" Oh ya lupa, bunda kan punya niat untuk membuka resto sama Lea, apakah kamu mengizinkannya? Ya Lea gak total di resto siiih cuma sebagai penanggung jawab cita rasa makanannya aja, supaya sama persis seperti resto almarhumah ibunya dulu."
" Oh iya bun, gapapa asal Lea suka dan senang Vian gak masalah, ia bisa mengembangkan hobi masaknya itu."
" Bagus anak bunda, jangan kekang istrimu, ini salah satu penyaluran hobinya jadi dia tak akan stres."
" Iya bun," sahut dokter Vian
Bu Elma keluar dari ruang kerja keluarga mereka, meninggalkan dokter Vian yang masih melanjutkan pekerjaannya.
Besok adalah hari pernikahan Lea dan dokter Vian semua persiapan sudah selesai tinggal hari pelaksanaan saja.
***
" Apa rencana kamu setelah keluar dari sini Fardhan?" tanya Farlan saat menjenguk adik kembarnya itu di tahanan.
" Entah... aku tak semangat lagi untuk hidup."
" Jangan picik Fardhan, lihat mama, beliau butuh kita, papa sudah pergi meninggalkan kita, ternyata hubungan yang di dasari dengan kesalahan itu tidak baik hasilnya, aku sudah banyak melakukan kesalahan, aku tak mau lagi melakukannya aku harus selamatkan hidupku," ucap Farlan akhirnya menyadari perbuatannya.
" Apa yang harus aku lakukan menurutmu?"
" Pertama mungkin kita harus melakukan sesuai yang baik untuk hidup kita, aku sudah melakukan terapi atas kejiwaanku, jelas aku juga butuh setidaknya untuk bangkit, harus ada yang sehat pikirannya di antara aku, kamu dan mama, supaya kita bisa saling menjaga."
" Apa aku harus melakukan hal yang sama?"
" Kurasa iya, coba lah, aku sudah 2 kali, dan mulai merasa tenang."
" Mama benar, seharusnya aku tak kembali ke Indonesia, hanya akan menambah sakit hatiku."
" Ya benar," ucap Farlan, ia pun merasakan hal yang sama namun hal yang ia lakukan itu ternyata salah besar.
" Bagaimana kalau kita pindah keluar negeri, ajak mama juga, kita pindahkan mama ke rumah sakit jiwa di luar negeri saja, seluruh aset di sini kita jual untuk membuka usaha di luar." ujar Fardhan.
" Hhmm....sepertinya ide bagus, tapi kemana? Aku tak ingin kita ke Jerman, karena papa pasti di sana."
" Singapura atau Hongkong mungkin, bukannya kita punya relasi di sana?"
" Iya juga ya, oke nanti kita atur kau jalani saja dulu sisa hukumanku, berkelakuan baiklah agar cepat bebas."
" Oke."
" Ya udah aku pulang, nanti sore mau jenguk mama."
" Iya semoga mama segera membaik," sahut Fardhan sambil berdiri dan memeluk saudara kembarnya itu.
Farlan pulang ke rumahnya, ia langsung masuk ke kamarnya dan mengambil kotak yang rencana nya kan ia kirimkan pada Lea.
" Sepertinya aku akan kirimkan kotak ini sebagai tanda perpisahan, " gumamnya lalu mengambil secarik kertas untuk menuliskan permintaan maafnya.
Kertas itu dia masukkan ke dalam kotak lalu membungkusnya dengan rapi, ia akan kirimkan kotak itu di saat hendak pergi saja, masih banyak hal yang ingin dia selesaikan.
Seluruh aset milik keluarganya akan ia lepaskan untuk memulai hidup baru di tempat yang baru.
Sore hari tiba, Farlan mengumpulkan semua Art dan penjaga rumahnya.
__ADS_1
" Kalian saya kumpulkan karena ada yang ingin saya sampaikan."
Fardhan memandang mereka satu persatu.
" Kalian sudah tau apa yang terjadi di dalam keluarga saya, mohon maaf sekali, bulan ini adalah bulan terakhir kalian bekerja pada kami, saya dan keluarga saya akan pindah ke Singapura untuk selamanya, tak akan kembali ke rumah ini lagi, seluruh aset akan kami jual, jadi kalian sudah bisa memperkirakan kapan kalian harus keluar juga, nah Minggu depan, gaji plus pesangon akan saya berikan, mungkin nanti berguna untuk kalian bila ingin membuka usaha kecil-kecilan, jika butuh bantuan saya jangan sungkan untuk memintanya, kalian sudah lama ikut kami, jadi kalian sudah seperti keluarga bagi kami."
