Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 47 Dua Restoran.


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit usai makan bersama dengan tim nya, Lea langsung menuju restoran lama milik mendiang ibunya, ia sudah mengatakan pada kakak sepupunya agar bertemu di sana untuk membahas masalah restoran yang ingin di kembalikan padanya.


Setibanya disana Lea langsung masuk dan duduk di salah satu meja tempat favoritnya dahulu saat menunggu mendiang ibunya bekerja.


Lea termenung sejenak melepas rindunya pada restoran itu, tanpa dia sadari ada seorang pelayan menghampirinya dan menawarkan menu makanan yang ada di sana.


" Maaf mba,.....mba..." panggil pelayan itu sambil menyentuh tangan Lea yang di letakkan di atas meja.


" Oh iya maaf, saya melamun, iya ada apa?"


" Mba nya ingin makan atau minum? Ini silahkan dilihat buku menunya."


" Oh," Lea melihat buku menu yang sudah lumayan lusuh itu, ya buku menunya masih menggunakan buku menu yang lama, masih ada foto mendiang ibunya tercetak di bagian belakang buku itu.


Lea tidak memperhatikan isinya ia langsung membalik buku kebagian belakang dimana foto ibunya masih di sana dengan tampilan yang sudah gak karuan.


" Maaf mba bukunya sudah lama, belum di perbaharui, pemiliknya masih sakit."


" Saya tau, pemiliknya tidak sakit tapi sudah lama meninggal."


" Ya? Ah tidak mba, bu Viola masih hidup kok."


" Pemiliknya almarhumah bu Alena, bu Viola adalah kakak dari almarhumah, dan saya adalah putri dari almarhumah."


" Oh maaf mba, maaf saya baru satu tahun di sini, jadi tidak tahu cerita sebenarnya," ujar pelayan itu mulai sungkan.


" Tak apa, siapa namamu?"


" Ina, mba."


" Aku ada janji dengan bang Adi, apa bang Adi sudah datang?"


" Oh pak Adi tadi pamit ke rumah sakit mengantarkan kebutuhan bu Viola mba."


" Oh begitu, baiklah saya tunggu saja kalau gitu."


" Maaf saya izin ke belakang ya mba, kalau butuh sesuatu mba boleh panggil saya."


" Iya silahkan."


" Maaf mba mungkin ingin minum atau makan?"


" Saya sudah makan, tapi saya minta jus jeruk saja ya."


" Baik mba, saya ambilkan."


Pelayan itu meninggalkan Lea menuju bagian dapur dari restoran itu.


" Maaf dengan mba Lea?" tanya seorang wanita berpenampilan rapi kepada Lea.


" Iya benar, ibu siapa?"


" Maaf saya Lintang, salah satu manager di sini."


" Oh iya bu Lintang, silahkan duduk."


" Terimakasih, panggil saya mba aja mba Lea, saya masih muda, cuma casingnya aja keliatan tua hehe," ujar mba Lintang sambil duduk di depan Lea.


" Oh iya mba... maaf."


" Gapapa mba, kemarin pak Adi ada membahas tentang pengembalian restoran ini mba, saya memang tidak tahu persis ceritanya seperti apa, karena sejak semua chef lama ada yang di pecat dan ada yang mengundurkan diri kami jadi tak tau mau tanya pada siapa, banyak keluhan katanya menu disini sudah berubah, sedang saya gak tau persis menu aslinya seperti apa, jadi bingung, lalu kemudian pak Adi bilang kalau sebenarnya pemilik aslinya masih ada, nah itu lagi kami bertambah bingung."


" Ya, saya lah seharusnya yang menjadi ahli waris restoran ini mba Lintang, kita tunggu abang saya dulu ya, nanti mba Lintang dengarkan pembicaraan kami saja."


" Oh iya baik lah."


Tak berselang lama orang yang di tunggu-tunggu datang.

__ADS_1


" Assalamualaikum Lea, kamu sudah lama?"


" Wa alaikumsalam, baru aja bang."


Pelayan yang bernama Ina datang membawakan jus buatannya sendiri.


" Maaf mba, saya bikin sendiri jusnya, tolong di cicipi dulu mungkin ada yang kurang."


" Pelayan merangkap juga?" tanya Lea.


" Ya gimana lagi Lea, pekerjanya semakin berkurang, gak kuat menggaji kalau banyak-banyak," jawab bang Adi.


