
Usai menunaikan kewajibannya, Lea memilih istirahat sejenak tak terasa ia tertidur selama 30 menit, ia terbangun karena ada suara panggilan telponnya.
[ Assalamualaikum.]
[ Wa alaikumsalam, Lea, Minggu depan kamu jangan lupa datang ke rumah kakakku ya, aku di suruh ngundang kamu.]
[ Oke Git, ada acara apa?]
[ Kakakku mau nikah, Alhamdulillah.]
[ Oh syukurlah.]
[ Ya udah aku cuma sampai kan itu aja, sampai ketemu nanti ya, assalamualaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
Lea mengakhiri panggilan telpon dari temannya itu.
" Siapa yang menghubungi mu sayang?"
" Inggit, kakaknya mau nikah."
" Oh, oh ya bagaimana restoran milik ibumu?"
" Ya begitu mas, masih harus banyak yang di benahi, tadi aku sudah bilang salah satu chef untuk membantu memulihkan keadaan di sana."
" Hmmm....bagus lah, berarti sudah kembali ke padamu lagi kan? Semoga tantemu tidak mempersulit lagi."
" Aaamiiin, tadi kata bang Adi, Tante akan segera di boyong oleh om Harja jadi gak ada yang perlu di khawatirkan lagi."
" Hhhmmmm bagus lah, semoga beliau segera pulih dari sakitnya."
" Aamiiin, mas mau makan apa nanti malam?"
" Aku sudah minta masakin makan malam sama bibi, kamu santai aja sayang, jangan terlalu capek, oh ya tadi pak Diro menyampaikan kalau kenalannya ada yang mau jual bangunan bekas hotelnya, gak besar sih hanya tiga lantai, mungkin kita lihat-lihat bangunannya besok setelah jam pelayanan di poliklinik selesai."
" Boleh juga, aku mau ke ruang kerja, pasti banyak email dari paman Sabri, mau aku cek dulu," ucap Lea sambil berjalan keluar kamarnya menuju ruang kerja di ikuti oleh suaminya.
***
Pak Rudi dan bu Erin baru datang dari luar negeri, mereka ingin melepas rindu dengan anak cucunya.
" Assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam, ayah ibu sudah sampai?"
" Iya nak, mana Hanif ?" tanya pak Rudi.
" Oh Hanif ke mesjid sedang mengaji."
" Alhamdulilah, dia sehat-sehat saja kan?"
" Iya ayah alhamdulillah."
" Kamu tampak lesu kenapa?"
" Gapapa ayah, aku hamil muda."
" Alhamdulilaah, akhirnya Hanif punya adik."
" Mana suamimu?" tanya bu Erin.
" Ke mesjid juga bu, yang ngajar anak-anak ngaji kan dia."
" Oooh."
" Aisyah mau ke belakang dulu, mau menyiapkan makan malam."
" Ibu bantu ya."
" Gapapa ibu, ibu istirahat dulu saja, kan baru nyampe."
" Gapapa nak, kamu terlihat lesu banget soalnya, udah ayo kita ke dapur."
" Kabar Lea bagaimana Aisyah? Bukannya dia sudah menikah ya?" tanya pak Rudi yang ikut ke dapur dan mendekati meja makan.
" Iya ayah, dia tinggal bersama suaminya, kemarin pulang ke sini karena ada acara lamaran mba Rika."
" Oh jadi yang menempati rumah Lea, kakak iparnya itu?"
" Iya ayah, katanya rumah itu sudah di hibahkan Lea pada keponakannya."
" Ooh, Lea memang berhati mulia, sayang sekali Fardhan dan Farlan malah memanfaatkan dia dengan tidak baik."
" Bagaimana kabar si kembar yah?"
" Ada sekali kemarin mereka memberi kabar kalau mereka pindah ke Singapura, Farlan sudah menikah, dan setelah menikah dia pindah ke Jepang, mungkin dia khawatir apa yang dia lakukan dulu terulang lagi, jadi menurutnya lebih baik hidup terpisah dari Fardhan."
" Terus Fardhan bagaimana di tinggal sendirian?"
__ADS_1
" Ya, dia dekat dengan seorang dokter, tapi masih tahap pendekatan aja, mungkin mencari kecocokan gitu."
" Oh, semoga dia cepat dapat jodoh."
" Aaamiiin."
Mba Aisyah dan ibunya melanjutkan memasak makan malam untuk mereka.
