
Hari ini aku mendapatkan jatah libur.
Biasanya setiap sabtu, minggu perusahaanku libur dan aku bisa menghabiskan waktuku dengan anak-anakku.
Aku yang tengah asik bermain dengan kedua anakku yang sudah bangun.
Tiba-tiba mendengar suara Rika yang sedang berada dikamar mandi.
“Huuekk...!”
Dengan cepat aku turun dari ranjang, berjalan kearah kamar mandi.
Tok..tok..
“Sayang, kamu kenapa?”
“Huuekk!”
“Rik, buka pintunya dong. Kamu kenapa?”
Rika segera membuka pintunya. Ia mengelap mulutnya yang masih basah akibat muntahan tadi dengan tisu yang ada di tangannya.
“Kamu kenapa?” ujarku khawatir dengan keadaan Rika.
“Aku enggak apa-apa Mas, aku Cuma masuk angin aja kok.” ucap Rika dengan gugup.
Kulihat wajahnya terlihat sedikit pucat.
“Kamu yakin cuma masuk angin? Apa kita ke rumah sakit aja?” aku menawarkan untuk pergi ke rumah sakit.
“Jangan!” tolak Rika. “Aku enggak mau ke rumah sakit. Ini cuma masuk angin saja kok.” Jelas Rika.
Saat dia ingin keluar dari kamar mandi tiba-tiba perut Rika merasakan mual lagi.
“Tuhkan muntah lagi. Kamu habis makan apa sih?”
Secara perlahan aku membantu Rika mengusap-usap punggungnya.
“Huueekk!”
“Rik, kita ke rumah sakit aja yuk, takutnya kamu kenapa-napa. Biasanya kamu kan enggak pernah kaya gini. Kamu kaya orang lagi hamil aja.”
“Mas! Kamu ini ngomong apa sih?” bentak Rika membuat aku kaget.
Astaga
Padahal aku berkata seperti itu hanya bercanda saja, tapi kenapa Rika marah?
“Kok kamu marah? Aku kan cuma bercanda aja.” Jelasku.
“Ya, lagian kamu bercandanya ada-ada aja si Mas, ya mana mungkinlah aku hamil."
"Iya kalau hamil lagi emang kenapa?"
"Enggak!" jawab Rika jutek.
Di saat aku sedang sibuk membantu Rika mengusap-usap punggungnya.
Telingaku mendengar ada suara ponsel yang berbunyi, aku pun menghentikan kegiatanku.
Ternyata ponsel yang berbunyi adalah milik Rika. Aku segera mengambilnya, baru saja aku ingin melihat siapa yang menelopo Rika, dengan sambaran cepat ponsel yang berada di tanganku.
Langsung dirampas secara kasar oleh Rika.
“Siapa itu Dio?” tanyaku sekilas melihat ada nama Dio di ponsel Rika.
Buru-buru Rika mematikan panggilan tersebut tanpa menjawabnya.
“Itu, teman aku Mas.”
“Cewek apa Cowok?” Rika semakin gugup setelah aku menanyakan hal tersebut.
“Mas, si Aqila sama Adnan ke mana ya?” tanya Rika mengalihkan pembicaraan.
"Lah, ini Aqila sama Adna ada di sini." aku menunjuk anakku yang sedang bermain di atas kasur.
__ADS_1
"Hoh, iya. Enggak lihat."
Aku mengeritkan keningku, merasa heran dengan sikap Rika. "Masa anak segede ini enggak lihat si?"
"Namanya juga enggak sadar Mas, lagi juga aku enggak enak badan sekarang."
"Ya, udah. Mas mau turun ke bawah. Kamu ikut ke bawah?"
"Iya."
Aku segera menggendong kedua anakku, ke lantai bawah.
Begitu juga dengan Rika segera berjalan mengikutiku keluar dari kamar dan menemani anaknya bermain.
Aku yang melihat itu merasa heran dengan sikap Rika yang tiba-tiba ingin bermain dengan anaknya.
Tak lupa aku menyiapkan camilan untuk kedua anak kembarku
Setelah itu aku pun ikut nimbrung bermain dengan kedua anakku.
Sedangkan Rika terlihat seperti orang panik. Ia seperti tidak tenang bermain dengan anaknya.
Sekali-kali matanya melihat ke layar ponselnya yang sedang ia genggam. Matanya terus saja melirik ke arahku.
Aku tahu jika Rika sedang melirikku. Hanya saja aku pura-pura tidak tahu.
“Rika?” aku memanggil Rika yang saat ini fokus melihat ponselnya.
Tapi dia tidak menoleh kearahku.
“Rika!” ucapku dengan nada sedikit tinggi hingga ia terkejut.
“I-iya Mas? Kenapa?”
“Kamu lagi lihatin apa sih? Dipanggil kok enggak dengar-dengar?” tanyaku membuat aku kesal.
Rika menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, “Aku enggak lihatin apa-apa kok. Mas mau ngomong apa barusan.”
“Aku sama anak-anak mau ke mall. Mau mandi bola di sana mumpung aku libur. Kamu mau ikut?”
Aku menganggukkan kepala, “Iya sekarang, tapi Mas pinjam mobil kamu ya.”
“Lama enggak?” tanya Rika membuat dahiku berkerut.
“Ya enggak tahu juga sih, kalau lama memang kenapa?”
“Hoh, enggak apa-apa sih. Kalau gitu aku enggak ikut ya. Aku di rumah aja. Akukan lagi enggak enak badan."
"Jangan lupa minum obat ya. Ya sudah, aku mau siap-siap dulu."
"Oke." Rika terlihat sangat senang sekali. Ketika aku ingin pergi keluar.