Lea meminum jusnya, lalu menghela nafas.


" Bagaimana mba?" tanya Ina khawatir.


" Ini enak, tapi masih berbeda dengan buatan mendiang almarhumah, nanti kamu belajar lagi ya, gapapa."


" Baik mba terimakasih, maaf."


" Gapapa, santai."


" Saya ke belakang lagi ya mba."


" Silahkan."


" Ini surat-suratnya Lea, semua lengkap, dan ada surat sewa juga dari minimarket di sebelah."


Lea mengecek berkas surat-suratnya satu persatu, semua masih atas nama mendiang ibunya. Tak bisa di pindah tangan kan karena tak ada surat persetujuan darinya sebagai ahli waris.


" Baik bang, aku sudah bicarakan dengan suami ku tentang apa yang abang ingin kan kemarin, maaf sebelumnya bang kalau aku salah bicara, sejatinya kan semua ini memang milikku, namun bukan aku mau berniat jahat atau bagaimana tapi kalau aku mengganti atau anggaplah membeli apa yang memang milikku kan aneh kelihatannya bang, secara keuntungan dari restoran dan sewa tempat di sebelah tak satu sen pun aku ikut menikmatinya, jadi menurut pendapat kami gak mungkin kami membayar pada tante seharga bangunan restoran ini selayaknya orang yang membeli."


" Iya, abang paham soal itu Lea, kamu benar, barang milik mu masa kamu beli, itu gak wajar, abang hanya ingin mengembalikannya padamu, seandainya ada kejadian yang tidak kita inginkan, setidaknya tak ada tanggungan di kemudian hari itu saja."


" Baiklah bang, sebagai keluarga tentu aku juga gak tinggal diam kalau tante atau abang membutuhkan bantuanku, jadi aku akan bantu semampuku ya bang."


" Baiklah bang, ini sudah aku bikin surat perjanjian, abang baca dulu ya, mungkin ada yang ingin di rubah isinya."


Lalu bang Adi membaca surat perjanjian yang di buat Lea, sebagai antisipasi apabila ada permasalahan di kemudian hari sehubungan di kembalikan nya harta yang seharusnya memang miliknya.


" Sudah pas Lea, abang setuju isi perjanjian nya, toh sebenarnya kamu yang sudah mendapatkan ketidakadilan dari ibuku, aku mewakili ibuku minta maaf padamu."


" Tak apa abang, Lea harap apa yang sudah terjadi tidak merusak persaudaraan kita, apalagi aku sudah tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini."


" Jangan berkata begitu Lea, walau selama ini abang tak berbuat apapun untuk melindungi mu dari ibuku, namun aku sudah berjanji bila waktunya tiba aku pasti akan kembali kan hak mu."


" Iya bang, semoga semuanya baik-baik saja, semoga tante Viola pulih kembali."


" Aaamiiiin."


" Aku minta nomor rekening abang, aku akan kirimkan bantuan untuk kesembuhan tante."


" Baiklah," ucap bang Adi lalu memberi rekening nya pada Lea.


" Baik bang, aku sudah transfer, semoga bermanfaat, kelak bila ada rejeki lagi, insya Allah aku transfer lagi."


" Alhamdulilah, mulai hari ini restoran aku kembali kan padamu ya Lea, ayo sebelum abang pergi kita bertemu dengan seluruh karyawan dulu."


" Iya bang."


" Lintang, kumpulkan semua orang-orang ya, kami tunggu di sini, mumpung sepi pengunjung."


" Baik pak."


Lintang sang manager mengumpulkan semua orang yang bekerja di restoran mereka untuk bertemu dengan pemilik asli restoran itu.


" Baik kalian sudah berkumpul? Ini saya perkenalkan adik sepupu saya, dia pemilik sebenarnya dari restoran ini, restoran ini adalah milik mendiang ibunya, namanya Azalea, mulai hari ini restoran saya kembalikan padanya, ya saya tak perlu menceritakan detail cerita sebenarnya kenapa kok bisa ibu saya yang mengelola nya, sebagai mana kalian ketahui ibu saya sakit, jadi kami tak punya alasan untuk mempertahankan apa yang seharusnya bukan milik kami, mulai hari ini saya pamit, mohon maaf apabila ada kesalahan yang selama ini ibu saya lakukan, semoga kedepannya bisa lebih baik di tangan pemilik sebenarnya, tenang saja, asal kalian bekerja dengan baik, restoran ini akan berjaya lagi, aamiin."

