
Aku langsung menarik selimut sampai atas dada. Sedangkan Rika, aku lihat dia masih sibuk dengan ponsel yang ada di tanganya sambil tersenyum-senyum.
Entah apa yang membuatnya tersenyum. Tapi aku tidak peduli mungkin dia sedang mengirim pesan pada teman-temannya.
...****************...
Jam sudah menujukan pukul 07.00 WIB. Aku bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Aku juga sudah mengatakan pada Rika untuk tetap di rumah dan menjaga kedua anaknya sampai dia pulang kembali.
Aku berangkat menggunakan sepeda motor maticku. Aku bisa saja memakai mobil istriku. Tapi itu tidak aku lakukan karena akan semakin lama.
“Pagi Pak Fahmi.” sapa seorang karyawan wanita yang bekerja di perusahaan tempat aku bekerja.
“Pagi Mbak Amel.” Balasku.
“Pagi-pagi gini sudah gagah saja Pak.” ucap Amel.
“Iya, Mbak hehe.” Aku hanya terkekeh melihat Amel. Setelah itu Amel pergi munuju lift
“Mel, lu jangan godain laki orang ya.” Ucap teman Amel.
"Ih, siapa juga yang godain laki orang. Gue kan Cuma sapa aja.”
“Tetep aja Mel. Masalahnya elu nyapa si Pak Fahmi pake gaya centil lu sih.” Protes teman Amel bernama Tari.
“Ya habis gimana ya. Biarpun jadi kepala keamanan dia ganteng banget, baik, sopan lagi. Siapa juga yang gak meleleh kalau liat wajah Mas Fahmi.”
Temannya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya ini. Padahal sebentar lagi dia mau menikah.
Tadi itu namannya Amel setiap pagi ia sering sekali menyapaku, bahkan aku sering dibawakan makan siang dari Amel.
Aku yang merasa tidak enak dengan Amel, terkadang dengan lembut menolak pemberiannya.
Aku takut akan menjadi salah paham. Terlebih lagi Amel sudah mempunyai calon suami dan sebentar lagi dia akan menikah.
...****************...
Jam pulang telah tiba aku bersiap-siap menyalakan sepeda motorku untuk menuju rumah.
Sebelum jalan aku terlebih dahulu menghubungi Rika untuk menanyakan kabar anakku di rumah.
Apakah mereka berdua baik-baik saja? namun sayang panggilanku tidak dijawab oleh Rika.
Aku segera menyalakan mesin sepeda motorku dan melaju dengan kecepatan sedang.
Sebelum pulang ke rumah. Terlebih dahulu aku mampir ke toko supermarket untuk membelikan camilan untuk kedua anakku.
Aku yang sudah sampai supermarket, dikejutkan dengan Rika yang baru saja keluar dari supermarket yang akan aku masuki.
Seketika kuhentikan laju motorku sebelum memasuki area parkir supermarket mini.
Ku sipitkan mataku agar terlihat lebih jelas bahwa itu adalah Rika, istriku.
“Rika? Ngapain dia jauh-juah ke supermarket sini? Bukannya dia sedang di rumah?” batinku terheran melihat Rika yang baru saja keluar dari supermarket.
Kuedarkan pandanganku ke tempat parkiran mobil. Tapi tidak ada mobil Rika di sini.
Lalu naik apa dia datang ke supermarket ini? Tidak mungkin sekali Rika naik kendaraan umum, apalagi naik taksi online.
__ADS_1
Rika itu tipe orang yang tidak bisa naik kendaraan umum lainya, kecuali mobilnya sendiri.
Rika tidak akan mau keluar rumah jika ia tidak membawa mobilnya. Aku tahu betul sifat Rika bagaimana.
Saat itu Rika sedang membawakan dua buah botol minuman setelah keluar dari dalam sama.
Aku berniat ini menghampiri Rika untuk menanyakan kenapa dia bisa berada di sini?
Baru saja motor ini kujalanankan, seketika niat itu aku hentikan, aku melihat Rika sedang menuju sebuah mobil berwarna hitam dengan merek mobil Pajero Sport.
Yang mana di dalamnya pasti ada seorang, sayangnya aku tidak tahu siapa orang tersebut yang berada di dalam mobilnya. Karena kaca mobilnya begitu gelap
Pada akhirnya Rika pun masuk ke dalam mobil itu bersama dengan seseorang di dalamnya.
Dengan cepat aku bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Rika.
Aku sangat penasaran sekali dengan siapa Rika pergi. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk tinggal di rumah dan menjaga kedua anaknya.
Ada rasa marah dan jengkel di hatiku. Seharusnya Rika berada di rumah dan menjaga Adnan dan juga Aqila, tapi dia malah pergi keluar bersama dengan orang lain yang entah siapa di dalamnya.
Dalam sekejab aku jadi ingat tentang anakku yang berada di rumah. Jika ibunya pergi keluar lalu ada siapa di rumah?
Tidak mungkin dia menitipkan anaknya pada orang tuanya. Apalagi mamahnya akan menolak mentah-mentah jika dititipkan anak.
Padahal itu adalah cucu kandungnya sendiri. Mungkin karena ia mempunyai cucu cacat.