20 menit kemudian, aku sudah siap. Kugendong kedua anakku untuk menuju mobil.
Sedangkan Rika tengah asik duduk diruang tamu sambil rebahan.
Senyum-senyum sendiri ketika melihat layar ponsel.
Aku penasaran dengan siapa Rika chattingan?
Aku dan anak-anak bersiap-siap untuk pergi ke mall untuk bermain mandi Bola.
Menggunakan mobil istriku. Karena tidak mungkin aku membawa kedua anakku dengan menggunakan sepeda motor.
Tak lupa aku membawa stoller untuk anak kembarku agar mereka berdua tidak usah berjalan di dalam mall.
Saat aku sudah masuk ke dalam mobil dan melaju, tanpa sengaja mataku melihat ada sebuah kertas di bawa setir.
Aku pun mengambilnya, “ini kertas apa?” batinku.
Saat melihat kertas tersebut betapa terkejutnya aku melihat struk atas nama istriku.
Yang ternyata itu adalah tagihan dari hotel pada tanggal 24 januari.
Sekitar 3 hari yang lalu. Yang mana aku ingat itu adalah saat aku melihat Rika bersama dengan orang lain.
__ADS_1
Saat Rika naik mobil Pajero Sport berwarna hitam.
Aku terus bertanya-tanya ada apa dengan Rika? Apa dia bermain api di belakangku?
Aku yang sudah tidak ada waktu lagi segera melajukan mobil ke arah mall.
Selama bermain menemani anakku bermain mandi bola, aku terus saja memikirkan Rika.
Aku berusaha untuk setenang mungkin, berpikir positif semoga Rika tidak bermain api di belakangku.
Jika saja Rika bermain api di belakangku. Aku tidak akan mengampuninya dan akan membuat dia membayar semuanya.
Aku benci dengan adanya sebuah perselingkuhan diantara sebuah ikatan pernikahan.
Aku tidak ingin rumah tanggaku berantakan seperti kakaku perempuanku.
Suaminya telah bermain api di belakang kakakku, setelah mengetahui suaminya selingkuh.
Dengan tegas kakaku menceraikannya, dan untungnya kakaku. Termasuk perempuan yang hebat.
Sebelum ia bercerai dengan suaminya, aset berharga seperti rumah, mobil dan semua yang berharga.
Dia tarik semua, hingga suaminya tidak mendapatkan apa-apa. Ya karena pada dasarnya itu semua milik kakakku.
Tapi selalu saja suaminya yang pakai.
Setelah dirasa puas bermain, aku bergegas pulang ke rumah. Karena anakku terlihat sudah sangat lelah bermain.
Aku melajukan mobil menuju rumah, namun tak disangka saat aku ingin masuk ke dalam kompleks rumahku, aku melihat ada sebuah mobil Pajero yang keluar dari kompleks perumahanku.
Mobil itu pergi berlawan arah denganku. Aku masih ingat betul mobil Pajero yang membawa istriku pergi 3 hari yang lalu.
Aku yang penasaran dengan mobil Pajero itu menginkutinya dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh agar tidak ketahuan.
Aku yakin di dalam mobil itu pasti ada Rika. 30 menit kemudian mobil itu telah sampai di sebuah cafe.
Yang menurutku terbilang cukup mewah apalagi dengan desain yang begitu elagan.
Aku terus mengamatinya dari jarak jauh. Dan benar saja Rika keluar dari dalam mobil dengan menggunakan gaun yang menurutku sangat terbuka.
Setelahnya disusul oleh laki-laki, bagai disambar petir di siang bolong. Hatiku begitu hancur saat melihat istriku sedang merangkul pria yang bukan suaminya.
Bagaimana bisa Rika melakukan hal itu padaku, padahal aku sudah berkorban banyak untuknya. Tapi apa yang aku dapat dari Rika.
Sebuah penghianatan. Aku begitu geram melihat istriku yang sudah bermain api di belakangku.
Pantas saja dia selalu terlihat gugup dan panik saat aku ingin memegang ponselnya.
Di tambah lagi ada setruk dari hotel atas nama Rika.
“Baiklah Rika, jika memang ini maumu. Akan Mas biarkan kamu bermain dengan pria itu."
Aku sengaja tidak pulang, aku berniat untuk menunggu dia pulang. Tak butuh waktu lama Rika dan laki-laki itu keluar dari Cafe.
Rika seperti terburu-buru keluar dari cafe, mungkin dia ingin cepat-cepat pulang ke rumah agar aku tidak curiga jika dia habis dari luar.
Akhirnya Rika sudah sampai rumah sedangkan aku masih berada di luar kompleks rumah menunggu mobil Pajero itu keluar, setalah itu baru aku masuk.
Setelah mobil Pajero tersebut keluar dan berpapasan dengan mobilku.
Aku segera memarkirkan mobil di dalam garasi, aku juga sudah menurunkan kedua anakku dengan stoller.
Saat aku ingin membuka pintu, tanpa aku sangka Rika telah membuka pintu terlebih dahulu untukku.
“Eh, Mas. Kamu sudah pulang? Gimana tadi mainya sama si kembar?” tanya Rika dengan senyum palsunya membuatku merasa muak dengan sikapnya.
“Seru kok.” Ucapku aku memperhatikah tingkah istriku.
Sepertinya Rika habis bermain kejar-kejaran, aku bisa melihat saat dia berbicara nafasnya masih tidak beraturan.
Ada keringat di dahinya. Namun aku masih tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
Ditambah lagi ada bekas makeup yang masih menempel di wajah Rika.
“Sepertinya Rika terburu-buru saat membersihkan wajahnya.” Batinku.
__ADS_1
Padahal Rika bilang dia sedang tidak enak badan tadi.