__ADS_1


" Aaamiiiin," sahut mereka serentak.


" Baik, saya harus pergi karena masih banyak yang harus saya kerjakan."


Seluruh karyawan restoran menyalami bang Adi.


" Lea abang pamit, mau siapin ikan pesanan ibu mertua mu, kamu kalau butuh ikan buat restoran ini bilang saja pada abang ya, nanti abang kirim kan ikan kualitas yang bagus."


" Baiklah bang, aku harus benahi dulu restoran ini, nanti aku hubungi abang lagi."


" Oke, Assalamualaikum."


" Wa alaikumsalam."


Sepeninggal kakak sepupunya Lea kembali mengajak para karyawan untuk membicarakan rencana kedepannya.


" Kalian masih semangat bekerja di sini kan?"


Semua mengangguk mendengar Lea berbicara.


" Besok lusa restoran milik ibu mertua saya akan di buka, kalian semua saya undang, nanti kalian bisa menikmati menu asli dari restoran ini di sana, bukan untuk sebagai saingan namun anggap saja cabang dari restoran ini, ya karena saya tidak menyangka kalau restoran ini akan kembali pada saya lagi, sedangkan restoran baru sudah mau buka jadi gak mungkin di batalkan, lagian jaraknya lumayan jauh jadi jelas tidak untuk menyaingi restoran yang lama, kemarin saya sudah rundingkan dengan keluarga saya tentang restoran ini, jadi kelak ada dua chef lama dari restoran ini yang akan kembali ke sini, nah kalian bisa belajar lagi rasa menu aslinya seperti apa ya, saya mohon kalian bersedia untuk bekerja sama, ini demi kelangsungan pekerjaan kalian juga."


" Baik bu Lea," ujar Lintang.


" Ih panggil Lea aja mba."


" Ya saya yang sungkan."


" Gapapa."


" Kalau kami semua datang kesana apakah restoran di liburkan mba Lea?" tanya Ina.


" Gak usah, acaranya seharian jadi kalian bagi dua tim aja, siapa yang datang pagi, terus siapa yang datang siang begitu, mungkin besok ada chef yang ke sini membantu kalian, nah kesempatan kalian untuk belajar, manfaat kan waktu dengan baik, nanti di restoran yang baru kita akan promosi lagi restoran ini, jadi untuk pengunjung yang tidak bisa ke restoran baru, mereka bisa kesini, lagian pelanggan lama juga banyak, begitu tau kalau resep masakan sudah kembali seperti semula saya yakin mereka akan datang lagi kesini, kalian harus semangat ya."


" Baik mba, aaamiiiin semoga berjaya."


" Aaamiiin, baiklah, jam berapa tutup?"


" Jam 9 malam kalau sepi mba," ujar Lintang.


" Baiklah kalau sudah sepi tutup aja, kalian beristirahat lah, jangan capek-capek ya."


" Iya mba, terimakasih."


" Saya kembali pulang ya, assalamualaikum."


" Wa alaikumsalam," sahut semuanya serentak.


Lea keluar dari restoran miliknya lalu masuk ke dalam mobil kemudian melaju kan mobilnya ke menuju rumahnya.


Setibanya di rumah ia lihat mobil suaminya sudah terparkir di garasi, Lea turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah.


" Assalamualaikum."


" Wa alaikumsalam, dari restoran?"


" Iya mas, hufff lelah juga, apa aku bisa handle semuanya? Belum lagi untuk membuka rumah sakit," ujar Lea sambil berjalan ke arah kamar di iringi oleh suaminya.


" Kamu pasti bisa sayang, kan banyak yang akan membantumu, lagian banyak orang yang kelak bergantung pada cita-cita mulia mu itu."


" Hhhmmmm..... semoga."


Lea mengganti pakaiannya lalu masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian keluar lagi untuk menunaikan sholat ashar.


Usai sholat Lea panjatkan rasa syukurnya dan berdo'a pada yang Kuasa agar di berikan kekuatan untuk membahagiakan semua orang yang ia sayangi.


***

__ADS_1


Bersambung yaa.....


__ADS_2