Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 29 Para Pendengki


__ADS_3

Seminggu sudah usia pernikahan Lea, ia sudah menempati rumah barunya bersama suaminya.


[ Assalamualaikum bun]


[ Wa alaikumsalam, Lea kapan ke rumah bunda? Besok acara resepsi pernikahan kalian di rumah bunda.]


[ Ini sudah mau berangkat bun]


[ Oh iya nak, bunda tunggu ya.]


[ Iya bun]


[ Assalamualaikum]


[ Wa alaikumsalam.]


" Ada apa sayang?"


" Bunda nanyain."


" Oooh...."


Dokter Vian sedang menyetir mobilnya menuju kediaman orang tuanya, namun sebelum sampai di rumah orang tuanya dia mampir dulu ke klinik dokter pribadi nya, untuk mengambil hasil pemeriksaan nya.


Lea menunggu di mobil karena dokter Vian berkata dia hanya sebentar saja mengambil hasil medisnya.


Tak lama dokter Vian kembali dan masuk ke dalam mobil, ia menyetir sambil menghela nafas berat.


Lea seakan bisa menebak hasil medis suaminya tapi tak berani menanyakan pada suaminya. Namun ia harus tetap memberi semangat pada suaminya.


" Mas.."


" Hhmmm?"


" Mas percaya pengobatan alternatif gak?"


" Belum pernah nyoba sih, kenapa?"


" Kita ke tempat kenalan almarhum ayah yuk, siapa tau cocok, banyak sih yang cocok, tapi tak ada salahnya kalau kita coba kan?"


" Boleeeh, nanti ya, kita cari waktu longgar dulu."


" Iya mas," Lea tersenyum mendengar tanggapan positif dari suaminya.


Setibanya di kediaman orang tua dokter Vian, keduanya di sambut oleh bu Elma.


" Assalamualaikum bun."


" Wa alaikumsalam," sambut bu Elma kemudian memeluk menantunya dan langsung mengajak nya masuk.


Sedangkan dokter Vian terpaku berdiri tak di ajak.


" Serius ini??" Yuhuuu...bun ada Vian lho..buuuun.. Haloo.."


Karena tak di tanggapi akhirnya dokter Vian menyusul ibu dan istrinya.


" Kejam huh!" ucap dokter Vian ketika sudah masuk rumahnya.


" Kenapa kamu?" tanya pak Ahmad.


" Tuuuuh...!!" dokter Vian menggunakan bibirnya menunjuk kepada ibu dan istrinya yang asyik sedang sesuatu ada di atas meja.


" Kamu di cuekin? Yaaa terima nasib...hahaha...!"


" Ck ayah gak asyik ah."


Kemudian mereka sibuk melanjutkan persiapan untuk acara besok. Acara besok kemungkinan lebih besar dari acara di rumah Lea, karena yang datang para pejabat, relasi dan karyawan rumah sakit beberapa keluarga pasien yang sangat mengenal kedua pentolan rumah sakit mereka.


***


" Nala kamu akan masuk kerja kapan?" tanya Zoni.


" Enaknya kapan pa?"


" Terserah padamu, ingin berlibur dulu juga boleh, Toni akan menemanimu," sahut Zoni sambil meminum anggur.


" Oke pa, aku ingin liburan dulu seminggu saja, aku terlalu banyak menguras tenaga kemarin dan juga belum lama aku keluar dari klinik aku ingin menyegarkan pikiran dulu."


" Tapi ingat jangan coba-coba kamu kembali ke Indonesia kecuali atas perintah ku, paham!!"


" Iya pa, pa bagaimana dengan keluargaku di desa?"


" Tenang Toni kemarin sudah urus mereka semua, mereka tak akan mencari mu."


" Jadi kemarin Toni bersembunyi di desa ku?"


" Iya, sebaiknya kamu segera menikah dengan Toni agar bisa mengelabui petugas."


" Terserah papa saja."


" Bagus, papa beri kamu waktu 1 minggu untuk berlibur, setelah itu kamu akan ke Indonesia membawa barang, gunakan gelar doktermu untuk mengelabui petugas, ingat itu, nanti kau pelajari caranya pada Toni."

__ADS_1


" Iya pa."


" Karena tugas mu hanya pergi ke sana sini jadi kamu gak perlu punya tempat kerja, pekerjaan mu hampir sama dengan traveling jadi waktu kerjanya sangat fleksibel."


" Oke pa," ucap dokter Nala sambil tersenyum.


Zoni menghabiskan minumannya lalu beranjak meninggalkan dokter Nala.


Dokter Nala memandangi punggung orang tua angkatnya itu dengan tatapan licik.