Makanya mamah Rika susah untuk menerimanya, beda dengan papah Rika yang menerima cucunya dengan senang hati dan mau menerima segala kekurangan cucunya.
Aku bergegas pulang. Aku khawatir dengan keadaan anakku di rumah, apalagi di rumah itu tidak ada siapa-siapa di rumah.
Hanya ada kita berempat.
...****************...
Dengan cepat aku berlari masuk ke dalam, anehnya pintu depan tidak dikunci sama sekali dari dalam.
Aku begitu sangat panik, “Adnan, Aqila.” Aku memanggil nama anakku.
Tiba-tiba aku mendengar ada suara Aqila sedang tertawa. Ternyata Adnan dan Aqila sedang ada di rung tv bersama dengan seorang wanita muda.
“Siapa kamu? Kenapa kamu berada di rumah saya.” tanyaku dengan nafas masih terengah-engah setelah berlari.
Kedua anakku langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri diriku melihat ayahnya sudah pulang.
"Nyah...Anyah." seru Adnan dengan senang, sambil berlari kecil, lalu disusul dengan adiknya Aqila yang mengikuti jejak kakaknya.
Dengan cepat aku memeluk kedua anakku.
“Siapa yang suruh kamu berada di sini?” tanyaku sekali lagi.
“Maaf Pak, perkenalkan nama saya Arumi yang bertugas untuk menjaga anak Bapak.” Jelas wanita muda yang bernama Arumi.
“Saya diminta oleh ibu Rika untuk menjaga anak Bapak selagi ibu Rika pergi.”
“Apa? Ibu Rika yang suruh kamu menjaga anak saya?” betapa terkejutnya aku mendengar penjelasan dari Arumi.
Bisa-bisanya Rika berbuat senekat ini. Hanya karena tidak ingin menjaga anak-anaknya.
Dengan cerobohnya Rika menitipkan Adnan dan Aqila pada orang lain tanpa sepengetahuanku.
__ADS_1
“Sejak kapan Ibu Rika meminta kamu untuk menjaga anak saya.”
“Sudah lama Pak, sekitar seminggu yang lalu. Tapi baru sekarang saya ditugaskan untuk menjaga anak Bapak.”
“Rika benar-benar keterlaluan!" batinku
sudah mulai meradang dengan sikap Rika.
“Oke, kalau begitu kamu boleh pulang. Anak ini biar saya yang berjaga. Terima kasih sudah merepotkan kamu.”
Akhirnya Arumi kembali pulang. Aku bukanya tidak mau menitipkan anakku dengan orang lain.
Hanya saya aku ingin ibunya sendirilah yang menjaga anak-anaknya.
Apalagi biaya untuk menyewa beby sister tidaklah murah.
...****************...
Seperti biasa jam sudah menujukan pukul 11 malam. Rika belum juga pulang ke rumah.
Aku masih terus memikirkan tentang kejadian sore saat Rika pergi bersama dengan seseorang di jalan.
Ceklek
Pintu rumah terbuka, dan benar saja Rikalah yang membuka pintu itu.
“Kamu habis dari mana? Kenapa kamu pulang semalam ini. Dan kenapa kamu malah menitipkan anak kita pada orang lain?” tanyaku dengan sederet pertanyaan yang hanya ditanggapi dengan wajah datar Rika.
“Sudah nyerocosnya?” balas Rika membuatku ingin memberi pelajaran agar dia bisa bersikap dewasa.
“kamu ini kenapa sih? Ada masalah apa sih kamu sampai tega menitipkan anak kita sama orang lain?” tanyaku.
“Mas, dengar ya! Sampai kapan pun aku enggak akan mau ngurusin anak itu. Bair aja orang lain yang mengurusnya.”
“Rika kamu benar-benar sudah tidak punya hati!”
“Sudahlah Mas, aku cape debat sama kamu terus.” Rika berjalan melewati diriku yang masih sabar dalam menghadapi sikapnya.
“Kamu tadi habis jalan sama siapa?”
Rika menolehkan kepalanya sebelum ia melangkah jauh, “Maksud Mas?”
“Mas, tadi lihat kamu naik mobil bersama dengan orang lain.” Ucapanku membuat Rika tersentak kaget.
Ia menjadi salah tingkah saat dirinya ditanya olehku.
“Masa sih? Mungkin Mas salah lihat kali. Aku enggak ke mana-mana kok. Orang aku lagi ada di rumah orang tuaku, nih buktinya aku membawa stok Asi.” Rika menujukan sebuah tas berisikan Asi.
“Hoh, gitu ya?” ucapku singkat aku tahu jika Rika sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
“Aku mau ke kamar dulu ya, Udah cape nih.”
Rika segera berjalan menuju dapur untuk menaruh Asi dalam kulkas.
Setelah itu ia menuju kamar atas. Sebenarnya Rika bisa saja memberikan Asi pada anaknya tanpa harus mempompa.
Katanya dia tidak mau memberikan Asi, takut payudaranya jadi kendur saat menyusui.
Padahal hal yang seperti itu adalah hal yang lumrah, dan itu tidak masalah bagiku.
__ADS_1