
Setibanya di rumah sakit, Lea dan dokter Vian langsung menuju ruang jenazah, keluarga dokter Sabrina sudah berkumpul, semua sedang menangisi kepergian dokter Sabrina yang secara mendadak.
Mereka tak mengerti apa yang menjadi penyebab dokter Sabrina mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena setahu mereka dokter Sabrina tak mungkin melakukan itu kecuali ketika ia sedang banyak pikiran.
Pihak kepolisian memang memberitahukan pada keluarga dokter Sabrina bahwa dokter Sabrina mengemudi dengan kecepatan tinggi, dan menerobos lampu merah, sehingga kecelakaan tak dapat dihindari lagi.
Walaupun tidak percaya namun mereka terpaksa menerima kejadian tersebut.
Jenazah dokter Sabrina sudah dikafani, sehingga dokter Vian dan Lea tak dapat melihat kondisi nya.
" Sudah tak dapat di kenali dokter, mungkin karena kurang lebih satu jam terpanggang api," jawab Niko ketika di tanya oleh dokter Vian.
" Ya sudah kalian bantu keluarganya sampai jenazah di makam kan, nanti saya menyusul dengan orang tua saya."
" Baik dokter, kami bawa sekarang, katanya tanah makam sudah siap."
" Oke."
Lalu semuanya menghantarkan jenazah dokter Sabrina kedepan rumah sakit. Jenazah di masukkan ke dalam mobil khusus jenazah, lalu iring-iringan mobil pun pergi membawa jenazah menuju pemakaman.
" Ayo kita jemput ayah," kata dokter Vian pada Lea.
" Iya mas."
Dokter Vian dan Lea menuju mobil mereka lalu berangkat menuju rumah orang tua dokter Vian.
Setibanya di rumah orang tua dokter Vian, pak Ahmad sedang berada di depan rumah seperti hendak pergi ke suatu tempat.
" Assalamualaikum ayah, ayah mau pergi?" tanya dokter Vian melihat ayahnya hendak keluar rumah.
" Wa alaikumsalam, iya.. katanya ada dokter yang meninggal, apa benar?"
" Iya ayah, Sabrina, karena kecelakaan."
" Innalilahi wa innailaihi roji'un, terus apa masih di rumah sakit?"
" Tidak ayah, sudah di bawa ke pemakaman oleh keluarga dan di antarkan beberapa karyawan rumah sakit."
" Oh ya sudah kalau begitu, kalian hendak kemana?"
" Hendak menjemput ayah, kita ke pemakaman bersama-sama."
" Oke, ayo."
Mereka kembali masuk ke dalam mobil dokter Vian lalu mobil melaju ke pemakaman.
Usai pemakaman direktur rumah sakit menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga yang di tinggalkan, keluarga menerima ucapan belasungkawa dari pimpinan rumah sakit tempat dokter Sabrina mengabdi selama ini dengan lapang dada.
Tak lama kemudian direktur berpamitan untuk pulang.
" Bagaimana ceritanya kok bisa kecelakaan dia?" tanya pak Ahmad pada dokter Vian saat di perjalanan pulang.
" Mungkin lagi emosi yah."
" Emosi??"
" Tadi dia pergi setelah Vian usir dari rumah sakit yah."
" Kenapa?"
" Nanti Vian ceritain di rumah yah."
" Oke."
Dokter Vian kembali fokus menyetir mobil nya sampai ke rumah orang tuanya.
Setibanya di rumah pak Ahmad, mereka semua langsung keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah.
" Lho kalian dari mana?" tanya bu Elma.
__ADS_1
" Dari pemakaman bun," ujar Lea sambil menyalami ibu mertuanya itu.
" Siapa yang meninggal?"
" Sabrina bun, jawab dokter Vian.
" Innalilahi wa innailaihi roji'un, meninggal kenapa?"
" Duduk dulu bun," kata pak Ahmad, mereka sedari masuk rumah hanya berdiri saja.
" Oh, hehe....lupa, saking kagetnya, bunda bikinin minum deh,"kata bu Elma sambil melangkah masuk ke dapur.
" Lea bantu ya bun," kata Lea mengikuti langkah mertuanya.
Tak berapa lama kedua wanita itu kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.
" Di minum dulu yah," kata Lea.
" Makasih nak."