Beberapa Art mulai terisak.
" Ingat apa bila kalian ingin buka usaha lalu butuh suntikan dana, bilang ke saya saja, saya pasti bantu."
" Iya tuan muda," sahut mereka.
" Ada yang ingin kalian tanyakan?"
Mereka semua saling pandang, " Kami bingung mau tanya apa tuan muda, ini sangat mengejutkan," Ucap penjaga rumahnya.
" Ya ini memang bukan ide ku, tapi kurasa ini yang terbaik, kalian tau aku sangat mencintai Lea, namun aku tak bisa melihatnya bersama laki-laki lain, jadi lebih baik kami pergi."
" Baik lah tuan muda."
" Kalian bersiap-siap saja ya.. jika ingin keluar sekarang juga tidak apa-apa, rumah ini sudah ada yang ingin membeli, besok kami sudah melakukan transaksi,nah bila memang sudah dapat uang hasil penjualan nya berarti gaji dan pesangon kalian tak menunggu sampai Minggu depan sudah saya berikan.
" Baik tuan muda," sahut mereka.
" Saya mau pergi menjenguk mama dulu ya," ucap Farlan sambil beranjak dari duduknya menuju keluar rumah.
" Iya tuan muda."
Sepeninggal tuan mereka, para art saling berpelukan, mereka sedih harus berpisah karena mereka berasal dari daerah yang berbeda.
" Kalian jangan sedih, walau bagaimanapun ini yang terbaik, apa kalian tak lelah menyaksikan tragedi di rumah ini?"
" Iya benar...sudah lah, aku sudah punya tempat kerja baru, mungkin kalian ingin ikut aku ke sana?"
" Apa mereka membutuhkan banyak art?"
" Iya pastinya, karena ini sebuah Villa besar, di perbatasan kota."
"Kalau gitu bantu kami agar bisa di terima di sana ya."
" Iya aku sudah bilang akan ajak kalian kok pada majikan ku, beliau majikan ku sebelum ikut keluarga ini."
" Syukur lah, sahut mereka senang.
***
" Ma...." panggil Farlan pada mama Erica.
" Ma..." Farlan hendak mengatakan sesuatu pada mama Erica namun di potong oleh kode yang di berikan oleh Lena.
Farlan mengerti maksud kode dari Lena.
" Hasilnya baik ma, Farhan sudah sehat," ucap Farlan lagi.
" Syukurlah, " kata mama Erica sambil memeluk anaknya.
Farlan menikmati pelukan sang ibu yang sangat ia rindukan.
" Mama capek, ingin tidur," kata mama Erica lagi.
" Iya ma, " ujar Farlan sambil berdiri dan menggandeng mamanya lalu mengantarkan mamanya ke ruang yang dulu di gunakan oleh Erin saudara kembar mama Erica.
Setelah mamanya masuk ke kamar dan langsung berbaring, Farlan keluar dari kamar.
" Lena, aku ingin bicara sebentar apa kamu ada waktu?"
" Iya mas, sebentar lagi pergantian jam dinas, apa mas mau menunggu?"
" Iya baiklah, akan aku tunggu di mobilku saja ya."
" Iya mas aku tinggal dulu ya, aku mau serah terima dengan perawat yang dinas sore."
" Iya," ucap Farlan sambil melangkah keluar rumah sakit dan menunggu Lena di dalam mobilnya.
15 menit kemudian Lena keluar rumah sakit dan berjalan menuju mobil milik Farlan. Farlan membukakan pintu mobil untuk Lena.
" Terimakasih mas."
" Iya," Farlan kembali ke masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya ke sebuah taman.
Sesampainya di taman, Farlan menawarkan minuman pada Lena, Lena mengambil minuman itu dan meminumnya sedikit.
" Apa yang ingin mas bicarakan?"
" Aku berencana untuk pergi membawa adik kembar ku dan mama pindah ke Singapura, aku ingin pengobatan yang terbaik untuk mamaku, bagaimana menurut mu?"
" Ehm...mmm... ya..ya itu terserah mas aja sih," jawab Lena agak kaget.
" Kamu kenapa? Biasanya kamu selalu jawab dengan tenang, aku suka bicara denganmu, bikin damai hatiku." ujar Farlan.
__ADS_1
" Kalau mas suka bicara dengan ku kenapa mas pergi?" sahut Lena pelan sekali.
" Hah...apa?" tanya Farlan hampir tak mendengar suara Lena.
" Eng...enggak, " jawab Lena sambil memandang ke arah lain.