Kemudian melipat tangan di dadanya sambil menghela nafas, memikirkan bagaimana caranya melenyapkan kedua orang tua angkatnya itu.


Di depan kedua orang tua angkatnya dia harus bersandiwara, toh orang tua angkatnya juga tak jujur padanya untuk apa dia terllau jujur juga.


' Hhh....kalian membesarkan anak singa.... kalau kalian tindas dia akan memakan berbalik memakan kalian, jangan sebut aku Nala kalau tak bisa membalas kan semua yang terjadi padaku,' batin Nala sambil tersenyum sinis.


" Kau di sini?" tanya Toni.


" Hhmmm... kau sibuk tidak?"


" Tidak, kata papa kau ingin liburan? Mau kemana? Pantai atau hutan? Atau gunung?"


" Pantai saja."


" Oke, aku akan cari tempat yang privasi dan menyenangkan, mau berangkat kapan?"


" Secepatnya."


" Oke, kalau gitu kau siap-siap saja, besok kita berangkat.


Toni meninggalkan dokter Nala sendirian.


Kembali dokter Nala berpikir apakah Toni bisa di ajak kerja sama atau malah mendukung orang tua angkat mereka.


' Aku akan selidiki Toni dulu, mungkin dengan menikah dengannya dia bisa aku setir,' batinnya.


" Nala ayo kita makan malam, Toni kemana, ajak dia sekalian."


" Iya ma, aku tak tau kemana Toni barusan dia tadi kesini setelah itu dia pergi."


" Ya sudah kalau dia keluar berarti tak mungkin makan di rumah, " ujar mama angkatnya.


Usai makan malam, dokter Nala kembali ke kamarnya, ia ingin cepat beristirahat, memikirkan rencana untuk melenyapkan orang tua angkatnya membuat dia pusing.


' Huh ternyata Marsya berbohong kalau menderita penyakit diabetes, kau akan dapat balasan dari kebohongan mu, lihat saja,' batin dokter Nala, ia merebahkan diri dan tertidur.


***


Lea dan suaminya hanya di kamar saja, dia di larang melakukan apapun oleh mertuanya, karena nanti mereka berdua akan berdiri saja jadi tetap butuh tenaga ekstra, agar tidak kelelahan.


" Sayang kamu ingat HPHT mu kan?"


" Iya mas, kenapa?"


" Tidak seandainya ada benihku yang bisa membuahi mu jangan kau tunda kehamilan dulu ya."


" Iya mas insyaallah, dari sebelum nikah juga aku minum vitamin supaya lekas hamil, untukku yang sebatang kara pastinya ingin cepat punya anak, tapi gak memaksa kan kalau melihat kondisi mas, mas fokus pada terapi saja ya, " ucap Lea sambil mengelus punggung tangan suaminya.


" Terimakasih sayang," ucap dokter Vian sambil mengecup kening istrinya.


Tak lama kemudian pintu kamar ada yang mengetuk. Lea membukanya.


" Mari mba ini mempelai nya," ajak bu Elma.


" Ayo Lea kamu di rias dulu."


" Iya bun."


Lea mengajak perias itu masuk dan kemudian merias dirinya. Sementara dokter Vian keluar dari kamarnya.


Setelah di rias Lea menunggu sesaat, tak berapa lama bu Elma menjemput nya.


" Mantu bunda sudah cantik, ayo kita keluar, tamu-tamu sudah mulai datang."


" Iya bun, bunda juga cantik," kata Lea melihat ibu mertuanya juga di rias.


" Hehe....jangan kalah sama yang muda dooong."


Mereka berdua berjalan keluar rumah dimana tempat resepsi di adakan.


Lea di antarkan menuju pelaminan di sana sudah menunggu suaminya yang menggunakan pakaian serasi dengannya.


" Kamu cantik," puji dokter Vian.


Lea hanya tersenyum mendengarnya.


Tamu mulai berdatangan, terutama para karyawan rumah sakit yang Minggu lalu tak bisa datang pada acara di rumah Lea.


Semakin siang semakin banyak yang datang, dan kembali di sudut tempat acara para perawat senior menggunjingkan keberuntungan Lea yang di persunting oleh calon direktur mereka.


Mereka tampak tak ikhlas kalau Lea yang menjadi istri dari dokter kebanggaan mereka.

__ADS_1


" Lihat di pojok kiri," kata Fico.


" Hhmm.." sahut Irma, " aku tau."


" Perlu gak kita curi dengar?" tanya Fico lagi.