" Jadi bagaimana ceritanya?" tanya bu Elma.
Lalu dokter Vian menceritakan semuanya dari awal sampai terjadi nya kecelakaan itu.
" Oh jadi kalian pergi ke Turki bukan semata-mata untuk liburan? Tapi untuk menghindari perbuatan mereka? Sungguh kejam apa yang mereka perbuat, ah sudahlah,Allah sudah membalas perbuatan mereka, kita jangan menyimpan dendam, ingat membalas dendam itu tidak baik, serahkan pada yang Kuasa saja," tutur pak Ahmad.
" Iya ayah, tapi walau bagaimanapun, kita harus tetap tegas, agar kejadian itu tidak terulang lagi, maaf tadi Vian mengambil keputusan tanpa bertanya pendapat ayah terlebih dahulu."
" Tak apa nak, keputusan mu adalah keputusan ayah juga, ayah tak boleh menghalangi mu karena sebentar lagi, kamu akan menggantikan ayah, jadi ayah tak boleh ragukan kamu,bila ayah meragukan mu lalu ikut andil pada keputusan yang kamu ambil, itu akan menjatuhkan mu di depan semuanya, yang di takutkan mereka akan ragu akan kredibilitas kamu sebagai pemimpin kelak."
" Iya ayah, Vian janji akan sebijak mungkin dalam mengambil keputusan, karena Vian juga harus menjaga citra ayah dan mendiang kakek dalam memimpin."
" Bagus, berarti kamu sudah siap untuk memimpin nak."
" Kalian menginap di sini ya," kata bu Elma.
" Boleh lah mas, sudah lama gak nginap, lagian Lea mau lihat-lihat desainnya bunda, untuk pakaian pengantin mba Rika nanti."
" Oke, kalau gitu,"
Mereka melanjutkan obrolan santai di sore itu sambil menunggu adzan magrib.
***
Tika diam termenung di ruang tamunya, matanya masih memandang surat pemberhentian dari rumah sakit, ada gurat penyesalan dari wajahnya, kabar meninggalnya dokter Sabrina pun sempat membuatnya takut, beruntungnya pihak dokter Vian tidak melaporkan nya pada yang berwajib karena jelas-jelas ia terlibat dalam aksi pemberian air minum itu, ia tak tau apa isi kandungan air minum itu, seberbahaya apakah isinya.
" Kenapa Tik? Apa tidak bisa kamu hidup dengan nyaman? Apa harus kamu ambil langkah seperti itu? Aku tau persis sifat kamu Tik, ambisi besarmu itu akan menjatuhkan kamu, jangan sampai orang yang menyayangi mu ikut sakit hati terhadap perbuatan mu, dan meninggalkan kamu sendirian, tentunya kamu gak mau itu terjadi kan?" ucap Niko panjang lebar setelah menyampaikan surat itu pada Tika.
Tika hanya menghela nafas panjang.
" Aku mau tanya, sebenarnya sebesar apa cintamu pada dokter Vian Tik?"
" Entah kak, aku.....aku..."
" Kalau kamu tak bisa menerima perjodohan kita, aku siap mundur kok, percuma aku jalani pernikahan kalau kamu tak ada hati untuk ku."
" Kamu fikir-fikir lagi nak," sahut ayah Tika yang tiba-tiba datang dan sempat mendengar ucapan Niko, " Jangan pernah hidup dengan penyesalan, belum tentu ada laki-laki sebaik Niko yang mau menerima kamu yang bersifat keras kepala itu."
" Aku...aku akan menikah dengan kakak, aku akan belajar mencintai kakak, tapi aku sudah gagal, apa kakak masih mau menerima ku?"
" Tak ada kegagalan Tik, kamu hanya di keluarkan dari rumah sakit milik keluarga dokter Vian saja, masih ada kesempatan, setelah menikah nanti kita akan pindah dari kota ini, aku sudah urus semua, kamu gak usah khawatir."
" Baiklah kak, apapun yang terbaik, aku ikut saja," ujar Tika sambil menundukkan kepalanya.
" Bersemangat lah nak, ayah dan ibu mendukung mu, ingat jangan ulangi lagi kesalahan yang sama, karena belum tentu kamu akan mendapatkan kesempatan ketiga dan seterusnya, kamu mengerti kan?"
" Iya ayah, maafkan Tika, hanya karena ambisi semua jadi ikut menanggung malu."