Usai Isya Hanif dan ayahnya akhirnya pulang, melihat kakek nenek nya datang Hanif sangat senang, selama ini berhubungan hanya lewat video call saja.
" Hanif mau punya adik kek."
" Iya kakek tau, Hanif harus jaga ibu ya, bantu ibu biar gak kecapekan."
" Iya kek."
Mereka berkumpul di ruang makan dan bersantap malam bersama.
Usai makan malam mereka duduk di ruang tamu sambil bercengkrama.
" Usaha mu bagaimana Ji?"
" Baik ayah, terimakasih atas bantuan modal dari ayah, usahaku kembali bangkit."
" Oh, gapapa nak, toh kamu juga bantu ayah mengawasi bisnis ayah di sini."
" Iya ayah, syukurlah, semua berjalan lancar, apa Farlan dan Fardhan tak ingin melanjutkan bisnis ayah itu? Aku sungkan sebenarnya pada mereka, secara mereka yang lebih berhak."
" Tak ada hubungan dengan berhak atau tidak berhak nak, si kembar sudah ayah berikan hak mereka masing-masing dan mereka pun mengelola semua harta yang sudah ayah berikan pada ibu mereka, ayah sudah tak ikut campur masalah itu."
" Aku ingin menjenguk Erica mas, boleh?" Ujar bu Erin.
" Iya boleh, besok setelah kita bertemu dengan klien kita mampir ke rumah sakit."
" Ayo kita istirahat ayah ibu, sudah larut malam."
" Baiklah."
Mereka semua masuk ke kamar masing-masing, lalu beristirahat.
***
Keesokan harinya Lea dan suaminya kembali pada rutinitas mereka di rumah sakit hingga jam pelayanan selesai, sepulang dari rumah sakit Lea dan suaminya di antarkan pak Diro untuk bertemu dengan pemilik bekas hotel yang ingin menjual hotel mereka.
Mereka berjanji bertemu di cafe yang letaknya di sebelah bekas hotel itu, sengaja bertemu di sana agar memudahkan mereka sekalian melihat-lihat bekas bangunan hotel.
Dokter Vian memarkirkan mobilnya berbarengan dengan pak Diro yang juga tiba di cafe tersebut.
" Baik pak, ayo sayang," ujar dokter Vian sambil menggandeng tangan istrinya.
" Iya mas."
Mereka bertiga berjalan memasuki cafe tersebut lalu pak Diro nampak mencari dimana kenalannya duduk menunggu.
" Itu mereka, ayo dok."
Mereka mendekati meja dimana kenalan pak Diro duduk membelakangi mereka.
" Selamat siang," sapa pak Diro.
" Selamat....lho..kalian?" ucap pak Rudi begitu melihat siapa yang datang.
" Maaf pak Rudi sudah kenal? Dengan dokter Vian atau Lea?" tanya pak Diro.
" Iya pak, ma..mari duduk, apa kabarmu Lea?"
" Baik pa," sahut Lea kemudian menyalami pak Rudi.
" Ini? Suamimu?"
" Iya pa perkenalkan mas Vian, papa dan mama Erica apa kabar?"
" Kabar baik, maaf Lea ini bukan mama Erica, tapi Bu Erin saudara kembar mama Erica, istri pertama papa, ibu dari mba Aisyah."
" Oh maaf Bu."
" Gapapa nak, ibu sudah dengar ceritamu, maaf kan mama Erica dan anak-anaknya ya."
" Iya bu."
" Syukurlah kalau kalian sudah saling kenal," ucap pak Diro, "jadi bagaimana dengan bekas gedung hotelnya pak Rudi?"
" Jadi saudara Vian yang mau beli gedung saya?"
" Bukan pak, istri saya yang mau beli."
" Oh, kamu Lea?"
" Iya pa, kebetulan ada dana, Lea ingin membuka rumah sakit untuk para penderita penyakit menahun biar khusus terlayani begitu rencana nya pa."
__ADS_1
" Wah ide bagus, ya udah dari pada gedung tak terpakai gapapa papa serahkan padamu, untuk harga, semampu kamu aja, papa sudah anggap kamu sebagai anak papa, jadi berapa pun harga yang kamu berikan papa akan terima."
" Jangan begitu pa, Lea jadi sungkan kalau bicara masalah harga, ikut harga yang papa tawarkan saja, Lea setuju kok pa."
" Baiklah, kalau kita bahas terus masalah harga nanti gak kelar-kelar, ini surat-suratnya nya, sebentar lagi notaris akan datang tadi papa sudah janjian di sini, atau kita lihat-lihat gedungnya dulu?"