" Lena, apa mungkin ada aku di masa depan mu?"
" Maksud mas?" tanya Lena kembali memandang ke arah Farlan.
" Entah, aku juga bingung dengan perasaanku." ujar Farlan sambil menghela nafas, takut akan perasaan nya sendiri, dia melihat sosok Lea pada Lena, yang ia takutkan ini hanya pelarian semata.
" Mas pastikan lagi aja, aku tau cerita hidup mas dari dokter Ryan, maaf mas kalau yang mas maksudkan itu adalah mas takut punya hati pada ku karena secara sifat aku sama dengan Lea, lupakan saja, aku kenal Lea, dan dari dulu sifat kami memang sama."
" Kau kenal Lea?"
" Iya, dia adik kelas ku, dia baik, sangat baik malah, pergilah ke Singapura, lupakan semua yang ada di sini, buka hidup yang baru."
" Dan kau? " tanya Farlan.
" Hehehe...mas...mas.... mas gak perhatikan ke dekatan ku dengan dokter Ryan? maaf mas dia suami ku."
" Oooh...maaf jadi aku ngajak istri orang nih?"
" Hahaha.... bagiku kamu adalah teman sekaligus pasien kami, bukankan kami harus berikan pelayanan yang maksimal pada pasien kami? Asal bukan pelayanan di luar dari pekerjaan kami lho yaa??!"
" Kamu benar," ucap Farlan sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal.
" Kenapa mas, banyak ternak ya di rambutmu?"
" Hehe tidak aku hanya berpikir untuk minta maaf pada dokter Ryan..."
" Hihi...tuh orang nya lagi di sana," ucap Lena sambil menunjuk ke ujung taman.
Disana ada dokter Ryan yang sedang menggendong seorang bayi.
Lena melambaikan tangannya pada suaminya itu.
Dokter Ryan pun berjalan mendekati mereka, begitu melihat Lena anaknya langsung tertawa senang.
" Anak mama, sudah mandi? sudah ganteng?" tanya Lena sambil mengambil anak nya yang masih berusia 5 bulan itu dari gendongan suaminya.
" Dokter," kata Farlan menjabat tangan dokter yang merawat dia dan ibunya itu.
" Maaf dok...saya....saya...." ucap Farlan terputus-putus.
" Gak pa-pa saya sudah paham kok."
Lena asyik menciumi pipi anaknya yang tembem.
" Dok sekalian aja saya mau ngomong."
Farlan menceritakan lagi rencananya yang akan pindah ke Singapura.
" Oh begitu, bagus juga, nanti saya rekomendasikan teman saya di Singapura, dia asli Indonesia kok, tapi sudah jadi warga sana, dia juga menikah dengan perawatnya, jadi hati-hati jangan sampai ada hati lagi," ucap dokter Ryan sambil memberi kode telunjuk pada Farlan.
" Hahaha..." mereka bertiga tertawa atas hal konyol yang sempat terjadi.
*****
" Saya terima nikah dan kawinnya Azalea Nuraini binti Ahmad Alfarizi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 20,21 gram di bayar tunaaaiii," ucap dokter Vian saat menjabat tangan paman Lea.
" Bagaimana saksi??" tanya penghulu.
" Sah."
" Sah."
" Sah, Alhamdulillah," Penghulu lanjut membacakan do'a dan di aminkan oleh semua yang hadir di acara pernikahan tersebut.
Mba Rika masuk ke kamar untuk menjemput Lea yang menunggu di kamar.
Lea berjalan ke arah dokter Vian yang baru saja selesai mengucapkan ijab kabul. Dokter Vian tampak tak berkedip melihat kecantikan Lea yang berpakaian kebaya putih nya.
" Nih tissue Vian, kamu ngiler tuh" ledek pak Ahmad.
" Ayah ih apa-apaan sih," ucap dokter Vian.
" Hahaha...." tawa semua yang mendengar perbincangan ayah dan anak itu.
Acara di lanjutkan dengan prosesi tukar cincin, lalu Lea mencium punggung tangan suaminya dan dokter Vian pun mencium kening istrinya.
Tak terasa air matanya Lea menetes terharu. Dokter Vian menghapus air mata Lea sambil membisikkan janjinya.
" Jangan berjanji mas, cukup buktikan saja," bisik Lea juga.
Kedua pasangan berbahagia itu menyalami semua orang yang datang.
Di antara semua yang datang ada beberapa pasang mata yang melihat ke arah kedua mempelai dengan tatapan kurang senang pada kebahagiaan mereka.
__ADS_1
Hhmmm siapa lagi yaaaa.....
Bersambung......