" Gak usah, jangan menimbulkan kecurigaan, nanti pasti mereka ngomong lagi di rumah sakit, kita harus tau mereka cuma sebatas ngobrol apa akan melakukan sesuatu yang akan merugikan, " sahut Inggrit.


" Maksudnya?" tanya Fico dan Irma bersamaan.


" Aku di beritahu kak Ihsan kalau mereka itu bahaya, berani bertindak di luar nalar hanya untuk menjatuhkan orang yang mereka tak suka."


" Ciyeeeeee.....kak Ihsaaaan," Ledek Irma.


" Ish berisik....emang kamu gak ada sesuatu gitu sama dokter Ricard hayoooooo....ngakuuuuu..." ledek Inggit balik.


Irma langsung menciut di ledek seperti itu.


" Ck ah... cuma ke gereja bareng masa iya langsung di curigai."


" Hahaha..." Fico dan Inggrit tertawa melihat sahabatnya itu seperti terciduk.


" Aku gak terima sasaranku milih orang lain!!" kata salah satu perawat senior mereka yang kebetulan lewat bersama dengan temannya.


" Terus kamu mau apa?" tanya temannya.


" Lihat aja nanti, pokoknya aku akan bikin bubar pernikahan mereka apapun itu resikonya."


" Jangan ngawur kamu, dosamu sudah banyak."


" Biar, suka-suka aku."


" Terserah aku gak ikut-ikutan."


Fico dan teman-teman hanya berpura-pura lanjut makan kue yang ada di meja mereka.


" Kira-kira apa yang akan kak Tika lakukan ya?" kata Irma setengah berbisik begitu kedua perawat senior mereka tadi berlalu di depan mereka.


" Nanti kita selidiki, jangan ada yang terlewat, termasuk yang pernah dia lakukan," kata Inggrit.


" Haaaiiii....kalian gak nungguin aku," sapa Anya yang baru datang dengan perutnya yang makin besar.


" Kami takut ngajak kamu, tau-tau meledak perutmu bagaimana?" ledek Fico.


" Hiih kamu kita perutku bom apa!!"


" Bom tapi bunyinya bukan duaaaarrr.....tapi oeeek...oeeek," tambah Fico lagi dengan menirukan gaya bayi baru lahir.


" Apa sih kamu Fic!!" semprot suami Anya yang seorang anggota TNI sambil memukul bahu Fico.


" Siap dan....siap!!" karena kaget latahnya jadi kumat.


" Hahaha," semuanya menertawakan kelakuan Fico.


Acara resepsi pernikahan berlangsung sampai malam, jam 9 malam tamu-tamu mulai sepi, Bu Elma menyuruh kedua mempelai untuk masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, acara sudah selesai dengan penuh dengan kebahagiaan.


Keluarga pihak Lea pun sudah berpamitan untuk kembali pulang.


Di kamarnya Lea berganti pakaian lalu membersihkan dirinya bergantian dengan suaminya.


" Capek?" tanya dokter Vian pada istrinya setelah keluar dari kamar mandi.


" Lumayan," jawab Lea.


" Hayuklah kita tidur," kata dokter Vian sambil memeluk istrinya yang sudah lebih dulu berbaring.


Lea menyempatkan membuka telpon genggamnya, seharian dia tak memegang telpon genggamnya.


Disana banyak pesan dari teman-temannya, terutama Fico dan Inggrit. Karena sudah sangat lelah ia taruh lagi telpon genggamnya di atas nakas.


" Gak di baca dulu?" tanya dokter Vian melihat istrinya meletakkan lagi telpon genggamnya.


" Besok aja, sudah ngantuk," jawab Lea sambil membalas pelukan suaminya.


Seluruh anggota keluarga beristirahat setelah seharian menggelar acara resepsi pernikahan Lea dan dokter Vian.


****


" Aku benar-benar gak terima Vian menikah dengan orang lain!!" kata dokter Sabrina yang juga telah lama mengejar dokter Vian. Ia bersama beberapa teman sejawat nya lanjut berkumpul di sebuah cafe setelah pergi dari acara resepsi dokter Vian.


" Terus mau kamu apa?"


" Pokoknya aku harus hancurkan hubungan mereka!!"


" Jangan naif kamu Na..!!"


" Aku naif?? Kamu lupa kalau kita sedang bertaruh merebutkan Vian hah!! Oh kamu mau menyerah?? Bagus lah, berkurang satu saingan gue." ucap dokter Sabrina, ia salah satu anggota dari Genk dokter Mila saingan dokter Nala.


" Hahaa....aku mundur aja deh, aku tau percuma mengejar Vian."


Mereka melanjutkan perbincangan sampai jam 1 dini hari lalu berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Bersambung yaaa.....


__ADS_2