" Nanti saja pa, kita tunggu notaris saja, maaf pa..untuk pembayaran papa mau cash atau transfer?"
" Transfer aja, papa percaya kamu Lea."
" Baik pa, Lea minta nomor rekening papa."
" Ini ke nomor rekening ibu saja," pak Rudi memberikan nomor rekening istrinya pada Lea.
Tak berapa lama seseorang datang mendekati meja mereka.
" Selamat siang maaf saya terlambat."
" Oh gapapa pak, mari duduk, ini pembeli gedung bekas hotel saya pak, dan ini surat-suratnya, mohon bantuannya pak."
" Baik, nanti saya buatkan surat jual belinya, apa sudah melakukan transaksi?"
" Sebentar pak, saya akan transfer," Lea membuka aplikasi mobile banking nya dan mentransfer sejumlah uang sesuai harga yang di tawarkan pertama kali melewati pak Diro, " sudah pak."
" Baik sudah di terima pak Rudi?"
" Sudah pak, sudah masuk," ucap pak Rudi sambil mengecek mobile banking nya.
" Baik setelah ini saya proses ya pak Rudi dan bu..."
" Lea pak."
" Iya Bu Lea, maaf saya minta fotocopy kartu identitas bisa?"
" Iya pak, ini," Lea memberikan KTP miliknya pada notaris itu.
" Baik mohon di tunggu ya Bu, bisa saya minta nomor kontak yang bisa di hubungi agar saya bisa memberitahukan kalau surat-surat sudah selesai."
" Baik pak, maaf hubungi ke nomor kontak suami saya saja ya pak."
" Oh baik...baik...gapapa."
Dokter Vian menuliskan nomor kontaknya di kertas yang di berikan notaris itu.
Usai membahas masalah perpindahan kepemilikan gedung bekas hotel milik pak Rudi, sejenak mereka berbincang-bincang rencana kedepannya tentang gedung itu lalu mereka berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.
Lea dan suaminya tak langsung pulang ke rumah, mereka mampir dulu ke restoran untuk melihat persiapan pembukaan restoran besoknya.
Setibanya di restoran semua orang nampak sangat sibuk, menghias restoran agar nampak indah.
" Assalamualaikum bunda."
" Wa alaikumsalam, kalian sudah datang."
" Iya bun, maaf gak bantuin bunda dari tadi, tadi ada keperluan."
" Iya gapapa, kan sudah banyak yang bantuin, bunda aja cuman perintah-perintah doang."
" Seperti nya sudah siap semua bun," kata dokter Vian.
" Iya, kalian sudah makan?"
" Tadi dari cafe cuman minum dan nyemil aja sih bun, tunggu satu jam lagi, masih belum lapar," kata Lea.
" Oh ya udah, itu makanan sudah siap, kalau dingin nanti minta chefnya buat hangatin lagi."
" Gampang lah bun, ikan dari bang Adi sudah datang bun?"
" Sudah, ikannya bagus-bagus, bunda sudah suruh abangmu untuk mengirimkannya secara rutin, tadi bunda mau kasih bantuan dana malah di tolak ya udah bantu kasih orderan saja."
" Iya bun, Lea juga suruh bang Adi untuk mengirimkan ke restoran lama juga."
" Kamu sudah undang karyawan restoranmu untuk datang besok kan?"
" Udah bun."
" Baguslah, tadi satu orang chef sudah ke sana, gapapa setelah pembukaan restoran ini, nanti biar para chef nya di rolling aja, kembalikan kejayaan restoran mendiang ibumu seperti semula lagi."
" Iya bun, semoga berjaya lagi."
Lea dan keluarganya menghabiskan waktu sore itu di restoran baru mereka, semua persiapan sudah selesai, tinggal hari pelaksanaan saja.
Usai sholat Maghrib barulah Lea mengajak suaminya pulang ke rumah, sementara bu Elma sudah di jemput oleh ayah dokter Vian.
" Huuff lumayan melelahkan," ujar Lea setibanya mereka di rumah.
Mereka langsung berganti pakaian, sambil menunggu waktunya sholat Isya, Lea merebahkan diri sejenak, sedang dokter Vian ke ruang kerjanya, masih ada yang harus ia kerjakan.
Begitu usai menunaikan kewajiban mereka langsung saja beristirahat, malam makin larut pasangan itu sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
***
Bersambung yaaa...