" Sudahlah, kami akan maafkan kamu atau tidak itu tergantung bagaimana kamu ke depannya."
__ADS_1
" Kalau Tika sudah bersedia menikah dengan Niko, nanti acaranya sesuai jadwal saja, bulan depan kami sudah mulai bekerja di rumah sakit kota lain, Niko sudah urus semua, kebetulan di sana masih banyak di butuhkan tenaga perawat."
" Baik Niko, om pasrahkan Tika padamu, tolong bahagiakan dan bimbing dia, itu saja pinta om."
" Iya om, insya Allah, Niko pamit dulu om masih banyak yang mau Niko urus, mulai besok Niko juga sudah tidak aktif bekerja di rumah sakit, jadi besok rencananya Niko pergi untuk mencari rumah di kota itu."
" Aku boleh ikut kak? Sumpek di rumah gak kerja."
" Kalau om dan tante mengizinkan gapapa, ikut aja, itung-itung liburan."
" Ya sudah, pergilah Tika, hati-hati jangan berbuat yang tak senonoh, kalian belum halal, atau ayah nikah kan saja dulu baru kalian pergi?"
" Niko sih setuju-setuju saja om, mencegah hal yang tak di inginkan, karena gak cukup waktu sehari untuk mencari rumah yang cocok."
" Bagaimana Tika?"
" Tika ikut saja, mana yang baiknya ayah."
" Baik kalau gitu, besok pagi kita langsung kan pernikahan kalian, untuk resepsinya menyusul sebelum kalian pindah saja biar sekalian selamatan kepindahan kalian, bagaimana?"
" Iya om, boleh, Niko pamit ya om."
" Iya Nik, hati-hati."
" Iya om, assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam," sahut Tika dan ayahnya bersamaan.
Sepeninggal Niko, pak Darijo memandang anaknya.
" Kamu yakin akan pernikahan ini Tik? Ayah tak mau dengar kata mundur bila sudah terlanjur terjadi, Niko anak baik, banyak yang menginginkan nya untuk menjadi menantu mereka."
" Bismillah, Tika tidak mundur ayah, Tika sudah mendapatkan pelajaran dari apa yang terjadi, kalau Tika ada di posisi dokter Sabrina, Tika belum tentu punya keberanian lagi ayah, itu terlalu mengerikan," ucap Tika, nampak bergidik ketakutan.
" Baguslah, kamu beruntung pihak dokter Vian tidak mempermasalahkan perbuatan kamu, sudah lebih baik kamu buka lembaran baru, toh kamu hanya berambisi pada posisi istri dokter Vian saja, sebenarnya kamu gak punya perasaan pada dokter Vian kan?"
" Iya ayah, aku sadari aku memang tak mencintai dokter Vian, aku hanya iri pada Lea itu saja, tapi sudahlah, lebih baik Tika melupakannya, dan belajar menerima kak Niko."
" Bagus itu baru anak ayah, buat ayah bangga nak."
" Iya ayah, terimakasih," ujar Tika mencium punggung tangan lalu memeluk ayahnya itu.
" Ada acara apa nih, kok nampaknya mesra banget ayah dan anak?" tanya bu Mina yang baru datang melihat kedua nya berpelukan.
" Ini anakmu, dia bersedia menikah besok."
" Besok?? Kok besok?"
Pak Darijo menceritakan apa yang terjadi barusan saja.
" Oh ya udah, apa baiknya aja, kalau gitu ibu mau siap-siap apa saja yang dibutuhkan besok," ujar bu Mina setelah mendengar semuanya.
" Iya bu Tika bantu ya."
Orang tua nya senang melihat semangat dari Tika, besok pagi mereka akan menikahkan anaknya itu sebelum berangkat pergi ke kota lain untuk memulai hidup barunya.
***
" Kita gak jadi ke rumah mba Rika sayang?" tanya dokter Vian yang sudah rebahan bersiap untuk tidur.
" Aku sudah kabari mba Rika tadi, besok pagi aja kita kesana, aku sudah izin bu Laras untuk gak masuk kerja besok."
" Oh oke, ayo kita istirahat dulu," ajak dokter Vian pada istrinya.
Malam semakin larut keduanya sudah terbuai dalam mimpi indah masing-masing.
****
Bersambung ya....
__ADS_1